METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Di Luar Perhitungan


__ADS_3

Gedung Dewan


Seluruh anggota panitia kerja gusar. Sudah tiga jam mereka menunggu sang ketua, namun belum juga ada tanda-tanda akan segera datang.


Suasana semakin hangat ketika para nasabah Era Bank berkumpul di halaman, berorasi dan memaksa masuk untuk menyaksikan rapat penyusunan rekomendasi atas kasus penggelapan uang yang disinyalir dilakukan oleh beberapa pejabat Kota X dan jajaran orang penting di Era Bank.


Aparat kepolisian terlihat dikerahkan, para staf kantor terlihat berlalu-lalang menghubungi seseorang. Bahkan sopir kantor pun diarahkan untuk menjemput Sang Ketua yang tak kunjung datang. Yang paling girang waktu itu hanya para wartawan, seolah mendapatkan makanan di saat perut mereka kelaparan.


"Baik pemirsa, saat ini saya sudah berada di gedung Dewan Kota X. Bisa Anda lihat disini, suasana sangat ramai dengan para nasabah Era Bank yang memaksa masuk ke dalam ruang sidang Panitia Kerja. Namun ada hal manarik yang bisa saya sampaikan, bahwa sampai detik ini juga sidang belum bisa dimulai karena Sang Ketua Panja, Arania Levana belum bisa hadir. Menurut penuturan Sekretaris Dewan Kota X, Arania Levana terakhir bisa dihubungi sekitar tiga jam yang lalu, sebelum akhirnya lost contact," tutur seorang wartawan TV nasional dalam live report-nya.


Gedung Dewangga Group


Tumpukan berkas di meja Ryan membuat Arya, sang sekretaris kelimpungan. Pasalnya semua pekerjaan harus segera dia selesaikan, apalagi dia belum tahu tuannya itu akan siap masuk kantor lagi kapan.


"Untung hari ini Rani masih menemani si Bos di rumah. Jadi mengurangi pekerjaan," pikir Arya dalam hati.


Arya pun semakin larut dengan rentetan pekerjaannya, sehingga di luar kebiasaan barunya, dia tidak mengecek kondisi Rani seperti biasanya. Seluruh pengawalan ketat untuk Rani pun dia lepas hari itu karena yang ada dalam benaknya, Rani berada di kediaman keluarga Dewangga bersama suaminya.


Kediaman Keluarga Dewangga


Karena kondisi di gedung Dewan tidak mengalami perkembangan, sebagian wartawan berlomba-lomba menuju kediaman keluarga Dewangga.


Mereka tampak ramai di depan pintu gerbang, dengan perlengkapan lengkap khas media. Bahkan diantara mereka sudah siap dengan perlengkapan untuk live report-nya.


Petugas keamanan keluarga Dewangga pun dibuat kalang kabut melayani wartawan yang memaksa masuk menemui sang tuan rumah. Mereka masih beranggapan bahwa satu-satunya alasan Arania Levana tidak hadir dalam sidang Dewan hari itu karena keluarga Dewangga masih dalam suasana duka.


"Non Rani sudah meninggalkan rumah sejak empat jam yang lalu." Petugas keamanan kediaman Dewangga yang keluar menemui para wartawan terus berusaha meyakinkan.


Namun bukan wartawan kalau tidak kekeh untuk bertahan. Mereka terus mengira bahwa yang mereka cari berada di dalam.

__ADS_1


Ryan yang masih asyik dengan pikirannya bersama Azzura pun tidak menyadari jika di luar sudah sangat ramai dengan para awak media. Hingga akhirnya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok-tok-tok....


"Masuk!" seru Ryan saat suara ketukan pintu itu semakin cepat.


"Maaf, Tuan Muda. Di luar banyak wartawan mencari Nona," ucap salah seorang pelayan yang disuruh penjaga untuk lapor kepada tuan mudanya.


"Apa? Bukannya istriku sudah di kantor sejak pagi tadi?" jawab Ryan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Pak Satpam sudah sampaikan ke wartawan, Tuan Muda. Tapi mereka tidak percaya,"


Mendengar penuturan pelayannya itu, Ryan langsung geram. Disambarnya HP yang dua hari ini tidak sempat dia pegang.


Ryan tampak memencet tombol panggilan suara kepada Arya berkali-kali, namun nihil. Arya sama sekali tidak mengangkatnya.


Suasana hati Ryan semakin tidak menentu ketika Satpam di rumahnya sendiri menjawab telphonnya dan mengatakan bahwa Rani sudah keluar dari rumah sekitar tiga jam yang lalu.


Ryan sudah mulai frustasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar berkali-kali, menyadari sesuatu pasti sudah terjadi di luar kendali.


"Sial, kenapa aku melepasnya pergi sendiri," gerutu Ryan berkali-kali.


"Dan Arya, kemana dia dan anak buahnya? Kenapa tidak angkat telphonku? Huhhhhh," kini Ryan sudah mengumpat tak karuan.


Merasa tidak ada yang bisa dia andalkan untuk saat itu, Ryan segera menyambar kunci dan keluar begitu saja, melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan para wartawan yang sejak tadi sudah menunggunya keluar.


Wartawan yang merasa tidak dihiraukan karena dilewati begitu saja oleh Ryan tanpa mau memberi keterangan pun berinisiatif untuk mengejar kemana mobil Ryan akan di arahkan.


Jalanan

__ADS_1


Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meskipun kondisi jalanan kota cukup ramai dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang berlalu-lalang.


Sepanjang perjalanan dia berusaha menelphon Arya sambil terus nengutukinya karena tak kunjung memberi respon seperti yang dia harapkan. Ryan juga mencoba menelphon beberapa pegawai kantornya, hasilnya juga nihil. Mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Ryan terus melajukan mobilnya menuju arah gedung Dewan tempat Rani biasa menghabiskan waktunya untuk bekerja. Matanya terus fokus ke jalanan, walaupun sesekali diliriknya kanan kiri jalan berharap ada sesuatu yang bisa dia temukan.


Disaat itulah tiba-tiba dia menghentikan mobilnya, ketika melihat mobil Rani terparkir di pinggir jalan. Dari arah Ryan, terlihat bagian belakang mobil Rani ringsek seperti habis tertabrak sesuatu.


Ryan mulai panik. Dengan cepat dia segera menghambur ke luar. Setengah berlari dihampirinya mobil itu, dilihatnya dari kaca tidak ada orang di dalam. Dia mencoba membuka pintu mobil dekat kemudi, ternyata juga tidak di kunci.


Suasana hati Ryan semakin kacau ketika menyadari bahwa kunci mobil Rani masih menancap di dekat bagian kemudi, bahkan tas dan HP Rani juga ada di kursi samping pengemudi.


"Ahhhhhh," Ryan berteriak kencang sambil menendang ban mobil Rani berulang-ulang, kemudian segera beranjak pergi sambil menelphon beberapa orang.


Awak media yang mengikuti Ryan sejak dari kediaman keluarga Dewangga pun ikut tegang, menyadari bahwa hal besar telah terjadi.


"Pemirsa, saat ini saya sudah berada di jalan merpati, tempat dimana ditemukan mobil dari legislator perempuan Kota X yang tidak lain adalah ketua Panja Dewan yang sejak tadi pagi di tunggu-tunggu dalam sidang penyusunan rekomendasi kasus Era Bank. Setelah lost contact hampir 4 jam lamanya, akhirnya ditemukan mobil Arania Levana di pinggir jalan dengan kondisi bagian belakang mobil ringsek seperti tertabrak sesuatu dari belakang. Kami belum bisa memastikan apakah ini adalah kecelakaan murni atau ada hal lain yang telah terjadi, yang jelas perlu kami sampaikan bahwa kunci mobil beserta barang-barang pribadi termasuk ponsel Arania Levana masih berada di dalam. Sekian Pemirsa. Kami akan sampaikan perkembangan selanjutnya setelah pariwara berikut ini," lagi-lagi, seorang wartawan mengabarkan berita melalui live report-nya.


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷


**Happy Reading...


Jangan lupa like, vote, komentar dan kasih bintang lima ya. Terima kasih


Catatan**:


Panja adalah singkatan dari Panitia Kerja (Penjelasan ada di bab sebelumnya)

__ADS_1


__ADS_2