METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Gerakan Halus


__ADS_3

Pagi itu, Ryan sudah asyik berkutat dengan berkas-berkasnya, ditemani singkong keju dan secangkir kopi hitam tanpa gula. Rani yang masih betah bermanja dengan bantal dan guling di tempat tidurnya pun benar-benar tak berani mengusiknya. Rani hanya menatap suaminya, tanpa mendekati atau sekedar mengucapkan selamat pagi.


Ryan yang sedari tadi serius pun, sesekali melirik ke arah Rani yang kini telah menatap dirinya tanpa berkedip lama sekali.


"Apa kau baru tersadar, kalau ternyata kau mempunyai suami setampan aku, Sayang?" Ega yang menyadari bahwa Rani tak sedikitpun mengalihkan pandangan, akhirnya tersenyum jail sambil membereskan berkas-berkas di tangannya.


"Ihh, mana ada. Kepedean Hubby mah," sergah Rani sambil mengerucutkan bibirnya.


Ryan pun terkekeh. Dia benar-benar tak tahan melihat istri cantiknya itu pura-pura ngambek dan sangat terlihat menggemaskan. Makanya setelah berkas-berkas itu tertata rapi, dia langsung menghambur ke arah istrinya dan memeluknya.


Ryan pun segera meraba perut Rani yang kini sudah terlihat setengah membola, sebuah aktivitas rutin yang kini sering dia lakukan, dan menjadi hiburan tersendiri yang membahagiakannya.


"Jadi, sekarang kamu mau ngaku apa tidak?" ucap Ryan sambil menggesek-gesekkan hidungnya di pipi istrinya.


"Ngaku apaan, By?" Rani menjauhkan pipinya, merasa geli dengan hal yang dilakukan suaminya. Tapi semakin Rani menjauh, semakin gencar pula Ryan mengejar dan menyerangnya.


"Ngaku aja kalau kamu lagi jatuh cinta sama Hubby," Ryan mengerling nakal.


"Apaan," Rani memalingkan wajahnya.


"Ngaku nggak?" Ryan meraih wajah Rani kembali.


"Iya, iya By. Rani memang selalu jatuh cinta sama Hubby. Bahkan Rani jatuh cinta sama Hubby berkali-kali," jawab Rani dan dengan spontan mengeratkan pelukannya.


"Sudah pinter ngegombal ya, sekarang," Ryan tersenyum senang mendengar perkataan istrinya.


"Kan Hubby yang ngajarin," sahut Rani enteng.


"Iya deh, iya. Kamu memang sudah pinter ngejawab Hubby sekarang," Ryan membenamkan kepalanya tepat di leher istrinya.


Kalau sudah seperti itu, bisa dipastikan Ryan akan meminta lebih.


"Boleh ya, Sayang," Ryan sudah merengek, sambil terus bermain di area leher istrinya yang jenjang.


"Rani masih ngantuk, By," sahut Rani, namun membiarkan suaminya melakukan aktifitasnya.


"Bentar aja, Sayang. Boleh ya. Hubby kan mau jenguk anak Hubby yang ada di dalam," Ryan masih merajuk.


"Ssssttt, ahhh, Hubby. Lepasin, By," kini Rani menjauhkan kepalanya dari suaminya.


"Ayolah, Hubby akan melakukannya dengan pelan," kekeh Ryan. Seperti biasa, jika mereka sudah berduaan di kamar, hasrat Ryan terhadap istrinya bisa dipastikan tak lagi bisa tertahankan.


"Hubby kalau udah mulai, suka lupa diri," ujar Rani manja.


"Habis kamunya nggemesin sih," Ryan terus merapatkan tubuhnya, dan menggesek-gesekkan hidungnya lagi di leher jenjang istrinya.

__ADS_1


"Tuh kan Hubby, entar kalau Rani pendarahan lagi gimana?" Rani bersungut kesal.


"Nggak bakalan, Sayang. Kata dokter, kandunganmu sudah lebih kuat sekarang. Lagian Hubby benar-benar akan melakukannya dengan super pelan. Hubby juga tidak mau anak Hubby yang di dalam sini kesakitan," dari leher, kini Ryan bergerak ke arah perut buncit istrinya, membelainya kemudian menciuminya dengan gemas.


"Ya udah, tapi kita main singkat aja ya, By. Rani mudah capek sekarang," tutur Rani sambil mengelus kepala Ryan yang masih asyik menikmati setiap inchi perut buncitnya.


Ryan tidak menjawab. Jawaban istrinya dia anggap sebagai lampu hijau, sehingga bukan kata-kata lagi yang kini berbicara, tapi tangan dan bibirnya yang sudah tak terkondisikan dan bergerak kemana-mana.


Janji pun kini tinggallah janji. Seperti dugaan Rani, kalau sudah mulai, Ryan sudah sulit terkendali. Istrinya itu selalu saja menjadi mainan asyik yang membuat dia suka lupa diri. Rani pun sama, dia yang awalnya menolak selalu terbawa oleh permainan suaminya.


Namun saat asyik-asyiknya, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


Tok-tok-tok.


"Den! Non!" suara Bik Tum terdengar.


"Sial," gerutu Ryan yang kini sedang berusaha untuk melepas helaian benang istrinya. Dia pun membenarkan posisinya dengan wajah yang sudah merah padam karena menahan hasratnya.


"Ya, Bik. Masuk," seru Rani sambil tersenyum geli, melihat suaminya yang justru menarik selimutnya dan memejamkan mata, demi menghalau hasratnya dan menutupi sesuatu yang sudah menegang di bawah sana.


"Sudah waktunya Non Rani makan buah, Non. Karena Non belum turun, jadi Nyonya Aghata minta Bik Tim untuk mengantarkannya," ucap Bik Tum sambil menaruh buah itu di meja dekat sofa.


"Bawa kesini saja, Bik. Biar aku makan di sini," pinta Rani.


Tanpa sengaja, Bik Tum melirik ke arah Ryan yang kini hanya diam saja sambil melihat Bik Tum melayani istrinya.


"Sudah jam segini, mereka masih saja asyik di tempat tidur. Dasar pasangan anak muda. Setiap hari serasa pengantin baru. Padahal sudah hampir ada malaikat kecil di antara mereka," batin Bik Tum melihat gelagat aneh majikannya.


"Terima kasih, Bik," tutur Rani ramah.


"Apa sarapannya perlu saya antar ke kamar, Non?" tanya Bik Tum lagi.


"Tidak usah, Bik. Kami turun saja nanti. Bilang pada mereka suruh sarapan duluan ya, Bik. Kami turun agak siang," dengan secepat kilat, Ryan menyahut pertanyaan Bik Tum.


"Baik, Den," Bik Tum yang mengerti kemana arah majikannya bicara pun segera pamit dan pergi.


"Sayang, ayo kita lanjutkan," Rajuk Ryan.


"Nanti saja ya, Hubby," goda Rani. Dia justru telah asyik memakan buah yang diberikan Bik Tum sesaat tadi.


"Terus gimana dengan nasibku ini," Ryan bangkit dari tidurnya dan kembali mendekat ke arah istrinya.


"Kita habiskan buahnya dulu, Hubby," Rani tak berhenti mengunyah buah itu dan setelah habis mengambilnya lagi. Begitu seterusnya.


"Nggak mau," tolak Ryan kesal.

__ADS_1


"Benar nggak mau?" Rani terus menggoda.


"Hubby maunya buah yang lain," Ryan menaikkan alisnya dengan ekspresi nakal.


"Beneran nggak mau nih? Cobain dulu," Rani meraih sepotong buah dengan garpu di tangannya, menggigitnya separoh dan mengarahkan mulutnya ke mulut suaminya.


Sedetik kemudian, buah itu sudah berpindah dari mulut Rani ke mulut Ryan.


Menerima perlakuan istrinya itu, Ryan membulatkan mata sambil menerima buah itu dari mulut istrinya dengan suka cita.


"Kalau makan buahnya kayak gini, Hubby tidak keberatan, Sayang," cicit Ryan sambil mengunyah buah yang tiba-tiba rasanya seratus kali lebih manis dari buah yang biasanya dia makan.


"Katanya nggak mau?" cibir Rani.


"Lagi dong," rengek Ryan tak mempedulikan cibiran istrinya.


Rani pun kembali memasukkan sepotong buah ke dalam mulutnya, kemudian mentransfer buah itu ke dalam mulut suaminya. Sembari menunggu suaminya mengunyah buahnya, dia menyuapi dirinya sendiri dan menelannya. Setelah habis, lagi-lagi dia memasukkan sepotong buah ke dalam mulutnya dan mentransfernya lagi ke dalam mulut suaminya. Begitu seterusnya hingga buahnya habis.


Setelah buah di piringnya habis, barulah Rani memberikan buah lain yang sudah sangat diinginkan suaminya. Namun lagi-lagi, sebelum Ryan menuntaskan puncak hasratnya, sebuah suara membuat mereka harus menghentikan surga dunia yang telah dirasakannya.


"Hubby!" tiba-tiba Rani berteriak.


Ryan yang baru saja akan bermain di sesion terakhir, akhirnya mengurungkan niatnya dan langsung memeluk istrinya.


"Ada apa, Sayang? Apakah ada yang sakit? Kamu tidak kenapa-kenapa kan? Padahal Hubby baru mau masuk, belum sampai ke dalam? Kenapa kamu sudah kesakitan?" kini hasrat Ryan tiba-tiba hilang, berubah menjadi rasa ketakutan dan kekhawatiran bahwa pendarahan yang pernah dialami istrinya akan kembali terulang.


"By, dia bergerak, By," cicit Rani sambil memegangi perutnya.


"Dia siapa? Siapa yang bergerak?" tanya Ryan tidak mengerti.


"Dia, By. Anak Hubby yang ada di dalam sini," jawab Rani sambil mengarahkan tangan Ryan ke atas perutnya.


"Hah?" Ryan semakin tidak mengerti.


Tapi begitu telapak tangannya menempel pada perut istrinya, dia merasakan ada gerakan halus, mirip telusur cacing, yang menggeliat-geliat geli.


"Masya Allah, anak Daddy sudah bergerak-gerak ya, Sayang? Sehat-sehat di dalam sana ya, Nak," Ryan benar-benar takjub menyadari pergerakan janin dalam perut istrinya itu.


Mereka pun terus menikmati moment menakjubkan itu selama beberapa saat, dan sejenak melupakan permainan tanggung yang baru saja mereka buat.


BERSAMBUNG


❤️❤️❤️


Kasih rate 5 dong, Kak. Jangan lupa like, vote dan comment-nya juga. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2