METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Pastikan Tidak Ada Pergerakan


__ADS_3

Setelah sarapan yang penuh drama, pagi itu Ryan membereskan urusan kantor yang beberapa hari ini sempat tertunda karena kepergiannya ke Bali yang sangat tiba-tiba. Di atas mejanya bahkan sudah berjejer tumpukan berkas yang menunggu ditandatanganinya dengan segera.


"Masuk!" seru Ryan ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tak berapa lama, Arya muncul dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Tanpa aba-aba, dia pun mengambil posisi duduk tepat di hadapan majikan sekaligus sahabatnya itu.


"Aku sudah membawa informasi lengkap yang kau minta kemarin," ucap Arya to the point.


"Mari kita lihat informasi apa yang kau bawa," Ryan menanggapi dengan antusias. Dia segera bangun dari kursi kerjanya dan berpindah duduk di sofa, diikuti Arya yang kemudian duduk di sebelahnya.


"Cafe di Bali yang terlibat kasus human trafficking dengan salah satu korban atas nama Nina, gadis yang kamu dan Rani selamatkan itu, bernama Charlie's Cafe. Pemiliknya bernama Charles David, seorang pengusaha keturunan Indonesia-Jerman yang kini sudah diamankan pihak berwajib bersama seluruh anak buahnya yang terlibat," jelas Arya sambil menunjukkan foto Charles David beserta berita penangkapannya beberapa jam setelah penangkapan anak buahnya di Bandara atas bantuan Rani kemarin.


"Apakah bisa dipastikan bahwa orang dibalik itu hanya Charles?" tanya Ryan sambil melihat berkas yang disodorkan Arya.


"Sayangnya sengaja dibuat seolah seperti itu," jawab Arya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Maksud kamu? Bicara yang jelas!" Ryan menuntut penjelasan.


"Cafe ini sebenarnya adalah proyek milik sebuah perusahaan Face Girl yang diketahui punya agensi modelling. Mereka mendirikan beberapa Cafe dengan penghasilan fantastis yang tersebar di beberapa kota di Indonesia setelah satu proyek di Malaysia 5 tahun lalu gagal," jelas Arya kemudian.


"Hubungannya apa?" tanya Ryan masih tidak mengerti.


"Fellatio Cafe adalah sebuah Cafe di Malaysia yang dicabut izin operasionalnya karena diketahui menyediakan paket minuman kopi plus-plus dengan cara tertentu oleh para pekerja **** komersial (PSK) pilihan. Setelah ditutup, akhirnya Pemilik Cafe ini mendirikan beberapa Cafe di Indonesia dengan nama pemilik yang berbeda dan seolah berdiri sendiri," jawab Arya sambil memberikan satu foto lagi dari amplop coklat di tangannya.


Ryan menerima foto itu dengan tenang, namun seketika wajahnya berubah ketika melihat siapa sosok yang ada di sana.


"Daniel Cullen?" tanya Ryan memastikan.

__ADS_1


Arya mengangguk. Daniel Cullen adalah pengusaha yang sedang naik daun karena perusahaannya yang tumbuh melesat dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir sehingga bisa berdiri sejajar dan bersaing dengan lima perusahaan papan atas lainnya yang ada di negeri ini. Bahkan bisa dikatakan, bahwa perusahaan Daniel adalah pesaing terberat Perusahaan Ryan selama beberapa tahun terakhir.


"Pastikan tidak ada pergerakan dari Daniel pasca Charlie's Cafe di tutup yang bisa membahayakan istriku!" ucap Ryan sambil meletakkan foto dan berkas-berkas di tangannya di atas meja.


"Siap," jawab Arya mantab.


"Satu lagi," Ryan terlihat akan memberi perintah.


"Jangan biarkan Rani tahu tentang ini. Yang penting pastikan dia aman. Kalau perlu kau suruh orangmu untuk mengawasi istriku setiap hari untuk menjamin keamanannya!" pinta Ryan dengan nada penuh khawatir.


"Baiklah, aku akan pastikan semua terkendali," Arya menjawab sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Oke. Kamu boleh keluar. Aku akan keluar makan siang bersama istriku sebentar," kata Ryan sambil meraih jas yang sedari tadi diletakkan di belakang sandaran kursi kerjanya, kemudian bergegas keluar ruangan.


***


Disampingnya ada Johan, asisten pribadinya yang berdiri mematung menunggu reaksi majikannya setelah menerima berita tentang penutupan Charlie's Cafe, salah satu Cafe miliknya di Bali yang dikelola oleh salah satu sepupunya, Charles David.


Cafe ini adalah Cafe yang cukup mendorong pesatnya pertumbuhan perusahaan Daniel karena pundi-pundi uang yang dihasilkan sangat fantastis. Bagaimana tidak? Cafe ini bisa menjual kopi dengan harga minimal 750 ribu setiap cangkirnya, dengan layanan plus-plus yang disediakan sesuai paket yang dipilih. Jadi bisa dibayangkan, berapa kerugiannya pasca Cafe itu ditutup.


"Kenapa dia bisa seceroboh ini sih? Bahkan sampai dia harus mendekam di penjara," umpat Daniel kesal.


"Ada salah satu gadis yang berhasil lapor, Tuan," ucap asistennya dengan nada datar.


"Dia bahkan tidak bisa menangani hal seremeh itu? Dasar tidak berguna," Daniel semakin emosi.


"Gadis itu anak baru, Tuan. Selama dua pekan di Bali tidak mau melayani tamu, sehingga kemarin dibawa ke Jakarta sebelum akan dikirim ke tempat kita di Malaysia. Tapi ada seseorang yang berhasil membuat gadis itu buka mulut di pesawat, sehingga akhirnya semua terbongkar," jelas Johan sambil menunjukkan beberapa berita tentang penangkapan anak buah mereka sesaat setelah turun dari pesawat yang membawanya dari Bali.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Daniel menunjuk nama yang tertera dalam Judul berita online yang sedang dilihatnya. Membaca bagaimana cara gadis itu akhirnya bisa diselamatkan, tentu yang membantunya ini bukan sosok yang bisa diremehkan.


"Dia adalah Arania Levana, seorang Anggota Dewan Kota X. Sejak mahasiswa memang dia sudah aktif dalam membela kaum perempuan, Tuan. Bahkan banyak gadis-gadis seperti Nina yang sempat dia dampingi. Sebelum kasus Charlie's Cafe ini, ada beberapa tempat plus-plus dan sindikat lain yang berhasil dia bongkar. Dan sekarang dia adalah istri dari Presdir Dewangga Group, Ryan Dewangga. Selanjutnya, informasi lengkap tentang Arania Levana sudah ada disini, Tuan," jawab Johan sambil menyerahkan beberapa berkas kepada Daniel.


Daniel terlihat serius membaca segala informasi tentang Rani. Apalagi melihat siapa orang kuat yang menjadi suaminya, tentu Daniel tidak bisa bertindak gegabah meskipun Daniel ingin sekali memberi pelajaran kepada gadis kecil yang telah membuat kerugian besar untuknya, juga membuat sepupunya harus mendekam di penjara itu.


"Pastikan Cafe kita di titik-titik yang lain aman. Aku tidak mau hanya gara-gara Anggota Dewan kecil itu, semuanya ikut terbongkar. Pastikan juga Charles tidak buka mulut!" perintah Daniel.


"Baik, Tuan. Tapi...," ucap Johan ragu.


"Tapi apa?" Daniel mengernyitkan keningnya.


"Apakah Anda yakin bahwa Ryan Dewangga belum mencari informasi tentang Charlie's Cafe, Tuan? Mengingat ini menyangkut istrinya," jawab Johan ragu.


"Kita lihat, seberapa besar dia bisa melindungi istri kecilnya jika dia berani macam-macam," ucapnya sambil tersenyum simpul.


"Apakah ada yang harus saya kerjakan, Tuan?" tanya Johan, siap menerima perintah.


"Tentu saja," jawab Daniel dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.


Johan hanya mengangguk, menunggu perintah dari Tuannya yang kini terlihat sedang mengembarakan pikirannya entah kemana.


BERSAMBUNG


Hai Readers...


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2