
Malam itu, Ryan kembali menoleh pada lembaran waktu yang menari beberapa jam yang lalu, dimana dia tinggalkan istrinya begitu saja setelah membaca pesan Arya sesaat sebelum akhirnya menelphonnya. Karena ada kabar penting yang Arya sampaikan, dengan terpaksa Ryan harus pergi ke perusahaan saat itu juga.
Setelah berkutat dengan tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya, Ryan berdiri kemudian menuju sofa dan merebahkan diri di sana.
"Bagaimana perkembangan kasus Charles David?" tanya Ryan tiba-tiba.
"Proses Penyidikan sudah selesai dan sekarang sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Jika persidangan sudah di mulai, nanti aku infokan," jawab Arya sambil merapikan berkas yang berserakan di meja.
"Apakah ada pergerakan dari Daniel Cullen?" Ryan bertanya lagi untuk memastikan.
Arya yang melihat ada gurat khawatir di wajah Ryan pun segera menyelesaikan aktifitasnya dan duduk di sofa sebelah Ryan.
"Sementara tidak ada pergerakan yang mengarah kepada kita. Tapi bisa dipastikan dia akan berusaha habis-habisan untuk memanipulasi kasus Charles agar dia bisa terbebas dari hukuman," jawab Arya tenang.
"Baiklah. Kabari aku kalau ada pergerakan yang mulai mengancam," ucap Ryan sambil memijit-mijit keningnya yang tidak sakit.
"Apa yang kau pikirkan? Apa ada masalah?" tanya Arya penuh selidik, melihat wajah kacau sahabat sekaligus majikannya itu.
"Aku menyuruhnya mengundurkan diri dari Dewan dan meninggalkan seluruh aktifitasnya di luar," jawab Ryan sambil membenarkan posisi duduknya.
"Rani?" tanya Arya setengah kaget.
"Siapa lagi. Aku benar-benar takut hal lebih besar akan terjadi padanya jika kubiarkan dia segila itu pada setiap hal yang menurutnya menarik. Setelah kejadian penyekapan kemarin, rasanya aku tidak bisa hidup jika harus kehilangan dia lagi," jawab Ryan serius.
"Apa tanggapan istrimu?"
"Dia marah. Hingga aku bergegas ke sini, dia belum keluar dari kamar mandi setelah berjam-jam di dalam,"
Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Ryan terperanjat, mengingat apa yang diucapkannya tadi.
__ADS_1
"Astaga, aku meninggalkannya dalam kondisi pikirannya sekacau itu," ucap Ryan sambil meraih kunci mobilnya dan segera berlari ke luar.
Arya yang mendengar nada khawatir dari ucapan Ryan pun segera menyusul, takut kalau-kalau ada hal yang terjadi dan dia dibutuhkan tuannya sewaktu-waktu.
***
Entah kenapa, bintang memilih bersembunyi di balik bentangan hitam langit malam, yang dipenuhi gumpalan-gumpalan awan yang menyelimuti bulan yang menggantung bebas di ujung cakrawala.
Jalanan yang sepi tanpa hilir mudik kendaraan pun menambah syahdu hati Ryan yang mulai resah memikirkan sang pujaan hati yang sempat dia sakiti dengan ego klise yang muncul begitu saja dan sempat tak terkendali.
Ryan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, diikuti Arya yang berusaha mengimbangi kecepatan mobil tuannya dengan hati tak kalah gundah.
Bagi Arya, sekecil apapun masalah tuannya akan menambah deretan pekerjaan untuknya. Jadi sebisa mungkin, dia harus pastikan tak sampai terjadi sesuatu pada majikan beserta keluarganya jika dia tidak mau pekerjaan lebih besar harus dilakukannya. Apalagi kalau mengingat ketledorannya yang membiarkan Rani pergi tanpa pengawalan sehingga berakhir pada drama penyekapan 12 jam beberapa saat yang lalu, membuat Arya tak mau kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya.
Tak berapa lama, Ryan memasuki gerbang dan segera berlari ke dalam setelah memarkirkan mobilnya dengan asal. Ryan terus berlari menaiki tangga menuju kamar utama, tempat dimana dia meninggalkan istrinya dengan segala rasa yang masih menggantung dalam benaknya beberapa jam yang lalu.
Ryan membuka pintu kamar itu dengan pelan. Disapukannya pandangan ke seluruh penjuru ruang, ada perasaan lega ketika mendapati wanitanya berada di tempat tidur mereka.
"Ahh, mungkin dia kelelahan menangis hingga tertidur. Kenapa aku sangat bodoh hingga tega meminta itu darinya?" Ryan mengutuki dirinya sendiri dalam hati.
Dengan sayang diusapnya air mata itu dari wajah istrinya, kemudian dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sesaat sebelum Ryan menyelimuti istrinya dengan sayang.
Hanya dalam waktu beberapa menit, Ryan yang sudah segar keluar dari kamar mandi dan segera menuju lemari untuk mengambil pakaian gantinya.
Tiba-tiba Ryan merasakan ada tangan halus yang melingkar di pinggangnya. Rupanya istri manjanya itu terbangun dan kini sudah memeluknya dari belakang.
Ryan tersenyum bahagia dan segera membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berdiri berhadapan. Dia ingin sekali menikmati wajah cantik istrinya dengan tak sabar, namun Rani justru mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.
Ryan melepas pelukan itu dan tetap meraih wajah Rani, hingga tatapan mereka akhirnya bertemu. Entah kenapa, hati Ryan sangat sakit ketika melihat mata wanitanya begitu sembab karena kesedihan yang dia buat.
__ADS_1
"Maafkan Mas yang telah menyakitimu," ucap Ryan sambil mengusap rambut panjang istrinya dengan lembut.
"Surga dan neraka Rani ada pada keridhoan yang Mas Ryan beri. Ambillah seluruh hidup yang Rani miliki sebanyak yang Mas Ryan mau," ucap Rani seraya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
"Jadilah istri dan ibu sholehah dalam hidup Mas Ryan dan anak-anak kita kelak. Namun tetaplah jadi ibu yang kuat bagi ummat yang ada di belakangmu dengan penuh harap. Tetap berjuanglah untuk mereka, asal kau tak melupakan tugasmu sebagai seorang istri dan juga ibu," jawab Ryan sambil merengkuh kembali istrinya. Entah kenapa, dia benar-benar merasa lega setelah mengucapkan itu.
Rani membulatkan matanya mendengar perkataan suaminya.
"Kenapa bisa berubah secepat ini?" gumamnya lirih.
"Mas hanya khawatir dengan keselamatanmu. Penyekapanmu di gudang tua kemarin hampir membuat Mas berhenti bernafas. Karena itu Mas memintamu untuk keluar dari dunia tak bersahabat itu agar hal lebih besar yang membahayakanmu tidak akan terjadi lagi. Namun akhirnya Mas sadar. Terlalu egois jika Mas merenggut dunia yang kau geluti hanya karna kebodohan Mas yang tak bisa melindungimu," jelas Ryan penuh sesal. Dia masih saja menyalahkan dirinya yang membiarkan istrinya disekap dalam gedung tua hingga 12 jam lamanya.
"Jangan salahkan dirimu. Rani tahu Mas Ryan akan selalu melindungi Rani dan selalu ada untuk Rani," ucap Rani dengan senyum semanis mungkin. Kini dia bisa lega, tidak harus meninggalkan dunia yang digelutinya dengan letupan semangat perjuangan yang menyala.
Ryan bisa melihat binar bahagia itu dari mata istri yang kini ada dalam pelukannya.
"Jika memang ini yang bisa membahagiakanmu, aku rela melakukan apapun untuk menjaga keselamatanmu, Sayang," gumam Ryan dalam hati.
"Terima kasih," ucap Rani dengan riang, seolah bisa mendengar apa yang sedang menjadi kata hati suaminya.
"Eits, jangan senang dulu. Mas harus terima bayarannya malam ini juga," goda Ryan sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Ambillah bayaran sebanyak yang Mas Ryan mau!" jawab Rani pasrah.
Ryan menyambut jawaban istrinya dengan suka cita dan semangat empat lima. Meski tanpa mereka sadari, di luar sana Arya sedang menunggu perintah dari tuannya, dengan perasaan tak menentu.
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹
__ADS_1
Terima kasih telah membaca dengan setia. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like, vote, comment juga rate 5 ya...