METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Apa Kau Sedang Melamunkanku?


__ADS_3

Naja memejamkan mata, membayangkan senyum ibunya kini tepat berada di depan netranya. Di sana, terlukis wajah tua ibunya yang mulai kusam di makan usia. Keningnya yang telah mengerut, juga tubuh yang kian mengecil akibat beban hidup yang harus ditanggungnya, membuat langkah yang dulu tegap kini rapuh dan hanya bisa terduduk di kursi roda.


“Dulu, kau selalu tersenyum meski lelah sangat mendera, Ibu. Bahkan pahitnya derita rela kau terima siang dan malam hanya untuk memberi secercah harapan kepadaku dan adikku. Segala makian dan hinaan pun rela kau telan demi mengukir masa depan bagi anak-anakmu. Bahkan kau masih bisa tersenyum menghadapi ketidakdewasaanku dan ketika yang kusuguhkan hanyalah cerita lara. Terima kasih, Ibu. Kau sudah menjadi perempuan kuat yang selalu ada saat aku berderai air mata dalam segala deritaku. Terima kasih telah menjadi mata air cinta yang selalu membasahi jiwa dan hatiku yang kering. Dan kini, terimalah persembahan terakhirku, Ibu. Aku tak akan pernah menyesal telah mengorbankan hidupku untuk membalas semua pengorbananmu,” gumam Naja dalam hati.


Kini, Naja sudah sesenggukan di depan ketiga majikannya. Meski begitu, sekelumit ragu yang selama ini menjadi beban di hatinya pun entah kenapa pergi begitu saja. Dia terus memantapkan hatinya, dan mengatur kata-kata untuk mengakhiri semua beban dan penderitaannya.


“Yang pertama, tolong jamin keselamatan ibu dan adik saya, Tuan. Yang kedua, biarkan saya menerima hukuman dari Anda, dengan janji setia saya kepada keluarga Dewangga yang tetap melekat kepada saya,” akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Naja. Sungguh, dia benar-benar merasa sangat lega setelah mengucapkan permintaan terakhir sebelum Daniel menghukumnya atas pengkhianatan yang telah Naja lakukan kepadanya.


“Baik,” tanggap Daniel singkat. Naja pun semakin menata hati untuk meminta hukumannya.


“Kalau begitu akhiri penderitaan saya dari bayangan pengkhianatan kepada Anda, Tuan. Titahkanlah hukuman yang Anda berikan kepada saya saat ini juga!” kini Naja mengangkat kepalanya dan memandang Daniel dengan lekat.


“Kau ingin tahu apa hukuman yang pantas untuk pengkhianat seperti dirimu, Daysie?” Daniel tersenyum tipis. Matanya memandang Naja dengan lekat, seolah ingin segera menerkam gadis yang telah membuat dirinya kehilangan kesempatan pertama untuk menghancurkan Prabu Dewangga di kala itu.


“Saya siap mendengarnya, Tuan,” jawab Naja mantab.


“Apapun hukuman yang akan aku berikan, sungguh kau akan sanggup menerimanya?” tekan Daniel sekali lagi.


“Saya siap menerimanya, Tuan,” tegas Naja, tak ada keraguan sedikitpun dalam diri Naja. Kini dia memejamkan matanya, siap menerima apapun hukuman yang akan diberikan Daniel kepadanya. Bahkan sesuai janji setianya dulu, dia pernah berikrar bahwa nyawanya adalah jaminan kesetiaannya.


“Baiklah. Tetap tutup matamu sampai kau tahu sendiri apa hukuman yang akan aku berikan kepadamu!” cicit Daniel, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Sementara Naja menunggu hukumannya dengan tetap memejamkan mata, Daniel memandang Ryan dan Rani secara bergantian untuk meminta persetujuan mereka. Ryan dan Rani yang mengerti arti tatapan Daniel pun menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, mengisyaratkan bahwa mereka menyetujui apapun hukuman yang akan Daniel berikan kepada mantan agen mata-matanya itu.


“Ahh,” terdengar suara tarikan nafas panjang dari mulut Daniel, membuat Naja yang sudah menunggu menit demi menit waktu eksekusinya semakin gemetar.


Tak berapa lama, Daniel terlihat mengambil sesuatu dari saku celananya, dan saat itu juga Naja merasakan bahwa ada yang menarik tangannya dan memasukkan sesuatu pada jari manisnya.


“Bukalah matamu. Aku sudah memutuskan hukuman apa yang pantas untukmu. Berjanji setialah kepadaku seumur hidupmu. Jadilah istriku dan ibu bagi anak-anakku kelak, hingga maut memisahkan kita,” nada bicara Daniel berubah menjadi sangat lembut. Bahkan ketika Naja membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah senyum termanis seorang Daniel Cullen yang belum pernah Naja lihat sebelumnya.


“Tuan, tapi..., ini...,” Naja belum juga mengerti maksud dari ucapan tuannya. Bahkan kini dia menatap cincin yang Daniel sematkan di jarinya dengan tatapan tidak percaya.


“Bukankah kau mengatakan akan menerima apapun hukuman yang kuberikan kepadamu?” Daniel kembali memastikan.


“Benar, Tuan. Tapi ini?” tanya Naja ragu.


“Bangunlah, Naja. Dan persiapkan dirimu untuk menjalankan hukumanmu. Karena sebentar lagi kau akan menjadi adik iparku, maka sebagai hadiah, akan kubebaskan dirimu dari sumpah setiamu kepadaku dan akan kupertemukan kau kembali dengan keluargamu,” tutur Ryan, penuh kehangatan.


“Tidak, Tuan. Seperti dua syarat yang saya ajukan kepada Tuan Daniel tadi, saya akan tetap menjalani hukuman saya dengan janji setia saya kepada keluarga Dewangga yang tetap melekat kepada saya,” putus Naja, tak ada kata penawaran.


“Apakah kau tak sadar, Naja? Baru saja aku membebaskanmu dari belenggu janji setiamu kepada keluargaku. Kenapa kau menolaknya?” Ryan mengerutkan dahinya.


“Maaf, Tuan. Bagi saya janji adalah janji. Seperti saya yang menerima hukuman saya dari Tuan Daniel karena saya ingin mempertahankan janji saya kepadanya ketika itu, begitupun dengan cara saya mempertahankan janji saya kepada anak keturunan keluarga Dewangga,” tegas Naja, mantab.

__ADS_1


“Baiklah, kuhargai keputusanmu. Tapi jangan salahkan aku jika esok kau berubah pikiran, karena aku tidak akan pernah menawarimu lagi untuk yang kedua kalinya,” Ryan mengucapkan kalimat penegasnya, kemudian meminta Naja untuk meninggalkan kamarnya.


“Terima kasih, Tuan. Maaf telah mengganggu istirahat Anda,” Naja beranjak dan meninggalkan kamar kedua majikannya itu.


Setelah menutup pintu, Naja pun berjalan menuruni anak tangga dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bingung, takut, senang dan semua perasaan kini bercampur menjadi satu.


“Kenapa dia malah memintaku menjadi istrinya? Apa dia ingin membuatku menderita dengan menerima hukumanku sedikit demi sedikit saat aku sudah menikah dengannya?” batin Naja dalam hati.


Naja terus memutar otaknya, mencoba menerka hukuman apa yang akan Daniel berikan setelah hari pernikahannya.


“Pasti bukan ini kan, hukuman sebenarnya? Pasti dia akan memberikan hukuman kepadaku setelah aku menjadi istrinya,” batin Naja lagi.


Namun apapun itu, Naja sudah menata hati untuk menerima semuanya, asal dia bisa terbebas dari beban dosa pengkhianatan yang telah dilakukannya. Dia pun mencoba membuang jauh-jauh segala bayangan mengerikan yang akan dia terima, karena semua itu memang sudah sepantasnya.


“Naja!” tiba-tiba panggilan Daniel dari arah bawah tangga mengejutkannya, hingga tanpa di duga Naja yang waktu itu sudah sampai pada tiga anak tangga terakhir, kehilangan keseimbangannya dan terjatuh begitu saja. Untung dengan sigap Daniel menahan tubuh Naja, hingga tubuh itu tak terbentur ke lantai dengan begitu kerasnya.


“Apa kau sedang melamunkanku, hingga panggilanku yang selembut itu saja bisa mengagetkanmu?” goda Daniel begitu tubuh Naja berhasil direngkuhnya.


BERSAMBUNG


🇮🇩🇮🇩🇮🇩

__ADS_1


*Selamat HUT RI yang ke 75. Jadilah Agent of Change*, generasi penerus yang membawa bangsa menjadi lebih baik. Merdeka!!!


Jangan lupa like, vote, rate 5 dan comment positifnya. Terima kasih**


__ADS_2