METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cabut Dulu


__ADS_3

Tidak ada yang berani masuk ke kamar itu, mengingat ada dua sijoli yang sedang dimabuk rindu. Bahkan begitu semua keluar dari sana, Rudi langsung sigap menutup pintu dan berjaga tepat di depan kamar.


Dengan pakaian formalnya, Rudi berdiri dan mengamati kondisi sekitar, seolah sewaktu-waktu ada yang akan menyergap masuk ke dalam. Ya, keprofesionalan Rudi dalam bekerja memang tak dapat diragukan lagi. Bahkan karakternya di saat menjalankan setiap misi yang dipercayakan kepadanya, sungguh berbanding terbalik dengan karakter aslinya. Begitulah Rudi si pria gaul yang selalu bisa membuat orang tertawa. Dia akan berubah menjadi pria sedingin es, yang kaku dan tidak bisa di ajak bercanda ketika dia sedang bekerja. Karena itu, meski wajahnya begitu tampan seperti artis Korea, tapi tak ada satu gadis pun yang mau mendekatinya.


"Pria sedingin es," kata mereka.


Begitu juga dengan hari itu. Seluruh penghuni Thalasemia Center yang notabene adalah para dokter yang masih singgel, tak berani walau hanya sekedar lewat di depan Rudi. Tampangnya yang tak bersahabat, membuat semua orang yang menatapnya merasa ngeri.


"Hampir semua penghuni tempat ini adalah dokter, dan mereka semua berparas cantik. Kau tak mau bungkus satu untuk kau bawa pulang? Urusan lain-lain tinggal aku bilang si boss. Jika kau mau, malam ini juga salah satu di antara mereka bisa menjadi istrimu," ledek Johan sambil duduk di kursi depan kamar.


"Tutup mulutmu atau kuadukan kau pada istrimu," sahut Rudi datar.


"Coba saja kalau berani!" Johan bersedekap sambil menatap Rudi dengan kesal.


"Memangnya ada alasan yang bisa membuatku takut padamu? Tinggal aku bilang kalau kau melirik dokter-dokter itu, bisa dijamin malam ini kau akan tidur di luar," ancam Rudi yang langsung membuat Johan berdiri dan beranjak keluar.


Melihat Johan tak mau meladeni dirinya lagi, Rudi pun tersenyum menang. Hingga tiba-tiba, seorang dokter berjalan mendekat dan berniat mengetuk pintu kamar.


"Siapa yang mengizinkanmu mendekati ruang ini? Jangan ganggu tuan dan nonaku di dalam!" larang Rudi dengan begitu garangnya, melihat Dokter Dina melewatinya begitu saja dan hendak mengganggu Rani dan Ryan yang masih berada di dalam kamar.


"Handphone saya tertinggal di dalam, dan saya harus mengambilnya sekarang," sahut Dokter Dina dengan begitu beraninya.


"Sudah kubilang jangan diganggu. Kau bisa mengambilnya begitu Nona sudah pulang," tegas Rudi sekali lagi.


"Tidak bisa, Tuan. Saya harus menghubungi rumah sakit sekarang," Dokter Dina semakin kesal.


Rudi terdiam. Sejenak, dia terlihat berpikir sebelum akhirnya menyerahkan ponsel miliknya kepada Dokter Dina.


"Pakai ini!" ucap Johan sambil menyodorkan benda pipih canggih miliknya.


"Mana bisa, Tuan. Nomor yang ingin saya hubungi tersimpan semua di sana," muka Dokter Dina sudah memerah menahan emosinya.


"Tinggal ketuk saja kenapa sih? Kalau mereka lagi ngapa-ngapain toh otomatis juga akan berhenti," gerutu Dokter Dina dalam hati.

__ADS_1


"Kita lihat, apa aku bisa menemukan nomor yang ingin kau tuju. Coba kau tuliskan nama lengkapnya di sini!" sekali lagi Rudi menyodorkan handphone miliknya.


Walau bingung, akhirnya Dokter Dina pun menuliskan beberapa nama di handphone yang baru saja diterimanya, lalu menyerahkannya kembali kepada pemiliknya.


"Ini," Dokter Dina menyodorkan handphone dari tangannya.


"Wait," kata Rudi, yang belum juga bisa membuat Dokter Dina mengerti.


Tak sampai lima menit, Rudi menyerahkan benda pipih itu kembali dengan sebuah panggilan keluar yang sudah dipencetnya.


"Bicaralah dengannya!"


Dokter Dina mengambil handphone itu lagi meski dia tak mengerti apa yang dimaksud Rudi. Tapi begitu kagetnya dia, ketika panggilan itu diangkat oleh orang di seberang sana, ternyata yang berbicara di ujung telepon benar-benar orang yang sedang ingin dihubunginya.


"Bagaimana bisa?" gumam Dokter Dina begitu dia selesai bicara. Dia tak pernah tahu, bagi seorang agen mata-mata seperti Rudi, hanya sekedar mencari nomor handphone adalah hal kecil yang sangat mudah dilakukannya.


"Berterima kasihlah kepadaku dan pergilah! Lakukan apa yang menjadi tugasmu, dan jangan ganggu tuan dan nonaku!" Rudi kembali pada mode cueknya.


"Terima kasih," beo Dokter Dina, kemudian berlalu dari hadapannya.


"Rudi! Johan!" panggil Ryan kencang.


Rudi yang memang sudah berada di depan pintu itupun dengan sigap langsung masuk ke dalam, di susul Johan yang mengekor di belakang.


"Panggilkan Dokter Dina! Istriku minta pulang," titah Ryan sambil mengusap kepada Rani yang kini berada di pangkuannya.


"Baik, Tuan," Johan dan Rudi pun menyahut bersamaan, kemudian kembali keluar.


"Kau carilah dokter cantik itu. Biar aku yang menggantikanmu berjaga di sini," ucap Johan dengan santainya.


"Kenapa harus aku? Kau saja yang panggil dia. Dari tadi juga aku yang berjaga. Kenapa tiba-tiba saja kau ingin menggantikanku?" Rudi bersungut kesal.


"Heh, bukannya kamu tadi sudah berbicara dengannya? Dia juga harus masuk untuk mengambil handphone-nya bukan? Jadi cepat segera panggil dia!" perintah Johan semena-mena.

__ADS_1


"Ohh, jadi nama wanita yang tadi itu Dina?" gumam Rudi lirih, sambil mengedarkan pandangan dan mencari wanita yang sedang dicarinya. Setelah berkeliling gedung Thalasemia Center yang cukup besar, akhirnya Dokter Dina pun Rudi temukan.


"Ada apa? Apakah terjadi apa-apa pada nonamu itu?" tanya Dokter Dina penasaran.


"Cari jawabannya sendiri," acuh Rudi sambil terus berjalan tanpa menoleh lagi.


"Ada ya, pria dingin model begini? Kasihan banget orang yang jadi istrinya nanti," gumam Dokter Dina dalam hati.


Setelah lima menit berjalan, akhirnya Dokter Dina masuk ditemani Rudi dan Johan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak Ryan?" tutur Dokter Dina sopan. Walaupun Rani adalah teman baiknya, tapi dia tidak berani berbicara tidak formal dengan suaminya, yang dia kenal sebagai pemilik tunggal perusahaan raksasa di kotanya.


"Istri saya merengek minta infusnya dilepas, Dok. Dia minta pulang sekarang. Apa tidak bahaya jika pemberian cairan infusnya dihentikan?" tanya Ryan dengan cemas.


"Jenis cairan infus yang saya berikan adalah kristaloid, Pak Ryan. Cairan ini mengandung natrium klorida, natrium glukonat, natrium asetat, kalium klorida, magnesium klorida, dan glukosa, yang berfungsi untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit, mengembalikan pH, menghidrasi tubuh, dan sebagai cairan resusitasi, yang akan menggantikan cairan tubuh yang dibutuhkan Rani," jelas Dokter Dina.


"Jadi?" Ryan tidak mengerti.


"Jadi, selama Rani mau makan dan minum normal seperti biasanya lagi, tidak masalah jika cairan infus itu dihentikan sekarang juga," lanjut Dokter Dina menjelaskan maksud perkataannya.


"Kamu dengar, Sayang. Jarum infusnya bisa dilepas sekarang, tapi kamu harus makan. Janji sama Hubby, begitu Dokter Dina melepasnya, kamu harus makan dan minum tanpa ada kata males, tak lapar, atau alasan yang lainnya. Kamu janji?" ucap Ryan lembut.


"Tapi, By," sahut Rani manja.


"Kamu makan, atau jarum infus itu tetap terpasang disini," Ryan memberi pilihan dengan tegas, tapi penuh dengan kehangatan.


"Makan, terus kita pulang. Oke?" kata Ryan sambil sedikit menunduk, menatap wajah istrinya yang masih berada dalam pangkuannya.


"Cabut jarum infusnya dulu, baru Rani makan," nego Rani.


"Makan dulu, Sayang,"


"Cabut dulu, By,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2