METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cinta Lama Kembali Bersemi


__ADS_3

Bagi Arsen, Aghata adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya. Sebejat-bejatnya dia di masa lalu, dia hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya. Dan wanita itu adalah Aghata Adeline. Ya, Aghata adalah satu-satunya wanita yang hadir dalam hatinya, meski pertemuan mereka tak seindah sepasang kekasih pada umumnya.


Sebenarnya hal yang sangat biasa jika orang yang sudah terjerat di dunia narkoba pasti identik dengan dunia yang bebas memainkan para wanita. Mulai dari cinta semalam, sampai hubungan terlarang hingga harus bergonta-ganti pasangan. Seperti kisah yang banyak diberitakan, biasanya pesta narkoba pasti akan dibarengi dengan pesta **** atau semacamnya.


Namun, itu semua tidak berlaku untuk seorang Arsen. Dia adalah pria yang setia hanya dengan satu wanita. Kendati pun akhirnya Aghata hamil sebelum dia menikahinya, tapi Arsen melakukan itu hanya dengan satu wanita saja, dan semua yang Arsen lakukan kepada Aghata bisa dipastikan berdasarkan cinta.


"Aku sadar, aku tak boleh egois. Tapi apakah salah jika aku kecewa? Jika saja tidak ada Papa Prabu, mungkin Mommy tak akan bisa sekuat ini. Bahkan rasa sakit di hatiku masih saja menganga ketika aku mengingat betapa menderitanya kami dulu tanpanya. Kau bisa tanya pada Johan betapa aku kehilangan masa kecilku karena harus membantu Mommy membanting tulang demi bisa mendapat penghidupan yang normal, seperti orang kebanyakan yang tak hanya ingin bisa makan, tapi juga ingin bisa sekolah dan mengukir masa depan," keluh Daniel, dengan mata berkaca-kaca.


Tak terasa bulir-bulir bening mengalir deras membasahi pipi Arsen, mendengar ucapan putranya yang sungguh sangat dirindukannya itu.


"Biar bagaimana pun, aku sudah bersalah pada kalian, anakku. Aku tak akan pernah menyalahkanmu jika kau tak membuka pintu maafmu dan tetap membenciku," batin Arsen dalam hati.


Arsen mengusap wajahnya dengan kasar. Dia segera membalikkan badan dan berniat masuk kamar sebelum Daniel dan yang lainnya sadar, jika dia telah menguping pembicaraan. Tanpa pikir panjang, Arsen pun membalikkan badan.


Tapi begitu dia mengambil gerakan memutar hingga 180 derajat, alangkah kagetnya ketika dari arah berlawanan, Aghata sedang berjalan menuju tangga sehingga dengan sangat kebetulan kini mereka telah berdiri saling berhadapan.


Sesaat, mereka saling bertatapan. Mata mereka memanas, dada mereka bergemuruh, dan jantung mereka berdetak dengan kencang. Desiran-desiran aneh pun tiba-tiba datang, menguasai jiwa yang sudah memendam rindu yang teramat dalam.


Namun begitu mereka tersadar, mereka pun sama sekali tak berani membuka pembicaraan. Mereka memutuskan untuk saling menghindar, sampai hati mereka benar-benar tenang. Akhirnya, Arsen berniat untuk langsung kembali ke kamar, sementara, Aghata ingin segera turun dan keluar dari situasi yang mendebarkan.


Namun lagi-lagi, hal kebetulan membuat mereka harus berada pada situasi yang menegangkan. Ketika Aghata bergerak ke kanan, Arsen bergerak ke kiri dari posisi berlawanan hingga mereka kembali berdiri berhadapan. Menyadari situasi itu, Arsen akhirnya bergerak ke kanan, namun di saat yang sama Aghata bergerak ke kiri hingga mereka hampir saling bertabrakan. Akhirnya Aghata memutuskan untuk diam tak bergerak, tapi lagi-lagi Arsen juga mengambil keputusan yang sama hingga mereka tak bergeming dari posisinya.


Kini jarak mereka begitu dekat, sehingga tak ada satu hal pun yang bisa mereka perbuat. Hanya dari tatapan mata mereka saja semua pertanyaan mereka betul-betul terjawab, bahwa cinta lama itu kembali bersemi dalam hati.

__ADS_1


"Aghata, aku ...," Arsen terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu.


Aghata terdiam. Dia terlihat menunggu apa yang akan Arsen ucapkan.


"Mmm, itu, Aghata. Aku ...," Arsen mengulang-ulang kalimatnya. Lidahnya tiba-tiba begitu kelu, hingga kata demi kata yang sudah dia persiapkan begitu lama jika dia bisa bertemu kembali dengan Aghata pun hilang seketika.


"Maaf, aku harus menemui putraku," Aghata segera tersadar dan mengalihkan pandangannya. Dia sungguh tidak kuat lagi jika harus berdekatan dengan pria yang telah merebut hati dan seluruh kehidupannya itu.


Dia pun segera melangkah meninggalkan Arsen yang masih berdiri dengan gagah melihat wanita pujaannya memalingkan wajah dan hendak berjalan turun ke bawah.


"Aghata, dengarkan aku dulu! Kita harus bicara," Arsen mencoba menghentikan langkah Aghata.


Dan gayung pun bersambut. Tanpa diduga, ternyata Aghata menghentikan langkahnya.


"Apa kau mau meminta maaf kepadaku atas semua perbuatanmu? Jika itu yang akan kau katakan, sungguh tak perlu, karena aku sudah memaafkanmu. Jika aku tak memaafkanmu, maka hari ini kau sudah tidak bisa melihatku ada di hadapanmu," ucap Aghata yang sukses membuat Arsen mengembangkan senyumnya.


"Bahkan apa yang ada di dalam hatiku ini, kau sungguh masih bisa membacanya, Aghata," Arsen masih mempertahankan senyumnya, menyadari bahwa Aghata sangat tahu dengan apa yang ingin dia katakan kepadanya.


Mendengar ucapan Arsen, Aghata seolah kehabisan kata. Ucapan Arsen itu betul-betul mampu mengoyak pertahanannya.


"Jangan kau senang dulu, karena aku belum selesai dengan perkataanku. Dengarkan baik-baik! Aku memang telah memaafkanmu, tapi aku tak akan pernah lupa betapa hidupku pernah begitu menderita karena perbuatanmu. Bahkan bukan hanya aku. Daniel, Mas Prabu dan Kak Tita juga ikut menderita karena harus ikut menanggung apa yang kau lakukan kepadaku. Ingatlah bahwa memaafkan hanya demi masa depan, tapi tak akan pernah menghapus masa lalu," Aghata menekan kalimatnya, dan kembali membalikkan badan, kemudian melangkah meninggalkan Arsen yang masih tercengang dengan ucapan wanita yang begitu dia cintai sepanjang hidupnya itu.


"Tunggu, Aghata. Biarkan aku bicara sekali ini saja, dan dengarkan aku!" seru Arsen lagi.

__ADS_1


Aghata pun kembali menghentikan langkahnya, tapi kali ini tak mau membalikkan badan, apalagi menatap pria yang telah memandangnya dengan penuh cinta.


"Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan," Arsen berucap lirih. Dia mencoba mengatur kata-kata dan tak akan menyia-nyiakan satu kesempatan untuk berbicara dengan wanita yang masih sangat berarti dalam hidupnya.


"Katakan!" Aghata menghela nafas panjang kemudian membalikkan badan.


Kini, mereka kembali bertatapan. Mata mereka beradu, seiring dengan degup jantung yang kian berpacu.


Sesaat, Arsen hanya terdiam menikmati mata cantik yang pernah menjadi miliknya itu. Sayangnya, suratan takdir harus memisahkan mereka, dengan cerita sendu yang tak bisa dibatalkan.


"Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan, ya sudah," Aghata bersiap membalikkan badannya.


"Tunggu!" panggil Arsen sambil menghela nafas panjang.


"Katakan apa yang ingin kau katakan sekarang juga, atau aku tak akan mendengarkanmu lagi seingin apapun kau bicara," ketus Aghata, yang mulai kesal dengan Arsen yang tak juga bisa mengeluarkan kata-kata.


"Aku masih mencintaimu, Aghata. Aku selalu mencintaimu baik dulu, sekarang, ataupun nanti. Dan itu tidak akan berubah hingga nafas terakhirku,"


BERSAMBUNG


❤❤❤


Tinggalin jejak ya guys. Terima kasih. 😘

__ADS_1


__ADS_2