
"Apa Bang Ega lupa, seperti apa dulu Abang telah menyakiti hati Meysie?" Meysie menatap nanar mata pria yang kini tepat berada di sebelahnya.
"Apa dalam mimpimu, kau tak juga mendengar bagaimana aku merekayasa semua itu agar aku bisa melepasmu untuk seorang pria yang paling kau cintai dalam hidupmu?" Ega membalas tatapan Meysie penuh arti.
Karena terlalu keras berpikir, Meysie pun memegangi kepalanya dan meringis kesakitan. Buliran kristal bening dari ujung matanya pun kini mengalir deras, mencoba memahami apa yang sudah terjadi pada hidupnya selama tiga bulan terakhir ini.
"Sudah, Sayang. Jangan dipaksakan untuk mencernanya sekarang. Kau baru saja terbangun setelah koma selama tiga bulan. Kau harus banyak-banyak istirahat. Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakan semuanya," Ega mencoba menenangkan Meysie.
Karena merasa tidak ada pilihan, Meysie pun hanya bisa menurut dengan apa yang Ega katakan.
Setelah Meysie tertidur, Ega pun memutuskan untuk keluar sebentar, sekedar mencari makan dan membeli beberapa kebutuhan. Namun begitu Ega keluar, dia baru tersadar bahwa kini di depannya masih ada masalah sangat besar yang menghadang.
Kini Ega melihat dua orang polisi yang selama tiga bulan ini memang selalu berjaga di depan kamar Meysie. Ya, tentu saja. Karena Meysie masih punya kasus yang menjeratnya, akibat percobaan pembunuhan yang pernah dilakukannya.
"Alamak. Kenapa aku bisa lupa, kalau satu-satunya masalah bukan hanya Meysie yang mengalami koma. Ada masalah lebih besar lagi yang saat ini ada di depan mata," gumam Ega dalam hati.
Ega kembali masuk ke dalam kamar perawatan Meysie. Dilihatnya, gadis yang sangat dicintainya itu masih lelap tertidur. Ada keteduhan di wajahnya, menyadari kini gadisnya sedang tidur pulas, berbeda dengan tidurnya selama tiga bulan terakhir ini.
Namun begitu dia kembali sadar dengan masalah besarnya yang lain, dia kembali gusar. Bahkan kini Ega berjalan mondar-mandir seperti kehilangan akal, memikirkan bagaimana langkah yang bisa diambilnya ke depan.
Ceklek.
Di saat Ega masih memasang wajah kebingungan, tiba-tiba Nyonya Atmaja, Hengky dan Fisha datang.
"Sssttt," ucap Ega sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya. Itu adalah isyarat agar mereka bertiga masuk pelan-pelan, agar tidak membangunkan Meysie yang masih lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Dengan isyarat itu, Nyonya Atmaja hanya tersenyum bahagia, melihat menantunya begitu memperlakukan Meysie dengan istimewa.
Nyonya Atmaja pun akhirnya mengajak Fisha untuk duduk di sofa, sementara Ega mengajak Hengky ke luar agar bisa leluasa berbicara.
"Kita mau kemana?" tanya Hengky sambil mengikuti langkah Ega hingga ke tempat parkir mobil depan rumah sakit.
"Kita harus temui keluarga Dewangga," Ega terus berjalan tanpa melihat ke arah Hengky.
Hengky pun tak protes sama sekali. Dia sudah memahami kemana arah Ega berpikir. Hengky betul-betul menyadari bahwa dengan sadarnya Meysie dari komanya, satu masalah memang selesai. Tapi di depan mereka ada masalah lebih besar yang sudah menghadang.
Mereka pun akhirnya telah masuk ke dalam mobilnya.
"Kemana kita? Perusahaan atau rumahnya?" Ega menatap Hengky meminta pertimbangan.
"Kita ke rumah utama," ucap Hengky begitu dia selesai melakukan panggilan suara.
Ega pun langsung menekan pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Selama perjalanan pun mereka hanya saling diam, menyelami pikiran masing-masing tentang sosok yang sebentar lagi akan mereka temui. Ya, seorang pria yang sama-sama telah menghancurkan cinta seorang Ega Rahardian dan Hengky Atmaja.
***
Kini Hengky dan Ega telah berada di sebuah ruang mewah milik keluarga Dewangga. Mereka cukup tertegun saat mereka ditemui oleh seluruh keluarga Dewangga dengan formasi lengkap. Ryan duduk berdua dengan Rani yang perutnya sudah mulai terlihat agak besar, Daniel yang masih belum bisa melihat, duduk bergandengan tangan dengan Naja. Arya, Lena juga Arsen dan Aghata pun tak mau ketinggalan. Hanya Johan dan Rudi yang berdiri di samping mereka duduk, sementara Nina dan Davina sibuk membantu Bik Tum dan pelayan yang lainnya menyiapkan hidangan.
"Jadi bagaimana?" Ryan membuka pembicaraan dengan gaya khasnya yang berkarisma.
Ega yang baru pertama kali berbicara langsung dengan Ryan pun hanya mampu menelan salivanya.
__ADS_1
"Pantas saja Meysie sampai rela melakukan apapun untuk mendapatkan pria ini," gumam Ega dalam hati.
"Meysie sudah sadarkan diri," kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut Ega.
Mendengar penuturan Ega, semua membulatkan mata. Ekspresi mereka semua hampir sama, antara senang, bersyukur, tapi juga waspada. Mereka tidak bisa memungkiri kalau ada rasa khawatir di hati mereka, bahwa perempuan itu akan kembali mengusik ketenangan keluarganya. Bahkan Ryan terlihat meremas tangan istrinya, sekedar untuk menenangkan agar Rani melupakan traumanya.
"Alhamdulillah, kami ikut senang mendengar kabar gembiranya," Ryan memasang wajah datar, membuat Ega dan Hengky maju mundur ingin melanjutkan pembicaraan mereka.
"Lalu apa ada yang bisa kami bantu?" lanjut Ryan, menyadari keraguan yang terpancar dari wajah Hengky dan Ega. Sementara yang lain hanya menjadi pendengar setia.
"Sebagai suaminya, saya memohonkan maaf untuk istri saya," kata Ega parau.
"Kami sudah memaafkan Meysie tanpa Anda memintanya," ada senyum yang tersungging di bibir Ryan, tanpa mengurangi kewibawaannya.
"Tapi proses hukumnya masih berjalan karena Anda belum mencabut laporan Anda. Jika kami boleh meminta belas kasihan Anda, cabutlah laporan Anda. Bukankah biar bagaimanapun Meysie adalah sahabat Anda?" Ega mencoba untuk memberanikan diri.
"Anda mencintai istri Anda, begitu juga dengan saya. Saya sangat mencintai istri saya. Bukankah Anda merasakan kesedihan yang teramat besar ketika melihat Meysie koma dan tertidur sangat panjang? Maka bayangkanlah bagaimana hancurnya hati dan hidup saya melihat istri saya dilukai di depan mata dan kepala saya sendiri. Bahkan Tuan Atmaja mencoba menculik dan menyakitinya. Menurut Anda, bagaimana cara saya melupakan semuanya? Dan apakah dengan begitu Anda bisa menjamin Meysie tidak akan lagi mengusik istri saya?" jawab Ryan mulai menampakkan emosinya. Rani yang menyadari suaminya sudah mulai naik darah, hanya menggandeng lengan suaminya dan bergelayut manja untuk menenangkannya.
Di seberang mereka duduk, Hengky hanya mampu merasakan sakit di hatinya. Lagi-lagi, dia harus rela melihat kemesraan mereka yang begitu menyayat hati, membuat dirinya belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri. Ya, meskipun kini sudah ada Fisha, tapi ternyata belum bisa sepenuhnya menggantikan posisi Rani di hatinya.
"Saya berjanji akan membuat Meysie tak bisa mengusik keluarga Anda lagi, asal Anda mau mencabut laporan Anda," janji Ega dengan penuh kemantapan hati. Kini dia memberanikan diri menatap kedalaman mata Ryan, demi menunjukkan bahwa dia datang dengan kesungguhan.
"Apa jaminan yang bisa Anda berikan?"
BERSAMBUNG
__ADS_1