METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hamil


__ADS_3

Pagi ini, Daniel tak berniat pergi ke kantornya. Ada rasa takut, kalau-kalau istrinya itu masih sakit seperti yang dilihatnya semalam. Apalagi sejak dia minum obat, dia belum juga bangun sampai sekarang, membuat rasa khawatir Daniel semakin tidak bisa dikondisikan.


"Yang," Daniel mengusap kepala Naja dengan lembut.


"Hmmm," sahut Naja tanpa membuka matanya.


"Masih pusing?" tanya Daniel, mendengar Naja hanya menjawab sekenanya.


"Enggak, Yang. Cuma berat aja,"


"Perut kamu belum isi apa-apa loh. Yang semalam aja kamu muntahin semua. Sekarang cuci muka, sikat gigi, terus makan ya. Biar aku suapin," tanpa menunggu jawaban Naja, Daniel langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Sikat gigimu dulu!" Daniel mengambil sikat gigi Naja dan menyerahkannya, setelah sebelumnya membubuhkan pasta gigi.


Naja yang sebenarnya masih merasa pusing dan mual pun hanya menuruti perintah suaminya tanpa protes sedikitpun. Hingga setelah berkumur-kumur sebentar, dia mulai menggosok giginya. Namun baru beberapa kali gosok, tiba-tiba perutnya seperti dibolak-balik, tak urung dia kembali memuntahkan isi perutnya, kali ini sebuah cairan berwarna kuning dengan rasa yang sangat asam yang keluar. Maklum saja, sejak satu hari sebelumnya, perutnya memang belum diisi apa-apa selain makanan yang semalam suaminya berikan, itupun sudah dia muntahkan Semuanya.


Hoek ..., hoek ....


Naja terus muntah, sementara Daniel berada di belakangnya sambil memijit tengkuk istrinya dengan telaten.


"Pokoknya hari ini kamu harus ikut aku ke rumah sakit, Yang. Kita medical check up. Aku penasaran, kamu ini memang vertigo atau sakit apa sih?" ucap Daniel tanpa melepaskan tangannya.


"Tapi, Yang ...," Naja berusaha menolak.


"Tidak ada tapi-tapian. Hari ini kita ke rumah sakit. Titik," tegas Daniel, tidak bisa ditawar lagi.


Naja yang begitu tahu sifat suaminya itupun akhirnya pasrah. Ya, jika Daniel sudah mengeluarkan perintah seperti itu, artinya tidak ada kata penolakan dalam kamusnya. Hingga mau tak mau, Naja pun harus menurut saja.


***


Setelah mandi, akhirnya Naja dan Daniel menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Naja terus memejamkan matanya, dan tenggelam dalam pelukan suaminya. Johan yang mengantar mereka pun hanya bisa menatap mereka melalui kaca spion dengan rasa khawatir yang tak kalah besar. Bagaimana tidak? Naja yang notabene adalah teman kerjanya sejak sekian lama, kini sungguh terlihat lemah dan kesakitan. Padahal selama Johan mengenal Naja, belum sekalipun dia pernah melihat Naja selemah itu.


"Yang, kalau aku sakit parah, terus aku meninggal gimana?" tanya Naja, sambil menatap wajah suaminya dengan sendu. Bayangannya sudah mengembara kemana-kemana. Dia sudah berandai-andai, jika dia sakit kanker atau sakit kronis lainnya, yang akan berakibat fatal pada kesehatan dan hidupnya.


"Gimana apanya sih?" Daniel membalas tatapan Naja, sebelum akhirnya mengecup keningnya demikian dalam.


"Ya kalau aku mati, kamu mau gimana?" Naja memperjelas pertanyaannya.

__ADS_1


"Ya aku nikah lagi lah, Yang," sahut Daniel dengan santainya.


"Kok jawabannya gitu?" Naja sudah mengerucutkan bibirnya.


"Aku kan laki-laki normal, Yang. Masak kamu tega membuat aku jadi duda seumur hidupku," Daniel masih tak bergeming.


"Lihat saja kalau kamu sampai nikah lagi. Aku akan gentayangan dan tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia dengan siapapun juga," Naja melepaskan pelukannya dan memberingsut hingga duduknya kini agak jauh dari suaminya. Matanya pun kini dia alihkan ke arah jendela, melihat apa saja yang kini sedang dilewatinya.


Melihat istrinya merajuk, Daniel justru terkekeh.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, heh? Jika kamu sakit parah, aku tak akan pernah membuatmu meninggalkanku seorang diri. Aku akan mencari dokter terbaik hingga ke ujung dunia sekalipun, agar kau bisa sembuh dan menemaniku seumur hidupku," Daniel menarik tubuh istrinya, membuat Naja kembali dalam pelukannya.


"Janji?" mata Naja sudah berkaca-kaca.


"Tentu saja," jawab Daniel mantap.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai ke rumah sakit. Poli VIP menjadi tujuan mereka, sehingga mereka tidak perlu antri panjang untuk serangkaian pemeriksaan yang akan mereka lakukan.


"Selamat datang," sapa seorang petugas, sembari membukakan pintu.


Daniel dan Naja hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis, lalu mengikuti arahan petugas yang lain untuk mengkonfirmasi kehadiran mereka.


"Tensinya normal, 120/90," kata seorang petugas, setelah selesai melepas tensimeter dari lengan Naja.


"Apa ada yang Anda rasakan, Nona?" tanya petugas itu selanjutnya.


"Sebenarnya saya cuma pusing dan mual, Sus. Dulu saya sering vertigo sih, tapi saya sudah minum obat untuk vertigo, tidak sembuh juga," sahut Naja masih dengan wajah pucatnya.


"Apa ada lagi yang Anda rasakan?"


"Nggak ada, Sus. Paling muntah aja sama lemes," Naja menjawab lagi.


"Baiklah, Nona. Tanggal berapa hari pertama haid terakhir?"


Naja diam sejenak. Dia terlihat berpikir keras, mencoba mengingat-ingat hari pertama haid terakhirnya.


"Saya tidak pernah ingat hari pertama haid terakhir saya, Sus. Tapi harusnya tanggal-tanggal ini saya sudah haid lagi,"

__ADS_1


"Baik, Nona. Silahkan tunggu dulu sebentar," ujar petugas itu sopan.


Naja pun kembali duduk di sebelah Daniel sambil menunggu panggilan.


Tidak lama berselang, seorang petugas memanggil nama Naja dan mengantarkannya ke poli kandungan. Naja dan Daniel pun hanya mengekor, dan mengira bahwa medical check up yang akan dilakukan memang dimulai dari poli kandungan itu.


Begitu mereka masuk, seorang dokter langsung menyapa mereka dengan begitu ramahnya. Setelah berbasa-basi sebentar, Naja diminta untuk tidur di ranjang pasien, sebelum akhirnya sang dokter memeriksa perut dan mengoleskan jel dingin di sekitar perut Naja.


Dengan sebuah alat, dokter pun terlihat menggerak-gerakkan tangannya ke beberapa titik, dan begitu menemukan sesuatu seperti sebuah biji kecil yang terlihat melalui layar di sebelah ranjang, sang dokter berhenti dan menekan sebuah tombol, hingga gambar itu tercetak sempurna.


"Baiklah, sudah, Nona. Silahkan duduk kembali," kata dokter itu, setelah dia membersihkan sisa jel di perut Naja menggunakan tisu.


"Jadi, istri saya sakit apa, Dok?" tanya Daniel dengan tak sabar.


Dokter itu tersenyum tipis mendengar pertanyaan Daniel, kemudian menunjukkan print out hasil USG yang diambilnya tadi.


"Apa Anda lihat, dua biji dalam hasil USG Nona Naja ini?" tanya dokter itu dengan ekspresi sumringah.


Naja dan Daniel mengangguk bersamaan.


"Ini adalah janin Anda berdua, Tuan. Istri Anda hamil," ucap sang dokter selanjutnya.


"Oh, hamil," Daniel hanya menjawab sekenanya, tidak menyadari bahwa apa yang dibicarakan dokter itu adalah kehamilan Naja yang sangat ditunggu-tunggu olehnya.


"Jadi, saya hamil, Dok?" Naja mempertegas, sambil menatap dokter itu dengan lekat.


"Iya, Nona. Anda hamil," ulang sang dokter dengan begitu lembutnya.


"Apa? Hamil? Kamu hamil, Sayang?" Daniel setengah berteriak begitu menyadari ucapan dokter dan istrinya itu.


"Selamat, Tuan. Mereka benar-benar sudah tumbuh di rahim istri Anda,"


"Mereka, Dok?" Daniel mengerutkan dahinya.


"Nona Naja sedang mengandung bayi kembar,"


Kalimat terakhir dokter itu benar-benar membuat Daniel sangat girang. Serta merta dia langsung memeluk Naja dan menghujaninya dengan puluhan kecupan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2