
Sesil mengerjab-kerjabkan matanya begitu pengaruh obat tidur yang diberikan Zara semalam berhenti bekerja. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam, yang terus berputar dalam ingatannya hanya saat-saat dirinya sedang bercinta dengan kekasihnya. Adapun saat dimana Zara berusaha menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya, Sesil hanya mengingatnya sebagian saja.
"Ehhhhmmm, mmmm, mmm," Sesil kembali meronta, berpikir bahwa seseorang sudah berhasil menculiknya. Gambaran wajah Indra dan Zara yang sempat ditemuinya semalam pun sudah hilang dari ingatannya, sehingga tak sedikit pun dia merasa bahwa Ryan Dewangga sudah mengetahuk pengkhianatan yang dilakukannya, dan sudah menjalankan sebuah skenario untuk menangkapnya.
"Ehhhhmmm, mmmm, mmm," sekali lagi Sesil mencoba memberontak dan melepaskan tali yang kini mengikatnya.
Namun begitu dia sadar siapa saja yang sedang mengitarinya, Sesil mendadak diam seribu bahasa.
"Dudukkan dan ikat dia di kursi itu," Arya yang sangat geram dengan kelakuan sekretarisnya itu berseru, membuat Indra dan Zara segera mendudukkan Sesil di atas sebuah kursi dan mengikatnya.
"Buka lakban yang membungkam mulutnya," titah Arya sekali lagi.
"Baik, Tuan," Zara langsung membuka lakban yang menutup sempurna mulut Sesil hingga dia tak bisa berbicara.
"Kau?" bibir Sesil seolah tercekat, melihat Zara berada di satu tempat dengan dirinya dan orang-orang yang telah dikhianatinya.
"Tidak usah kaget begitu, Nona. Anda pengkhianat, saya juga seorang pengkhianat. Anda bekerja untuk orang yang saya khianati, dan saya bekerja untuk orang yang Anda khianati," Zara tersenyum sinis ke arah Sesil. Apalagi jika mengingat kelakuan Sesil yang tak bermoral semalam, membuat jiwa membunuh Zara tak bisa dikendalikan.
"Tapi ada hal yang sangat jauh di antara kita, Nona. Anda ingin tahu itu apa? Bedanya, saya punya moral dan etika, Anda sebaliknya. Anda hanyalah seorang wanita tak bermoral yang rela mengumbar tubuh Anda untuk laki-laki bejat yang belum tentu akan memenuhi janji-janjinya. Percayalah kepada saya, Nona. Dia itu hanya memperalat Anda untuk keuntungan pribadinya. Anda pikir dia mencintai Anda? Kasihan," ejek Zara sambil menyeringai aneh, menertawakan kebodohan Sesil yang telah terlalu jauh diperalat, hanya karena pria itu berjanji akan menikahinya.
Setelah Zara selesai membuka lakban di mulut Sesil, Arya pun mendekat dan memandang wajah Sesil dengan lekat.
"Katakan, kurang baik apa aku kepadamu?" tanya Arya begitu pilu.
Arya termasuk seorang atasan yang selalu memperlakukan anak buahnya dengan sangat baik. Bahkan dia akan selalu menjadi yang terdepan, di saat anak buahnya berada dalam masalah apapun, termasuk masalah keuangan. Makanya tak heran, jika yang paling terpukul atas pengkhianatan Sesil adalah dirinya, karena Arya sudah memperlakukan perempuan itu tak ubahnya seperti seorang saudara.
"Katakan!" teriak Arya, emosinya sama sekali tak bisa dikendalikan.
"Maafkan saya, Tuan," Sesil tertunduk dalam-dalam.
"Maaf kau bilang? Kau tahu betul, bukan karena harta kami marah kepadamu. Apa kau tak ingat apa yang pernah aku katakan kepadamu? Aku memaafkan semua kesalahan seseorang kecuali satu, yaitu sebuah pengkhianatan," ucap Arya semakin geram.
"Cukup, Ar. Biarkan dia berbicara. Aku ingin tahu, kenapa dia begitu tega melakukan hal itu kepadaku," Ryan yang saat itu duduk di kursi roda, akhirnya angkat bicara.
Mendengar suara Ryan, dan melihat majikan yang telah dikhianatinya itu kini berada tepat di hadapannya, Sesil pun mulai bergetar hebat dan meneteskan air mata.
"Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya. Saya sungguh terpaksa melakukannya," dengan isakan tangis yang semakin kencang, Sesil terus memohon.
"Katakan kepadaku, kenapa kau tega mengkhianatiku, Sesil?" tegas Ryan, membuat Sesil mulai bercerita.
***
Flashback
__ADS_1
Sebuah pesan yang masuk ke ponsel Sesil waktu itu membuat debaran di dadannya tiba-tiba berdegup sepuluh kali lebih kencang dari pada biasanya. Pasalnya, orang yang mengirim pesan kepada Sesil waktu itu adalah seorang pria yang telah membuat dia jatuh cinta sejak Sesil berada di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Ya, dia adalah Felix Adinata. Seorang primadona di sekolah yang menjadi rebutan para gadis termasuk dirinya. Namun karena Sesil hanyalah seorang adik kelas yang berada dua tingkat di bawah Felix Adinata, maka ketidakpercayaan diri Sesil membuatnya mundur dan terus memendam cinta hingga dia beranjak dewasa.
Dan siang itu, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Felix menghubunginya. Tanpa ingin tahu dari mana Felix mendapatkan nomornya dan bagaimana mungkin seorang Felix tiba-tiba bisa menghubunginya, tanpa pikir panjang Sesil pun menerima ajakan makan siang Felix begitu saja.
"Tiba-tiba aku mengingatmu, hingga segala cara aku lakukan demi bisa mendapatkan nomor kamu, Sesil. Aku juga tak tahu kenapa, tapi aku benar-benar melihatmu dalam mimpiku dan berharap kau juga bisa hadir dalam dunia nyataku. Karena itu, hari ini aku ingin memintamu, Sesil. Bersediakah kau menjadi kekasihku?" tembakan Felix waktu itu membuat Sesil tak berpikir panjang. Rasa cintanya kepada Felix, sudah menutup mata hati dan akal sehatnya.
"Jawablah, Sayang. Apa kau menerima cintaku?" pertanyaan Felix yang kedua itu benar-benar bisa meyakinkan Sesil bahwa Felix benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Hingga tanpa ragu, mereka pun mulai menjalin hubungan sejak hari itu. Ya, hubungan seorang pria dewasa dan wanita biasa yang tak hanya sekedar nonton atau makan pun akhirnya mereka lakukan, demi satu kata yang bernama cinta.
"Sayang, bolehkan aku menciummu?" permintaan Felix pada hari kedua setelah mereka resmi berpacaran ketika itu, benar-benar membuat Sesil malu. Jujur, Sesil tak pernah membuka hati untuk pria lain setelah lulus SMP dulu, sehingga sebelum Felix meminta ciuman itu, memang belum pernah ada pria lain yang memintanya.
"Aku malu," jawab Sesil malu-malu.
"Kenapa harus malu? Bukannya aku adalah kekasihmu? Lagian, tidak akan ada yang melihatnya, karena saat ini kan kita sedang berada di rumahmu," Felix terus memaksa.
Hingga tiba-tiba, Felix langsung ******* bibir Sesil tanpa menunggu persetujuannya. Merasa tak ada penolakan, Felix pun memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Sesil dan melakukannya selama beberapa lama.
Sesil yang akhirnya menikmati ciuman pertamanya itupun justru semakin larut ketika tangan Felix mulai membelai leher jenjangnya, dan meremas dua benda indah miliknya.
"Di kiss ya?" Felix menatap Sesil penuh pinta.
Lagi-lagi tanpa persetujuan Sesil, Felix membuka kancing bajunya dan mencium dua area terlarang di bagian atas tubuhnya. Tak berhenti sampai di situ, karena Sesil sama sekali tak protes dengan tindakan yang dilakukan kekasihnya, tangan Felix mulai nakal merogoh dan bermain-main pada benda paling berharga yang dimiliknya.
Karena akal sehatnya sudah hilang seiring dengan kenikmatan yang telah dirasakannya, akhirnya Sesil pun tak menolak ketika Felix mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju ke kamarnya. Saat itulah pertama kali Felix melakukannya dan mengambil kesucian Sesil yang selama ini sudah sangat dia jaga.
Sekali merasakannya, membuat keduanya semakin kecanduan dan begitu penasaran ingin kembali mengulangnya. Sejak saat itulah, mereka hampir selalu melakukannya tanpa ada ikatan baik secara hukum maupun secara agama.
Hingga dua bulan setelah itu, Sesil mulai ketakutan ketika datang bulan tak kunjung datang.
"Aku sudah terlambat. Bagaimana kalau aku hamil?" Berkali-kali Sesil mengungkapkan kegalauan hatinya.
"Aku akan bertanggung jawab, Sayang," Felix selalu memberikan jawaban itu.
Dan benar saja. Ketika suatu pagi Sesil mengetes urinnya, garis merah dua pun seolah-olah menjadi pukulan hebat dalam hidupnya.
"Felix, aku hamil. Kau harus menikahiku sebelum perutku besar dan diketahui semua orang," Sesil merengek ketakutan.
"Aku ingin sekali menikahimu, Sayang. Tapi aku sudah berjanji pada diriku, aku tak akan menikah sebelum obsesiku tercapai. Dan hanya kau yang bisa membantuku mencapai obsesiku itu," sahut Felix dengan tampangnya yang dibuat memelas.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Sesil dengan polosnya.
__ADS_1
"Kau cukup memberikan file Green Canyon Dewangga Group kepadaku, Sayang. Cukup mudah bukan?" Felix terus melancarkan rayuan gombalnya.
"Itu sama saja kau sedang menyuruhku untuk berkhianat kepada majikanku, Felix. Dan aku tak akan pernah melakukannya," tolak Sesil dengan tegas.
"Baiklah, Sayang. Jika kau tak mau melakukannya, dengan berat hati harus kukatakan bahwa aku juga tak bisa menikahimu," ucapan Felix ketika itu terdengar seperti petir yang menyambar.
"Aku sedang hamil anakmu, Felix. Tega-teganya kau betkata seperti itu," Sesil mulai emosi.
"Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku tak akan menikah sebelum aku mencapai obsesiku, Sayang. Karena itu kita takkan pernah bisa menikah sebelum kamu bisa membantuku," kekeh Felix, membuat Sesil berpikir ulang.
Merasa tak ada pilihan lain, akhirnya Sesil pun memberikan file rahasia berula rancangan detail Green Canyon, juga daftar perusahaan yang merupakan jaringan perusahaan yang dikelola Ryan. Makanya tak heran, jika mega proyek Green Canyon milik Ryan sama sekali tak dilirik oleh para investor asing, berbeda dengan proyek tandingan yang dirancang Felix atas bocoran data dengan segala jaringannya dari Sesil.
Dan kini, begitu Felix berhasil dengan proyek Green Canyon tandingan miliknya, Felix pun tak ingin berhenti sampai di situ saja. Felix menginginkan lebih banyak file yang berisi rahasia perusahaan, dengan obsesi ingin memiliki perusahaan tandingan yang sejajar dengan perusahaan raksasa milik Ryan, yang keberadaannya diakui oleh dunia.
End of flashback
***
Ryan, Daniel, Arya dan semua orang yang mendengarkan pengakuan dari Sesil pun benar-benar merutuki apa yang telah dilakukan Sesil hanya karena cintanya yang buta. Ya, mata hatinya telah dibuat buta hingga rela memperbudak dirinya sendiri hanya untuk sebuah kata yang bernama cinta.
"Serendah itu hingga kau tak hanya menggadaikan kesetiaanmu kepadaku, tapi juga rela melakukan hal menjijikkan bersama pria yang belum halal menyentuhmu, Sesil?" Arya membulatkan mata mendengar pengakuan Sesil saat itu.
Sementara Indra dan Zara, justru jadi teringat dengan atraksi Menjijikkan yang dilakukan Felix dan Sesil semalam.
"Katakan bahwa kau sedang membayangkan yang semalam," Indra yang waktu itu berdiri di samping Zara, dengan tanpa malu membisikkan itu tepat di telinganya.
"Jangan mesum dan jangan sembarangan menuduh orang, Tuan. Dengan berbicara seperti itu, saya yakin bahwa Andalah yang sekarang sedang membayangkan hal menjijikkan itu," sahut Zara dengan ketusnya.
Indra pun hanya mengangkat bahunya, sambil tersenyum tak jelas apa penyebabnya.
"Aku sungguh jijik mengetahui kelakuan bej*tmu, Sesil. Katakan, kau minta hukuman apa kepadaku?" Ryan yang juga geram setelah mendengar cerita Sesil pun angkat bicara.
"Maafkan saya, Tuan. Kasihanilah saya dan janin yang kini berada dalam kandungan saya," Sesil menangis sejadi-jadinya.
"Maaf, katamu? Bahkan kau telah membuatku hampir kehilangan nyawaku, Sesil. Hanya pertolongan Allahlah yang membuatku masih bisa hidup sampai detik ini. Dan sekarang, kau minta aku untuk memaafkanmu? Mudah sekali kau berbicara. Bahkan tak sungguh tak terhitung berapa besar kerugian perusahaan yang harus kutanggung hanya karena kau dan nafsu bej*tmu itu. Kau tahu berapa kerugianku? Gajimu selama seratus tahun pun tak akan bisa menutup besarnya kerugian yang harus aku lepaskan," oceh Ryan sambil menatap Sesil dengan tajam.
"Ampun, Tuan. Ampuni saya. Jika Anda tidak kasihan kepada saya, kasihanilah anak saya, Tuan. Dia tidak berdosa dan tidak salah apa-apa. Karena itu, Tuan. Apapun akan saya lakukan asalkan Anda mau berbelas kasihan kepada saya," Sesil terus memohon dengan segala penyesalan di hatinya.
Sebenarnya Sesil sudah merasa jika dia hanya diperalat oleh Felix Adinata. Tapi setiap kali Felix datang dan merayunya di atas ranjang, Sesil kembali termakan rayuan dan kembali menuruti Felix dengan segala keinginan dan obsesinya.
"Aku akan memikirkannya ulang, jika kau betul-betul melakukan apa yang aku perintahkan, Sesil. Sebenarnya, bukan materi yang ingin aku kejar. Karena kerugian Green Canyon ini belum ada artinya jika dibandingkan dengan harta benda yang telah Papa wariskan. Kau tahu Sesil, aku bisa saja melakukan apapun yang kumau kepadamu, termasuk Felix. Tapi aku masih ingin berbaik hati kepadamu, jika kau benar-benar insaf dan ingin berbalik membantuku,"
BERSAMBUNG
__ADS_1