
"Kok aneh banget sih Mas Hengky? Tak biasanya dia main rahasia-rahasiaan seperti ini, sampai angkat telepon saja mesti jauh-jauh begini. Atau jangan-jangan, orang dalam yang Felix gunakan sebagai sumber informasi proyek itu adalah Mas Hengky?" gumam Fisha dalam hati.
Tiba-tiba keegoan Fisha muncul. Rasa keingintahuannya tentang hubungan antara Felix dan suaminya pun terus menguat dan mendorong segala keberaniannya. Awalnya, Fisha tak pernah mau tahu urusan pekerjaan suaminya. Dia hanya peduli tentang kebahagiaan Hengky juga tentang kesedihan dan permasalahan yang dihadapinya saja.
Namun kini, di hati Fisha tiba-tiba muncul rasa curiga begitu saja, melihat senyum dan sikap aneh yang ditunjukkan suaminya. Sebenarnya Fisha menantikan satu kalimat dari ujung bibir suaminya yang dia harap akan mampu menghapuskan rasa curiga di hatinya. Tapi begitulah Hengky saat itu, dia hanya terdiam tanpa mau membagi sedikit saja cerita kepada istrinya.
Fisha tahu betul, seharusnya dia menjadi orang yang paling mengerti, bahwa sedekat apapun mereka kini, tetap saja ada beberapa detail kehidupan yang enggan Hengky bagi. Bukan karna bersembunyi, tapi karna Hengky tidak ingin Fisha ikut terbebani.
Namun, jika ternyata memang ada sebuah pengkhianatan di balik diamnya Hengky, Fisha harus tetap meluruskan suaminya sebagai seorang istri. Bukankah saat bahagia ataupun terluka mereka tetap harus melaluinya bersama-sama? Begitu juga saat ada yang salah di antara keduanya, mereka tetap harus selalu menjadi orang pertama yang meluruskannya. Ya, sudah seharusnya Fisha turut merasakan apa yang Hengky rasakan, tanpa perlu ada sebuah penjelasan bukan?
Semestinya, Fisha juga harus bersabar menunggu, karna cepat atau lambat, pasti akan ada beberapa bagian kisah Hengky yang dengan sendirinya akan dia bagikan. Hengky pun pasti akan datang dan membutuhkan pelukan Fisha, atau sekedar berharap, Fisha akan berkata, “aku selalu ada untukmu, Sayang.”
Tapi sayang sungguh sayang, keegoan Fisha membuat dia tak sabar untuk menunggu sampai Hengky bercerita dengan sendirinya. Dia terlalu takut menerima kenyataan bahwa pengkhianatan itu benar-benar Hengky lakukan hanya untuk keuntungan perusahaan yang lebih besar.
"Maaf karena kali ini Fisha tak sepenuhnya percaya, Mas," gumam Fisha dalam hati.
Fisha pun terus memperhatikan suaminya dari balik kaca jendela kamarnya. Di balkon, Hengky terlihat memasang wajah sangat serius sambil berbicara dengan Felix yang berada di ujung panggilannya.
Hingga ketika akhirnya Hengky menutup teleponnya, Fisha pun berpura-pura sedang asyik membaca novel sambil menikmati secangkir kopi yang tadi sempat dinikmati suaminya.
"Aku harus pergi. Tidak akan lama, sebelum makan malam aku akan kembali," Hengky berkata sambil mencium kening Fisha, dan langsung keluar setelah menyambar jaket yang terletak di lemari pakaiannya.
__ADS_1
"Mas Hengky mau kemana? Fisha ikut. Fisha kan masih kangen setelah beberapa hari Mas Hengky ke luar kota," Fisha merengek manja.
"Tunggu di rumah saja ya, Sayang. Aku hanya sebentar," sahut Hengky, langsung pergi meninggalkan Fisha di kamar itu sendirian.
Begitu Hengky keluar, Fisha langsung berganti baju dan mengenakan hijab instannya, kemudian segera turun dan menyaksikan suaminya pergi meninggalkan rumah tanpa supir ataupun pengawalan.
"Tak biasanya dia pergi sendirian," gumam Fisha semakin curiga.
Begitu Hengky keluar gerbang, Fisha pun segera menyusul suaminya dengan menggunakan taksi yang dia berhentikan di pinggir jalan.
Waktu itu Hengky sama sekali tidak berpikir jika Fisha sedang mengikutinya, hingga dia tetap santai melajukan mobilnya tanpa sedikitpun melihat ke arah belakang.
***
Tapi baru beberapa saat Zara memejamkan matanya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Hallo," sapa Zara dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Aku yakin kau telah sampai di kota barumu, Zara. Kenapa kau tak memberi kabar kepadaku?" sahut Felix dari ujung telepon yang sukses membuat Zara gelagapan, tak tahu harus beralasan apa kepada tuan yang sebenarnya telah dikhianatinya itu.
"Maaf, Tuan. Saya baru saja sampai dan membereskan barang-barang. Apa ada tugas untuk saya, Tuan?" jawab Zara sekenanya. Zara sungguh tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya baru saja menerima telepon dari Indra kemudian ketiduran.
__ADS_1
"Hmm, sekarang juga kau harus mengikuti gerak seseorang. Aku akan menemuinya di suatu tempat, dan kau harus pastikan bahwa dia tidak membawa pengawal ataupun musuh yang bisa mengacaukan sesuatu yang sudah aku rencanakan," titah Felix tanpa menerima penawaran.
"Baiklah, Tuan. Siapa orang yang harus saya awasi dan dimana tempat yang harus saya datangi?" Zara memastikan.
"Bukalah pesan yang sudah kukirimkan kepadamu. Data lengkap juga tempat pertemuan kami sudah aku tulis di situ," ucap Felix, langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban Zara.
Zara yang sudah terbiasa dengan sikap Felix pun hanya mengangkat bahunya kemudian mulai berselancar dengan ponsel di tangannya. Dia baca dengan seksama nama yang tertera di layar handphone-nya, kemudian dia periksa kemana dia harus pergi untuk mengintai pertemuan mereka.
"Hengky Atmaja," Zara mengeja nama yang dikirimkan Felix sambil mengerutkan dahinya.
"Bukannya dia itu salah satu dari pemilik Green Canyon ya? Untuk apa Felix menemuinya?" Zara kembali bermonolog.
Bahkan sambil beranjak dari tempat tidurnya, Zara tetap fokus dengan layar ponsel di tangannya dan mengingat sepuluh daftar nama pemberian Indra yang wajib mereka curigai.
"Tapi nama Hengky tidak masuk dalam sepuluh daftar nama itu. Apakah memang dia pelakunya hingga mereka bisa begitu kesulitan hanya untuk melacak siapa pengkhianat di antara mereka?" gumam Zara lirih.
Zara terus menerka-nerka sembari bersiap menuju sebuah tempat yang telah Felix beritahukan kepadanya.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian santainya, Zara keluar dan menuju basement apartemen untuk mengambil mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya di sebuah kota yang sama sekali dia belum mengenalnya itu, Zara mengaktifkan navigator pada perangkat GPS miliknya, kemudian mengenakan kacamata hitamnya sebelum akhirnya menekan pedal gasnya, hingga mobil pun melaju dengan kecepatan sedang sebelum akhirnya dia sampai ke tempat tujuannya.
"Hengky Atmaja. Itu dia orangnya," lirih Zara, begitu sosok Hengky tertangkap oleh indra penglihatannya.
__ADS_1
"Aku harus cari tempat yang pas agar bisa merekam pembicaraan mereka. Bukankah Tuan Felix dan anak buahnya tak akan menaruh curiga kalau ternyata aku berada di pihak musuhnya?" Zara kembali bermonolog dan sibuk menerka-nerka.
BERSAMBUNG