
Bagi Ega, wanita yang kini terbaring lemah di depannya itu selalu menjadi sosok yang terindah. Dia adalah bintang yang paling terang diantara berjuta bintang yang bertebaran di tengah langit yang menghitam. Bahkan laksana secawan air, dia mampu melepas dahaga para musyafir.
Ya, di mata Ega, Meysie selalu saja memancarkan keindahan surga. Wajahnya yang cantik, perilakunya yang biasanya lemah lembut, juga pembawaannya yang begitu anggun, sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang Ega dengar tentang tingkahnya selama ini, hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan yang dia miliki.
Namun, biar bagaimanapun Ega tetap bahagia dengan cinta yang dimilikinya. Dia sungguh bersyukur bisa bersanding dengan Meysie, sekalipun sejak mereka menikah belum sekalipun Meysie membuka mata dan terbangun dari tidur panjangnya.
Memang, kisah cinta mereka bukanlah kisah cinta yang sederhana, apalagi kisah cinta yang sempurna. Meski Ega juga tak yakin ketika Meysie terbangun mereka akan bisa hidup bersama dengan segala rasa cinta, tapi Meysie telah mengukir kebahagiaan tersendiri di dalam hidupnya.
"Mengapa kau tak bangun juga dari tidurmu, Sayang? Aku sudah sangat rindu mendengar canda dan tawamu. Jika tahu semua akan terjadi seperti ini, aku bersumpah waktu itu aku tak akan pernah melepaskanmu. Bangunlah, Sayang. Akan kubuat kau mencintaiku, dan menjadikan aku satu-satunya lelaki yang mengisi seluruh ruang kosong dalam hatimu. Ayolah Meysie! Bangunlah dan sambutlah aku, Ega Rahardian suamimu," cicit Ega tanpa ada jawaban sedikitpun dari lawan bicaranya.
Ega pun terus menggenggam tangan wanitanya penuh cinta. Hingga tangan dingin itu tiba-tiba bergerak dan membalas genggaman tangan Ega. Ya, Meysie benar-benar menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat, bahkan sampai membuat Ega meringis menahan cengkeraman yang Meysie buat.
Menyadari respon Meysie terhadap dirinya, dengan reflek Ega menekan tombol bewarna merah yang terdapat di atas kepala ranjang pasien.
Tak lama berselang, seorang dokter yang diikuti dua suster di belakangnya pun datang, dan segera memeriksa kondisi Meysie, sebelum akhirnya tersenyum ke arah Ega.
"Ini adalah respon pertama yang Meysie berikan kepada Anda, Tuan. Perkembangan yang bagus pada syaraf istri Anda. Semoga pertanda baik," ucap dokter itu meyakinkan.
"Syukurlah, Dokter. Semoga dia segera bangun dari komanya," sahut Ega dengan senyum termanisnya.
Meysie pun kembali terdiam seperti semula.
***
Satu Bulan Kemudian
Ega ketiduran di sisi ranjang pasien tempat Meysie terbaring. Kepalanya tertunduk hingga menempel pada kasur, sementara tangan Ega tak pernah absen dari menggenggam tangan istrinya.
Hari itu Ega merasa lebih nyaman dari biasanya. Bagaimana tidak? Sepanjang tidurnya, dia terus bermimpi istrinya itu mengusap-usap kepalanya.
__ADS_1
"Bang," Ega seperti mendengar Meysie memanggilnya.
"Bang! Bang Ega!" suara itu terdengar untuk yang kedua kalinya.
Mau tak mau, Ega pun mengerjabkan matanya. Sesaat kemudian, Ega membulatkan mata dan mulutnya melihat wanitanya sudah terbangun dari tidurnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Ega segera beranjak dan memeluk tubuh Meysie begitu saja. Sementara Meysie yang dipeluk, sama sekali tidak berekspresi dan justru tetap memasang wajah datarnya, mencoba untuk mencerna apa yang terjadi dan bertanya-tanya kenapa pria yang pernah mengkhianatinya itu tiba-tiba kembali.
"Kepala Meysie masih sakit, Bang," Meysie meringis menahan sakit. Tangannya tak sekalipun membalas pelukan Ega, dan justru memegangi kepalanya.
"Baiklah, kita panggil dokter untuk memastikan kondisimu," ucap Ega sambil menekan tombol merah di atas kepala ranjang tempat istrinya berada.
Selang beberapa menit, dokter pun masuk diikuti oleh seorang suster. Tak lama kemudian, mereka sibuk memeriksa kondisi Meysie mulai dari memeriksa mata, denyut nadi, mulut, juga beberapa bagian tubuh Meysie yang lain.
"Kondisi istri Anda cukup stabil, Tuan. Setelah ini kami akan melepas semua alat yang terpasang," ucap dokter itu dengan gurat bahagia yang sangat terlihat jelas dari ekspresi mukanya.
"Apa dia bilang? Istri? Aku? Bersama Ega? Aku kira itu semua hanya mimpi," gerutu Meysie dalam hati.
"Itu wajar, Tuan, mengingat istri Anda baru bangun dari tidurnya yang sangat panjang. Lama-lama, dengan sendirinya rasa pusing itu akan hilang," jelas dokter itu menenangkan.
"Terima kasih, Dok," sahut Ega dengan senyum penuh syukur.
Dokter dibantu suster itu pun akhirnya melepaskan semua alat yang terpasang di tubuh Meysie. Hanya selang infus saja yang masih disisakan dan terpasang dengan manis di tangan kirinya, untuk memberikan nutrisi ke dalam tubuh Meysie, juga agar memudahkan dokter saat harus menyuntikkan obat yang masih dia butuhkan.
Setelah dokter itu memastikan sekali lagi kondisi Meysie, akhirnya mereka pamit pergi.
"Baiklah, selamat, Tuan. Kabari kami jika ada apa-apa," tutur dokter itu penuh perhatian.
Begitu dokter itu keluar, Meysie terus memandang Ega dengan tatapan tajam. Menyadari tatapan itu, Ega pun mendekati Meysie dan mengusap kepalanya pelan.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu, kita bicara nanti saja. Biar aku kabari Mama dan Hengky dulu," Ega mengambil sebuah ponsel dan segera memberi kabar bahagia pada mertua dan adik iparnya.
"Meysie di tempat ini berapa lama, Bang? Apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Meysie, sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit saat mencoba mengingat semuanya kembali.
"Kamu koma tiga bulan, Sayang. Sudahlah. Jangan dipaksakan mengingat semuanya sekarang. Kamu harus banyak beristirahat," jawab Ega sambil terus memandangi istri cantiknya itu.
"Lalu kenapa Abang yang menjaga Meysie di sini? Dimana Mama dan juga Hengky?" Meysie terus bertanya, seolah ingin mengetahui semua yang terjadi selama dia masih koma.
Ega hanya terdiam mendapati banyaknya pertanyaan yang Meysie ajukan.
"Apakah dia benar-benar tidak merasakan semuanya?" batin Ega dalam hati.
"Jangan katakan kalau apa yang ada dalam mimpi Meysie itu adalah kenyataan," cicit Meysie mulai tak tenang.
"Sudahlah, Sayang. Nanti kita bicara lagi. Kamu butuh istirahat," Ega berusaha mengalihkan.
"Kenapa, Bang? Apa semua mimpi Meysie itu benar-benar sebuah kenyataan?" Meysie terus menuntut jawaban.
"Memang apa yang kau mimpikan?" Ega mengerutkan dahinya.
"Meysie bermimpi, Abang menikahi Meysie di rumah sakit ini," ucap Meysie sendu.
"Apa kau tak menginginkannya jika itu memang benar-benar terjadi?" ucap Ega parau.
Meysie tak menjawab apapun. Wajahnya tiba-tiba mendung. Biar bagaimanapun, Ega adalah laki-laki yang pernah menjadi calon suaminya. Laki-laki tak setia, yang main-main dengan wanita lain di belakangnya.
"Apa Bang Ega lupa, seperti apa dulu Abang telah menyakiti hati Meysie?" Meysie menatap nanar mata pria yang kini tepat berada di sebelahnya.
"Apa dalam mimpimu, kau tak juga mendengar bagaimana aku merekayasa semua itu agar aku bisa melepasmu untuk seorang pria yang paling kau cintai dalam hidupmu?"
__ADS_1
BERSAMBUNG