METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sebuah Jawaban


__ADS_3

"Sebegitu takutnya kau mengandung anakku, hah? Katakan! Sejak kapan kau meminum pil itu?" Johan benar-benar murka.


Nina hanya terdiam seribu bahasa, tidak berniat ingin menjawab pertanyaan suaminya.


"Kenapa kau terdiam? Jawab!!!" Johan berteriak dengan kencang, membuat Nina terlonjak kaget meraih bantal di dekatnya dan memeluknya erat.


Nina masih membisu di tempatnya. Dia tak berani menatap suaminya, yang kini sedang melangkah ke arahnya. Satu yang pasti. Semakin Johan mendekat, Nina semakin mengeratkan pelukannya pada bantal yang kini menjadi satu-satunya pelindung bagi tubuhnya.


"Mau apa dia? Apa dia mau memukulku?" batin Nina dalam hati. Dia pun semakin menunduk.


"Kenapa kau diam? Kau bisa seberani itu meminum pil KB tanpa sepengetahuanku. Kenapa hanya menjawab pertanyaanku saja nyalimu sekecil itu?" Johan mendekati Nina dan mengangkat dagunya.


"Jawab! Sejak kapan kau meminum pil itu? Apa sejak kita menikah beberapa bulan yang lalu?" Johan mengulang pertanyaannya.


Nina hanya mengangguk pelan.


Mengetahui jawaban Nina, wajah Johan semakin memerah menahan amarahnya.


"Hebat kamu ya? Ternyata nyalimu besar juga?" Johan melepaskan dagu Nina dan berlalu dari hadapannya.


"Sayang!" Nina langsung berlari mengejar Johan dan memeluk suaminya dari belakang. Johan menghentikan langkahnya tapi tak merespon pelukan yang diberikan istrinya. Hatinya begitu sakit, merasa dikhianati oleh orang yang dia cinta.


"Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar minta maaf," lirih Nina sambil mengeratkan pelukannya, tapi Johan tak lagi menghiraukannya. Johan hanya mematung di tempatnya, tapi tak berusaha untuk melepaskan pelukan Nina.


"Kau boleh hukum aku apa saja, tapi tolong maafkan aku, Sayang," kini Nina terisak dibalik punggung suaminya.

__ADS_1


"Apa kau punya kekasih, dan memilih untuk mengandung anaknya dari pada anakku?" Johan mengucap itu sambil memejamkan matanya.


"Kenapa setega itu kau menuduhku?" Nina benar-benar sakit mendengar kalimat itu keluar dari mulut suaminya. Kecewa, ya Nina betul-betul kecewa, justru itu yang dipikirkan suaminya.


"Bukannya kau lebih tega kepadaku hingga untuk mengandung anakku saja kau tak mau?" jawab Johan datar. Dia masih membiarkan Nina memeluknya dari belakang.


"Kau tahu kan, usiaku masih belasan tahun? Hanya untuk menikah saja, aku harus betul-betul mengumpulkan keberanianku. Apalagi saat kau akhirnya menyentuhku dan mengambil kesucianku, sebenarnya aku belum siap. Aku sungguh takut, Sayang," lanjut Nina dengan segala gejolak di hatinya.


"Ayolah berbalik, Sayang. Menghadaplah ke arahku," gumam Nina dalam hati.


"Sebenarnya setelah malam pertama kita, aku sudah ingin menghentikan niatku. Malam saat kau mengambil hal paling berharga dari diriku itu, aku benar-benar ikhlas menerima apapun takdir yang sudah Allah gariskan untukku. Tapi begitu aku tahu jika kau menomorduakan aku dan lebih mementingkan pekerjaan dan tuanmu, aku kembali pada niat awalku. Kau pikir hamil dan punya anak itu mudah? Menurutmu sanggupkah aku jika aku harus melewati masa kehamilanku seorang diri di usiaku yang masih sangat muda ini? Sanggupkah aku jika harus melahirkan dan membesarkan anakmu tanpa kau peduli kepadaku? Kau pikir menjadi istri tapi seperti tak punya suami itu hal yang tidak sulit untukku?" Nina melepaskan pelukannya, dan duduk di tepi ranjang tanpa mempedulikan lagi apapun yang akan dilakukan suaminya kepadanya.


"Sekarang terserah. Kau mau menghukumku, kau mau memarahi aku, kau mau meninggalkan aku, aku tak peduli. Toh selama ini aku tak berarti apa-apa buat kamu. Dan dari awal aku sudah tahu kalau aku hanya akan menjadi orang yang tak penting buat kamu, sampai-sampai aku harus menelan obat itu," Nina menutup mukanya dengan kedua tangannya, kemudian membasahi telapak tangannya itu dengan air matanya.


"Huh," Johan menghela nafas kasar. Bahkan kini dia mengusap mukanya dengan asal, kemudian menghampiri istrinya yang sudah sesenggukan dalam tangisnya.


Johan berjalan mendekati Nina, kemudian berlutut di depan istrinya. Kini tangan Johan sudah meraih tangan Nina dan membukanya hingga muka Nina bisa terlihat dengan jelas dari pandangannya.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Johan lirih.


Nina hanya menganggukkan kepalanya sambil terus menunduk. Nina sama sekali belum berani menatap kedalaman mata suaminya.


"Sekarang tatap aku!" Johan meraih dagu Nina hingga mereka saling bertemu mata.


"Apakah kau tak bisa menangkap bahwa cinta itu tidak hanya ada di hatimu tapi juga ada di hatiku? Bahkan aku sudah mencintaimu sejak lama, jauh sebelum Tuan Daniel memintaku menjagamu dan aku melamarmu di depan keluargamu. Jadi ku mohon, jangan kau ragukan cintaku lagi. Aku mencintaimu, dan akan terus mencintaimu sampai Tuhan mengambil nyawaku. Jadi, bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku akan membiarkanmu sendiri saat kau hamil dan punya anak nanti?" tutur Johan lembut.

__ADS_1


"Sekarang jawab pertanyaanku! Apa kau rela menjadi istriku seumur hidupmu?" Johan memastikan.


Nina hanya mengangguk.


"Apa kau rela menjadi ibu dari anak-anakku jika aku memintamu?" tanya Johan lagi.


Nina kembali mengangguk tanpa ragu.


"Kalau begitu, hari ini aku sungguh-sungguh meminta kepadamu dengan segala kerendahan hatiku. Jadilah ibu dari anak-anakku. Lahirkan darah dagingku, karna aku sangat menginginkan itu darimu. Jadi, jangan pernah meminum obat itu lagi," lagi-lagi Nina mengangguk, walau dalam hatinya masih ada berjuta tanya.


"Semua kekhawatiranmu itu tidak beralasan. Aku kan sudah menjelaskan kepadamu, bahkan aku sudah berubah. Belajar untuk berubah dan menjadi suami yang lebih baik untukmu, lebih tepatnya. Jadi kumohon, percayalah kepadaku," Johan mengangkat tangan Nina kemudian mengecup punggung tangan Nina dengan penuh kehangatan.


"Maaf," tutur Nina setengah berbisik.


"Jangan pernah lakukan hal bodoh lagi!" pinta Johan sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang. Bahkan, kini Johan sudah mendaratkan sebuah ciuman di ujung kepala istrinya.


"Dia sudah tidak marah kan?'"batin Nina dalam hati.


Nina pun langsung menghambur ke pelukan Johan dan menenggelamkan dirinya di dalam dada bidang suaminya.


Sejenak, Johan merenggangkan pelukannya lagi, sebelum akhirnya meraih dagu Nina dan bermain liar di mulutnya. Tangan kanan Johan dia gunakan untuk menekan tengkuk istrinya, sementara tangan kirinya sudah melingkar manis di pinggang Nina, hingga ciuman itu semakin mereka perdalam.


Puas dengan aktifitas yang mereka lakukan, Johan pun segera mendorong tubuh istrinya begitu saja hingga akhirnya menindih tubuh mungil Nina. Dari bibir, Johan mulai berpindah ke bagian leher dan area bagian depan Nina untuk memberi beberapa stempel kepemilikannya di sana, hingga mereka melakukan penyatuan dengan efek kenikmatan yang luar biasa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2