METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hukumlah Saya


__ADS_3

Daniel mengerjabkan matanya berkali-kali, ketika handphone di atas nakasnya berdering keras.


“Jam berapa ini? Siapa yang menelphonku bagi-pagi buta begini?” guman Daniel dalam hati.


Dengan malas, Daniel pun melihat sekilas nama yang tertera pada benda pipih miliknya itu dan begitu tau siapa yang menghubunginya, dia segera menempelkan benda itu ke telinganya.


“Hallo,” sapa Daniel begitu memencet icon hijau untuk menerima panggilan yang masuk.


“Ke kamarku sekarang,” hanya suara itu yang terdengar dari orang yang berada di seberang sana.


Daniel langsung beranjak. Tanpa membersihkan diri, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar kakaknya itu.


“Jangan-jangan Rani kenapa-napa,” batin Daniel lagi. Hal ini bukannya tanpa alasan. Mengingat kondisi Rani pasca makan malam kemarin cukup memprihatinkan, jadi yang ada dalam benak Daniel sudah macam-macam.


Dan hanya dalam hitungan menit, Daniel pun segera mengetuk pintu kamar Ryan yang masih dalam kondisi tertutup itu.


“Masuk,” suara Ryan terdengar jelas di telinga Daniel.


Mendengar suara itu, tanpa ragu Daniel langsung membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dan alangkah terkejutnya Daniel, ketika dia mendapati Naja sudah berada di kamar itu dan berlutut di hadapan Ryan dan istrinya.


“Naja?” seru Daniel.

__ADS_1


Mendengar suara Daniel yang menggelegar hingga memenuhi seluruh sudut ruang, mata semua penghuni kamar itupun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, tak terkecuali Naja.


“Ada apa ini?” pekik Daniel.


“Ada yang mau Naja sampaikan kepadamu, Daniel,” Ryan menjawab santai.


“Baiklah, sepertinya yang kutunggu-tunggu akan segera kudapatkan,” tanggap Daniel dengan wajah datarnya, sambil mendudukkan diri di sofa sebelah Ryan dan Rani duduk.


“Katakan, Naja!” perintah Ryan.


Naja pun menelan salivanya, bingung mau memulai dari mana. Tiba-tiba keringat dingin keluar dari tubuhnya, hatinya pun bergetar seolah maju mundur antara tetap dengan pendiriannya atau mundur dan menyembunyikan jati dirinya seumur hidupnya.


Naja menghela nafas, mencoba menata hati dan mencari kosa kata sebanyak-banyaknya.


“Apa maksudmu? Saya tidak mengerti,” elak Daniel, pura-pura tidak mengerti.


“Saya adalah Daysie Olivia, orang yang telah berjanji setia kepada Anda beberapa tahun yang lalu, Tuan. Pagi itu saya sudah menjalankan semua skenario sesuai yang Anda perintahkan. Waktu itu saya berhasil membuat resepsionis Dewangga group mengikuti seluruh bahasa tubuh saya, hanya dengan sedikit trik hipnotis, hingga akhirnya saya bisa langsung melenggang masuk ke ruangan Tuan Prabu,” jelas Naja, sambil menghela nafas panjang.


"Waktu itu Tuan Prabu terperanjat ketika saya masuk begitu saja ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu dan tanpa membuat janji terlebih dahulu. Tuan Prabu terus berteriak, namun saya tidak menghiraukan teriakan itu. Saya tetap melenggang menghampiri Tuan Prabu hingga tidak ada jarak yang memisahkan kami. Saya menatap tajam mata Tuan Prabu, membuat beliau tak elak dari tatapan mata saya. Disaat itulah saya menjentikkan jari saya dan seketika Tuan Prabu duduk terdiam dengan tatapan mata kosong di kursi kerjanya,” Naja melanjutkan ceritanya.


“Tak lama kemudian, saya mengambil flasdisk dari dalam tas dan menancapkan benda kecil itu pada laptop yang berada di atas meja kerja Tuan Prabu. Saya sempat menanyakan pasword laptop itu, dan Tuan Prabu pun menyebutkan pasword-nya karena masih dalam pengaruh hipnotis saya, hingga akhirnya saya mendapatkan file yang Anda incar, Tuan,” Naja mendesah kasar.

__ADS_1


“Namun alangkah kagetnya saya, ketika dua orang berbadan tegap tiba-tiba masuk ke ruang itu dan menyodorkan senjata api ke arah kepala saya. Saya pun mundur beberapa langkah, namun saya kembali terperanjat ketika menyadari ada seseorang di belakang saya. Dan di saat itulah saya sadar, bahwa misi saya telah gagal, Tuan. Ternyata trik saya tidak bisa mempengaruhi Tuan Prabu, dan ini adalah kegagalan saya sepanjang saya bekerja untuk Anda,” sesal Naja.


“Karena saya merasa terpojok, akhirnya saya berusaha mengeluarkan pisau kecil dari sepatu saya dan menyambar senjata api yang di arahkan kepada saya. Namun sayang, lagi-lagi saya kalah kuat dan kalah cerdik dengan orang-orang itu, Tuan. Hingga akhirnya, dalam hitungan detik, dua pria besar itu berhasil membuat saya berlutut di hadapan Tuan Prabu. Pada detik-detik itu, saya masih kekeh untuk mempertahankan kesetiaan saya kepada Anda, Tuan. Namun ketika Tuan Prabu menyebut nama ibu dan adik saya, akhirnya saya menawarkan kesetiaan saya untuk dibarter dengan keselamatan ibu dan adik saya,” kalimat Naja semakin tak beraturan karena dia mulai sesenggukan. Sementara Daniel, Ryan dan Rani yang sebenarnya sudah mengetahui cerita itu, tetap mendengar pengakuan Naja dengan seksama.


“Tapi Tuan Prabu sangat cerdas, Tuan. Dia tidak bisa menerima kesetiaan saya begitu saja, tanpa bukti yang bisa saya tunjukkan. Sampai akhirnya, saya mengambil pisau saya kembali dan mengarahkan pisau itu ke arah wajah saya, kemudian menggoreskan pisau itu ke pipi kanan kemudian pipi kiri saya. Ya, Tuan. Selain keluarga, hal yang paling berharga yang saya miliki adalah kaki yang saya pakai untuk menari, juga wajah cantik yang saya miliki. Dan waktu itu keduanya sudah tidak bisa saya gunakan untuk mencari sesuap nasi. Dengan darah yang sudah bercucuran itu pun, ternyata Tuan Prabu belum percaya pada kesungguhan saya. Dia masih meminta alat pelacak yang di pasang dalam tubuh saya. Akhirnya, saya langsung mengeratkan pisau itu kembali dan menggoreskannya pada bagian atas lengan kiri saya, kemudian segera saya keluarkan alat pelacak yang sengaja Anda tanam di tubuh saya itu, dan akhirnya saya serahkan kepada Tuan Prabu. Sejak saat itulah saya berjanji setia kepada Tuan Prabu dan seluruh anak keturunannya, Tuan, dengan jaminan bahwa ibu dan adik saya bisa hidup enak dan terlepas dari pandangan Anda,” Naja menghapus air matanya, seiring dengan ceritanya yang juga berakhir.


“Karena itu, hukumlah saya semau Anda, Tuan Daniel. Saya akan menerima apapun hukuman yang Anda berikan kepada saya, dengan dua permintaan terakhir, Tuan,” pinta Naja penuh harap.


“Katakan!” Daniel masih memasang wajah datarnya.


“Yang pertama, tolong jamin keselamatan ibu dan adik saya. Yang kedua, biarkan saya menerima hukuman dari Anda, dengan janji setia saya kepada keluarga Dewangga yang tetap melekat kepada saya,” Naja memohon.


“Baik,” tanggap Daniel singkat.


“Kalau begitu akhiri penderitaan saya dari bayangan pengkhianatan kepada Anda, Tuan. Titahkanlah hukuman yang Anda berikan kepada saya saat ini juga!” kini Naja mengangkat kepalanya dan memandang Daniel dengan lekat.


“Kau ingin tahu apa hukuman yang pantas untuk pengkhianat seperti dirimu, Daysie?”


BERSAMBUNG


💖💖💖

__ADS_1


Kira-kira hukuman apa ya, yang akan diberikan Daniel kepada Daysie? Bagi jempol dan vote nya dulu dong. Jangan lupa juga rate 5 dan comment positifnya. Terima kasih.


__ADS_2