METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Surga Yang Telah Lama Mereka Rindukan


__ADS_3

Dua malam telah berlalu, dan mereka melewati malam-malam itu masih dengan rindu yang sama, rindu dalam diam yang semakin lama semakin tak tertahankan.


Dan seperti biasa, pagi itu Ryan sudah menunggu laporan istrinya.


"Lagi apa, Sayang?" suara Ryan di seberang sana bertanya penuh selidik melalui panggilan suara.


"Rani lagi olah raga, Mas," jawab Rani tanpa beban.


Ryan yang mendengar jawaban Rani langsung teringat dengan pesan yang Hengky kirimkan semalam sebelum mereka berangkat.


"Jangan-jangan lagi sama Hengky nih," pikirnya dalam hati.


Dari pada berpikir yang bukan-bukan, Ryan segera memutus telphonnya kemudian langsung menggantinya dengan video call. Dan benar saja, ketika Ryan melihat wajah Rani dalam layar ponselnya, ada wajah Hengky disana. Walaupun mereka tidak hanya berdua saja, namun entah mengapa rasa cemburu itu datang begitu saja dan menyesakkan dada.


"Oke. Have fun," ucap Ryan menutupi kecemburuannya, kemudian mematikan ponselnya.


Rani bersikap santai dan biasa saja, tidak mengerti apa yang sedang berkecamuk dalam hati suaminya. Dan hari itu, Rani beraktivitas tanpa ada beban apapun, berbeda dengan Ryan yang seharian sudah tidak terkondisikan. Sepanjang hari dia uring-uringan dan inginnya marah-marah dengan alasan yang tidak jelas.


***


Malam ketiga pun tiba. Rani bersiap tidur setelah mandi dan mengganti bajunya dengan pakaian tidur terbuka yang disiapkan mamanya untuk mengganti seluruh gaun tidur yang dia punya. Walaupun malam itu tidak ada Ryan bersamanya, tapi karena gaun tidur yang lama sudah raib entah kemana, mau tidak mau Rani tetap memakai baju tidur yang ada. Baju tidur yang bahkan hampir tidak bisa menutupi tubuh polosnya.


Sebelum Rani membaringkan tubuhnya, diraihnya Hp yang ada disampingnya, kemudian dipencetnya nomor Ryan untuk laporan terakhir sebelum dia memejamkan mata.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat Rani mau memencet tombol panggil, ternyata panggilan Ryan masuk.


"Assalamu'alaikum, Mas. Rani baru aja mau telphon Mas Ryan, ehhh Mas Ryan telphon duluan," cerocos Rani dengan bawelnya.


"Wa'alaikumsalam. Udah, bawelnya entar aja. Bukain pintunya. Mas sudah di depan kamar!" jawab Ryan datar.


"Maksud Mas?" tanya Rani dengan nada dan ekspresi bingung.

__ADS_1


"Ayo bukain pintunya!" Ryan sudah tidak sabar.


"Mas Ryan nyusulin Rani?" Rani yang diminta membuka pintu masih nerocos saja.


"Iya Sayang, buruan dong. Mas bisa kering berdiri di depan pintu nih," ucap Ryan setengah kesal.


Rani pun segera beranjak, mengintip melalui lubang pintu, dan ketika melihat suaminya disana, dengan girang dia segera membuka pintu kamarnya. Entah kenapa, mengetahui Ryan benar-benar menyusulnya membuat hatinya berbunga-bunga.


Ryan segera masuk bersama koper yang dibawanya setelah pintu terbuka, kemudian menutup pintu itu kembali dan menguncinya.


"Kok Mas Ryan nggak kabarin Rani dulu kalau Mas mau.... Mhmmmhmm..., mhmmmm...," sebelum Rani menyelesaikan pertanyaannya, Ryan sudah langsung mengerjai istrinya tanpa ampun.


Entah mengapa malam itu Ryan sudah tidak bisa menahan lagi rasa rindu dan cemburu yang hampir tiga malam ini sangat mengganggu.


Ryan benar-benar tidak bisa lagi seperti malam-malam sebelumnya yang masih bisa menahan untuk tidak berbuat apa-apa. Rasa rindu terhadap istrinya membuat dia tidak bisa mengendalikan lagi dirinya.


Dan entah mengapa, tidak ada sedikitpun usaha Rani untuk menolak apapun yang dilakukan suaminya.


***


Hingga shubuh menjelang, Rani masih belum keluar dari dalam selimut yang menutupi tubuh polosnya. Bahkan alarm yang sengaja dia pasang setiap harinya sudah berbunyi berkali-kali, namun Rani masih saja mematikannya dan merapatkan selimut itu di atas tubuhnya lagi.


Ryan yang melihat hal tak biasa pada Rani, segera duduk disamping ranjang dan mengelus puncak kepala istrinya kemudian mendekatkan mulutnya tepat di telinganya.


"Sudah hampir shubuh, Sayang. Kita mandi dulu yuk. Nanti kita terlambat sholatnya," ucap Ryan dengan sayang.


Rani tidak juga bergeming, sehingga Ryan berinisiatif untuk membangunkan paksa dengan membalikkan tubuhnya.


"Auww," Rani berteriak kemudian merintih kesakitan.


"Ehhh, kenapa? Kenapa?" Ryan bertanya kebingungan.

__ADS_1


Rani tidak menjawab, dia hanya meringis dan terlihat menahan tangis.


"Mana yang sakit? Coba Mas periksa," tanya Ryan seolah tidak mengerti.


"Atau kita ke Rumah Sakit saja ya, biar dokter yang obati," ajak Ryan kemudian.


"Ke Rumah Sakit? Nggak mau, Mas. Rani malu. Yang ada ditertawakan malah sampai sana," tolak Rani, sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ya sudah, berendam pakai air hangat saja ya?" ucap Ryan sambil bersiap mengangkat tubuh Rani tanpa menunggu persetujuan. Rani pun mengangguk dan segera melingkarkan tangannya ke leher Ryan.


Saat Ryan mengangkat tubuh Rani, tiba-tiba mata Rian membelalak melihat sprey yang penuh dengan bercak darah. Namun Ryan segera menyadari arti dari semuanya, kemudian membawa Rani ke kamar mandi dan mendudukkan Rani di atas kloset sambil menunggu air dalam bathtub penuh.


Setelah mereka mandi air hangat, mereka segera berganti pakaian dan menunaikan sholat shubuh berjama'ah.


Seperti biasa, setelah salam kedua Ryan membalikkan tubuhnya hingga mereka duduk berhadapan. Rani mencium punggung tangan suaminya, dan Ryan mengecup kening istrinya. Setelah mereka selesai berdo'a, Ryan kembali membalikkan tubuhnya, menggenggam erat tangan Rani kemudian berbisik sesuatu di telinganya.


Mendengar itu, tiba-tiba wajah Rani merona semu menahan malu, meski akhirnya tersenyum simpul diantara temaram yang membuat hati mereka saling berpadu.


Mereka terus bercerita lewat denyut nadi, walau tak ada kata-kata. Hanya pandangan mata yang membuat mereka terus mengendap dan meraih bulan di ujung telaga, kemudian kembali berlari menerobos hutan, menerjang lautan, mendaki puncak hingga ke perbatasan, yang mengantar mereka pada syurga yang telah mereka rindukan.


Ternyata rasa rindu itu mampu mengalahkan rasa lain dalam diri mereka. Tak lagi ada kegundahan di hati mereka tentang perasaan masing-masing. Tak ada juga kegalauan akan tertolak dengan rasa masing-masing.


Saat itu mereka hanya peduli dengan perasaan cinta mereka sendiri, meski tak tahu cintanya disambut dengan rasa yang sama atau rasa yang berbeda diantara keduanya.


Yang jelas, saat itu mereka bahagia. Semua pesona diantara mereka sudah tersingkap begitu saja. Tak ada lagi rasa malu, tak ada lagi rasa kelu, meski bukan juga karena nafsu semu.


Ini adalah babak baru dari perjalanan cinta mereka. Sebuah awal yang indah, meski diantara mereka belum juga mengakui sesuatu. Akankah cinta itu terungkap dari hati masing-masing melalui mulut mereka sendiri hingga mereka tahu bahwa mereka telah saling mencintai?


BERSAMBUNG


Catatan:

__ADS_1


jangan lupa vote, like, comment dan love ya...


__ADS_2