
“Jatuh cinta itu mudah. Berdua dan menghabiskan waktu bersama itu juga bukanlah sesuatu yang sulit. Namun, mencintai dengan hati hingga kita bisa merasakan cinta abadi, tidak semua orang bisa memiliki. Jika kau ingin mencintai istrimu hanya dengan matamu, maka kau telah mendapatkannya dan jangan salahkan siapapun jika itu akan hilang dalam waktu sekejab saja. Namun jika kau benar-benar mencintainya dengan hatimu, maka pahatlah rasa saling percaya itu dalam setiap desahan nafasmu. Percayalah! Jika kau percaya kepadanya, dia pun akan percaya kepadamu. Jika kau setia kepadanya, dia juga akan setia kepadamu, seiring dengan dia yang selalu berusaha memahamimu agar kau juga benar-benar memahami tentang semua yang ada padanya,” tutur Aghata sambil mengelus punggung Ryan yang kini duduk di lantai rumah sakit sambil tergugu.
“Apa kau tahu bahwa semalam Hengky hanya sedang menolong istrimu? Mana rasa terima kasihmu? Jika saja tidak ada dirinya waktu itu, mungkin istrimu sudah pingsan dan jatuh di lantai hotel itu. Ketahuilah bahwa istrimu itu tidak sedang baik-baik saja. Dimana kau saat Rani membutuhkan suaminya berada di dekatnya? Bahkan kau telah membiarkan dia semalaman menunggu seorang suami yang tak kunjung datang dan merasakan sakit sendirian,” tubuh Ryan bergetar hebat, mendengar Aghata yang terus menceramahinya tanpa henti. Kini, segala penyesalan membuat jiwa itu begitu rapuh. Tetes demi tetes bulir bening pun terus jatuh dari ujung matanya, bahkan ingin rasanya dia menghabiskan air matanya tanpa sisa agar semua itu bisa mengembalikan cinta dan kebahagiaannya.
"Kau akan menyesal seumur hidupmu, karena Rani telah meninggalkanmu!" Kata-kata Arya ketika itu terus terngiang di benaknya.
“Dia pergi kemana, Mom? Bawa aku menemui istriku, Mom! Aku mohon!” air mata Ryan tumpah. Penyesalan dan kesedihan kini bercampur menjadi satu.
”Kami semua menghargai keputusan Rani untuk pergi, Nak. Kalian butuh waktu untuk belajar mencintai secara dewasa,” tegas Aghata.
“Kenapa dia pergi meninggalkan aku? Katakan, kenapa dia pergi meninggalkan aku?” Ryan terus tergugu sambil memukul-mukulkan tangannya pada tembok rumah sakit yang kini menjadi saksi bisu betapa hatinya begitu pilu. Bahkan kini tetesan darah mengalir deras dari kepalan tangannya.
Semua yang menyaksikan betapa hancurnya hati Ryan saat itu pun saling bertatapan. Mereka sungguh tidak tega melihat Ryan yang begitu berantakan karena rasa sesal yang mendalam.
“Sudah, Nak. Sudah. Jangan sakiti dirimu,” Aghata meraih tangan Ryan dan merengkuhnya hingga mereka berpelukan.
“Tolong aku, Mom. Tolong aku, kumohon!” cicit Ryan sambil mengeratkan pelukannya.
Aghata sungguh tidak tega. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, Ryan sudah melepaskan pelukannya secara tiba-tiba.
“Aku harus mencarinya. Aku tidak boleh terus berada di tempat ini. Kemanapun dia pergi aku harus menemukannya,” Ryan menghapus air matanya dengan kasar dan bergegas meninggalkan keluarganya yang masih menatapnya dengan nanar.
“Tunggu, Nak. Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan istrimu?” Aghata menahan tangan Ryan.
“Aku akan berjanji untuk mencintainya seumur hidupku apapun yang terjadi, Mom. Dia harus mendengar itu dari mulutku,” Ryan melepaskan tangan Aghata dan bergegas meninggalkan tempat itu, tapi lagi-lagi Aghata menahannya.
“Lepaskan aku, Mom. Aku harus segera menemukannya,” pinta Ryan penuh harap.
__ADS_1
“Temuilah dia sekarang, karena dia tidak akan pernah pergi darimu,” tutur Aghata sambil tersenyum.
“Maksud Mommy?” Ryan membalikkan tubuhnya dan menatap Aghata dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Rani tidak kemana-mana. Barusan dokter memindahkannya ke ruang perawatan,” ucap Aghata lembut.
“Mommy tidak bohong kan?” Ryan memastikan sekali lagi. Binar di matanya benar-benar menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa. Kerapuhannya tiba-tiba hilang begitu saja, seiring dengan asanya yang pelan-pelan muncul bersamaan dengan kekuatannya yang kini terbangun.
Aghata, Arya, dan Daniel menepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum penuh arti. Sementara Lena dan Naja hanya memandang mereka penuh haru.
***
Flash back
Rani mengerjabkan mata begitu dia tersadar dari pingsannya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, seolah ingin memastikan sedang berada dimana dia sekarang.
"Mama," panggil Rani begitu tersadar bahwa dirinya sedang terbaring lemah di ruang serba putih itu.
"Mas Ryan, Ma. Dia pergi meninggalkan Rani. Dia nuduh Rani yang bukan-bukan bersama Mas Hengky, lalu dia pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan Rani sama sekali," aduh Rani sambil menangis tersedu-sedu.
Rani pun menceritakan apa saja yang terjadi malam itu, mulai dari saat mereka meninggalkan kamar Naja bersama Lena, hingga Lena meninggalkan Rani hanya bersama Hengky dan apa saja yang terjadi setelah Lena pergi.
"Ryan pasti akan menemuimu kembali, Sayang. Tenanglah!" ucap Davina menenangkan, diikuti anggukan dari Aghata dan Lena, kemudian Naja.
"Mas Ryanmu itu harus kita kasih pelajaran," Arya menyeringai dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Benar. Dia harus kita sadarkan agar cemburunya itu tidak kelewatan," timpal Daniel, terlihat geram. Daniel sungguh tidak rela jika gadis sebaik Rani mendapat perlakuan seperti itu, apalagi dari suaminya sendiri.
__ADS_1
Akhirnya, Arya dan Daniel yang yakin kalau Ryan pasti akan datang mencari Rani, menyusun rencana, yang dibantu oleh Aghata, Lena dan juga Naja.
End of flasback
***
Ryan setengah berlari menuju ruang VVIP yang ditunjukkan Aghata, tempat dimana belahan jiwanya saat ini sedang di rawat. Rasa bahagianya sungguh meletup-letup, setelah putus asa yang mendera seiring dengan penyesalan di hatinya yang tiada terkira.
Huh, sungguh lorong rumah sakit itu terasa sangat panjang. Bangunannya yang berkelok juga membuat keinginannya untuk cepat sampai pada pelabuhan hatinya menjadi terasa begitu lama.
"Kenapa jauh sekali," keluh Ryan.
Namun, Ryan tak menyerah. Bahkan sejauh apapun jarak yang harus dia tempuh, akan dia lalui jika memang jalan itu akan mempertemukannya dengan Rani. Dan ternyata tak ada yang sia-sia. Akhirnya dia menemukan ruang yang telah Aghata sebutkan.
Sesaat, Ryan berhenti mematung di depan kamar perawatan itu. Sungguh, dia perlu menata hati dan menyusun bait-bait kata agar istrinya bisa tersenyum lagi dan menerima permintaan maafnya, setelah semua yang terjadi.
"Ahh," Ryan membuang nafas kasar, menghilangkan segala beban yang dia rasakan.
Dengan hati-hati, dia membuka pintu itu perlahan. Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru ruang, dan dia mendapati gadisnya yang sedang tertidur lemah di ranjang perawatan.
Menyadari ada yang masuk, Rani hanya memandang Ryan sekilas kemudian membuang tatapannya ke sembarang arah, sementara Davina yang sadar bahwa orang yang ditunggu-tunggu putrinya telah datang, segera meninggalkan ruangan sesaat setelah menepuk bahu Ryan sekedar ingin memberikan kekuatan.
Dengan hati berdebar, Ryan pun mendekati ranjang itu.
"Sayang," panggil Ryan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Pembaca yang bijak, pasti meninggalkan jejak. Jangan lupa semangati author dengan mengklik bintang 5 ya. Terima kasih.😊