METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jangan Menduga-Duga


__ADS_3

Begitu Pak Mamad memarkir mobilnya di basement Dewangga Group, Rani dan Lena turun dan berjalan sambil bergandengan tangan. Begitulah mereka jika sedang berjalan berdua tanpa suami-suami di samping mereka. Kemanapun mereka berjalan, tangan mereka akan saling berpautan.


Seperti hari itu. Merasa bosan di rumah karena free agenda, atas inisiatifnya, Rani mengajak Lena untuk memberi kejutan pada suami mereka di kantornya.


"Kira-kira mereka suka nggak ya kita tiba-tiba datang ke sini? Kalau Mas Ryan marah gimana? Kamu kan harus minta izin dia dulu kalau mau pergi kemana-mana? Apalagi pergi tanpa Naja," celoteh Lena sambil terus mengikuti kemana Rani menarik tangannya.


"Mana ada kejutan pakai izin duluan. Aneh-aneh aja sih kamu. Kalau dia tanya kenapa nggak bilang-bilang, tinggal jawab aja mau kasih kejutan. Kalau dia nggak suka, tinggal pura-pura ngambek, dia sendiri yang akhirnya kelimpungan. Beres kan?" sahut Rani dengan entengnya. Sikapnya yang selalu ceria, juga tingkahnya yang selalu energik meski perutnya kini sudah membola, membuat semua orang yang melihatnya akan tersenyum penuh cinta. Makanya kalau seorang Rani sampai mempunyai musuh sebegitu banyaknya, sudah bisa dipastikan bahwa musuhnya itu pasti bukan orang baik dan merasa terancam dengan kehadirannya.


"Kamu ini ya, mentang-mentang jadi istri yang sangat disayang, jadi seenaknya saja main ancam sembarangan," cicit Lena sambil geleng-geleng kepala.


"Emangnya kamu enggak?" Rani menoleh dan memperhatikan Lena dengan tatapan penuh tanya.


"Iya juga sih. Ha-ha-ha," mereka berdua pun tergelak bersamaan.


"Kalau mereka sedang sibuk gimana?" tanya Lena lagi.


"Tunggu aja sampai mereka selesai," jawab Rani santai.


"Kalau lama?" Lena tak henti bertanya.


"Kita tinggal ngopi aja, bawel," Rani semakin gemas mendengar ocehan Lena yang tak juga kehabisan pertanyaan dari mulutnya.


"Kamu kan nggak boleh ngopi sama suamimu," Lena menghentikan langkahnya, demi mendapatkan satu jawaban lagi dari pertanyaan terakhirnya.


"Kalau nggak ketahuan kan boleh. Sudah ahh, kita masuk," saking asyiknya mereka mengobrol, mereka sampai tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di depan pintu ruang yang sedari tadi ditujunya.


"Eh, aku ke ruang Kak Tama, kamu masuk ke ruang suamimu. Gimana sih," Lena menghentikan tangan Rani yang sudah menempel dan siap memutar gagang pintu.


"Kamu yang gimana? Biasanya kan mereka selalu berdua," sahut Rani sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kalau ...," sebelum Lena menyelesaikan pertanyaannya, pintu sudah dibuka dari dalam, bersamaan dengan munculnya wajah Johan.


"Silahkan Nona, Tuan Ryan dan Tuan Arya sudah tidak sabar menunggu Anda berdua di dalam," Johan menyapa keduanya dengan senyum anehnya yang khas.


"Bagaimana mereka tahu kalau kami datang? Ahh sudahlah nggak usah dijawab. Apa sih yang mereka nggak tahu?" celoteh Rani sambil menarik tangan Lena masuk ke dalam.


"Anda harus belajar lebih keras, bagaimana caranya memberi kejutan tanpa suami Anda tahu, Nona," sahut Johan sambil mengikuti langkah Rani dan Lena.


Rani tak menjawab. Johan memang lebih menyebalkan jika dibandingkan dengan Rudi dan Naja, jadi Rani lebih sering mengacuhkan perkataannya dari pada hatinya kesal dan tak bisa mengendalikan emosinya.


"Hubby!" seru Rani sambil menghampiri Ryan yang sedang duduk di sofa. Rani dengan begitu enaknya langsung duduk di pangkuan suaminya tanpa menyadari kehadiran Safira di sana.


"Pelan-pelan dong, Sayang. Kamu ini kayak nggak lagi hamil saja. Ingat, di dalam sini ada si jagoan yang harus kamu jaga," Ryan membulatkan matanya.


"Maaf, By. Rani lupa. Hi-hi-hi," sahut Rani dengan manja.


Safira yang memperhatikan kemesraan Rani dan suaminya, hanya tersenyum saja, walaupun ingatannya jadi kembali pada wajah Tede saat terakhir menghembuskan nafasnya.


"Hmm, Hmm," Arya berdehem kencang.


"Mas Arya apaan sih? Kalau mau sana tuh sama Le ...," Rani menghentikan ocehannya, begitu menoleh dan menyadari ternyata ada Safira di depannya.


"Eh, ada Tante Safira? Maaf, Tante. Rani tidak menyadari kalau ada Tante di sini. Dari tadi Rani fokus ke arah Mas Ryan soalnya. Maaf tidak sopan, Tante," Rani salah tingkah. Dia langsung beranjak dari pangkuan suaminya dan membenarkan posisi duduknya di sofa, sambil sibuk merutuki kecerobohannya.


"Bisa-bisanya aku tak lihat Tante Safira duduk di situ? Duh, terlalu fokus pada suami tampanku membuatku tak memperhatikan yang lainnya," rutuknya dalam hati.


Semua yang berada di dalam ruangan itu hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan Rani yang selalu heboh dan bersikap manja jika sedang bersama suami dan orang-orang terdekatnya. Begitu juga dengan Lena. Tanpa menaruh rasa curiga dengan kehadiran Safira di kantor suaminya, Lena yang saat itu sedang berdiri di samping sofa pun masih bisa tertawa lepas menyaksikan kehebohan Rani yang selalu sukses membuat orang lain bisa tertawa.


Melihat Lena yang begitu bahagia di tengah-tengah keluarganya, membuat dada Safira tiba-tiba terasa sesak.

__ADS_1


"Ya Allah, tawanya begitu lepas. Apakah dia masih bisa tertawa seperti ini saat tau bahwa aku adalah ibu kandungnya? Bagaimana jika sebaliknya?" gumam Safira dalam hati.


"Oh iya, Tante. Tumben Tante datang ke Dewangga Group? Ada urusan bisniskah Tante?" jiwa kepo Rani meronta-ronta.


"Tante Safira ada urusan dengan Arya dan Lena, Sayang. Kita duduk di kursi kerja Hubby saja ya, biar mereka bisa bicara," sahut Ryan sambil beranjak dan menarik tangan Rani agar ikut dengannya menuju kursi kerja yang berada tak jauh dari sofa.


Rani yang masih belum menaruh rasa curiga pun hanya mengangguk tanpa banyak bertanya. Begitu Ryan duduk di kursinya, Rani langsung mendudukkan dirinya di pangkuan Ryan, sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya. Mereka pun bermesraan, seolah tak ingin mendengar percakapan yang mereka dengar dari arah sofa.


"Duduklah, Sayang," ucap Arya sambil mengulurkan tangannya dan meraih jari jemari Lena. Lena pun hanya menurut, tanpa tahu apa yang akan disampaikan Tante Safira kepadanya.


"Permisi, Tante," ucap Lena dengan sopan, saat dia mengambil posisi duduk di sebelah suaminya.


"Ada apa, Kak?" Lena mengerutkan dahinya dan menatap suaminya penuh tanda tanya.


"Tante Safira ada perlu dengan kita. Ada yang ingin dia sampaikan, terutama kepadamu," jawab Arya, sambil merapatkan posisinya, dan merangkul Lena hingga tangannya tepat berada di bahu istrinya.


Deg.


Tiba-tiba ada rasa tidak nyaman yang menghinggapi hati Lena tanpa bisa dibendungnya. Lena mulai menduga-duga, meski dia sendiri belum berpikir bahwa semua yang kini ada di hadapannya berkaitan dengan masa lalunya, dan kenyataan tentang sosok ibu kandungnya yang sebenarnya.


"Kak, ini ...," Lena mulai tak tenang.


"Sssttt, dengarkan dulu. Jangan menduga-duga apalagi berpikiran buruk sebelum Tante Safira selesai berbicara," cegah Arya sambil menatap Lena penuh makna.


"Baiklah, Tante. Rasanya baru kemarin kita bertemu di Cafe itu. Ada apakah gerangan hingga Tante ingin bertemu dan berbicara denganku?" Lena mulai berbicara, dengan gaya seorang pengacara yang sangat khas, meskipun setahun sudah dia resmi meninggalkan profesi itu dalam hidupnya.


Deg.


Kali ini, giliran Tante Safira yang merasa gejolak di hatinya kian meronta. Dia pun mau tak mau harus menelan salivanya terlebih dahulu, sebelum kata-kata itu benar-benar keluar dan merubah suasana ruangan itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2