METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kenapa Disebut Buah Cinta?


__ADS_3

"Mas Hengky! dia?" jiwa kepo Rani meronta-ronta ingin mengetahui siapakah gadis yang kini sedang berada di sebelah Hengky.


Ya. Pertanyaan yang sangat sederhana, tapi ternyata sukses membuat tiga orang yang sedang bersama Rani itu menjadi tak enak hati. Hengky, Fisha dan Ryan mempunyai tafsir masing-masing atas pertanyaan yang Rani ucapkan.


"Kenapa Mas Hengky tak memperkenalkan aku? Masih adakah rasa di hatinya untuk perempuan itu?" Fisha bertanya-tanya dalam hati.


"Ehh, kenapa Rani jadi bodoh begini sih? Tentu saja, Anda istri dari Mas Hengky. Perkenalkan, saya Rani. Teman satu kantor Mas Hengky," merasa ada sesuatu yang tidak enak, Rani berusaha memperkenalkan diri. Seperti biasa, Rani memasang senyum termanisnya saat menyapa Fisha.


"Fisha. Senang bertemu dengan Anda, Nona. Saya banyak mendengar mengenai kehebatan dan sepak terjang Anda," Fisha segera mengimbangi Rani.


"Panggil Rani saja!" pinta Rani.


"Baiklah, kalau begitu panggil Fisha saja," sahut Fisha berusaha menutupi rasa cemburunya.


Ya, rasa cemburu itu muncul begitu saja di hati Fisha, saat Fisha melihat wanita yang dicintai suaminya kini berada tepat di hadapan mereka. Bukan karena takut kalau Rani akan merebut suaminya, tapi karena Fisha melihat cinta itu masih ada di hati Hengky, terlihat dari bagaimana salah tingkahnya Hengky saat Rani bertemu mereka secara tidak sengaja.


Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Ryan pun mengajak Rani untuk segera pulang.


***


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Ryan begitu mereka masuk ke dalam mobil. Rupanya setelah kejadian Rani dan Meysie di ruang ICU tadi, Ryan yang tadinya hanya ingin duduk-duduk di taman, akhirnya berubah pikiran dan lebih memutuskan untuk pulang.


"Seperti yang Hubby lihat. Rani sehat dan baik-baik saja. Anak Hubby di dalam sini juga baik-baik saja tidak sedang rewel minta yang aneh-aneh," jawab Rani sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata, tapi sudah semakin berisi.


"Alhamdulillah. Tapi bukan itu maksud Hubby," timpal Ryan.


"Lalu maksud Hubby gimana, By?" Rani mengernyitkan dahinya.


"Apa kamu tidak apa-apa melihat Hengky bersama istrinya?" Ryan memperjelas pertanyaannya. Akhirnya kegelisahan itu keluar juga dari mulut Ryan.


"Maksud Hubby?" tanya Rani tidak mengerti.


"Ya ada cemburu atau benci atau perasaan apa gitu nggak bertemu Fisha?" terang Ryan.

__ADS_1


"Cemburu? Rani? Sama Fisha?" cecar Rani, bingung.


"Tadi Hubby lihat kamu sebegitu terkejutnya loh, melihat Hengky datang sama istrinya," Ryan mengerucutkan bibirnya.


"Hubby cemburu?" Rani tergelak. Suaminya itu begitu menggemaskan jika sedang merajuk seperti itu.


"Bukan gitu. Tapi kan seharusnya kamu tidak akan bereaksi seperti itu jika hati kamu itu baik-baik saja," kini Ryan memandang istrinya lekat. Dia hanya menstater mobil dan menyalakan AC-nya, tapi mobil itu belum jalan juga.


"Hubby, dengar ya, By. Tadi itu karena Rani kepo aja pengen tahu itu istri Mas Hengky apa bukan," Rani mulai menjelaskan.


"Cuma kepo aja, kamu sampai membulatkan mata dan mulutmu loh tadi," oceh Ryan.


"Apa yang Hubby pikirkan? Jangan macam-macam loh mikirnya. Kita kan sudah membahas ini sebelumnya. Ayolah," Rani mulai serius menanggapi kekhawatiran suaminya, sebelum ada kesalahpahaman di antara mereka.


"Hubby itu cuma ...," sebelum Ryan selesai dengan ucapannya, Rani sudah menutup mulut Ryan dengan ibu jarinya.


"Sssttt," cegah Rani.


"Kamu ini bilang apa? Tentu saja Hubby ingat kalau di dalam rahim kamu itu ada anak Hubby," sahut Rani, sambil mengelus perut yang mulai terlihat berisi itu.


"Di dalam rahim Rani ini bukan hanya anak Hubby loh, By," Rani memasang muka serius.


"Maksud kamu? Dia anak siapa?" wajah Ryan berubah seketika. Bahkan kini dia melepaskan tangannya dari perut istrinya itu.


"Dia bukan anak Hubby saja. Dia juga bukan anak Rani saja, tapi dia adalah buah cinta kita berdua. Hubby tahu apa artinya buah cinta?" jelas Rani sambil tersenyum. Dia merasa sukses mengerjai suaminya kali ini.


"Kamu itu ya? Bikin Hubby jantungan saja," Ryan terlihat bernafas lega. Kini tangannya mengelus kepala Rani dengan asal, hingga hijab yang Rani kenakan berantakan.


"Lagian Hubby main su'udzan aja sama istri sendiri," kini Rani yang mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya. Maafkan Hubby ya, Sayang. Habisnya Hubby cemburu," Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cemburu boleh, By, jika itu hanya bukti rasa sayang. Tapi kalau cemburunya Hubby membutakan, itu sudah keterlaluan," cibik Rani.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Maafkan Hubby ya," Ryan mencium ujung kepala istrinya dengan sayang.


"Hubby tau kenapa anak kita ini disebut buah cinta, By?" tanya Rani sambil meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.


"Kenapa?" Ryan membalas genggaman tangan istrinya, mengangkatnya, kemudian mencium tangan itu mesra.


"Karena ketika kita membuatnya melibatkan hati dan cinta kita," sahut Rani dengan senyum termanisnya.


"Hmmm," Ryan mengangkat alisnya nakal.


"Ihh, Hubby malah mbayangin yang aneh-aneh kan?" satu pukulan mendarat manis di lengan Ryan.


Ryan hanya tergelak melihat ekspresi muka istrinya yang kini merah padam.


"Sekarang Rani tanya. Ketika Hubby membuatnya, karena Hubby menginginkan seorang anak saja atau karena Hubby cinta sama Rani?" tanya Rani serius kembali.


"Meskipun Hubby tidak sabar ingin punya anak dari kamu, tapi tak pernah sekalipun ketika Hubby melakukannya hanya karena ingin kamu mengandung anak Hubby. Hubby selalu ingin menyentuh kamu karena Hubby sangat mencintai istri Hubby yang cantik ini," Ryan mencubit pipi Rani yang kini mulai terlihat cabi.


"Begitu juga dengan Rani. Rani menyerahkan seluruh jiwa, raga dan kesucian Rani hanya kepada Hubby karena cinta itu tumbuh sangat subur di hati Rani. Jadi, anak Hubby ini adalah buah dari cinta kita, By. Hubby tahu kan artinya apa? Artinya cinta di hati Rani itu sedemikian kuat kepada Hubby, hingga Rani pun rela menyerahkan semua yang Rani miliki hanya kepada Hubby. Jadi please, By. Jangan pernah ragukan cinta Rani. Bukti cinta Rani kan sudah tumbuh di dalam rahim Rani ini," Rani kembali meletakkan tangan suaminya di atas perutnya.


"Iya, Sayang. Hubby mengerti," sahut Ryan sambil mengelus perut Rani, bahkan kini dia membungkukkan tubuhnya dan mencium perut istrinya berkali-kali.


"Kita pulang ya, Sayang. Hubby jadi tidak sabar ingin segera sampai kamar. Kita buktikan hari ini juga bahwa kita melakukannya karena saling cinta," cicit Ryan sambil tersenyum nakal, sebelum akhirnya melajukan mobilnya dengan pelan.


"Hubby!" Rani membulatkan mata, menyadari kemana arah pembicaraan suaminya. Bahkan kini tangannya mendarat dengan sempurna di pinggang Ryan dan mencubitnya sekencang mungkin.


"Auwww. Ampun, Sayang. Sakit," Rajuk Ryan manja.


BERSAMBUNG


♥️♥️♥️


Rate 5 nya dong kak.

__ADS_1


__ADS_2