METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Maaf


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, namun Arya masih pulas tertidur dengan memeluk sang istri. Rupanya perhelatan panjang mereka pagi ini cukup menguras energi, sehingga Arya tak ingat jika Ryan memanggil mereka semua untuk berkumpul pagi ini.


Melodi indah dari atas nakas itu pun akhirnya berbunyi. Dering ponsel yang memang Arya stel dengan volume tinggi, membuat dia akhirnya terbangun dari mimpi.


"Assalamualaikum," Arya segera menempelkan benda pipih canggih itu ke telinganya.


"Gol berapa kali hingga hari sudah sesiang ini kau masih betah di kamarmu, heh?" omel Ryan dari ujung telepon, membuat Arya membelalakkan mata seketika.


"Memangnya jam berapa ini?" Arya bergumam lirih sambil memeriksa jam digital di layar ponselnya.


"Memang menurutmu jam berapa?" Ryan menyahut gumaman Arya, karena suara Arya begitu terdengar dengan jelas di telinganya.


"Santai, Bro. Sepuluh menit aku merapat ke kamarmu," cicit Arya sambil bergegas turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kak Tama!" Lena yang terusik dengan tingkah suaminya pun tiba-tiba terbangun dan memandangi Arya yang sedang berjalan memunggunginya.


"Aku sudah kesiangan, Yang. Bossku yang satu itu bisa naik pitam jika aku datang lebih siang. Kamu tidur aja lagi. Biar aku siapkan bajuku sendiri," sahut Arya dengan nada agak tinggi, mengingat dia menyahut pertanyaan istrinya dari dalam kamar mandi.


Lena yang masih merasa tubuhnya tak berdaya, hanya mendengar ucapan suaminya sekilas kemudian langsung merapatkan selimutnya lagi untuk kembali berlayar ke pulau mimpi.


Sementara Arya yang sudah tidak punya banyak waktu lagi, hanya butuh waktu lima menit sudah keluar dari kamar mandi. Setelah berpakaian rapi pun dia segera turun menuju ruang makan untuk mengambil sarapan pagi.


"Segera makan sarapanmu dan kutunggu kau di ruang kerjaku," Ryan yang kini duduk di kursi roda karena luka di perutnya yang masih menganga, meninggalkan ruang makan dengan di dorong oleh Rudi dan diikuti oleh Rani.


"Tak sarapan pun sama sekali tak masalah buatku," sahut Arya sambil meraih secangkir teh manis di atas meja dan meneguknya.


"Sarapanlah dulu. Kita butuh banyak tenaga, karena hari ini kita akan bekerja ekstra," tutur Ryan, dengan ekspresinya yang datar-datar saja.


Arya pun mengangguk dan mengambil dua lembar roti tawar yang sudah terhidang di atas meja. Begitu pasta coklat berhasil dia oleskan di atas roti tawarnya, Arya pun segera menyantap dan menikmatinya.


Tak sampai lima menit, roti pun sudah lenyap dan mendarat sempurna di perut Arya. Setelah menghabiskan teh manisnya, Arya pun bergegas masuk ke ruang kerja Ryan dan bergabung dengan yang lainnya.


Dengan pelan, Arya membuka pintu. Begitu pintu terbuka, dilihatnya semua sudah berkumpul di sana. Ryan yang selalu menempel pada istrinya, kini sudah duduk manis di sofa. Begitu juga dengan Daniel dan Naja yang duduk pada sofa yang berada di depan Ryan.


Di sekeliling mereka, para anak buah sudah berdiri dan siap dengan perintah tuannya. Indra berdiri di samping Ryan, sementara Zara berada persis di sebelah Rani. Begitu juga dengan Johan dan Rudi yang kini tengah tegap berdiri di samping Daniel dan Naja.


"Mana Hengky?" tanya Arya sambil mengambil posisi duduk di sofa yang belum terisi.

__ADS_1


"Rupanya selain kau jadi tak tepat waktu, kau juga ketinggalan informasi dan menjadi serba tidak tahu," ketus Ryan.


"Kenapa memangnya? Apa aku melewatkan sesuatu?" Arya masih memasang wajah tak berdosa.


"Hengky sedang menunggui istrinya di rumah sakit. Fisha terjatuh dan hampir kehilangan janinnya, makanya selama beberapa hari butuh perawatan ekstra," Naja berbaik hati mau menerangkan kepada Arya.


"Makanya, bucin ya bucin. Tapi jangan kebangetan," timpal Ryan lagi, yang diikuti gelak tawa semua orang yang berada di sana.


"Baiklah, kita mulai rapat kita pagi ini. Johan, Rudi, Arya dan Indra, tugas kalian adalah menyajikan data seluruh karyawan perusahaan. Johan memegang kendali perusahaan Daniel, Rudi memegang kendali perusahaan Hengky, dan Arya juga Indra memegang perusahaanku. Konfirmasi data yang kalian pegang kepada Zara agar dia bisa mencocokkan dengan dua orang yang semalam di temuinya," titah Ryan, yang dijawab dengan anggukan oleh semua orang yang ada di sana.


"Dan untukmu, Zara. Kau tak perlu lagi berpura-pura bekerja dengan Felix Adinata jika nama pengkhianat itu sudah berada di tangan kita," Ryan menatap Zara dengan tatapan tajamnya.


"Baik, Tuan," Zara mengangguk pelan.


"Kau beristirahatlah, biar kami yang selesaikan semuanya. Jika dua orang itu sudah bisa kami pastikan siapa, kami akan memberitahumu," cicit Arya.


"Baiklah. Selamat bekerja. Jangan kecewakan kami," Daniel beranjak dari duduknya, dan membantu Ryan menaiki kursi rodanya. Setelah Ryan duduk dengan nyaman, Daniel pun mendorong kursi roda itu diikuti Rani dan Naja.


Begitu Ryan dan Daniel bersama istri mereka meninggalkan ruang kerja itu, mereka semua pun langsung mengambil posisi mereka masing-masing dengan beberapa buah laptop dan alat lain yang mereka butuhkan sebagai akhir dari misi mereka jika dua nama pengkhianat itu ditemukan.


***


"Apa perutmu sakit jika aku memelukmu seperti ini?" tanya Hengky sambil membenamkan kepala Fisha pada dada bidangnya.


Fisha hanya menggelengkan kepalanya, dengan senyum tipis yang selalu dia persembahkan untuk suaminya.


"Apa masih terasa sakit sekali, Sayang?" cecar Hengky, merasa tak puas, karena istrinya tak menjawab pertanyaannya sesaat tadi.


"Sedikit," jawab Fisha singkat.


"Sedikit? Berarti masih sakit dong? Beritahu aku mana yang sakit!" seketika Hengky langsung memasang tampang serius, mendengar istrinya masih merasakan sakit setelah pengobatan sudah berjalan.


"Apa sakitnya di sini?" tanya Hengky sambil menyentuh area perut Fisha.


"Hmmm, tapi tak sesakit kemarin," jawab Fisha.


"Apa di sini juga sakit?" kini Hengky menyentuh punggung sang istri.

__ADS_1


"Sedikit," Fisha justru memeluk erat suaminya.


"Apa jika aku usap-usap begini terasa lebih nyaman?" Hengky terus mengusap punggung istrinya dalam posisi masih berpelukan.


"Cukup dengan Mas Hengky tetap berada di sini bersama Fisha, sakitnya sudah hilang dan tak lagi terasa," tutur Fisha sambil mendongakkan kepalanya dan melihat ekspresi muka suaminya.


"Maafkan aku," mendengar Fisha mengucapkan kalimat itu, Hengky langsung teringat dengan kesalahannya pada malam itu.


"Jangan diulangi lagi, atau Fisha akan meninggalkan Mas Hengky untuk selama-lamanya," ancam Fisha, mendengar ocehan suaminya.


Sebenarnya Fisha hanya bermain-main dengan perkataannya, karena ingin melihat ekspresi Hengky jika kata itu keluar dari mulutnya. Tapi di luar dugaan, ekspresi yang ditunjukkan Hengky benar-benar di luar dugaan Fisha.


"Aku pastikan, aku akan mati jika kau pergi, apalagi bersama dengan bayi ini," Hengky memandang Fisha dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa Mas Hengky bilang seperti itu?" Fisha mencoba membalas tatapan suaminya dan menyelami kedalaman matanya.


"Karena kau sungguh teramat berarti bagiku, dan aku tak akan pernah bisa hidup tanpa kamu. Berapa kali lagi aku harus bilang bahwa aku sangat mencintaimu, Sayang. Dan berapa kali juga, aku harus menerima keraguanmu akan cinta tulusku?" lanjut Hengky dengan nada penuh penekanan.


"Tapi Fisha tidak bisa menerima perlakuan kasar, Mas. Karena dalam keluarga Fisha, Ayah dan Ibu selalu mengajarkan Fisha untuk mengedepankan kasih sayang," Fisha mengeluarkan beban di hatinya. Sesungguhnya perlakuan Hengky malam itu menimbulkan luka di hati Fisha, walaupun Fisha sadar bahwa dia memang sudah bersalah dengan suaminya. Namun mendapati Hengky yang marah-marah dan berlaku kasar hingga mendorong tubuh Fisha, Fisha benar-benar tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan dia temui dalam keluarga kecilnya.


"Aku kan sudah meminta maaf, Sayang. Dan malam itu aku benar-benar kecewa atas ketidakpercayaanmu. Tapi saat aku emosi dan secara tak sengaja mendorongmu, itu benar-benar di luar kendaliku, Sayang. Dan aku sungguh-sungguh sangat menyesal. Apa kau tak mau memaafkan aku? Aku betul-betul tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan janin yang berada dalam kandunganmu ini, hanya karena dengan tak sengaja aku mendorongmu," lirih Hengky dengan menatap Fisha sendu.


"Apa? Kau mendorong Fisha hingga dia hampir kehilangan janinnya?" suara Nyonya Atmaja tiba-tiba mengagetkan Hengky dan Fisha.


"Mama!" seru Hengky sambil duduk dan membenarkan posisinya.


"Jawab, Hengky. Apa benar yang Mama dengar tadi?" Nyonya Atmaja memasang muka garang ke arah putranya.


"Hengky tidak sengaja, Ma. Kemarin ada kesalahpahaman sedikit di antara kami, jadi ...," sebelum Hengky menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Atmaja sudah menyela.


"Sebesar apapun masalah kalian, jangan pernah main fisik atau berkata kasar. Semua masalah itu bisa dibicarakan, Nak. Dengan kasar-kasaran seperti ini, kita tak akan pernah mendapat kepuasan. Yang ada justru kerugian dan masalah yang lebih besar," omel Nyonya Atmaja sambil menghampiri menantunya. Begitu Nyonya Atmaja berada tepat di samping menantu kesayangannya, dia langsung mengelus rambut Fisha dengan segala rasa cinta yang dimilikinya.


"Fisha juga salah, Ma," bela Fisha, tak ingin membuat mertuanya terus memarahi suaminya.


"Kau tak perlu membela suamimu itu, Fisha. Karena sesalah apapun pasangan kita, satu hal yang harus kita pegang, bahwa kita tidak boleh merasa paling benar dan menyalahkan pasangan kita,"


"Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Hengky yang seolah-olah sudah terkunci.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2