
Dinginnya AC kamar membuat Ryan dan Rani semakin enggan beranjak dari peraduannya. Kendati alarm sudah berbunyi sekian kali, mereka masih betah dengan posisi rapat di dalam selimut.
"Lima menit lagi ya, Mas," ucap Rani berkali-kali setiap alarm berbunyi dan Rani pencet tombol ingatkan nanti.
"Hmmm," jawab Ryan sambil mengeratkan pelukannya hingga kepala Rani tenggelam dalam dada bidangnya.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Rani melihat jam di HP nya dan terperanjat kaget.
"Astaga, jadwal penerbangan kita jam enam pagi, Mas," ucap Rani sambil duduk dan mengoleng tubuh suaminya.
"Rani belum packing," lanjutnya kemudian.
Ryan yang terusik dengan kepanikan Rani pun ikut duduk, namun tidak memperhatikan apa yang Rani ucapkan. Ryan justru fokus pada hal lain dalam dirinya.
Melihat ekspresi Ryan, tiba-tiba wajah Rani memerah. Ryan yang melihat kepanikan istrinya itu pun tergelak dan justru menarik selimut itu hingga terserak ke lantai.
"Kita akan ketinggalan pesawat," seru Rani sambil mengerucutkan mulutnya.
"Kita pulang besok," jawab Ryan tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Tiketnya pagi ini," debat Rani.
"Kita beli lagi." Ucap Ryan tanpa mempedulikan lagi apa perkataan istrinya, sampai akhirnya keinginannya terpenuhi.
***
Kali ini Rani harus packing malam-malam agar kepulangan mereka tidak tertunda lagi. Meski sebenarnya Ryan ingin mereka bisa lebih lama berada di Bali, namun deretan jadwal Rani tidak bisa ditunda meski sehari. Dan akhirnya Ryan pun mau tak mau harus mengerti. Makanya ketika pagi itu Rani membangunkan Ryan pagi-pagi untuk bersiap pergi, tak ada drama lagi yang membuat perjalanan mereka harus gagal dan kejadian kemarin terulang lagi.
__ADS_1
Pagi itu sekitar jam 05.30 waktu Bali, Ryan dan Rani sudah sampai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Ketika mereka sampai di pintu masuk, mata mereka segera termanjakan oleh indahnya dekorasi berupa penjor atau batang bambu berhias janur kuning, padi dan canang di sejumlah titik di area terminal domestik.
Setelah menunjukkan e-ticket pesawat melalui layar ponsel Ryan, mereka segera cek in dan masuk ke ruang tunggu.
"Mau sarapan disini atau di Soetta, Sayang?" tanya Ryan.
"Di Soekarno Hatta aja pas kita transit ya, Mas," jawab Rani sambil duduk dan bergelayut di pundak Ryan yang telah duduk terlebih dahulu.
Penerbangan pagi itu memang tidak ada yang langsung dari Bali ke kota X. Semua penerbangan di waktu yang mereka pilih memang transit di ibu kota terlebih dahulu. Jadi memang tidak ada pilihan lain. Apalagi siangnya Rani sudah ada jadwal yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga mau tak mau pagi itu mereka harus pulang.
Sebenarnya wajah Rani terlihat sangat lelah. Mungkin karena tiga hari itu Ryan benar-benar mengerjainya tanpa henti. Makanya ketika pagi itu Rani terus menggelayuti Ryan tanpa banyak bicara seperti biasanya, Ryan cukup memahami dan hanya mengecup ujung kepala Rani berkali-kali.
"Kamu kayak capek banget kenapa sih?" tanya Ryan menggoda.
"Habis Mas Ryan buas banget saat memangsa Rani," jawab Rani sambil bergidik ngeri, mengingat betapa buasnya Ryan saat menginginkannya.
"Tapi kamu suka kan?" goda Ryan sambil mengerlingkan matanya.
Rani pun memejamkan matanya dengan posisi kepala tepat di bahu kanan Ryan. Meskipun dia tidak benar-benar tertidur, tapi dengan posisi mata yang terpejam benar-benar membuatnya lebih nyaman.
"Ingat, jangan macam-macam!" tiba-tiba Rani mendengar suara seorang laki-laki dari arah belakang tempat duduk mereka.
"Selama di pesawat, jangan berani berbicara dengan seorang pun kecuali aku. Jika kamu bicara sedikit saja dengan orang lain, habis kau," lanjut laki-laki itu entah berbicara dengan siapa.
Rani menoleh ke arah suaminya untuk memastikan apakah suaminya juga mendengarnya, ternyata Ryan sudah terlelap dengan posisi kepala disandarkan di atas kepala Rani. Karena aksi Rani itulah akhirnya Ryan terbangun.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Rani mau ke toilet bentar, Mas," jawab Rani berbohong.
Sebenarnya Rani tidak berasa ingin ke toilet. Tapi entah kenapa, Rani sangat penasaran dengan suara yang tadi dia dengar. Ingin sekali Rani langsung menoleh dan melihat sumber suara secara langsung. Namun karena menurut Rani ucapan laki-laki itu agak mencurigakan, maka Rani memilih ke kamar mandi demi ingin melihat sosok laki-laki yang berucap setengah mengancam itu.
Setelah masuk ke toilet sebentar, akhirnya Rani keluar dan langsung menyapukan pandangan ke arah Ryan. Di belakang Ryan terlihat ada seorang laki-laki tinggi besar, dengan bulu rambut yang memenuhi dagunya. Rambutnya yang panjang dan di gelung di belakang kepalanya, membuat siapapun yang berdekatan mungkin akan bergidik ngeri. Di sebelahnya ada gadis belia yang sangat cantik meskipun penampilannya sangat ala kadarnya. Menurut perkiraan Rani, gadis itu dalam kisaran umur 16 atau 17 tahun.
"Kenapa aku berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan laki-laki dan gadis itu ya?" tanya Rani dalam hati.
Rani pun kemudian larut dalam pikiran dan segala pertanyaan dalam benaknya. Namun karena tiba-tiba terdengar panggilan untuk penumpang pesawat yang akan Rani tumpangi, akhirnya Rani tepis jauh-jauh pikiran buruknya dan segera bergegas menghampiri Ryan untuk segera naik ke dalam pesawat.
"Ayo, Mas!" seru Rani ketika sampai di depan Ryan.
"Sudah, Sayang?" Ryan bertanya sekedar memastikan.
Rani pun mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya seolah menawarkan diri agar Ryan meraih tangan itu dan menggenggamnya.
Melihat kemanjaan yang Rani tunjukkan itu, Ryan tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan Rani dengan senang hati. Ryan beranjak dan mereka segera naik ke dalam pesawat.
Sampai di atas, mereka disambut pramugari cantik yang sudah siap menunjukkan tempat duduk mereka. Waktu itu Rani memilih duduk di dekat jendela sedangkan Ryan segera mengambil posisi di sebelahnya. Setelah memasang sabuk pengaman, Rani segera ambil posisi bergelayut manja di pundak suaminya. Ryan pun sangat menikmati kemanjaan Rani, bahkan saat istrinya jadi nempel terus kayak prangko sejak perseteruan mereka soal Meysie.
Mereka yang duduk di kelas bisnis sehingga tidak terganggu dengan penumpang lain pun tak segan memamerkan kemesraan yang bahkan membuat iri siapapun yang memandangnya.
"Manja banget sih?" bisik Ryan tepat di telinga Rani, hingga membuatnya merinding penuh sensasi. Apalagi bisikan itu berlanjut dengan aktivitas halal suami istri yang lain, membuat mereka gelisah dan ingin secepat mungkin bisa sampai rumah.
Dan di tengah kesibukan mereka itulah, tiba-tiba Rani melihat laki-laki dan gadis mencurigakan tadi masuk kemudian duduk tepat di belakang tempat duduk mereka. Saat itu juga jiwa sok ingin tahu Rani segera muncul sehingga mulai tidak fokus meladeni godaan suaminya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Hai Readers...
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.