METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Apa Maumu?


__ADS_3

Hari itu, cahaya seolah menghilang. Dalam kegelapan, hanya gemericik air saja yang bernyanyi tuk lenyapkan kesunyian.


Di ruang bawah tanah itu, dua orang perempuan duduk di atas sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang terikat. Dingin, hal pertama yang keduanya rasakan. Bahkan kini tubuh mereka sudah menggigil, karena kaki mereka terendam air.


"Aaahhg!" teriakan Nina terdengar, begitu efek bius dalam tubuhnya hilang. Sekilas, dia melihat sosok bayangan putih keabuan dalam gelap yang berada tepat di sebelahnya diikat. Hantu, makhluk halus dan semacamnyalah yang memenuhi benak Nina, tentang sosok yang kini sama sekali tak bergerak maupun bersuara itu.


"Nina, kaukah itu? Ini aku," sahut Rani, begitu mendengar teriakan Nina yang terdengar sangat ketakutan.


"Nona, apakah itu Anda?" Nina memastikan.


Di ruang itu memang sama sekali tidak ada pencahayaan, kecuali sebuah obor yang terletak sangat jauh dari tempat mereka diikat, sehingga tidak mampu menerangi seluruh ruang yang berada di sana. Hanya sedikit biasan saja yang mampu ditangkap retina mereka. Karena itulah, Rani yang waktu dibius masih menggunakan mukena putih menjadi begitu menakutkan buat Nina.


Ya. Saat ini mereka disekap di sebuah ruang bawah tanah. Sebuah ruang yang bahkan pernah dijadikan sebagai tempat syuting salah satu stasiun TV swasta bertajuk uji nyali karena mitos seram yang melekat padanya.


Bahkan pada jaman penjajahan Belanda dulu, ruang bawah tanah itu difungsikan sebagai pendingin alami untuk bangunan, karena terdapat air yang menggenanginya. Untung saja air yang menggenangi ruang itu adalah air bersih, bukan air kotor dari kamar mandi atau toilet, sehingga tidak ada bau tak sedap yang timbul dari genangannya.


Setelah Belanda menyerah tanpa syarat pada pihak Jepang, dan bangunan itu dikuasai oleh tentara Jepang, ruang bawah tanah itu akhirnya difungsikan sebagai penjara bawah tanah, untuk menawan para pejuang Indonesia yang tertangkap pada masanya.


Ngerinya, dalam ruangan yang sempit itu, para tawanan perang dipaksa berjejal dalam sel yang sama, bahkan saat air rob datang, air di ruangan itu bisa setinggi leher orang dewasa. Berbagai penyiksaan yang mengakibatkan kematian juga terjadi di ruang yang sama, tak heran jika banyak orang yang menganggap bahwa tempat itu sebagai tempat penuh misteri yang angker dan banyak penghuni tak kasat mata.


"Kita dimana ini, Nona? Kenapa gelap sekali? Dan ini tempat apa, Nona? Kenapa kaki kita terendam air?" cecar Nina.


"Kelihatannya ini adalah ruang bawah tanah," Rani menerka-nerka.


"Siapa yang melakukan ini pada kita, Nona? Apakah Tuan akan bisa menemukan kita?" Nina yang pada dasarnya gadis yang banyak bicara, tidak bisa menghentikan mulutnya.


"Tenanglah, Nina. Kita pasti akan tahu kenapa kita berada di tempat ini, dan yakinlah bahwa mereka pasti akan menemukan kita," Rani berusaha menenangkan, walaupun dalam hatinya dia tak sepenuhnya yakin dengan apa yang dia ucapkan.


Hingga tiba-tiba, terlihat ada seberkas cahaya yang masuk, bersamaan dengan suara air yang terdengar sedikit bergelombang. Perkiraan Rani, seseorang telah datang.

__ADS_1


Dan ternyata benar. Hanya dalam hitungan detik, beberapa orang sudah berada di hadapan Rani dengan lampu senter yang terpasang di kepala mereka. Rani mencoba hitung, ada empat pria kekar berpakaian serba hitam, dan dua orang pria lain, yang satu muda, yang satu seorang om-om paruh baya.


Rani mencoba menajamkan matanya, dan ternyata dugaannya benar. Salah satu diantara mereka adalah Charles, dan yang satunya lagi adalah ...,


"Om Atmaja?" seru Rani sambil membulatkan matanya. Dia benar-benar tidak percaya dengan kenyataan yang kini dihidangkan untuknya.


"Maaf telah membuat Anda menderita seperti ini, Nona Pejabat! Jika saja suami Anda tak keras kepala, tentu saya tidak perlu memakai cara seperti ini," Atmaja menyeringai, dengan ekspresi yang masih sangat susah ditebak.


"Apa yang Om inginkan, Om?" tanya Rani.


"Ha-ha-ha-ha. Bukankah semua orang bilang bahwa Anda adalah gadis yang cerdas? Seharusnya Anda langsung bisa menebak alasan saya," suara Atmaja menggelegar.


"Apa semua ini terkait Meysie, Om?" tebak Rani.


"Rupanya memang Anda tidak bisa diremehkan, Nona. Tebakan Anda tidak meleset," sahut Atmaja sambil bertepuk tangan.


"Apa yang Om inginkan dari saya dan suami saya, Om? Bukankah Allah sudah menetapkan kelahiran manusia sebagai takdir yang sudah pasti yaitu jenis laki-laki dan perempuan untuk berpasang-pasangan? Jika suami saya bukanlah jodohnya, pasti Allah sudah mentakdirkan orang lain untuk putri Anda," tutur Rani dengan begitu tenangnya.


"Bukankah dulu putri Om yang memutuskan pergi dan memilih pria yang Anda jodohkan dengannya, Om?" sanggah Rani.


"Tapi nyatanya pernikahan itu tak pernah terjadi, dan hanya Ryanlah yang dia cintai," Atmaja terus menampik perkataan Rani.


"Tapi sekarang dia adalah suami saya, Om. Dan sampai kapanpun dia akan menjadi suami saya," Rani tak mau kalah.


"Apa Anda lupa bahwa sekarang Meysie masih dalam keadaan koma, Nona. Berbaik hatilah dan dengan senang hati saya akan melepaskan kalian berdua," suara Atmaja mulai melunak.


"Apa maksudnya, Om?" Rani berpura-pura tidak mengerti.


"Biarkan Ryan menikahi Meysie," Atmaja mulai mengarahkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Saya tidak akan pernah rela, Om. Dan suami saya juga tidak akan pernah menerimanya," jawab Rani mantap.


"Anda sungguh percaya diri sekali, Nona. Bisa saja saya melenyapkan Anda agar suami Anda itu kembali kepada Meysie bukan?" Atmaja memasang muka menakutkan.


"Saya tidak takut, Om. Dan saya pastikan bahwa kematian saya justru akan menumbuhkan kebencian di hatinya kepada putri Om," sahut Rani.


"Dasar keras kepala. Kita lihat saja nanti, apakah suamimu itu akan tetap keras kepala ketika mengetahui bahwa istrinya akan kusiksa," Atmaja kembali menyeringai dengan sinisnya.


"Charles, telepon suaminya! Kita lihat bagaimana reaksinya jika mengetahui bahwa istrinya akan kubarter dengan kebahagiaan dan kesembuhan Meysie," titah Atmaja, yang langsung dieksekusi oleh Charles.


***


Di kediaman keluarga Dewangga, akhirnya diputuskan bahwa mereka semua akan tinggal dalam satu rumah untuk sementara. Karena itulah Johan menjemput Arsen dan Mira, Arya mengurus Lena, sementara Rudi, Daniel dan Ryan tetap stay di rumah, menunggu perkembangan dan informasi lanjutan dari seluruh anak buah dan jaringan yang saat ini sudah tersebar di lapangan.


Hingga tiba-tiba, nada dering dari ponsel Ryan bergetar lagi.


"Assalamualaikum. Hallo, ini siapa?" Ryan masih dalam mode tenang, walaupun nomor yang melakukan panggilan adalah nomor yang sama dengan nomor yang pertama kali mengabarkan bahwa Rani sedang bersamanya.


"Hallo, Tuan Dewangga. Apakah kau ingin mendengar suara istri Anda?" suara Charles di ujung telepon benar-benar memerahkan telinganya.


"Dimana istriku? Jangan coba-coba kau sakiti dia!" sahut Ryan mulai geram.


"Hubby! Jangan turuti kemauan mereka, By. Rani tak rela," Rani bersuara, hingga membuat hati Ryan bergetar hebat ingin segera menemukannya.


"Apa kau sudah dengar, Tuan Dewangga?" Charles mengambil alih ponselnya lagi.


"Apa maumu? Katakan!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Like, vote dan rate 5 jangan lupa. Terima kasih.


__ADS_2