METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Banyak Anak Banyak Rezeki


__ADS_3

Dalam gendongan suaminya, Rani memasuki rumah utama keluarga Dewangga dengan hati penuh bunga. Setelah hal menakutkan yang akhir-akhir ini terjadi pada hidupnya, memang rumah adalah tempat ternyaman yang menjadi pilihannya.


Ya, sudah menjadi fitrah setiap manusia, tentang sebuah rasa yang tak bisa direkayasa. Bahwa kemanapun kaki kita melangkah, pada akhirnya tetap rumah kita menjadi satu-satunya tujuan kita pulang. Menghabiskan waktu di sana, dan meneguk kebahagiaan bersama cinta keluarga.


"Selamat datang kembali, Sayang," sambut Aghata dan Davina yang telah menunggu kedatangan Rani di depan pintu utama.


"Terima kasih, Ma. Terima kasih, Mom. Terima kasih semuanya, telah menyambut Rani pulang," masih dalam gendongan Ryan, Rani menyapa semua orang yang sudah berjejer rapi menyambut kedatangannya.


Kini di kediaman Keluarga Dewangga, terlihat sangat ramai tidak seperti biasanya. Bagaimana tidak? Penghuni tiga rumah kini tinggal dalam satu rumah sekaligus, dan Ryan sudah putuskan mereka akan tetap seperti itu untuk mempermudah penjagaan kepada mereka semua. Belum lagi jika dihitung dengan seluruh pelayan dan pengawal yang tinggal di rumah itu, tentu kediaman Dewangga sudah layaknya hotel saja. Untungnya, rumah itu terdiri dari dua buah rumah besar, dimana bagian depan adalah rumah utama untuk keluarga, sedangkan di belakang terdapat satu bangunan lagi untuk tempat tinggal para pelayan.


Melihat keputusan Ryan, terkesan sedikit berlebihan, memang. Namun, sayangnya tidak ada satu pun diantara mereka yang protes, karena pada dasarnya mereka sangat menikmati kebersamaan mereka.


Dua hari pun terasa begitu cepat berlalu. Baik Lena maupun Rani sudah sehat dan tidak membutuhkan tim medis untuk merawat mereka di rumah lagi. Lena hanya tinggal memulihlan kondisinya paska operasi caesar saat melahirkan putranya yang akhirnya meninggal, sementara Rani hanya tinggal menunggu sampai luka di kakinya hilang hingga dia bisa kembali berjalan.


"Begini lebih tenang," gumam Ryan saat terlibat obrolan ringan dengan Daniel, Arya juga Johan di ruang tamu rumah itu.


"Maksudmu?" Daniel menaikkan alisnya.


"Kita berkumpul dan tinggal jadi satu seperti ini, membuatku nyaman dan lebih tenang. Entah kenapa sejak kejadian yang menimpa Lena, Nina dan juga istriku, aku tak bisa berpikir tenang karena selalu memikirkan keselamatan kalian," Ryan memberi penekanan pada kalimatnya.


"Kau mau menampung kami semua di tempat ini sampai kapan, heh?" sahut Arya sambil menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kediaman Dewangga.

__ADS_1


"Selamanya," jawab Ryan tanpa beban.


"Kau pikir rumah ini akan muat menampung kami semua? Kami juga akan berkembang biak, tau? Kalau anakmu ada lima, anakku enam, anak Daniel tujuh dan anak Johan ada sembilan, rumah ini tak akan cukup," oceh Arya yang disambut gelak tawa yang lainnya.


"Kenapa jadi anakku yang paling banyak sih? Aku kan paling belakangan menikah dibanding kalian?" Johan yang biasanya tidak banyak bicara, akhirnya menyahut saking gelinya dengan perkataan Arya.


"Sembilan anak?" batin Johan dalam hati.


"Istrimu kan yang paling muda. Dia punya lebih banyak kesempatan untuk melahirkan, sampai batas usia aman. Kalau usia Nina sekarang 17 tahun, berarti masih ada waktu 18 tahun lagi sampai usia aman dia melahirkan anak terakhir. Artinya, dua tahun sekali Nina bisa melahirkan," Arya masih melanjutkan ocehannya. Kali ini lebih semangat karena Johan menanggapinya dengan serius.


"Tidak sebanyak itu juga kali. Apa tidak kasihan jika istri kita melahirkan sebanyak itu?" protes Daniel, mengingat usia Naja dua tahun lebih tua darinya.


"Eh, banyak anak itu banyak rezeki. Yakin saja semakin banyak anak kita, pasti makin sukses juga perusahaan kita. Kan setiap anak membawa rezekinya masing-masing," Arya masih semangat empat lima dengan konsep banyak anak yang ada dalam benaknya.


Arya terlihat menganggukkan kepalanya, sementara Daniel dan Johan hanya bisa membayangkan bagaimana ketika istri mereka sudah mengandung benih yang mereka tanam.


"Okelah tak perlu sebanyak itu. Tapi kembali ke tema awal. Taruhlah misalkan anak kita masing-masing dua, apa kau juga masih meminta kami semua tinggal di rumah ini?" Arya kembali mempertanyakan keputusan Ryan.


"Kenapa tidak? Jika rumah ini tak cukup besar untuk menampung kalian, toh lahan di taman samping masih cukup untuk membuatkan kalian tempat tinggal. Yang jelas aku tak mau kalian semua jauh dariku," kekeh Ryan tak bisa di tawar.


"Baiklah, terserah kau saja," akhirnya Arya menyerah, sementara Daniel dan Johan hanya mengangkat bahunya tanda pasrah.

__ADS_1


"Oya, bagaimana dengan Mommy?" kini Ryan menatap Daniel dengan tajam.


"Memangnya ada apa dengan Mommy?" tanya Daniel tidak mengerti.


"Apa kau tak mau memaafkan Om Arsen?" Ryan mulai to the point.


"Aku butuh waktu," muka Daniel berubah sendu. Kini dia menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa, sambil melihat langit-langit ruang tamu dengan pandangan datar, namun sangat jelas bahwa hatinya begitu nanar.


"Tidakkah kau berpikir bahwa mereka masih saling mencintai? Kau dengar sendiri bukan, bahwa sebelum mereka berpisah, Om Arsen sudah berniat meninggalkan dunia hitam itu dan menikahi Mommy? Hanya tragedi yang menimpa Tante Mira saja yang membuat semua berakhir seperti ini. Jika tidak, mungkin akan lain ceritanya," Ryan berpindah posisi duduk hingga persis di samping Daniel, kemudian menepuk bahu Daniel untuk mentransfer energi positif padanya.


"Menurutmu, apakah Mommy masih mencintainya?" Daniel membenarkan posisi duduknya dan menatap Ryan dengan lekat.


"Apakah kau tak bisa melihat dari sorot matanya?" Ryan justru balik bertanya.


"Huhhh," Daniel menarik nafas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.


"Aku sadar, aku tak boleh egois. Tapi apakah salah jika aku kecewa? Jika saja tidak ada Papa Prabu, mungkin Mommy tak akan bisa sekuat ini. Bahkan rasa sakit di hatiku masih saja menganga ketika aku mengingat betapa menderitanya kami dulu tanpanya. Kau bisa tanya pada Johan betapa aku kehilangan masa kecilku karena harus membantu Mommy membanting tulang demi bisa mendapat penghidupan yang normal, seperti orang kebanyakan yang tak hanya bisa makan, tapi juga bisa sekolah dan mengukir masa depan," keluh Daniel, dengan mata berkaca-kaca.


Dan tanpa mereka sadari, Arsen sedang mendengarkan percakapan mereka dari arah tangga.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Tinggalkan jejak ya guys. Terima kasih


__ADS_2