
Hari itu, Raja masih harus tidur di dalam incubator, mengingat berat badannya belum cukup aman untuk bisa dikatakan normal. Al hasil, box bayi yang sudah disiapkan jauh-jauh hari pun belum bisa dihuni oleh sang Raja kecil yang memiliki. Meski begitu, Ryan cukup bersenang hati mengingat tim dokter mengizinkan baby Raja untuk dirawat di rumah saja.
Di usia Raja yang ke lima harinya, ini adalah malam ketiga dimana Ryan harus terus terjaga. Ya, sejak Raja dipindahkan dari ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit yang merupakan ruang perawatan intensif di rumah sakit yang disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan), Ryan hampir tak pernah bisa tidur nyenyak di sepanjang malam yang dilaluinya. Ryan benar-benar ingin menunjukkan kepada Rani, betapa Rani tak sendiri. Ada dirinya yang selalu siap siaga untuk menjaga Raja, sebagai ayah baru dengan segala perannya yang kini benar-benar sangat dinikmatinya.
Bukan hanya terbangun di tengah malam seperti bayi-bayi secara kebanyakan. Raja bahkan benar-benar tetap terjaga ketika hari mulai malam. Al hasil, semalaman penuh Ryan terus bercengkerama dengan dedek Raja, belum lagi jika dia mengompol sehingga dengan sigap Ryan harus mengganti popoknya, jam berapapun Raja menangis dan risih karena popok yang dikenakannya sudah penuh dengan pipis, atau veses yang puluhan kali dikeluarkannya.
"Kau sudah seperti kelelawar saja ya, Sayang. Kalau pagi tidur aja bahkan sampai petang. Kalau malam, matamu justru tak bisa terpejam," Ryan terus mengajak bicara dedek Raja, seolah putra mungilnya itu sudah bisa menjawab pertanyaannya.
Seperti kebanyakan orang tua, Ryan mengharapkan dedek Raja tertawa saat di ajak bicara. Nyatanya, saat itu dia harus menerima tangisan kencang secara tiba-tiba yang begitu melengking di telinganya.
"Sssttt. Jangan kencang-kencang nangisnya, Sayang. Nanti Mommy terbangun karena terganggu dengan tangisanmu. Kamu kenapa nangis? Apakah kamu haus? Atau jangan-jangan kamu eek ya?" Ryan terus mengajak dedek Raja untuk bercengkerama.
Menyadari putranya tak juga diam, Ryan pun mengangkat dedek Raja dari incubator yang terletak di samping ranjangnya, kemudian meletakkan bayinya pada kasur, tepat di sebelah Rani sedang tidur.
Dengan telaten, Ryan membuka popok putranya, dan begitu popok itu terbuka ternyata dugaannya tak salah. Dedek Raja nangis kejer karena risih, popoknya penuh dengan cairan kuning yang baunya bikin kepala menjadi pusing.
Tanpa ada rasa jijik sedikitpun, Ryan pun membersihkan bagian bawah Raja dengan tisu basah, sebelum akhirnya menggantinya dengan popok yang baru.
"Beres deh. Kalau kau sudah gedhe nanti, jangan lupa untuk selalu sayang sama Daddy, ya," Ryan membelai pipi Raja dengan begitu gemasnya, kemudian meletakkan bayinya ke dalam incubator itu lagi, hingga Raja terlihat mulai nyaman lagi setelah popoknya diganti.
Tanpa Ryan tahu, Rani begitu memperhatikan apa yang dilakukan Ryan selama beberapa hari terakhir ini. Hatinya betul-betul menghangat, menyadari suaminya ternyata bisa menunjukkan bahwa tanggung jawab mengurus Raja bukan hanya tanggung jawab Rani seorang diri, tapi juga tanggung jawab seorang ayah, dalam hal apapun itu.
Melihat sebesar apa nama Ryan Dewangga, sebagian besar orang pasti tak pernah menyangka jika dia rela melakukan perannya sebagai ayah di balik nama besarnya itu. Namun itulah kehebatan seorang Ryan, dia tak akan pernah merasa gengsi jika itu sudah terkait dengan kebahagiaan istri dan keluarganya, apapun yang harus dia lakukan untuk meraih kebahagiaan itu.
__ADS_1
"By ...," saat Ryan menoleh, Rani sudah terduduk dan bersandar di kepala ranjang, dengan tatapan nanarnya ke arah Ryan dan Raja.
"Kamu dengar, Sayang. Mommy jadi terbangun karena kamu nangis terlalu kencang," Ryan tak menyahut panggilan istrinya. Dia justru menjawab panggilan Rani dengan mengajak bicara bayinya.
Mata Rani berkaca-kaca, mengingat apa saja yang sudah Ryan lakukan untuk membantunya merawat Raja. Seharusnya, Rani menjadi wanita yang paling bahagia karena kini telah memiliki keluarga yang super lengkap dalam hidupnya. Selain suami yang siap siaga untuknya juga ayah yang baik untuk Raja, Rani juga telah memiliki malaikat kecil yang kini mewarnai kehidupan mereka. Tapi nyatanya, dalam hatinya masih saja ada rasa takut, sedih, marah, yang bahkan dirinya sendiri benar-benar tak mampu untuk mengendalikan semuanya.
"Hubby nggak tidur lagi? Jika Hubby capek, Hubby tidur saja, By. Biar Rani yang menjaga dedek Raja malam ini," sebuah kata yang sangat sederhana, tapi mempunyai berjuta makna bagi Ryan yang mendengarnya. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya, Rani menawarkan diri untuk menjaga sang bayi.
"Tak apa, Sayang. Kamu tidur aja lagi. Kamu harus banyak beristirahat, agar luka operasimu segera pulih kembali," sahut Ryan terlihat tanpa beban.
"Apa Hubby nggak capek, By? Hubby kan sudah tidak tidur selama tiga hari ini?" Rani benar-benar merasa tak tega. Bukan hanya itu. Rasa bersalah kini benar-benar sudah menguasai hatinya.
"Rasa lelah dan kantuk Hubby tidak sebanding jika dibandingkan dengan beratnya perjuanganmu saat melahirkan Raja ke dunia ini. Lagian jika Hubby lelah, kamu dan Raja benar-benar bisa menjadi penawar rasa lelah Hubby," Ryan mengelus kepala Raja sebentar, kemudian menghampiri istrinya yang kini masih duduk bersandar.
"Maafkan Rani, By. Rani justru membiarkan Hubby merawatnya seorang diri. Rani bukanlah istri yang baik untuk Hubby. Rani juga bukan ibu yang sempurna untuk Raja. Rani nggak tahu bagaimana caranya menghilangkan perasaan aneh dalam diri Rani ini, By. Tapi Rani benar-benar tak bermaksud jahat pada Hubby dan pada darah daging Rani sendiri," Rani tergugu. Dia benar-benar bingung sendiri dengan perasaan juga sikapnya itu.
"Kata dokter yang menanganimu, ikatan kalian akan tumbuh dengan sendirinya jika kalian sering bersama. Cintamu padanya akan tumbuh dengan sendirinya, jika kamu terus berusaha mendekat, bukan menghindarinya. Hubby tidak pernah menyalahkanmu tentang semua ini, karena Hubby tahu bahwa ini di luar kendalimu. Tapi jika kamu benar-benar ingin melawan ketakutanmu itu, dengarkan saran Hubby. Lakukan apapun, yang bisa membuatmu selalu dekat dengan Raja," ucap Ryan panjang lebar.
"Ajari Rani menggendongnya, By," pinta Rani.
Ryan pun mengangkat Raja dan mengajari Rani untuk menggendongnya.
"Kau mau susui dia?" Ryan menatap Rani penuh pinta.
__ADS_1
Rani pun mengangguk dan menyusui Raja, sambil mengelus dengan lembut kepala putranya.
"Terima kasih, By. Tolong ajari Rani agar Rani bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga ini," Rani mulai menampakkan senyum tulusnya.
"Apa kau lihat? Raja langsung tidur nyenyak dalam pelukan mommy-nya. Padahal selama tiga hari ini, dia sama sekali tak tidur sepanjang malam, meski aku terus terjaga menemaninya," Ryan mengambil Raja dari tangan Rani dan mengembalikannya pada box berkaca itu.
"Terima kasih," ucap Ryan sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Rani sambil mengerutkan dahinya.
"Terima kasih karena telah mencintaiku. Terima kasih karena telah mau menjadi teman hidupku. Terima kasih karena telah bersedia mengandung darah dagingku, dan terima kasih karena kau telah rela bertaruh nyawa demi melahirkan putra kita," ucap Ryan begitu syahdu.
"Terima kasih juga karena telah menjadi warna indah di dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi suami siaga yang selalu menjagaku, dan terima kasih telah bersabar untuk semua sikap kekanak-kanakanku," sahut Rani tak kalah sendu.
"Kamu mau tau kenapa Hubby melakukan semua itu?" Ryan mengusap pipinya dengan penuh kehangatan.
"Kenapa?" tanya Rani penasaran.
"Karena Hubby mencintai kamu. Sesederhana itu," senyum indah tersungging begitu saja di bibir Ryan.
"Rani juga mencintai Hubby. Sesederhana itu," mereka pun terkekeh bersamaan.
BERSAMBUNG
__ADS_1