
Senyum itu mengembang begitu Ryan membuka matanya. Pemandangan indah yang selalu membuatnya tenang adalah ketika pertama kali dia membuka mata dari tidurnya, dia melihat bidadari syurga yang masih lelap tertidur di sampingnya.
Rasa bahagia yang sederhana pun selalu saja muncul di hati Ryan, saat satu tangan istrinya masih terselip di bawah selimut yang menutupi tubuhnya, sementara satu tangannya lagi memeluk pinggangnya erat, dengan wajah cantik yang masih setia menempel di dada bidangnya.
"Terima kasih, Sayang. Karena kau selalu menenangkan jiwaku. Aku siap menghadapi apapun, asal ada wanita kuat seperti dirimu disampingku," bisik Ryan, sambil mengecup ujung kepala istrinya berkali-kali.
"Kenapa jadi melo begini sih?" Rani yang terusik karena mendapat kecupan bertubi-tubi pun tiba-tiba mendongakkan kepalanya.
"Sayang, kamu pura-pura tidur?" tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya.
"Bukan pura-pura tidur, Mas. Rani terbangun karena yang Mas Ryan lakukan itu mengusik Rani," Rani bersungut kesal, sementara Ryan hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang justru menggemaskan.
Shubuh pun mengawali aktifitas mereka di hari itu. Seperti biasa, Rani akan beraktifitas seharian dengan ditemani Naja sementara Ryan bersama pak Rudi.
***
Ryan mengerutkan dahinya begitu menginjakkan kaki di depan lobby gedung megah Dewangga Group. Dia melihat jam tangan mewah yang setia bertengger di tangan kirinya, jam menunjukkan angka sembilan, menandakan hari sudah siang. Di hari biasa, jam-jam itu adalah jam-jam sibuk, dimana seluruh karyawan sedang dilenakan dengan seluruh pekerjaan yang menjadi beban mereka masing-masing.
Namun ada yang berbeda di hari itu. Mulai dari pos keamanan, hingga di dalam gedung, tak ada seorang pun yang terlihat. Ryan mencoba untuk naik dari satu lantai ke lantai yang lain, kondisi yang sama juga terjadi. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menuju ruangannya, dan bermaksud meminta penjelasan dari Arya.
Dengan perasaan bingung sekaligus penuh tanda tanya, Ryan naik ke lantai atas dimana ruang kerjanya berada. Di luar dugaan, seluruh manager perusahaan sudah berkumpul di depan ruangannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada seorang karyawan pun yang masuk kerja hari ini? Apa mereka sudah tidak butuh pekerjaan lagi?" ucap Ryan sambil tetap berjalan memasuki ruangannya, diikuti seluruh manager yang telah lama menunggu kedatangannya.
"Seluruh karyawan mulai dari pusat sampai anak cabang mogok kerja, Boss," celetuk seorang manager HRD begitu melihat majikannya sudah duduk di atas sofa empuknya.
__ADS_1
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Ryan datar. Meskipun belum pernah terjadi hal seperti ini di Dewangga Group, namun di banyak perusahaan hal semacam ini biasa terjadi, umumnya mereka menuntut penambahan kesejahteraan.
"Mereka meminta dua bulan gaji mereka yang belum dibayarkan oleh perusahaan segera diselesaikan," jawab manager HRD sambil menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu? Apa katamu tadi, gaji dua bulan? Yang benar saja. Panggil Arya, minta dia menemuiku sekarang!" Ryan tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya. Wajahnya benar-benar memerah menahan amarah. Jantungnya pun berdegup kencang seolah sesuatu dari dalam hatinya ada yang menyeruak ingin segera dilampiaskan.
"Arya tidak ada di tempat, Boss," jawab sang manager lagi lirih.
Ryan mengerutkan dahinya, "Dimana Arya? Bukankah biasanya hal semacam ini tidak pernah terjadi?" batin Ryan dalam hati.
"Kalau begitu panggil manager keuangan!"
"Dia juga tidak di tempat, Boss," manager itu semakin ketakutan.
Tak berapa lama, terlihat para pemegang saham masuk ke ruangan Ryan dengan ekspresi yang bermacam-macam. Mereka menuntut penjelasan terhadap kondisi perusahaan yang tiba-tiba mengagetkan semua orang.
"Huhhhh," Ryan berteriak kesal. Apalagi ketika menyadari bahwa Arya dan manager keuangannya menghilang begitu saja.
Dengan perasaan yang mulai tak menentu, entah kenapa dia meraih ponsel dari sakunya dan menghubungi istrinya, menceritakan semua yang terjadi. Setidaknya, Rani akan menbantunya menghubungi Arya melalui Lena. Namun ketika beberapa saat setelah itu Rani menelphonnya kembali dan mengatakan bahwa Lena juga tidak bisa dihubungi, maka seketika itu juga Ryan tersadar apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ya, sebuah kata yang sangat jauh dari benaknya selama ini benar-benar terjadi. Sebuah pengkhianatan yang tak terelakkan.
***
Diwaktu yang sama di tempat yang berbeda, dari sebuah ruangan terdengar suara seseorang yang sedang tertawa membahana.
__ADS_1
Daniel Cullen menatap Johan dengan binar mata yang bahagia, mendengar kabar yang baru saja dia dengar mengenai apa yang saat ini sedang menimpa keluarga Dewangga.
"Aku tidak perlu mengotori tanganku sendiri, Jo. Ternyata orang kepercayaannya yang justru menghancurkan kerajaan bisnis yang dibangun bertahun-tahun oleh Prabu Dewangga. Ha-ha-ha-ha-ha," Daniel benar-benar tertawa puas, hingga siapapun bahkan akan merasa ngeri saat mendengarnya.
"Tapi Anda juga dirugikan, Tuan. Bukankah sekarang Anda memiliki saham sebesar 30 persen di Dewangga Group?" tanya Johan mencoba mengingatkan tuannya.
"Bahkan aku rela mengorbankan lebih besar dari itu, asal bisa melihat kehancuran keluarga Dewangga," Daniel tersenyum licik. Johan hanya mengangguk-angguk kecil, mulai mengerti arah pembicaraan majikannya.
"Katakan kepadaku! Apa yang dilakukan Ryan Dewangga saat ini?" tanya Daniel menatap tajam Johan yang masih berdiri di depannya.
"Dewangga group berencana menjual seluruh aset perusahaan untuk menutup kebocoran dan membayar seluruh hutang perusahaan, Tuan," Johan berkata dengan senyum simpulnya.
"Aku akan menaikkan gajimu tiga kali lipat, Jo. Karna kabar yang kau bawa hari ini sungguh membahagiakanku," ucap Daniel masih dengan senyum yang terus merekah di bibirnya.
"Terima kasih, Tuan,"
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dan meminta Johan meninggalkan ruangannya.
Setelah Johan keluar, Daniel menarik laci di bawah meja kerjanya dan mengambil sebuah foto. Ya, lagi-lagi dia memandangi foto ibunya dengan perasaan yang membuncah.
"Ternyata Tuhan sendiri yang menghukum Prabu Dewangga atas dosa yang dia perbuat kepadamu, Mom. Bahkan aku belum berbuat apa-apa, kini perusahaannya telah hancur tak bersisa," gumamnya, sambil membelai gambar wajah cantik ibunya dengan penuh kerinduan.
Kini Daniel menatap langit-langit ruang kantornya dengan berjuta rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Sungguh, ada binar bahagia membayangkan bagaimana penderitaan yang kini dirasakan keluarga Dewangga. Namun sayangnya, semua itu belum mampu memuaskan hati dan menghilangkan dendam yang menyelimuti jiwanya. Di dalam benaknya masih tersusun rapi deretan rencana balas dendam yang akan dia lancarkan kepada satu per satu keluarga Dewangga.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Jangan lupa tinggalin jejak. Kasih vote, like, comment n favorit ya. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih