
"Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?" untuk pertama kalinya, Lena menyebut Safira sebagai ibunya.
"Jadi begini, Nona. Ibu Anda ...," dokter itu menggantungkan kalimatnya.
"Ibu saya bagaimana, Dokter? Dia baik-baik saja kan?" Lena yang tak sabar dengan jawaban dokter itu, terus mencecar dengan banyak pertanyaan.
"Dengarkan penjelasan dokter dulu, Sayang," Arya segera mendekati Lena dan merangkul istrinya itu dengan penuh sayang.
"Arya benar. Bagaimana kondisi Tante Safira, Dok?" Ryan yang waktu itu langsung mengikuti Lena dan Arya bersama Rudi, Johan, dan Daniel bersama istri-istri mereka pun ikut bertanya dan tak sabar menunggu dokter itu memberi jawaban.
"Baiklah, Tuan dan Nona. Dengan berat hati, saya harus memberikan kabar ini kepada Anda semua," ucap sang dokter, sambil menghela nafas panjang.
"Meski secara umum Nyonya Safira dalam kondisi stabil, tapi sampai saat ini dia belum sadarkan diri. Kami khawatir, jika kondisi seperti ini terus terjadi, ke depan kondisinya akan semakin buruk lagi," dokter itu melanjutkan.
Mendengar jawaban dokter yang menangani ibunya, Lena hanya bisa menangis sambil merengkuh suaminya.
"Deeba tidak akan pernah memaafkan diri Deeba sendiri kalau terjadi sesuatu padanya, Kak. Deeba anak durhaka. Hiks ..., hiks ..., hiks ...," cicit Lena sambil terbata. Suaranya tersengal-sengal, akibat tangisnya yang semakin tak bisa dia tahan.
"Sudahlah, Sayang. Kita do'akan Ibu sama-sama, ya. Semoga Ibu baik-baik saja," sahut Arya, seolah mengerti semua yang sedang Lena rasa.
Hingga tiba-tiba, seorang perawat ke luar dari ruangan dan menghampiri sang dokter yang masih berada di luar.
__ADS_1
"Maaf, Dok. Pasien sudah sadarkan diri. Dia memanggil-manggil nama Lena, Dok. Katanya itu adalah putrinya," lapor perawat itu.
"Saya Lena, Dok. Bolehkah saya menemuinya?" Lena langsung melepaskan pelukannya dan memandang wajah dokter itu dengan penuh pinta.
"Biarkan saya melihat kondisi ibu Anda dulu, Nona. Jika sudah memungkinkan, perawat kami akan meminta Anda untuk masuk," jawab sang dokter sambil berlalu.
Selama dokter itu memeriksa kondisi Safira, Lena hanya berjalan mondar-mandir seolah tak sabar ingin mendengar kabar Ibunya yang saat ini masih terbaring di dalam sana. Arya dan yang lainnya yang duduk di kursi tunggu pun hanya bisa memandang Lena, dan mengikuti arah kemana Lena membawa tubuhnya.
Hingga akhirnya, seorang perawat keluar dengan membawa sebuah kabar.
"Nona Lena," panggil perawat itu, dengan senyum yang sudah mengembang.
"Bagaimana, Sus?" sahut Lena sambil menghampiri sang perawat, diikuti Arya, Ryan, Johan, Rudi, Daniel, Rani, Naja dan juga Nina.
Tanpa mau menunggu lama, Lena langsung berlari masuk ke dalam. Karena tak ada yang melarang, semua yang di sana pun ikut masuk demi melihat kondisi Safira, juga pertemuan ibu dan anak yang telah sekian lama tak bisa saling bersua.
Dan saat-saat yang mendebarkan itu pun tiba. Begitu sampai ke dalam ruangan, tiba-tiba langkah Lena terhenti. Dilihatnya wanita paruh baya yang telah membuangnya karena dipaksa oleh keadaan itu, kini sedang terbaring lemah tanpa daya dan upaya. Tubuhnya semakin kurus, kecantikan yang selama ini nampak pun terlihat semakin memudar seiring dengan gurat-gurat kesedihan di wajahnya yang kian tampak, sejak Lena menolak untuk memberikan sebuah pengakuan.
Arya yang begitu memahami kondisi Lena saat ini pun menepuk pundak istrinya dengan sayang, seolah ingin memberi sebuah keyakinan dan kekuatan.
"Temui Ibu, Sayang. Dia sangat mencintai dan merindukanmu," bisik Arya lirih.
__ADS_1
"Hmmm," Lena mengangguk, menghirup nafas panjang, sambil menguatkan tekad dan melangkah dengan pelan.
Safira yang sayup-sayup mendengar langkah kaki sedang menuju ke arahnya pun dengan refleks mengedarkan pandangan ke arah sumber suara. Dan begitu dia menyadari siapa yang sedang menghampirinya, tiba-tiba hatinya bergetar. Air matanya pun mengalir deras tak tertahankan, sambil mencoba menerka apakah putri yang dia nantikan masih akan menolaknya atau justru sudah bersedia memaafkan.
"I... Ibuuu ...," Lena langsung menghambur ke dalam pelukan Safira begitu saja, bahkan segala keraguan dan kebencian itu tiba-tiba hilang.
"Kau panggil Ibu apa, Sayang? Bolehkah Ibu mendengarnya sekali lagi?" seperti mimpi, Safira benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ibu ..., Ibu ..., Ibu ..., aku bahkan akan memanggilmu Ibu sebanyak yang Ibu mau," Lena mengeratkan pelukannya.
Tak ada yang tak meneteskan air mata, melihat pemandangan indah antara seorang putri dan ibunya itu. Bahkan mereka semua termasuk Arya akhirnya memilih untuk menunggu di luar, membiarkan Lena dan Safira melepas rindu yang telah sekian lama menyeruak di dalam dada mereka.
Sungguh, tidak ada yang lebih indah selain kata maaf dan memaafkan. Tidak ada yang lebih kuat selain ikatan darah meski mereka telah sekian lama terpisah. Dan tidak ada yang lebih merdu selain tangisan dua insan yang sedang melepas rindu. Lena dan Safira, mereka adalah seorang putri dan seorang Ibu yang terpisah oleh takdir, dan dipertemukan oleh takdir seiring dengan berjalannya waktu.
***
"Akhirnya satu masalah besar bisa terselesaikan," cicit Arya tiba-tiba.
Ryan dan Daniel yang waktu itu duduk di antara Arya pun kompak menganggukkan kepala, sambil menepuk bahu Arya tanda ikut berbahagia.
"Tinggal satu masalah lagi," Naja yang waktu itu duduk di sebelah Rani tiba-tiba ikut urun bicara.
__ADS_1
"Apa?"
BERSAMBUNG