
Rani bersungut kesal, namun Naja masih saja bersikap tenang. Bagi seorang Naja, apapun yang menjadi titah Prabu Dewangga, itulah yang harus dilakukannya. Tidak peduli dengan apapun perlakuan orang lain yang akan diterimanya, prinsipnya tetap satu. Perintah Prabu Dewangga.
Entah apa yang terdoktrin dalam benaknya. Yang jelas, Naja berpikir bahwa satu-satunya nyawa yang dia miliki saat ini adalah kepunyaan Prabu Dewangga. Biar bagaimanapun, aksi gagal seorang agen mata-mata pasti akan terbayar dengan nyawanya. Hanya kemurahan hati Prabu Dewangga saja yang membuat dirinya masih hidup saat ini. Kendati sekarang dirinya sudah tidak bisa bertemu dengan ibu dan adiknya lagi, namun itu jauh lebih baik dari pada dia tidak hidup sama sekali. Minimal, ibu dan adiknya tahu kalau dirinya masih hidup. Ditambah lagi kehidupan mereka yang sekarang sudah dijamin oleh Prabu Dewangga, membuat Naja merasa tidak ada alasan apapun yang membuat dirinya harus mangkir dari misi yang diberikan oleh tuannya.
"Kita sudah sampai, Nona," Naja membuka suara begitu mobil yang dikendarainya berhenti di depan lobby kantor.
Dengan sigap dia turun dan mengambil gerakan memutar untuk membukakan pintu nonanya, namun dia kalah cepat. Rani sudah membuka pintunya sendiri dan keluar meninggalkan Naja begitu saja.
"Kamu kalah cepat dariku, Naja. Lain kali kau harus lebih cepat lagi!" Rani begitu girang, berhasil mengerjai supir pribadi yang telah membuatnya kesal itu.
Naja hanya tersenyum tertahan. Baginya, sikap nonanya itu sungguh kekanak-kanakan. Selama ini memang Naja sangat mengetahui bahwa Rani adalah gadis cantik yang banyak bicara, ramah, energik, agak keras kepala, dan sangat baik hati. Namun Naja tidak pernah membayangkan bahwa saat bersamanya secara langsung ternyata akan sangat menyenangkan seperti itu.
"Seandainya bukan sedang menjalankan misi yang diberikan oleh Tuan Prabu, mungkin dengan senang hati aku akan bercerita tentang diriku dan ingin sekali menjadi sahabat Anda, Nona," gumam Naja dalam hati.
Setelah memastikan bahwa nonanya sudah masuk ke dalam, Naja pun langsung memasuki mobilnya kembali dan memarkirkannya di basement kantor Dewan.
Dengan sigap, Naja mengunci mobil itu dan segera masuk gedung menyusul Rani dengan santainya. Hari ini tidak ada informasi tentang pergerakan dari musuh-musuh nonanya, sehingga Naja hanya perlu waspada, tidak butuh persiapan khusus untuk menjaga sang nona.
__ADS_1
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Nona?" sapa seorang satpam begitu Naja sampai di dalam gedung. Dia menatap Naja dengan lekat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin karena kagum melihat pesona Naja, mungkin juga karena dia baru melihat Naja untuk pertama kalinya.
"Saya adalah asisten pribadi Nona Arania Levana," dengan datar Naja menjawab pertanyaan pria muda yang berjaga di bagian keamanan dalam gedung itu.
"Baiklah, Nona. Bu Rani ada di ruang sidang sekarang. Anda bisa menunggu di ruang tunggu jika Anda mau," satpam itu tetap ramah dan mengantar Naja ke ruang tunggu, meskipun dia merasa aneh dengan sikap Naja yang sangat cantik namun dinginnya seperti gunung es.
Ya. Datar, dingin, cuek dan segala hal yang berbau maskulin kini sangat melekat padanya. Berbanding terbalik jika disandingkan dengan Naja yang dulu, saat Daisy Olivia sang ratu balet masih melekat kepadanya. Keindahan dan kelembutan yang dulu melekat padanya ikut terkubur seiring dengan kariernya yang hancur. Apalagi pressure saat dia menjalani pendidikan intelejen yang menuntut dia harus bisa menjadi apapun dan rela melakukan apapun, membuat semua yang ada padanya harus fleksibel mengikuti kebutuhan untuk setiap misi yang ditugaskan oleh tuannya.
Naja memilih duduk di kursi ruang tunggu yang menghadap langsung ke pintu ruang sidang, dengan harapan saat Rani keluar, Naja langsung bisa melihat nonanya. Dan benar saja. Dalam beberapa jam, saat Rani keluar mata Naja langsung bisa menangkap bayangannya.
Rani mengerutkan dahinya saat Naja langsung beranjak dari duduknya dan langsung berdiri di sampingnya, namun akhirnya Rani memilih untuk mendiamkannya karena masih kesal dengan obrolan mereka saat di mobil pagi tadi.
Rani segera berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat. Persis seperti seorang bodyguard, Naja terus berjalan mengikuti ritme yang Rani ciptakan. Saat Rani mempercepat jalannya, Naja ikut mempercepat jalannya. Saat Rani memelankan jalannya, Naja ikut memelankan jalannya. Begitu juga saat Rani tiba-tiba berhenti, Naja ikut berhenti bagai bayangan sang nona.
"Anda tunggu di sini biar saya ambil mobil dulu, Nona," seolah tahu bahwa Rani sudah akan keluar dari Gedung Dewan, Naja meminta Rani untuk tetap berada di tempatnya.
Tanpa menunggu persetujuan pun, Naja segera berlari ke arah basement untuk mengambil mobilnya. Dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mobil sudah berada tepat di depan lobby, tempat sang nona sedang menunggunya.
__ADS_1
Rani bergegas menghampiri mobil itu dan hendak membuka pintu belakang, namun kali ini dia kalah cepat. Seolah ingin membayar kejadian tadi pagi dimana dirinya tidak sempat membukakan pintu untuk nonanya karena kalah cepat, kali ini dengan sigap Naja sudah terlebih dahulu membukakan pintu belakang setelah turun dari kursi pengemudi secepat mungkin dan berlari dengan gerakan memutar kemudian dengan cepat meraih pedal pintu itu.
Tak kurang akal mengerjai Naja, Rani justru melengos begitu saja dan meraih pedal pintu bagian depan, kemudian naik begitu saja di kursi sebelah pengemudi.
"Kamu salah, Naja. Kali ini aku sedang ingin duduk di depan," ucap Rani dengan senyum penuh kemenangan. Entah kenapa dia ingin sekali mengerjai supirnya yang sedingin gunung es itu.
Melihat kelakuan nonanya, tak ada ekspresi berlebihan yang ditunjukkan Naja. Dia masih tetap datar dan tenang, tidak terpengaruh dengan apapun yang dilakukan sang nona. Senyumnya juga masih tertahan, tak ada tanda-tanda akan segera mengembang.
"Anda sungguh lucu, Nona. Saya sungguh tambah bersemangat untuk melayani dan menjaga Anda seumur hidup saya, sesuai sumpah saya pada papa mertua Anda," batin Naja dalam hati.
Naja pun segera melajukan mobilnya, menyusuri jalanan kota yang lumayan ramai dengan lalu lalang kendaraan. Mungkin karena sudah jam makan siang, sehingga banyak orang yang memanfaatkannya untuk menghabiskan waktu istirahat dengan makan siang di luar.
Sementara Naja fokus dengan jalan di depannya, Rani justru asyik memandangi wajah Naja yang belum juga berubah, masih datar dan dingin seperti kutub utara.
"Masih datar juga kamu Naja. Ihhh, gemes, gemes, gemes. Selama kamu masih kayak gini, selama itu juga aku jadi tertantang untuk terus mengerjaimu, setidaknya sampai aku membuatmu tertawa lepas walau hanya sekali saja," gumam Rani dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Para pembaca setia, jangan lupa tinggalkan jempol, bintang 5 juga votenya ya. Ditunggu juga comment positifnya. Thank you.