METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Are You Oke?


__ADS_3

Semua bekerja keras demi membuka tabir persengkokolan yang kemungkinan terjadi di tubuh Dewangga Group, juga perusahaan Daniel dan perusahaan milik keluarga Atmaja. Hal yang biasanya sangat mudah dilakukan oleh mereka, kali ini benar-benar terasa begitu sulit, menandakan orang-orang yang bermain bukanlah orang sembarangan yang hanya mengejar bayaran yang sedikit.


Bagi Daniel dan Ryan, kegagalan Green Canyon bukanlah sesuatu yang menentukan hancur atau tidaknya perusahaan. Karena modal yang keluar hanya sekitar 30 persen dari total modal perusahaan yang mereka miliki.


Namun, berbeda dengan Hengky. Latar belakang Hengky yang merupakan seorang politisi dan baru memegang penuh perusahaan keluarga Atmaja setelah sang papa bermasalah dengan hukum, membuat tingkat kekhawatirannya akan hidup dan mati perusahaan luar biasa besar. Bukan hanya karena modal perusahaan yang menurut dia sangat besar, tapi karena beban berat yang dia rasakan jika saja mega proyek pertama yang dia kerjakan akhirnya harus hancur berantakan.


Bahkan karena begitu stresnya, permasalahan perusahaan yang biasanya tidak Hengky bawa ke rumah pun kini tak bisa hilang dari ingatan, walaupun dia sudah berada di tengah-tengah keluarganya. Ya, Hengky masih terlihat sangat lesu saat dia keluar dari mobilnya dan melihat Fisha sudah di depan pintu utama untuk menyambut kepulangannya.


"Mas Hengky capek ya?" tanya Fisha, melihat wajah suaminya yang begitu kusut. Hengky yang biasanya selalu fresh dan tampil begitu rapi, kali ini terlihat kucel dan sedikit berantakan.


Namun Fisha tak mau bertanya lebih jauh terhadap permasalahan suaminya. Dia tidak ingin, suaminya itu justru merasa tidak nyaman jika dia banyak bertanya sebelum Hengky terlebih dahulu bercerita kepadanya. Hingga tanpa berkata-kata lagi, Fisha pun mencium punggung tangan suaminya dan meraih tas jinjing yang selalu Hengky bawa saat pergi bekerja.


"Perjalanan dari Kota Y memakan waktu kurang lebih empat jam, Sayang. Selain bosan, ternyata meski hanya duduk di sepanjang perjalanan, tetap saja menguras energi yang besar," sahut Hengky sambil memaksakan senyumnya. Dia hanya mengecup ujung kepala istrinya, tanpa mengabsen bagian mata, pipi dan bibir Fisha seperti biasanya.


"Mas Hengky mandi dulu biar segar, Fisha bikinkan kopi ya," Fisha tersenyum sambil menggandeng tangan suaminya dan membimbingnya masuk ke dalam kamar.


Hengky hanya menuruti perkataan istrinya tanpa berkata apa-apa. Bahkan ketika mereka sampai kamar dan Fisha melepas jas, kemeja dan celana panjang Hengky sekalipun, dia hanya menurut tanpa protes ataupun menjaili Fisha seperti biasanya.


"Are you oke?" Fisha mengerutkan dahinya melihat tingkah suaminya yang di luar kebiasaannya.

__ADS_1


"I'm fine, don't worry about me," jawab Hengky dengan datar.


"Kalau begitu mandilah, biar Fisha siapkan baju ganti dan kopi buat Mas Hengky," Fisha mendorong tubuh Hengky masuk ke kamar mandi, mengingat suaminya itu tak juga bergeming dari tempatnya sama sekali.


Setelah memastikan suaminya mandi, Fisha pun menyiapkan baju ganti Hengky dan meletakkannya di atas tempat tidur, kemudian keluar ke arah dapur untuk membuat secangkir kopi.


Sepuluh menit kemudian, Fisha masuk dengan secangkir kopi manis di tangannya. Dilihatnya Hengky sudah duduk di atas sofa, dengan kepala yang dia sandarkan seperti orang yang sedang tak berdaya.


Dengan senyumnya yang khas, Fisha mendekat dan membantu suaminya membenarkan posisi duduknya, kemudian menyodorkan kopi itu agar Hengky segera meneguknya.


"Apakah lebih baik?" tanya Fisha sambil meletakkan kopi di tangannya ke atas meja.


"Terima kasih, Sayang," sahut Hengky singkat.


"Seberat apa kondisi perusahaan jika proyek itu tidak bisa kita selamatkan?" Fisha mencoba menebak alasan kenapa suaminya tiba-tiba berubah.


"Kau jangan ikut memikirkan hal-hal berat seperti ini, Sayang. Percayalah kepadaku, semua akan tetap baik-baik saja," Hengky tersenyum tipis.


"Mas Hengky tak mau berbagi sama Fisha? Meski Fisha tidak tahu menahu urusan perusahaan, tapi hanya untuk sekedar berbagi, Fisha bisa menjadi pendengar setia. Siapa tahu saja dengan berbagi sama Fisha hati Mas Hengky sedikit lega," kini Fisha mengelus kepala suaminya dengan lembut.

__ADS_1


Hengky tak berusaha menjelaskan apa-apa. Dia justru merebahkan dirinya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan istrinya, kemudian memejamkan mata.


Fisha terus membelai kepala suaminya, hingga suaminya itu lelap tertidur di pangkuannya.


Hingga tiba-tiba, sebuah melodi indah terdengar begitu saja. Dari arah meja di depan mereka, ponsel Hengky bergerak-gerak karena getaran yang ditimbulkan benda pipih canggih itu.


Fisha sedikit ragu. Dia menatap benda pipih di depannya juga suaminya yang tengah tidur di pangkuannya secara bergantian, seolah memastikan apakah dia akan mengangkat telepon dari orang di seberang sana atau justru membiarkannya.


Melihat Hengky yang tidur dengan begitu pulasnya, akhirnya mau tak mau Fisha meraih handphone itu dan melihat sebuah nama yang tertera di layar ponsel yang kini berada di tangannya.


"Felix?" Fisha membaca nama yang tertera di ponsel suaminya sambil mengerutkan dahinya.


"Bukannya Felix itu adalah pemilik perusahaan Adinata yang kini menjadi sumber mala petaka mega proyek yang sedang di hadapi Mas Hengky dan teman-temannya? Lalu kenapa dia justru menghubungi Mas Hengky? Apa dia juga terlibat di balik semuanya?" gumam Fisha dalam hati. Dia terus sibuk menerka-nerka.


Hingga saat Fisha masih memikirkan segala kemungkinan yang ada, tiba-tiba Hengky meraih ponselnya dari tangan Fisha dengan tatapan aneh dan seolah tidak suka.


"Maaf, tadi handphone Mas Hengky terus berbunyi. Jadi Fisha lihat, barangkali ada orang penting yang menghubungi," lirih Fisha, sambil menatap Hengky penuh selidik.


"Hmm, biar aku angkat dulu," Hengky beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke balkon kamarnya. Dia berbicara dengan Felix tanpa ingin di dengar oleh istrinya, hingga suaranya pun dia pelankan agar pembicaraan mereka tak terekam sedikitpun di benak Fisha.

__ADS_1


"Kok aneh banget sih Mas Hengky? Tak biasanya dia main rahasia-rahasiaan seperti ini, sampai angkat telepon saja mesti jauh-jauh begini. Atau jangan-jangan, orang dalam yang Felix gunakan sebagai sumber informasi proyek itu adalah Mas Hengky?" gumam Fisha dalam hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2