
Pagi yang indah setelah malam yang panjang akhirnya datang. Naja mengerjabkan matanya dan tersenyum penuh arti memandang wajah pria yang kini tepat berada di depan wajahnya. Tangan dan kaki pria itu pun masih betah memeluk tubuh polosnya, yang kini hanya tertutup selimut hingga menutupi tubuh mereka sampai sebatas dada.
“Apakah yang semalam itu hukuman yang kau maksudkan, Tuan Daniel?” lirih Naja, sambil mengelus wajah tampan suaminya yang masih terlelap karena kelelahan yang mendera.
“Jika memang benar, maka kau benar. Kau telah membuat aku tak akan pernah bisa mengkhianatimu lagi seumur hidupku,” Naja kembali tersenyum, sambil menusuk-nusuk pipi suaminya dengan gemas.
“Apa kau sudah siap menerima hukumanmu kembali, Sayang? Jangan merasa senang dulu! Aku baru akan memberikan hukuman yang sebenarnya pagi ini. Yang semalam itu adalah hadiah dariku agar kau merasakan malam pertamamu seperti pengantin-pengantin lainnya. Apalagi pagi ini kau telah membangunkanku, jadi jangan harap kau akan bisa lepas dariku,” tiba-tiba Daniel meraih tangan Naja yang sedang asyik bermain-main di pipinya. Tatapannya tajam, seolah gadis di depannya adalah mangsa yang siap dia terkam.
Naja yang menyadari bahwa dia telah membangunkan macan tidur pun jadi salah tingkah. Apalagi mendengar kalimat yang Daniel ucapkan kepadanya, membuat nyalinya ciut kembali. Naja kembali bergidik ngeri, seiring dengan bulu-bulu di kulitnya yang ikut berdiri.
“Apakah dia mendengar apa yang aku katakan tadi? Ayolah Naja, kau jangan terlalu bermimpi. Apalagi berharap bahwa dia benar-benar menikahimu dan menjadikanmu layaknya seorang istri. Mencintaimu? Jangan harap, karena itu sungguh mustahil.” Naja bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Kenapa kau terdiam, heh?” cicit Daniel sambil meraih dagu Naja dan mengangkatnya.
“Seperti yang saya bilang semalam, saya tidak akan menarik kembali kata-kata saya, Tuan. Hukumlah saya seperti kemauan Anda! Apapun hukuman yang Anda berikan akan saya terima dengan lapang dada,” Naja memberanikan diri.
“Baguslah kalau kau tahu diri. Aku benar-benar belum mulai menghukummu. Aku pastikan pagi ini kau tak akan bisa turun dari tempat tidurmu. Bersiaplah!” Daniel kembali menyeringai, namun kali ini terlihat lebih lembut.
Naja memejamkan matanya. Kesungguhan akan ucapan Daniel benar-benar masih ambigu di benaknya.
“Benar-benar hukuman kah? Atau seperti yang semalam?” Naja tidak berani melanjutkan angannya.
Namun tiba-tiba..., Cup.
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di ujung kepala Naja. Berlanjut ke kening dan setiap inchi wajah cantiknya.
“Apa yang kau pikirkan, Gadis Bodoh? Kau pikir aku akan mengeluarkan senjata tajamku yang lain, hah? Apa kau tahu? Bahkan sekarang aku hanya punya satu senjata saja yang bisa ku gunakan untuk menghukummu. Dan semalam, kau sudah merasakan bagaimana peluru-peluru dari senjataku itu merobek pertahananmu bukan? Dan pagi ini senjata itu akan menghukummu kembali,” tatapan Daniel begitu lembut, bahkan senyum yang tersungging di bibirnya kini benar-benar tulus.
Naja mengerucutkan bibirnya. Bayangan bagaimana Daniel mengoyak dan mencabik-cabiknya semalaman tanpa henti pun segera muncul di benaknya. Dia kemudian bergidik ngeri membayangkan bagaimana remuk redamnya tubuh langsing itu jika pagi ini dia harus menerima sebuah hukuman lagi.
“Aku sungguh memintamu berjanji setia kembali kepadaku, bahkan seumur hidupmu, Daysie. Jangan pernah meninggalkan aku apalagi mengkhianati cinta yang kuberikan kepadamu,” kata Daniel serius. Tangannya membelai ujung kepala istri cantiknya itu dengan lembut. Sungguh, segala rasa benci, marah, dendam dan seluruh emosi karena pengkhianatan yang telah Naja lakukan kini hancur lebur, berubah menjadi bara api cinta yang menyala-nyala.
“Tuan Daniel, Anda...?” Naja menggantungkan kalimatnya. Pertanyaan demi pertanyaan kini berkecamuk dalam hatinya, seiring dengan keraguan yang masih setia menemani pengembaraan di benaknya.
“Ssssttt,” desis Daniel sambil menutup mulut Naja dengan jari telunjuknya.
“Aku mencintaimu, Sayang. Sudah lama aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan setelah aku tahu pengkhianatan yang kau lakukan, aku tetap mencintaimu. Sungguh, hatiku tak pernah bisa melepaskanmu,” tutur Daniel, tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Maafkan saya, Tuan. Saya sungguh terpaksa melakukannya,” air mata Naja tumpah.
“Tidak bisakah kau panggil aku dengan panggilan yang lebih enak didengar?” Daniel meraih dagu Naja kembali dan menatapnya penuh tuntutan.
Kening Naja mengernyit.
“Panggil aku Sayang,” pinta Daniel dengan manja.
“Iya, Sayang. Maafkan aku,” rajuk Naja.
__ADS_1
“Sekali lagi bilang maaf, habis kau,” Daniel menyeringai nakal.
“Terimalah sumpah setiaku kembali, Sayang. Dan hukumlah aku sebanyak yang kau mau,” Naja mengalungkan dua tangannya ke leher suaminya.
“Kau akan menyesal telah mengatakan itu kepadaku,” Daniel merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya.
“Aku tak akan pernah menyesal, Sayang,” tantang Naja.
“Mari kita buktikan,” timpal Daniel dengan nafas makin memburu.
Tak ada kata-kata lagi yang mampu mereka ucapkan, untuk menggambarkan seperti apa bahagia yang mereka rasakan di pagi yang indah itu. Mereka hanya saling menatap penuh cinta, hingga hukuman demi hukuman pun mulai tereksekusi satu persatu.
Mereka bersenandung dengan melodi penuh cinta, menciptakan irama yang saling memadu dengan nada-nada syahdu. Semakin lama, semua menjadi semakin menggila. Deru nafas yang saling bertautan pun kini menjadi angin nakal, hingga desiran demi desiran yang menyapu kegugupan pun berubah menjadi hentakan yang melenakan.
Daniel mengerang, seiring dengan Naja yang terus melawan. Mereka terus mendaki rasa, berlari menyusuri lembah kemudian mendaki dua bukit dengan nafas yang memburu. Hingga mereka sampai ke puncak, di antara bunga yang merah merekah, menambah nikmatnya melodi itu di semua indra yang beradu. Pandangan mereka pun kembali saling berpadu, seiring dengan nafas yang bergulung-gulung dan bergemuruh hingga terhempas ke lembah candu. Dan Kini, mereka saling mengaduh, lalu terjatuh dari puncak surga itu.
"Bagaimana dengan hukuman yang kau terima pagi ini, Sayang? Apa masih kurang?" bisik Daniel lembut, seiring dengan tubuhnya yang ambruk dan tertutup rapat di dalam selimut.
Sementara mereka asyik dengan hukuman demi hukuman yang mereka lakukan, tanpa mereka ketahui, sesaat setelah Daniel masuk ke kamar pengantin dan mereka asyik memadu kasih, di luar sana telah terjadi masalah besar yang cukup rumit untuk diselesaikan.
BERSAMBUNG
💕💕💕
__ADS_1
like, vote dan comment positifnya jangan lupa dong...🤗