METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jujurlah


__ADS_3

Rani menarik nafas panjang, kemudian mengumpulkan semua kewarasan dalam dirinya agar bisa tetap bersikap tenang.


Dengan gaya khas seorang negosiator, dia melenggang begitu saja ke arah sepasang manusia yang sebenarnya berulang kali berhasil mencabik-cabik hatinya itu.


"Maaf ya, tolong sopan sedikit jika sedang bersama suami orang," tiba-tiba Rani mengangkat tangan Meysie yang sedang menggenggam erat tangan Ryan, meletakkan tangan itu di atas meja, kemudian duduk di pangkuan suaminya begitu saja sambil mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang kini sudah memangkunya dengan ekspresi terkejut yang tak mampu disembunyikannya.


"Sayang, kamu nyusulin Mas?" cecar Ryan sambil menatap lekat istrinya. Dia sangat tahu bahwa istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Tentu saja. Tidak ada yang keberatan bukan? Apakah kau keberatan Meysie?" Rani mengalihkan pandangannya dari Ryan ke arah Meysie.


Sementara Meysie yang ditanya malah menjadi salah tingkah. Wajah putih bersihnya berubah menjadi merah seketika. Dia memilih diam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa. Bukan hanya karena Meysie kaget dengan kehadiran Rani yang tiba-tiba, namun karena tatapan Rani yang waktu itu seolah ingin menerkamnya, sehingga ada rasa ngeri di hati Meysie untuk sekedar menunjukkan kekuatannya dan merebut pria yang saat itu masih berada di hadapannya.


"Ohh, maaf aku lupa. Dia kan suamiku. Tidak seharusnya aku bertanya kepadamu," ucap Rani lagi, yang sontak membuat wajah Meysie semakin memerah.


"Sayang, kamu di antar siapa?" Ryan berusaha mencairkan suasana yang berubah menjadi sangat tegang itu.


Rani hanya mengangkat bahunya, dan itu cukup membuat pria yang masih memangkunya itu kaget tak percaya.


"Jangan bilang kau membawanya sendiri, Sayang!"


"Bagaimana lagi? Beginilah nasib istri punya suami yang begitu diminati kaum hawa," jawab Rani, sambil melirik Meysie yang belum juga bergeming dari tempatnya.


"Apakah kalian sudah selesai, Meysie? Jika sudah tidak ada yang ingin kalian bicarakan, aku sudah sangat merindukan suamiku," serang Rani yang akhirnya sukses membuat Meysie langsung meraih tas nya dan berdiri.

__ADS_1


"Saya sudah selesai. Selamat bersenang-senang," dengan mata berkaca-kaca akhirnya Meysie beranjak dan pergi.


Rani pun segera melepas rangkulannya dari leher suaminya dan pergi begitu saja, setelah melihat Meysie sudah tenggelam bersama lift yang dinaikinya.


"Sayang!" panggil Ryan sambil mengikuti Rani yang berjalan menuju arah lift.


"Gawat ini," gumam Ryan dalam hati, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Begitu memasuki kamar suaminya, Rani langsung meletakkan kunci mobil dan handphone yang sedari tadi digenggamnya di atas meja. Tak berselang lama, dengan tenang dia mendudukkan tubuh lelahnya di atas sofa yang terletak persis di samping tempat tidur yang masih rapi dan putih bersih.


Ryan segera menyusul istrinya yang tak lagi manja seperti saat Ryan berpamitan tadi pagi. Bahkan kini tatapan Rani datar, seolah sedang ingin menunjukkan wibawanya.


"Sayang!" lirih Ryan, sambil berjongkok di depan Rani. Dengan sepenuh hati, Ryan mengangkat kedua tangannya kemudian diarahkan pada kedua pipi istrinya. Tanpa ragu, keningnya pun ditempelkan begitu saja pada kening gadisnya, bahkan Ryan sangat berusaha menaklukkan tatapan datar Rani dengan tatapan lembutnya.


"Jujurlah meski Rani yang harus tersakiti. Jika memang sebegitu berartinya Meysie dalam hidup Mas Ryan, stop berbuat dosa. Halalkan dia dan Rani akan pergi sejauh-jauhnya," Rani berbicara dengan tegasnya, dan itu membuat Ryan merasa bahwa emosi Rani justru sedang pada puncaknya.


"Baiklah, tidak ada yang perlu Mas tutup-tutupin lagi. Malam ini juga kamu harus tahu semuanya," jawab Ryan sambil beranjak dan duduk di sebelah istrinya.


Mendengar ucapan Ryan, tiba-tiba dada Rani bergemuruh. Sekuat tenaga dia terus berusaha agar tidak ada air mata setetes pun yang turun dari kedua matanya, demi menjaga wibawanya di depan suaminya.


Sebenarnya Rani tidak siap mendengar kemungkinan terburuk yang sangat mungkin diucapkan oleh suaminya. Namun karena tekadnya sudah bulat untuk mengakhiri kegundahannya, akhirnya dia menegarkan hatinya untuk mendengar apapun yang akan diucapkan suaminya.

__ADS_1


"Mas mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu, sejak ikatan itu Mas ikrarkan di hari pernikahan kita," Ryan menghentikan kalimatnya sesaat, kemudian menarik nafas panjang.


"Sampai Mas resmi melamarmu beberapa bulan yang lalu, jujur hanya Meysie yang masih merajai hati Mas ketika itu. Namun waktu demi waktu bersamamu, melihat kehebatanmu, mendengar keberanianmu, juga merasakan ketulusanmu ketika menjalankan peranmu di luar sana, lama-lama membuat Mas penasaran untuk lebih dekat denganmu dan akhirnya Mas menjadi sangat mengagumimu. Dan detik-detik saat ijab kabul itu adalah detik-detik dimana cinta ini mulai tumbuh dan bersemi. Dan kamu tahu? Saat tragedi penyekapanmu beberapa waktu yang lalu adalah saat-saat dimana Mas benar-benar menyadari bahwa bukan hanya cinta yang ada di hati ini, namun kau juga adalah separuh dari nafas dan nyawaku," Ryan menghentikan kalimatnya, mencoba mendalami sorot mata istrinya.


"Itu tidak menjawab apa yang Rani lihat saat Mas Ryan bersama Meysie hari ini, juga saat kalian berpegangan tangan di Bali," Rani menanggapi masih dengan tatapan datarnya.


"Hahhh," desah Ryan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Percuma dia berkata panjang lebar untuk menjelaskan jika Rani masih bersikap seperti itu. Rani juga tidak akan percaya dengan apapun penjelasannya.


"Apa kamu cemburu?" tanya Ryan berusaha mengalihkan.


"Itu dirasakan oleh semua istri yang melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain," jawab Rani sambil memalingkan mukanya.


"Apa kamu mencintaiku?" Ryan memberanikan diri untuk menanyakan hal yang selama ini berkecamuk di hatinya. Bahkan sekarang dia sudah siap jika pun harus mendengar jawaban yang membuat cintanya harus bertepuk sebelah tangan.


"Jika Rani tidak mencintai Mas Ryan, Mas pikir Rani rela jauh-jauh menyetir mobil ke sini, bahkan dengan senang hati harus menyelesaikan perjalanan selama 8 jam sampai ke tempat ini hanya untuk memastikan bahwa Mas Ryan tidak sedang bersama perempuan itu? Meskipun ternyata sia-sia. Mas benar-benar sedang...," Rani tidak melanjutkan kalimatnya. Kristal bening di matanya mengalir begitu saja mengingat apa yang tadi dilihatnya.


Menyadari pertahanannya sudah mulai runtuh, Rani pun segera mengusap wajahnya dengan kasar. Bergegas dia berdiri dan hendak meninggalkan suaminya. Namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba perutnya terasa sangat nyeri. Dia terus memegangi perutnya sambil meringis menahan sakit, dah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa begitu saja.


"Sayang, kamu kenapa?" Ryan sangat panik melihat istrinya yang tiba-tiba merintih kesakitan.


Dengan sigap Ryan mengangkat tubuh Rani hendak membaringkannya di atas tempat tidur, namun matanya membelalak begitu melihat ada darah yang menetes perlahan di kaki istrinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


🌹😊❤


Jangan lupa semangatin author dengan berbagi jempol, vote, rate 5 juga comment positif dan tekan tanda love nya ya.


__ADS_2