METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cinta dan Nafsu


__ADS_3

Aura yang terpancar dari tajamnya pandangan mata Nina, membuat Johan ketakutan jika sekali lagi Nina berniat akan meninggalkannya.


Ya, walaupun Nina adalah pribadi sederhana yang tak banyak menuntutnya, ditambah setiap perkataannya yang lembut, juga sikapnya yang sangat santun, tapi dengan sebuah tatapan saja, jutaan makna yang tersirat di dalamnya mampu membuat pertahanan Johan porak-poranda seketika.


Untung saja Naja mengusirnya hingga dia bisa mengantarkan Nina. Jika tidak, Johan pun tak tau akan segila apa dirinya mendapati kemarahan istri kecilnya.


"Aku sungguh tak apa-apa jika kau memilih tetap di sana. Aku akan berusaha untuk selalu mengerti dan paham akan posisi," ucap Nina, yang kini sudah duduk di kursi samping pengemudi.


Johan yang duduk di sampingnya pun tetap fokus menyetir, sambil sesekali menoleh ke arah Nina dengan senyum penuh makna.


"Aku tak mau kau marah lagi," Johan meraih tangan Nina dan menggenggamnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap fokus mengendalikan kemudi mobilnya.


"Aku tak marah," sahut Nina secepat kilat.


"Tapi aku mau mengantarkanmu pulang, dan memastikanmu selamat sampai masuk kamar," Johan menyeringai nakal.


"Ihh, Dasar. Mana ada ungkapan seperti itu. Yang ada selamat sampai tujuan," Nina mengernyitkan dahinya.


"Tidak, Sayang. Aku benar-benar ingin memastikanmu selamat sampai masuk kamar," kekeh Johan.


"Baiklah, setelah kau pastikan aku masuk ke kamarku, kau tutup pintunya dari luar," celoteh Naja sambil tersenyum menang.


"Mana bisa seperti itu? Tega kau ya," Johan membulatkan matanya, membayangkan semalaman harus menahan hasratnya kepada Nina.


"Tugasmu hanya memastikan aku selamat sampai masuk kamar bukan? Jadi jangan berharap lebih dari itu, apalagi ingin meminta yang lain dariku, lebih parah lagi setelah kau meninabobokan aku, kau pergi keluar begitu saja hingga pagi datang," Nina mengerucutkan bibirnya.


"Sayang, waktu itu aku melakukannya karena Arya dan Lena masih berada dalam masalahnya. Mereka bahkan tak pulang hingga pagi datang," oceh Johan, mengira bahwa Nina tahu kalau waktu itu dia tinggalkan.

__ADS_1


"Aku tak bilang kalau kau melakukannya lho, Sayang. Kau sendiri yang mengakuinya," Nina tersenyum dengan puasnya.


"Kau tak marah?" giliran Johan yang mengernyitkan dahinya.


"Tergantung," Nina mengangkat bahunya.


"Tergantung pada?" Johan sengaja menggantung pertanyaannya.


"Tergantung seperti apa niat di hatimu ketika kau meninggalkanku waktu itu," ucap Nina datar.


"Tolonglah, Sayang. Pahami posisiku," kata Johan dengan nada memelasnya.


"Memangnya kapan aku tidak mengerti posisimu? Bukankah selama beberapa bulan kita menikah, selama itu pula aku tak pernah protes meski kau hampir tak pernah punya waktu untukku? Bahkan bisa kuhitung dengan jari di satu tanganku ini, berapa kali kau menyentuhku. Aku sadar dirilah, aku tak ada apa-apanya di hatimu jika dibandingkan dengan pekerjaanmu itu," ucap Nina datar.


"Apa kau sedang marah padaku? Aku sudah menyadari kesalahanku, dan beberapa hari terakhir ini aku sudah memperbaikinya. Apa kau belum juga merasakan bahwa aku berubah?" Johan menatap Nina intens, sambil sesekali melihat jalan yang kini sedang dilaluinya.


"Sayang, aku ...," tiba-tiba lidah Johan terasa kelu.


"Tolong dengarkan aku. Waktu itu aku marah bukan karena hasratku. Kau pikir aku hanya ingin kau selalu mencumbuku, hingga aku sampai minta sebuah perpisahan darimu? Aku merindukanmu, iya. Tapi tidak hanya merindukan sentuhanmu. Merindukan sentuhanmu, tidak salah. Tapi bukan berarti hanya itu yang menjadi tujuan dalam sebuah pernikahan. Karena kecukupan batin, tidak cukup hanya dengan berhubungan badan, tapi juga dilengkapi dengan sebuah kejujuran dan ketulusan," ucap Nina sambil memandang suaminya lekat.


Johan masih terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan istrinya dengan benar.


"Aku bukan istri egois yang melarangmu untuk bekerja. Aku hanya minta kau berlaku seperti seorang suami pada umumnya. Itu saja. Kau hanya perlu memberikan cinta dan menafkahiku baik secara lahir maupun batin semampumu. Kau harus tetap bekerja seperti apa yang memang menjadi kewajibanmu, tapi kau juga berikan cinta untukku dengan kemurnian cinta yang kau miliki itu. Cinta berbeda dengan nafsu, Sayang. Aku pun tak mau jika kau berpikir, aku hanya memburu itu, atau aku yang juga berpikir bahwa hanya itu yang kau buru. Maka, jika kau memang mau berubah, cintailah aku dengan ketulusan dan kejujuranmu," lanjut Nina panjang lebar.


Johan mencoba menilik hatinya yang terdalam. Tak ada yang perlu dia ragukan, memang. Dia sungguh mencintai Nina bahkan sejak sebelum dia menikahinya. Namun, memang ada yang salah dalam dirinya. Kejujuran itu yang belum ada, hingga membuat dirinya salah kaprah memaknai arti cinta dan sebuah rumah tangga.


"Maafkan aku. Aku janji akan benar-benar berubah," lirih Johan, sambil menatap istrinya sendu.

__ADS_1


"Aku tunggu keseriusan dan niat baikmu," Nina tersenyum tipis.


"Akan aku buktikan, bahwa aku akan menjadi suami yang benar-benar kau idamkan, Sayang," Johan menunjukkan keseriusannya.


"Aku percaya kepadamu. Jangan kecewakan aku," sahut Nina sekali lagi.


Hingga tak terasa, mereka pun akhirnya sampai di kediaman keluarga Dewangga. Begitu masuk, Nina memutuskan langsung masuk kamar untuk membersihkan dirinya, sementara Johan masih harus berbasa-basi sebentar bersama Ryan, Arya dan juga Rudi. Begitu Ryan dan Arya kembali ke kamar, Johan pun tak segan meninggalkan Rudi sendirian. Bahkan ledekan yang sempat Rudi ucapkan pun tak dia hiraukan. Yang ada di pikirannya saat ini hanya satu. Nina, Nina dan Nina seorang.


Begitu masuk, Johan pun langsung tersenyum menang mendapati istrinya baru saja keluar dari kamar mandi, dengan selembar handuk yang melilit sebagian tubuhnya saja. Tak mau melewatkan kesempatan, Johan mendekat dan mengangkat tubuh istrinya, sebelum akhirnya istri kecilnya itu berada di bawah kungkungannya.


"Ingat, cinta dan nafsu itu jauh bedanya," gumam Nina lirih.


"Tapi kau juga harus ingat, bahwa dalam cinta dan nafsu itu banyak persamaannya," Johan sudah mengerling nakal.


"Apa?" tanya Nina dengan polosnya.


"Jika cinta dan nafsu itu bercampur menjadi satu, maka nikmatnya luar biasa," Johan mulai membuka handuk yang menutupi tubuh polos Nina dan menghempaskannya ke lantai begitu saja.


"Huh, dasar,"


"Kau tak percaya? Akan kubuktikan sekarang juga. Aku mencintaimu, makanya aku selalu bernafsu jika sedang bersamamu. Buktinya, nafsu itu tak pernah muncul ketika aku melihat wanita lain. Berbeda dengan ketika aku melihatmu," Johan mulai menyusuri setiap inchi tubuh istrinya tanpa ada yang terlewati.


"Gombal," cicit Nina dengan suara yang sudah sangat parau, akibat perlakuan suaminya di bagian-bagian sensitifnya.


"Apa perlu kita coba? Kau boleh pilih wanita mana yang akan kau berikan kepadaku, dan kita akan lihat apakah nafsu itu muncul seperti ketika aku bersamamu," ucap Johan lagi, tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Enak saja. Tidak boleh. Kau hanya boleh salurkan nafsumu itu kepadaku," Nina sudah menceracau tak jelas, hingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2