
Rani terus merasa gelisah. Hatinya sungguh tak menentu, seolah semesta memberi pertanda bahwa mereka harus waspada.
"Huh," Rani berusaha menyangkal segala kegalauan. Tapi seluruh sel dalam tubuhnya seolah lebih tahu, hingga rasa tidak nyaman itu memenuhi hati dan pikiran.
"Semoga bukan karena aku akan melahirkan sebelum Hubby pulang," do'a Rani dalam hati.
Kini Rani hanya bisa pasrah dan berdo'a, semoga mereka semua selalu dalam lindungan Allah, Sang Maha Penjaga.
Mama Davina yang mengerti akan kegalauan yang dirasakan putrinya itu pun akhirnya mendekati Rani dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Setiap wanita hamil pasti ingin bersama suaminya saat melahirkan nanti. Karena itu, bantu suamimu dengan do'a, agar mereka dimudahkan dalam segala urusan dan segera pulang tanpa ada halangan sedikit pun yang merintang," ucap Mama Davina dengan penuh cinta.
"Tapi Rani merasa nggak tenang, Ma," tutur Rani dengan segala kegalauan yang dirasakannya.
"Allah selalu memberi sesuatu sesuai prasangkaan hambaNya. Maka, selalu perpikir positiflah!" tutur Mama Davina menenangkan.
Rani pun memaksakan senyumnya, agar sang mama tidak mencemaskannya.
Hingga empat jam pun telah berlalu begitu saja. Perkiraan Rani, suaminya sudah sampai di kota Y sesuai rencana.
"Harusnya mereka sudah nyampek. Tapi kenapa Hubby tak juga menghubungi ya?" gumam Rani dalam hati.
Dia terus memandangi layar ponselnya, namun tak ada pesan atau panggilan yang masuk. Rani berinisiatif untuk menghubungi terlebih dahulu, hasilnya nihil. Handphone Ryan tidak aktif, begitu juga dengan Daniel, Arya dan Johan, semua panggilan tak ada sahutan.
***
Enam mobil terlihat berjalan beriringan dari Kota X menuju Kota Y. Dua mobil di depan berisi para pengawal, mobil ke tiga berisi Ryan, Arya dan Indra, mobil ke empat berisi Daniel dan Johan, dan dua mobil paling belakang berisi tim pengamanan.
__ADS_1
Tidak hanya penjagaan di kediaman Dewangga yang diperketat, kali ini perjalanan Ryan, Daniel dan rombongan juga memasang pengawalan ekstra. Mereka semua pun memasang earpeace di telinga mereka, untuk memudahkan komunikasi seperti yang sering di lihat di film-film Hollywood yang menampilkan adegan-adegan laga dalam setiap sajiannya.
Semua penjagaan itu mereka terapkan bukannya tanpa alasan. Indra dan Johan sudah mengukur sebesar apa kekuatan musuh mereka yang sudah menghadang, dan siap menyalakan genderang perang secara terang-terangan.
"Perusahaan Adinata yang sekarang, tiga puluh kali lebih besar dibandingkan dengan perusahaan mereka yang dulu, Tuan. Karena di belakang mereka ada investor yang sangat besar dan juga dibackup oleh orang-orang pemerintahan," lapor Johan, yang membuat Ryan dan Daniel sangat geram.
"Bagaimana dengan kemungkinan adanya orang dalam?" tanya Ryan sangat serius.
"Masih dalam pendalaman, Tuan. Karena saya baru bekerja beberapa jam saja. Tapi sudah ada beberapa list nama yang akan saya perdalam," sahut Indra dengan tenang.
Dalam mobil masing-masing, baik Ryan maupun Daniel memang sudah memasang wajah serius sejak mereka masuk dalam mobil dan mulai melakukan perjalanan. Mereka mendengarkan penjelasan Johan dan Arya dengan seksama, tentang permasalahan Green Canyon, juga kemungkinan-kemungkinan yang sudah dilakukan Felix dan orang-orang di belakangnya untuk menghancurkan mega proyek mereka.
Dalam mode itu, memang semua alat komunikasi selain earpeace yang mereka kenakan sengaja dimatikan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga sangat wajar, jika mereka tidak bisa menghubungi maupun dihubungi istri mereka masing-masing.
Begitu sampai di area Green Canyon, Daniel dan Ryan sudah disambut oleh Hengky yang telah sampai terlebih dahulu.
"Bagaimana?" Daniel dan Ryan langsung menghampiri Hengky, kemudian mereka berjalan secara beriringan, diikuti Arya, Johan, Indra dan para pengawal.
"Bagaimana jika kita set ulang?" Ryan tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat semua orang yang sedang berjalan bersamanya berhenti mengikuti pergerakannya.
"Operasionalnya akan sangat besar, Tuan," Johan menimpali.
"Coba kita hitung ulang. Modal kita untuk proyek ini sudah sangat besar, bahkan kita sudah mempertaruhkan tiga nama perusahaan besar. Akan jauh lebih rugi jika Green Canyon ini gagal," sahut Daniel sambil menatap Ryan dan Hengky secara bergantian.
Ryan dan Hengky yang ditatap pun hanya mengangguk pelan, memberikan persetujuan penuh atas pernyataan Daniel yang mereka dengar barusan.
"Baik, presentasikan perbandingan milik kita dan milik mereka. Kita lihat, bagaimana permainan mereka dan kita susun, bagaimana kita harus memainkannya," titah Daniel kepada Johan dan Arya.
__ADS_1
"Baik, silahkan Tuan," Johan mempersilahkan mereka untuk kembali berjalan dan masuk ke dalam sebuah ruangan.
Dan disinilah mereka sekarang. Sebuah ruang rapat super mewah sudah benar-benar disiapkan, para penjaga dan pengawalan ekstra pun sudah di pasang di setiap sudut ruang.
Selain pengawal, beberapa pelayan terlihat berlalu lalang membawakan aneka minuman dan hidangan, menghadirkan jamuan spesial untuk ketiga pemilik perusahaan.
Begitu mereka masuk dan mengambil posisi duduk dengan nyaman. Semua pelayan diminta untuk keluar. Yang tersisa di dalam hanya Ryan, Daniel, Johan, Arya, Indra, dan dua orang manajer yang di percaya untuk mengelola Green Canyon selama beberapa bulan terakhir proyek itu berjalan.
Menjelang sore, rapat pun di tutup dan disepakati akan dilanjutkan malam nanti, ketika mereka sudah beristirahat sejenak dan membersihkan diri.
Namun ketika mereka ke luar ruangan, seorang pelayan tiba-tiba berjalan dengan cepat ke arah Ryan, dan dalam waktu sekejap, Ryan sudah jatuh tersungkur ke lantai dengan beberapa luka tusukan di daerah perut yang membuat darah mengalir dengan derasnya.
"Ryan!" teriak Daniel, Hengky dan Arya secara bersamaan, sambil merengkuh tubuh Ryan yang sudah langsung tak sadar.
"Tangkap perempuan itu!" seru Indra begitu menyadari bahwa mereka kebobolan. Ya, seorang perempuan muda berparas cantik yang berbalut baju pelayan telah berhasil menerobos keamanan mereka yang berlapis.
Namun dalam waktu singkat, perempuan itu pun bisa langsung ditangkap tanpa perlawanan yang berarti.
***
Semua terkulai lemas di depan ruang IGD, menunggu Ryan yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Mengingat bagaimana kondisi Ryan yang begitu tak berdaya ketika di bawa ke rumah sakit itu, kini tak ada seorang pun diantara mereka yang tak menangis membayangkan jika hal lebih buruk akan terjadi padanya.
"Aku tak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya. Harusnya aku tak memaksa dia untuk hadir di tempat ini. Harusnya aku membiarkan dia bersama istrinya menunggu kelahiran putra mereka. Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya pada Rani jika dia sampai ke tempat ini nanti?" Arya tergugu, begitu pun semua orang yang berada di tempat itu.
Hingga, tiba-tiba, seorang dokter keluar, dengan tampang yang begitu lesu dan seperti putus harapan.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Daniel tak sabar.
__ADS_1
"Maaf, Tuan ...,"
BERSAMBUNG