METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cari Perhatian


__ADS_3

Meysie hanya bisa menutup mata, menikmati setiap detik hembusan cinta yang Ega berikan kepadanya. Dia terus terdiam, merasakan bahwa dirinya sungguh sangat berarti di dalam hati suaminya. Bahkan setiap kata yang terucap dari bibir Ega, kini bagaikan mantra yang mengukir keajaiban demi keajaiban yang menyihir rasa yang merasuk ke dalam ruang kosong di dalam jiwanya.


Huruf demi huruf yang Ega eja pun terlantun menjadi untaian kata indah yang tiba-tiba mampu menghipnotis alam bawah sadarnya. Hingga hidup Meysie seolah menjadi penuh arti, bahkan cantiknya warna pelangi kini telah mulai memperindah fantasi yang berkeliaran dalam setiap detak denyut nadi.


Dan kini, mereka masih larut dalam kemesraan yang sama-sama mereka nikmati. Ega sedikit menarik tangan Meysie hingga mereka sama-sama berdiri berhadapan. Bahkan Ega sudah merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya, membuat sebuah melodi indah di rongga mulut mereka sedemikian sempurna.


Ega terus bermain dengan indra perasanya, setelah sebelumnya menekan tengkuk Meysie dan memperdalam pagutannya. Hingga desahan tasbih pun tak terasa keluar dari bibir ranum Meysiela Ayudya.


"Ahhh," Meysie mendesah manja, membuat Ega semakin menggila.


Dengan posisi masih berpagutan, Ega membimbing istrinya untuk masuk ke dalam resort yang telah dihias sedemikian rupa khusus untuk malam mereka berdua.


Begitu masuk ke dalam, kaki Ega pun dia gunakan untuk menutup pintu kamar, hingga mereka bisa bebas melakukan aktifitas apapun di dalam. Dengan sedikit dorongan, Ega menyandarkan Meysie di dinding kamar dan membuat sebuah atraksi indah di sana. Setelah puas bermain dengan posisi istrinya bersandar, Ega mendorong Meysie lagi dan sedikit mengangkatnya hingga Meysie duduk di atas meja dan Ega masih berdiri dengan lidah yang masih saling bertautan. Setelah puas bermain di sana, Ega menggendong istrinya ke peraduan mereka yang temaram, membaringkannya dan segera melepas pagutannya. Sebuah kecupan mendarat manis di kening istrinya, kemudian dengan lembut dia berbisik mesra.


"Ini adalah pemanasan sebelum kau benar-benar siap memberikannya untukku, Sayang. Tidurlah, karena aku tak akan melakukannya sekarang. Betapa besar hasratku untuk mengambil semuanya darimu, masih lebih besar cintaku padamu. Karnanya, aku akan setia menunggu sampai cinta itu benar-benar telah tumbuh dalam hatimu, dan kau siap menjadi istri seutuhnya untukku," ucap Ega lembut.


Sesaat kemudian, Ega beranjak pergi ke kamar mandi. Dia harus segera mandi air dingin untuk menghalau hasrat kelaki-lakiannya yang sebenarnya sudah sangat memuncak dan sangat menyiksanya. Meskipun begitu, Ega lebih memilih menunggu Meysie merelakan mahkotanya daripada harus memberikannya dengan terpaksa.

__ADS_1


Sementara Meysie masih diam mematung di tempatnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau malam ini Ega masih bisa meredam hasratnya yang menyala.


"Maafkan Meysie, Bang. Dan terima kasih karna Abang telah menjadi laki-laki yang paling mengerti keinginan Meysie," gumam Meysie dalam hati.


Sepuluh menit kemudian, Ega sudah keluar dengan rambutnya yang basah dan kimono handuk yang membungkus tubuhnya. Dia berjalan ke arah Meysie yang sedang memandangnya penuh arti.


"Bang, Meysie ...," ucap Meysie dengan mata berkaca-kaca.


"Bersihkan dirimu, setelah itu kita tidur. Besok pagi kita nikmati indahnya alam di tempat ini," sahut Ega, sambil membelai lembut ujung kepala istrinya.


Meysie pun membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang ternyata telah siap dan tertata rapi di lemari resort yang kini ditinggalinya. Siapa yang menyiapkan semuanya, tak perlu ditanya, karena itu adalah hal yang sangat mudah untuk seorang Ega.


Meysie mendengus kesal mendapati dirinya yang tak dihiraukan. Tanpa berkata apapun, Meysie langsung merebahkan tubuhnya dengan sedikit kasar agar mendapat sedikit perhatian. Bahkan Meysie meraih sebuah guling, dan berbalik membelakangi suaminya, sesaat setelah dia masuk ke dalam selimut yang akan menghangatkan tubuhnya.


"Kenapa sih aku? Kenapa aku harus marah saat dia fokus pada ponselnya dan tidak melirikku sama sekali saat aku mendekatinya? Kenapa juga aku menjadi ingin selalu diperhatikan dan dimanja olehnya? Huh, bodoh, bodoh, bodoh," gerutu Meysie dalam hati.


Ega yang bisa menangkap gelagat aneh istrinya itupun hanya tersenyum menang mendapati istrinya yang seolah sedang merajuk dan mencari perhatiannya.

__ADS_1


"Sudah kubilang, aku akan membuatmu mencintaiku, Sayang. Dan aku sudah menyusun skenarioku sendiri dengan matang, hingga aku yakin, cinta itu sebentar lagi akan datang," batin Ega, dengan senyum yang terus mengembang.


Ega meletakkan ponselnya di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya. Sedetik kemudian, Ega ikut masuk ke dalam selimut yang Meysie kenakan. Waktu itu, Ega sengaja tidak memberikan sebuah ciuman ataupun sebuah pelukan hangat seperti malam sebelumnya. Dia justru langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Meysie semakin tak tenang mendapatkan perlakuan suaminya yang jauh dari angan-angan. Dia berusaha memejamkan mata demi menghalau rasa galaunya, tapi hati dan raganya seolah menolak. Meysie tak juga bisa terlelap, meskipun berkali-kali sudah mencari posisi ternyaman dalam tidurnya.


Akhirnya, Meysie beranjak dari tidurnya. Dia menuju kamar mandi kemudian menutupnya sedikit keras demi membangunkan Ega secara sengaja. Bahkan kran wastafel pun dia biarkan tetap menyala sekian lama agar menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu tidur suaminya.


Ega yang sebenarnya hanya berpura-pura tertidur, kini membuka mata sambil tersenyum menang mendapati Meysie yang sudah sampai kebingungan hanya untuk mendapatkan sebuah perhatian darinya.


"Apa kau sudah mulai jatuh cinta, Sayang?" gumam Ega dalam hati.


Setelah beberapa saat, Meysie pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia kembali bersungut kesal begitu melihat Ega masih tak bergeming dari tidurnya. Mau tak mau, akhirnya dia kembali membaringkan tubuhnya di samping tubuh kekar suaminya.


Namun di saat Meysie ingin merapatkan selimutnya, sebuah pelukan tiba-tiba melingkar manis di perutnya. Ega memeluk istrinya itu dari belakang, dan menghujani kepalanya dengan puluhan kecupan. Tak berapa lama, Ega membalikkan tubuh Meysie dan mengusap lembut pipinya, sebelum akhirnya membuat Meysie membenamkan dirinya dalam dada bidang miliknya.


"Tidurlah, Sayang. Abang akan terus menjagamu hingga pagi datang," lirih Ega, sambil merengkuh Meysie dalam pelukannya.

__ADS_1


Meysie pun tersenyum lega mendapati suaminya tak benar-benar mengacuhkannya. Kini dia membalas pelukan suaminya dengan mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya dalam dada bidang suaminya dan memejamkan mata dengan segala perasaan yang membuncah di dalam hatinya. Mereka pun akhirnya tertidur lelap dengan posisi tetap berpelukan, hingga pagi pun datang menyapa, melalui bias sinar yang masuk melewati celah-celah tirai jendela kamarnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2