METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Lebih Menakutkan Daripada Kematian


__ADS_3

Malam ini, sejumlah pria berbadan besar berdiri di depan sebuah ruangan dengan tegap dan seolah siap berperang. Wajah mereka terlihat serius, tak ada yang saling bercanda ataupun berkata-kata. Semua memasang ekspresi garang, apalagi dengan pakaian yang serba hitam, dilengkapi dengan senjata dan earpeace yang selalu dalam mode siaga satu, dan siap menerima perintah sewaktu-waktu.


Ya, mereka sedang berjaga di depan sebuah ruang mewah berukuran enam kali lima. Seorang gadis berparas cantik, dengan balutan seragam pelayan yang khas, terbaring tak berdaya di salah satu sisi ranjang dengan tangan dan kaki yang diikat sangat kencang. Mulut mungilnya pun ditutup rapat dengan lakban bewarna hitam, membuat teriakan dan rintihannya tak akan mampu terdengar dari luar.


Gelap dan hening, itulah yang gadis itu rasakan. Meskipun sebelum para pengawal itu meninggalkannya seorang diri di kamar lampu begitu terlihat terang, tapi semua lampu tiba-tiba dimatikan sebelum akhirnya mereka semua meninggalkan gadis itu sendirian.


Sekarang, dia hanya melihat kegelapan dan merasakan kedinginan. Bahkan ruang penjara yang sangat dia harapkan, justru tak juga dia dapatkan. Gadis itu pun kebingungan, kenapa justru dia berada di kamar hotel dan dibaringkan di atas tempat tidur, bukannya dibalik jeruji besi?


Tiba-tiba gadis itu bergidik ngeri. Jantungnya berdegup lima kali lebih kencang, apalagi saat terdengar langkah seseorang dan sengaja membuat lampu itu dinyalakan. Dia sempat memejamkan mata, mencoba beradaptasi dengan bias cahaya yang masuk. Hingga akhirnya, ketika matanya sudah mulai bersahabat dengan cahaya lampu yang tiba-tiba menyala, dia bisa menangkap sosok pria muda dengan stelan jas warna gelap sedang berjalan ke arahnya.


"Emmmmmmm," ceracau tak jelas keluar dari mulut gadis yang kini masih dibungkam dengan lakban itu.


"Kau mau bicara apa, Sayang? Bicara yang jelas!" ucap Indra dibuat selembut mungkin.


"Emmmmmmm," gadis itu kembali menceracau, sambil menggerak-gerakkan tubuhnya seolah dengan begitu tali yang mengikat tangan dan kakinya akan berhasil terlepas.


"Oh ..., oh ..., oh ..., oh ..., oh ..., aku lupa kalau mulut manismu itu sengaja mereka tutup agar kau tak berteriak. Coba kita lihat, apakah mulutmu masih semanis saat pertama aku lihat?" ucap Indra lebih mendekat, lalu membuka lakban itu dengan cepat.


Gadis itu kaget, ketika Indra benar-benar memposisikan dirinya sangat dekat, bahkan hampir tak ada jarak lagi di antara mereka.


Indra tersenyum dengan senyum paling menakutkan yang dia punya. Sang gadis itu pun langsung berteriak begitu mulutnya bisa bebas bicara, sayangnya mau dia berteriak sekencang apapun, hal itu tak akan berarti apa-apa karena ruangan itu kedap suara.


"Zara Dhelisa. Sekencang apapun kau berteriak, tak akan ada yang bisa mendengar suaramu. Lagi pula kau terlalu berani hingga nekat masuk ke kandang singa jantan. Mereka semua yang di luar, sudah mengucap sumpah setia bahkan nyawa pun rela mereka berikan. Mereka tak akan meletakkan kesetiaannya hanya untuk menolong seorang agen kecil seperti kamu," Indra semakin merapatkan tubuhnya, dan berbicara pelan tepat di telinga Zara.


Zara membelalakkan mata, tak menyangka jika pria di depannya bisa secepat itu mendapatkan data lengkap tentang dirinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Sayang? Kau sungguh terkejut, aku bisa tahu siapa dirimu secepat ini?" tatapan Indra membuat Zara bergidik ngeri.


"Kenapa kau diam saja? Sekarang, katakan kepadaku! Siapa yang menyuruhmu melakukan percobaan pada majikanku? Kenapa kau menusuknya, hah?" tiba-tiba Indra berubah menjadi garang, bahkan dagu Zara pun sudah dia cengkeram dengan kencang.


Zara bungkam. Dia sama sekali tak berhasrat untuk menjawab semua pertanyaan pria muda di hadapannya.

__ADS_1


"Jawab!" Indra berteriak.


"Cih, aku tak sudi menjawab pertanyaan konyolmu itu. Kau bunuh saja aku. Nyawa dibayar dengan nyawa. Impas bukan? Kau kira aku takut mati?" sahut Zara dengan begitu angkuhnya.


"Keras kepala juga kau rupanya. Ayo kita lihat, sekuat apa kau akan bertahan dengan pendirianmu," Indra menyeringai, terlihat sangat menakutkan.


"Tunggu apa lagi, heh? Bunuh aku sekarang juga," tegas Zara tanpa ada rasa takut lagi di hatinya.


"Hukuman mati terlalu enak untukmu, Sayang. Kau tidak pernah membayangkan, bahwa hukuman yang akan aku berikan lebih mengerikan dari sebuah kematian. Ha-ha-ha-ha," tawa Indra menggelegar memenuhi seluruh sudut ruang, membuat hati Zara sedikit bergetar.


"Lebih mengerikan dari sebuah kematian? Hukuman apa yang akan dia berikan?" Zara bertanya-tanya dalam hati.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu melakukan penusukan itu?" Indra menghentikan tawanya kemudian kembali memasang mode garang.


"Aku tak sudi menjawab pertanyaanmu itu," Zara membuang muka.


"Baiklah. Lagi pula aku tak butuh jawabanmu. Felix Adinata. Aku tahu betul jika dia yang menyuruhmu," oceh Indra sambil terkekeh.


"Kanapa kau terdiam, Gadis manis? Apa kau sedang sibuk menerka-nerka kenapa aku bisa mengantongi nama itu dengan begitu mudahnya? Biar aku beri tahu. Mendapatkan informasi itu semudah saat ini aku mengambil nyawamu. Apa kau paham?" Indra kembali merapatkan tubuhnya. Bahkan dia mendekatkan wajahnya, tepat di depan wajah Zara.


"Apa yang kau inginkan?" Zara menghindari bertemu mata dengan pria yang kini tak ada jarak lagi dengannya.


"Gadis cerdas. Tak heran jika Felix Adinata memilihmu untuk melakukan tugas berbahaya itu," Indra bangkit, menuju sofa panjang di samping ranjang, dan mendudukkan diri di sana sambil menyedekapkan tangannya. Pandangannya tak terlepas dari gadis cantik di depannya.


"Katakan apa yang kau inginkan dariku?" Zara mengulangi pertanyaannya.


"Kesetiaanmu," kata Indra datar.


"Kau terlalu meremehkan aku, Tuan. Jangan harap aku akan menerima tawaranmu begitu saja," Zara tersenyum sinis.


"Baiklah, aku tak akan memaksamu. Dengan kata lain kau memilih hukuman itu. Mari kita mulai hukumanmu. Ini akan sangat menyenangkan," Indra berdiri dan menyeringai nakal.

__ADS_1


Dia kembali mendekati ranjang, dan berhenti sejenak sambil menatap Zara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang terlihat begitu menyeramkan. Sedetik kemudian, Indra melepaskan jas yang dia kenakan dan menghempaskannya ke lantai begitu saja. Setelah jas itu terlepas, kemeja dan celana panjangnya pun segera dia buka, hingga yang tersisa hanya sebuah celana boxer yang menutupi benda pusakanya saja.


"Apa yang akan kau lakukan?" Zara membulatkan mata, melihat apa yang dilakukan pria di depannya.


"Sudah aku bilang, hukumanmu akan lebih menyeramkan dari sebuah kematian, Sayang. Tapi akan aku pertimbangkan jika kau berubah pikiran. Sekarang pilih, berikan kesetiaan itu pada tuanku, atau aku akan memulai hukumanmu," tegas Indra, sembari meraih dagu Zara.


Zara masih terdiam. Tidak mudah baginya untuk sebuah kata pengkhianatan, tapi terlalu sakit jika yang Indra ambil adalah kesucian. Rupanya Indra benar-benar sudah mendapatkan informasi lengkap tentang seorang Zara Delisha. Hingga dia memilih cara itu untuk menawarkan barter kepada Zara. Ya, selama ini Zara memang menghalalkan segala cara untuk memuluskan misinya, kecuali satu, yaitu memberikan kesucian dirinya. Karena bagi Zara, kesucian itu harus tetap dia jaga untuk seorang pria yang telah lama dicintainya.


"Apa kau lebih memilih hukumanmu, Sayang? Baiklah, dengan senang hati akan aku lakukan," ucap Indra sambil meraih sebuah handphone yang sebelumnya dia letakkan di atas meja.


"Apa yang akan kau lakukan?" teriak Zara benar-benar sudah seperti seekor singa betina.


"Tentu saja kita akan mulai bercinta. Sayang bukan, jika moment manis kita tak bisa dinikmati juga oleh pria yang kau cintai itu?" Indra terkekeh, sambil menekan icon video untuk merekam hukuman yang akan dia berikan kepada Zara.


"Gila kau ya?" wajah Zara mulai memerah menahan marah.


"Sudah kubilang, ini lebih menakutkan dari pada sebuah kematian, Sayang," Indra terus mendekat, bahkan kini dia telah merobek baju Zara, hingga tampak kain berenda yang menutupi dua benda berharga dalam dirinya. Tangan dan kakinya yang masih terikat, membuat dia tak mampu berbuat apa-apa.


"Kau mau kita mulai dari mana, Sayang?" senyum Indra terlihat lebih menyeramkan. Bahkan kini tangannya mulai mengarah ke bagian rok Zara, dan segera merobeknya. Membuat Zara hanya bertahan dengan dua kain berenda di bagian bawah leher dan kain segitiga di bagian mahkota Zara.


"Kau benar-benar gila!" seru Zara dengan air yang sudah menggenang di matanya.


"Apa kau masih mau melanjutkannya, Sayang?" kini tangan Indra mengarah ke area segitiga Zara.


"Hentikan, Pria Gila! Hentikan! Aku menyerah! Aku akan mengabdikan diriku seumur hidupku. Ambil kesetiaanku, tapi jangan nodai kesucianku," seru Zara, langsung membuat Indra menjauhkan tubuhnya. Bahkan kini Indra meraih selembar selimut dan menutupi tubuh Zara hingga sebatas lehernya.


Setelah Indra mengenakan pakaiannya kembali, dia membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Zara dari balik selimut yang menutupi tubuh setengah polosnya.


"Pakailah ini! Aku tunggu di luar," Indra melemparkan celana dan kaos panjang kepada Zara kemudian keluar, setelah mematikan rekaman video yang masih terus berjalan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2