METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tanggung Jawab Hengky


__ADS_3

Kehidupan selalu menampakkan pesonanya. Kebaikan dan kejahatan, kesedihan dan kebahagiaan, kesulitan dan kemudahan, cinta kasih dan kebencian, semua menjadi warna dalam setiap keindahannya.


Namun, suratan takdir kadang tak sejalan dengan keinginan. Kenyataan pun lebih sering berbeda dengan apa yang dipikirkan, hingga sebagai manusia biasa, yang bisa dilakukan hanya memaksimalkan ikhtiar.


Ya, begitulah hidup. Tangis dan tawa terkadang terjadi di saat bersamaan. Seperti hari itu, perbedaan sangat mencolok terlihat dari dua sisi kehidupan seseorang. Suasana penuh cinta di kediaman Keluarga Dewangga, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana hati keluarga Atmaja. Bagaimana tidak? Hingga saat ini, Meysie masih saja terbaring lemah di sebuah ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit.


Di dalam ruang itu, Meysie terbaring bagai seonggok robot, yang dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran di seluruh tubuhnya. Kabel infus dipasang di tangan kanannya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, kabel rekam jantung dan banyak kabel lain yang terpasang di sana.


Di samping tempat Meysie dirawat, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang bergerak naik turun, yang menunjukkan grafik detak jantung Meysie yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantungnya. Suara itulah yang semakin menambah gurat cemas pada wajah Hengky dan ibunya yang selalu setia dan sabar menantikan saat-saat dia sadar dari komanya.


"Pergilah urus perusahaan, Nak. Jangan sampai perusahaan kita terbengkalai karena terlalu lama tak ada yang mengurusnya. Biar Meysie Mama yang jagain, nanti malam baru kau bisa gantikan Mama," ucap Nyonya Atmaja kepada putranya.


"Mama tidak apa-apa, Hengky tinggal sendiri?" ada sekelumit ragu dari ekspresi yang ditunjukkan Hengky. Karena biar bagaimanapun, seorang ibu yang kini berada di hadapannya itu adalah orang yang paling menderita atas semua yang terjadi. Suaminya kini menjadi buronan, putri satu-satunya koma, dan putra bungsunya harus patah hati, semuanya dengan satu alasan, yaitu karena cinta yang tak terbalaskan.


"Kita harus mulai terbiasa dengan kondisi seperti ini, Nak. Sekarang papamu entah dimana, kakakmu masih terbaring koma, jadi sekarang tinggal kita berdua. Siapa lagi yang akan kami andalkan jika bukan kamu," mata Nyonya Atmaja terlihat berkaca-kaca, mengingat cobaan hidup yang sedang menimpa keluarganya.


"Mama jangan sedih. Hengky akan melakukan apapun demi kalian. Hari ini Hengky akan mengurus surat pengunduran diri Hengky di Dewan dan akan mulai mengurus perusahaan," tutur Hengky lembut, sambil mengelus punggung Nyonya Atmaja dengan penuh sayang.


Setelah mengecup kening Meysie, Hengky pun mencium punggung tangan dan kening Nyonya Atmaja.


Tak berapa lama, Hengky pun keluar menuju parkiran rumah sakit. Seperti sudah menjadi ciri khas seorang Anggota Dewan, Hengky tidak pernah menghilangkan kebiasaan untuk melihat sekitar ketika berjalan. Dia tidak pernah fokus dengan jalan yang sedang dilewatinya, tetapi selalu berjalan dengan mengamati aktifitas orang-orang yang ada di sekelilingnya.


Hal itu juga yang dia lakukan saat itu. Begitu keluar dari ruang ICU, Hengky yang harus melewati ruang operasi dan IGD dulu untuk keluar dan menuju tempat parkir pun terus sibuk melihat orang yang dia lewati saat itu.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Begitu Hengky melewati depan ruang operasi, dia melihat gadis yang kemarin ditolongnya sedang berjalan mondar-mandir, dengan kedua tangan yang ditangkupkan di depan dadanya, dan mulut berkomat-kamit melafalkan do'a.

__ADS_1


"Hai, Nona. Apakah ibumu baik-baik saja?" sapa Hengky begitu dia sampai di depan gadis itu.


"Ahh, Tuan. Ternyata Anda. Ibu saya baik-baik saja, Tuan. Dia sedang dioperasi," sahut gadis itu ramah.


"Ibumu harus dioperasi? Apa diagnosa dokter?" Hengky mengerutkan dahinya.


"Bagaimana mungkin Anda tidak tahu, Tuan? Bukankah Anda yang bersedia menanggung biaya ibu saya?" tanya gadis itu heran.


"Ohh itu? Iya betul. Tapi aku lupa menanyakan diagnosa dan perawatan apa yang ibumu butuhkan," jawab Hengky dengan santainya.


"Maaf, Tuan. Saya kira Anda sudah tahu jika ibu saya harus dioperasi, makanya saya langsung menyetujui begitu seorang dokter memberitahu jadwal operasinya. Saya mau menghubungi Anda juga tidak tahu harus kemana, karena bingung akhirnya saya setuju saja. Mohon maaf Tuan, jika biaya untuk ibu saya terlalu besar, Anda bisa menganggapnya sebagai hutang. Saya akan berusaha untuk menggantinya, walaupun saya harus mencicilnya seumur hidup saya," ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Tenanglah! Tak usah kau pikirkan," jawab Hengky tanpa beban.


"Terima kasih, Tuan," gadis itu membungkukkan badannya.


"Maaf, Tuan. Bolehkah saya meminta nomor handphone Anda? Agar saya bisa menghubungi Anda jika sesuatu terjadi pada ibu saya dan butuh persetujuan Anda," tutur gadis itu sopan.


"Tentu. Ini kartu nama saya," Hengky menyerahkan sebuah kartu nama, kemudian berpamitan untuk keluar.


Namun sebelum Hengky berlalu, tiba-tiba lampu di atas pintu ruang operasi yang tadinya berwarna merah itu mati dan berubah menjadi warna hijau, tanda operasi telah selesai. Hengky pun menghentikan langkahnya dan ikut menghampiri dokter itu untuk mengetahui kondisi terkini dari ibu sang gadis.


"Bagaimana, Dokter?" Hengky bertanya dengan sangat antusias.


"Begini, Tuan. Secara umum operasi berjalan lancar. Tumor sudah berhasil kami angkat dan kami bersihkan dari tubuhnya. Tapi ...," dokter itu menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi apa, Dok?" Hengky menyela, sementara gadis itu hanya terdiam dengan wajah tegangnya.


"Sebenarnya, operasi bisa dibilang berhasil, Tuan. Tapi sambungan usus ibu itu berisiko karena Hemoglobinnya turun, mengingat sebelum operasi HB-nya juga tidak terlalu tinggi," kata dokter itu.


"Terus gimana, Dok?" gadis itu bertanya dengan suara yang bergetar.


"Ibu Anda tetap butuh transfusi darah, Nona," kata sang dokter melanjutkan.


"Lakukan apa saja untuk menyelamatkannya, Dok. Berapapun biayanya akan saya tanggung," sahut Hengky tegas.


"Masalahnya persediaan darah bergolongan AB kami tinggal dua kantong, Tuan. Kami butuh setidaknya lima kantong," dokter itu terlihat tidak bersemangat.


"Golongan darah saya A, Dokter. Bagaimana ini, Tuan?" gadis itu menatap Hengky dan dokter secara bergantian. Kini air matanya sudah menggenang, sebelum akhirnya jatuh tak tertahankan.


"Ambil darah saya, Dokter. Golongan darah saya AB," tanpa pikir panjang, Hengky menawarkan diri.


Dokter pun bisa tersenyum lega, dan segera meminta salah seorang perawat untuk membawa Hengky melakukan cek ulang dan mengambil darahnya.


Sementara Hengky diambil darahnya, gadis itu hanya diam terpaku memikirkan kejadian demi kejadian, serta kebetulan demi kebetulan yang beberapa hari ini datang dalam hidupnya. Ya, pertemuannya dengan Hengky adalah hal kebetulan yang menyelamatkan ibunya dari sebuah momok menakutkan bernama kematian. Bukan hanya biaya, ternyata darahnya pun rela dia berikan.


"Bagaimana cara agar aku bisa membalas semua kebaikanmu, Tuan?" batin gadis itu dalam hati.


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya. Thank you.


__ADS_2