METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Pergilah


__ADS_3

Dengan secepat kilat, Meysie mengambil kesempatan di saat cengkraman tangan Daniel dan Naja sedikit renggang, kemudian langsung meraih sebuah senjata yang bertengger manis di pinggang polisi itu. Dalam hitungan detik pun dia berlari menarik Rani dari pelukan Ryan yang waktu itu lengah begitu polisi telah datang.


Dan yang selanjutnya terjadi, terjadilah. Rani hanya memejamkan mata, seolah ingin menunjukkan bahwa dia sudah siap dengan apapun yang akan terjadi padanya. Setidaknya, itulah bukti bahwa cinta itu butuh pengorbanan, sekalipun nyawa dia sendiri yang harus menjadi taruhannya.


Namun, ketika suara tembakan itu terdengar, Rani justru kembali membuka mata. Dia merasakan tubuhnya tak merasakan sakit sama sekali, bahkan dia benar-benar merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Menyadari tak ada satupun peluru yang menembus salah satu bagian tubuhnya, Rani pun mengedarkan pandangannya, dan mencoba menelisik kemana arah tembakan itu tertuju.


Seketika, mata Rani membulat bersamaan dengan hatinya yang bergetar hebat ketika pandangannya berhenti pada satu titik dimana seonggok tubuh telah tersungkur di lantai dengan darah yang mengalir deras dari arah dadanya.


“Meysie!” Ryan dan Hengky berteriak secara bersamaan, menyadari bahwa salah satu polisi telah menembakkan senjatanya ke arah Meysie sebelum Meysie menarik pelatuk pistol di tangannya ke arah Rani.


Hengky segera berlari dan menghambur ke arah Meysie, dan merengkuh kakak perempuannya itu di dalam pelukannya, disusul Ryan yang segera mendekati mereka dengan linangan air mata. Sementara Rani yang melihat begitu banyak darah yang mengalir dari tubuh Meysie, menjatuhkan tubuhnya begitu saja di lantai karena getaran hebat di hatinya. Dadanya terasa sesak, tubuhnya lunglai tidak berdaya, hingga Arya dan Lena yang berada di dekatnya dengan sigap meraih tubuh Rani dan berusaha menenangkannya.


“Panggil ambulance!” perintah seorang polisi kepada polisi yang lainnya. Yang diperintah, dengan cekatan segera melaksanakan apa yang menjadi tugasnya, sementara polisi lain segera mengambil senjata yang sempat direbut Meysie dan mengamankannya sebagai barang bukti, termasuk pisau yang Meysie gunakan untuk menusuk Nina sesaat sebelum polisi datang ke kediaman keluarga Dewangga.


“Ry ... Ryan ...!” Meysie memanggil Ryan dengan terbata. Air matanya terus berderai, bukan hanya karena sakit akibat tembakan di dadanya, tapi juga karena sakit di hatinya.


Ryan yang sudah berada di dekat Meysie pun semakin mendekat, kemudian memandang Meysie dan Rani secara bergantian. Rani yang melihat ada dilema di hati suaminya itu pun hanya terdiam, dan memandang mereka dengan tatapan datar.


“Ma ... maaf. Ma ... maaf ... kan a ... aku. A ... aku men ... cintaimu,” dengan terbata, Meysie berucap sambil meraih tangan Ryan dan menggenggamnya erat.


“Meysie, kumohon! Jangan bicara apa-apa lagi. Aku sudah memaafkanmu,” air mata Ryan terus mengalir, melihat sahabat sekaligus cinta pertamanya itu menahan sakit yang tak terkira. Bahkan kini, darah dari luka tembakan yang bersarang di dadanya tampak semakin deras dan membasahi dress yang dikenakannya.


“Bertahanlah, Kak. Ambulance akan segera datang. Kami akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah, kumohon!” Hengky tak kalah cemas.

__ADS_1


“Aku ... ti ... tidak ku ... kuat lagi,” ucap Meysie, sambil menatap Ryan dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Setelah kalimat terakhir yang dia ucapkan, pegangan Meysie melemah, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.


“Meysie ..., Meysie ..., kumohon jangan lakukan ini! Sembuhlah dan cari cinta sejati yang akan membahagiakanmu. Kumohon, bangunlah!” bibir Ryan bergetar. Tubuhnya terguncang. Bulir-bulir bening di ujung matanya sudah tidak mampu lagi tertahankan.


Rani yang sangat mengerti tentang ikatan hati Ryan dan Meysie di masa lalu pun hanya mampu memandang nanar dua manusia yang kini ada di hadapannya itu. Cemas, sakit, takut, juga rasa khawatir di dalam hatinya kini menyeruak dan berkecamuk di dalam jiwanya. Dadanya bergemuruh dan terasa sesak, hingga tangisnya pun tumpah. Lena yang masih setia di samping Rani pun hanya mampu memeluknya dan mencoba menenangkan, serta meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Tak berapa lama, bunyi sirine dari mobil ambulance pun terdengar, membuat seluruh yang berada di dalam ruangan itu menghela nafas lega. Para petugas medis segera berlari dan menghambur ke arah Meysie, untuk segera melakukan pertolongan pertama.


“Tolong dia, Sus!” seru Hengky pada salah seorang perawat yang mendekat, dan membiarkannya memeriksa kondisi kakaknya.


“Kita harus cepat. Dia mengeluarkan banyak darah,” teriak perawat itu kepada petugas yang lain.


Dengan secepat kilat, para petugas medis pun memindahkan tubuh Meysie ke atas bangkar, memasang infus dan juga alat bantu pernafasan, kemudian memasukkan tubuh Meysie ke dalam mobil ambulance. Setelah Hengky dan seorang polisi ikut masuk ke dalam mobil ambulance itu, petugas segera menutup pintu sebelum akhirnya menancapkan gas dengan kecepatan maksimal agar nyawa Meysie dapat diselamatkan, sementara para polisi bergerak cepat mengikuti mobil itu dari belakang.


“Sayang, apa kau tidak apa-apa?” setengah berlari Ryan menghampiri Rani sambil menarik tubuh yang sudah lemas itu ke dalam pelukannya.


Rani yang di peluk tidak memberikan respon apa-apa. Hanya air mata yang terus menetes di pipinya saja yang mampu menjawab betapa hati dan tubuhnya sungguh tidak sedang baik-baik saja.


“Apa ada yang sakit, Sayang? Ayo kita ke rumah sakit! Kita cek kondisimu dan anak kita,” ucap Ryan sambil memeriksa seluruh bagian tubuh istrinya.


Di luar dugaan, Rani justru menepis tangan Ryan dan berusaha memalingkan muka.


“Pergilah!” lirih Rani. Air matanya tumpah.

__ADS_1


“Apa?” Ryan tidak mengerti.


“Pergilah dan susul dia ke rumah sakit, Hubby! Sebelum Hubby menyesal,” Rani memperjelas kalimatnya.


Arya dan Lena saling berpandangan, kemudian setelah saling memberikan isyarat mata, mereka segera meninggalkan ruangan menuju ke belakang, agar Rani dan Ryan dapat berbicara dari hati ke hati tentang masalah yang sedang mereka hadapi.


Setelah Arya dan Lena pergi, Ryan kembali menarik tubuh Rani dan memeluknya erat, seolah ingin menenangkan.


“Apa maksudmu, Sayang? Mana mungkin Hubby akan meninggalkanmu dan menyusul perempuan itu,” tutur Ryan lembut. Dia benar-benar mengerti akan apa yang sedang di rasakan Rani saat ini.


“Dia membutuhkan Hubby. Bukankah Hubby begitu mengkhawatirkannya? Jika terjadi sesuatu dengan dia bagaimana? Apa Hubby tidak akan menyesal seumur hidup Hubby?” Rani mengucapkan kalimat itu dengan hati yang sangat terluka.


“Sayang, Hubby ...,” Ryan menggantungkan kalimatnya, bingung harus berkata apa untuk menggambarkan bagaimana kondisi hatinya saat ini.


“Kenapa, Hubby? Semua yang Rani katakan benar bukan?” kini Rani menoleh ke arah Ryan dan menatapnya tajam.


“Bukan begitu, Sayang. Hubby ...,”


BERSAMBUNG


💖💖💖


Like, vote dan rate 5 nya jangan lupa.

__ADS_1


😍 😍 😍


__ADS_2