METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Maaf Telah Membiarkanmu Merasakan Sakit


__ADS_3

"Ya Allah, kakimu kenapa, Sayang? Kenapa bisa seperti ini?" mendengar ucapan istrinya dan juga darah yang kini mengucur deras dari tangannya hingga membuat sprey yang terpasang di sana penuh dengan noda merah, Ryan mulai panik dan memegangi tangan Rani dengan begitu tegangnya. Apalagi ketika melihat kaki Rani dan memeriksanya, Ryan benar-benar kaget sampai membulatkan mata dan mulutnya.


Untung tak butuh waktu lama, dokter dan seorang perawat segera datang dan dengan begitu cekatan langsung bisa menghentikan darah yang mengucur deras dari tangan Rani. Jika tidak, bisa dijamin Ryan akan mengalami kepanikan tingkat dewa.


"Karena tidak memungkinkan infus di pasang kembali di tempat yang sama, maka izinkan kami memasang jarum infus di tangan Nona yang sebelahnya, Tuan," kata seorang perawat setelah memasang sepotong kasa dan menutupnya dengan plester pada bekas jarum infus di tangan Rani yang mengeluarkan banyak darah.


"Karena alasan keamanan, hari ini saya akan membawa istri saya pulang, Dok. Saya minta tim dokter dan perawat terbaik untuk bisa merawat istri saya di rumah. Terkait infus, apakah masih harus dipasang, Dokter?" tanya Ryan sambil mengusap kepala Rani yang kini sudah terbaring di atas tempat tidur pasien kembali.


"Baik, akan kami siapkan administrasinya dulu, Tuan. Kami juga butuh sedikit waktu untuk mempersiapkan seluruh peralatan yang kami butuhkan selama Nona dirawat di rumah. Untuk infus bisa kami pasang kembali setelah Nona sampai rumah, Tuan," jawab dokter itu ramah.


"Oya, Dok. kenapa kaki istri saya bengkak dan membiru, Dokter?" Ryan menunjukkan kaki kanan Rani yang membengkak, dan bewarna merah agak kebiruan.


Dokter mengarahkan pandangannya pada kaki Rani yang tiba-tiba membengkak. Hal itu luput dari pemeriksaan awal mereka, sehingga dengan cepat dokter itu segera mendekati telapak kaki kanan Rani yang sudah bengkak dan membiru.


"Mohon maaf, Tuan. Kelihatannya kaki Nona kemasukan benda tajam, semacam potongan kaca atau benda lainnya. Hal ini luput dari pemeriksaan awal kami, karena ketika Nona sampai di tempat ini kemungkinan darah yang mengalir dari telapak kaki Nona sudah berhenti. Karena serpihan kaca itu masih berada di dalam, kemungkinan ada infeksi yang membuat kaki Nona membiru dan membengkak," jelas dokter itu sambil meletakkan kaki Rani kembali dengan pelan.


"Lalu bagaimana, Dokter?" tanya Ryan, dengan tampang yang sedikit kesal.


"Bagaimana mungkin mereka tidak tahu sejak pemeriksaan awal di IGD?" gerutu Ryan dalam hati.


"Kami harus mengambil serpihan kaca itu dulu dari kaki Nona, baru bisa melakukan penanganan pada luka dan infeksinya, Tuan," terang dokter itu sambil menatap Ryan dan Rani secara bergantian seolah meminta persetujuan.


"Apakah akan sakit, Dokter?" tanya Ryan sambil meringis, membayangkan bagaimana rasanya ketika dokter itu mengorek dan mencabut kaca itu dari kaki istrinya.


"Akan sedikit sakit memang, tapi tidak ada cara lain, Tuan," jawab dokter itu meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah, Dokter. Lakukan yang terbaik," putus Ryan, sebelum akhirnya seorang perawat keluar untuk mengambil alat yang diperlukan.


Setelah beberapa menit, perawat itu pun kembali dengan membawa meja dorong yang berisi peralatan medis.


"Saya mulai ya, Tuan?" dokter itu meminta izin.


"Sayang, tahan sedikit ya! Rasanya akan sedikit sakit, tapi tidak ada cara lain selain harus mengambil serpihan kaca itu dari kakimu," tutur Ryan sambil mengecup ujung kepala istrinya dengan sayang. Rani pun hanya bisa mengangguk pasrah.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Ryan, akhirnya dokter itu mengambil dua buah stik seperti pisau kecil kemudian mulai mengorek telapak kaki Rani, dan berusaha mengambil sepotong kaca yang tertanam di dalam sana.


"Aduh, sakit, Dokter. Hubby, sakit banget, By," rengek Rani sambil meremas tangan Ryan. Bahkan kini Rani menangis seperti anak kecil yang tidak bisa menahan sakit saat terjatuh.


"Sstt ..., tahan sebentar, Sayang. Setelah kacanya berhasil dikeluarkan rasa sakitnya akan hilang," ucap Ryan sambil menundukkan tubuhnya dan mendekap kepala istrinya.


"Apakah masih lama, Dokter? Istri saya kesakitan," tanya Ryan dengan begitu tegangnya.


"Kacanya masuk terlalu dalam, Tuan. Jadi kami harus mengorek sebelum menariknya keluar. Kemungkinan waktu itu setelah kaca menancap di kaki Nona, Nona sempat berjalan sehingga potongan kaca itu semakin masuk ke dalam. Dan satu lagi, kelihatannya serpihan kaca yang mengenai Nona ada di beberapa tempat," dokter itu menjawab ocehan Ryan sambil tetap fokus pada telapak kaki Rani.


"Apa? Ada di beberapa tempat?" Ryan kaget sekaligus tak tega melihat Rani yang terus menangis menahan sakit.


Butuh waktu cukup lama bagi dokter itu untuk membersihkan potongan demi potongan kaca dari telapak kaki Rani. Selama itu pula Rani terus menangis dalam dekapan suaminya.


"Kau harus membayar setiap rintihan dan tangisan istriku ini, Om Atmaja," batin Ryan dalam hati.


Ya, tentu saja. Melihat Rani yang berteriak-teriak kesakitan, membuat hati Ryan sangat marah dengan apa yang keluarga Atmaja lakukan kepadanya juga kepada orang yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Dalam waktu tiga puluh menit, akhirnya dokter bisa menyelesaikan misinya. Akhirnya serpihan-serpihan kecil kaca yang menancap di telapak kaki Rani berhasil di keluarkan semua.


Meskipun banyak darah yang keluar dari telapak kaki Rani, tapi sakitnya sudah jauh lebih berkurang jika dibandingkan dengan saat dokter mengorek dan menariknya. Rani pun sudah lebih tenang, hingga Ryan segera mengendorkan pelukannya, mengambil tisu dan menghapus sisa air mata yang masih betah menghiasi pipi istrinya.


"Semua potongan kaca yang berada di dalam sudah kami bersihkan, Tuan. Lukanya sudah kami obati dan kami tutup dengan perban. Kami permisi untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan agar Nona bisa kami rawat di rumah," ucap dokter itu, kemudian pamit keluar.


"Baik, Dokter. Terima kasih," sahut Ryan sopan.


Setelah dokter dan perawat itu keluar, Ryan pun kembali memeluk istrinya dengan segala rasa yang mengaduk-aduk jiwa dan pikirannya.


"Maaf telah membiarkanmu merasakan sakit seperti ini," ucap Ryan sendu.


"Bukan salah Hubby. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri," lirih Rani sambil membenamkan diri pada tubuh kekar suaminya.


"Hubby janji akan segera menemukan mereka dan membuat mereka mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," ucap Ryan. Kini mukanya sudah sangat merah karena menahan marah.


Dan tanpa mereka sadari, di depan pintu sudah ada Hengky yang sedang menatap Ryan dan Rani dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Ada apakah gerangan Hengky datang menemui mereka di ruang perawatan? Apakah untuk meminta maaf atas segala perbuatan kakak perempuan dan ayahnya? Ataukah kini Hengky juga ingin menabuh genderang perang kepada mereka? Yang jelas, ekspresi yang Hengky tunjukkan saat itu sangat jauh dari apa yang biasa dia tunjukkan sebelumnya.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan rate 5 ya Kakak. 😘

__ADS_1


__ADS_2