METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Penerbangan Selanjutnya


__ADS_3

Flashback


Setelah pamit ingin ke toilet, Rani pun segera berjalan ke depan dan menghilang dibalik gorden yang sengaja di tutup oleh pramugari sesaat setelah pesawat lepas landas.


Di balik gorden, Rani tidak masuk ke dalam toilet. Dia justru berhenti tepat di depan pintu toilet, sambil celingak-celinguk melihat belakang, antisipasi kalau tiba-tiba muncul seseorang dari arah kursi penumpang.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pramugari cantik, sesaat setelah Rani mendekati pintu toilet dengan sikap mencurigakan.


Rani pun mengutarakan kecurigaannya terhadap laki-laki dibelakangnya itu kepada pramugari yang ada disana.


"Apakah Nona punya bukti?" tanya Pramugari itu serius.


"Saya tidak punya bukti, makanya saya datang kesini," ucap Rani penuh teka-teki.


"Saya akan membuat gadis itu ke toilet. Mbak-mbak pramugari cukup menempelkan tulisan ini di kaca dan sediakan kertas kosong juga polpen disana agar dia bisa menulisnya, apakah dia butuh bantuan kita atau tidak," Rani menjelaskan panjang lebar, sembari memberikan kertas kosong, pulpen dan kertas kecil bertuliskan, "Jika Nona butuh bantuan, tolong tuliskan di kertas ini" kepada pramugari itu.


Cukup lama mereka berdiskusi, sampai akhirnya ada kata sepakat. Tak lama kemudian, akhirnya Rani keluar dan duduk kembali di samping suaminya.


Setelah duduk, Rani terlihat mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan "Jika butuh bantuan, ke toilet sekarang!"


Rani melihat gadis itu melalui cermin, kemudian segera mengarahkan tulisan itu ke belakang kemudian membuat ketukan-ketukan kecil di kaca jendela pesawat untuk menarik perhatian sang gadis.


Dan ternyata berhasil. Gadis itu membaca tulisan Rani kemudian mengangguk, sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya menuju toilet setelah meminta izin terlebih dahulu kepada laki-laki di sebelahnya.


"Untung aku mengantisipasinya," gumam Rani dalam hati, melihat laki-laki itu ternyata mengikuti sang gadis sesuai perkiraannya.


Gadis itu segera masuk ke dalam toilet dan menyapu pandangan di sekeliling ruang kecil itu. Saat dia membaca kertas yang tertempel di cermin, akhirnya dia meraih kertas yang ada di atas wastafel dan menuliskan sesuatu.


Setelah selesai, gadis itu muncul dari balik gorden, diikuti laki-laki tadi dan kemudian duduk kembali. Sementara sang pramugari segera masuk ke dalam toilet dan membaca sebuah pesan yang dituliskan gadis itu.


"Aku dan teman-temanku korban sindikat human trafficking. Tolong aku." Bunyi tulisan itu.


Melihat pesan itu, awak pesawat pun melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib, sehingga saat mereka landing petugas keamanan bandara sudah siap menangkap laki-laki itu dengan mengenakan senjata lengkap mereka.

__ADS_1


End of flashback


***


Gadis berusia 16 tahun bernama Nina itu berasal dari sebuah desa di kota C. Dua pekan yang lalu, dia dan seorang temannya mendapatkan tawaran untuk bekerja pada sebuah kafe di Bali.


Karena Nina dan temannya hanya lulusan SMP, maka mendapatkan pekerjaan di sebuah kafe apalagi di Bali seolah menjadi kebanggaan tersendiri sehingga ketika tawaran itu datang benar-benar tidak mereka lewatkan.


Namun satu hari setelah mereka mulai bekerja di kafe itu, Nina mulai tersadar bahwa dia dipekerjakan di sana bukan hanya untuk menjadi pekerja biasa, namun juga harus rela memberikan tubuhnya pada setiap tamu yang ditemaninya.


Lain dengan seorang temannya yang sudah menyerahkan dirinya karena lebih tergiur dengan penghasilan berlipat jika dibandingkan dengan pekerja biasa, selama dua minggu itu Nina berusaha mempertahankan tubuhnya, walaupun setiap penolakan yang dia lakukan harus berkonsekwensi pada hukuman fisik yang harus dia terima dengan suka cita.


Karena keras kepalanya Nina yang cukup membuat geram majikannya, akhirnya diputuskan bahwa Nina akan di jual ke Malaysia setelah di karantina di ibu kota sambil menunggu persyaratan administrasi untuk kesana.


Dan saat itu, berkat kepekaan Rani dalam membaca situasi, maka Nina bisa selamat sebelum di karantina dan diberangkatkan ke Malaysia.


***


Setelah dipersilakan duduk di ruang Airport Security beberapa saat, Rani, Ryan beserta gadis itu dan beberapa orang Pramugari diminta masuk ke dalam mobil untuk dimintai keterangan di Polresta Bandara Soekarno-Hatta, sementara laki-laki itu di proses sesuai mekanisme tersendiri.


"Tunggu. Bagaimana dengan gadis itu?" tanya Rani kepada aparat dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Dia aman bersama kami, Nona." Jawab salah satu petugas meyakinkan.


"Baiklah. Hubungi nomorku jika kamu memerlukan sesuatu!" ucap Rani kepada gadis itu sambil memberikan kartu namanya.


"Terima kasih," ucap gadis itu penuh syukur, sambil memeluk erat tubuh Rani yang sudah menjadi malaikat penolongnya.


"Aku akan menghubungi temanku untuk mendampingimu sampai kau bisa pulang ke rumahmu dengan selamat," ucap Rani kemudian.


***


Tak berapa lama, Rani dan Ryan sudah sampai ke Bandara untuk melanjutkan penerbangannya. Meskipun mereka tidak bisa mengejar penerbangan sesuai jadwal semula, tetapi pihak Bandara sudah melakukan rescheduling untuk penerbangan mereka selanjutnya.

__ADS_1


"Mas Ryan, Rani lapar," rengek Rani sambil menghentikan langkahnya sebelum masuk ke ruang tunggu.


"Astaga, Mas Lupa kalau istri kesayangan Mas ini belum makan," jawab Ryan seolah terkejut.


"Ihh, lebay deh," ucap Rani sambil mencubit pinggang Ryan dengan kasar.


Mereka pun tertawa bersamaan tanpa beban, sebelum akhirnya Ryan menarik tangan Rani untuk mencari sarapan yang lebih tepat dikatakan sebagai makan siang.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Rani dan Ryan sudah dalam pesawat dan siap melakukan penerbangan kembali ke kota X.


Kali ini Rani tidak banyak bicara. Mungkin karena terlalu capek atau masih memikirkan semua yang terjadi baru saja, sehingga mulut yang biasa banyak canda itu kini terkunci tanpa kata.


"Kemarilah!" ucap Ryan sambil melebarkan tangannya.


Tanpa melepas sabuk pengamannya, Rani pun menyambut Ryan dan segera merengkuhnya, hingga akhirnya tertidur di pelukan suaminya.


"Aku harus mulai terbiasa untuk menerima segala kejutan dan hal gila lain yang kau buat, Sayang. Dan aku mulai menikmati kegilaanmu, apapun itu." Ucap Ryan lirih sambil mengecup kening istrinya puluhan kali.


"Aku tidak gila, Mas," Rani yang ternyata belum tidur pulas protes, mendengar ucapan suaminya.


"Aku yang sudah gila karena kamu, Sayang," bisik Ryan tepat di telinga Rani.


"Gombal," seru Rani sambil mengeratkan pelukannya.


"Tapi seneng kan, digombalin?" jawab Ryan sambil ikut mengeratkan pelukannya dengan suka cita.


Ada kepuasan tersendiri ketika dua hari ini istrinya menunjukkan sifat manjanya yang hampir tidak pernah dia tunjukkan selain kepada suaminya, dibalik ketegasan yang selalu ditunjukkannya saat dia berhadapan dengan tugas rakyat yang sudah diamanahkan kepadanya.


Mereka pun akhirnya tertidur pulas, sampai penerbangan berakhir dan mereka sampai di kotanya.


BERSAMBUNG


Hai Readers

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment n favorit ya. jangan lupa juga kasih rate 5


__ADS_2