METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kopi Asin Sekalipun Pasti Akan Terasa Manis


__ADS_3

Sepanjang malam, dua insan itu membiarkan degup jantung mereka berpadu dalam hasrat yang menyala. Mereka terus menyatukan segala makna kerinduan, hingga luluh bersama lembutnya cahaya rembulan yang memilih setia menemani malam.


Perlahan, sukma keduanya terbakar diatas peraduan. Bahkan dengan sengaja mereka mempersilahkan bintang untuk menatap mereka dengan cemburu, pada gelora cinta keduanya yang menembus batas cakrawala, hingga menyala indah di angkasa.


Cup...


Sebuah kecupan hangat mengakhiri aktivitas Ryan terhadap istrinya. Kini keduanya tertidur pulas karena lelah yang mendera.


Tok-tok-tok...


Belum lepas segala lelah di tubuh mereka, mata mereka terpaksa berkedip karena ketukan teratur dari arah pintu hingga mereka memaksakan diri untuk bangun dengan segera.


Ryan pun langsung beranjak dan mengenakan pakaiannya.


"Bik tum?" ucap Ryan penuh tanda tanya, melihat wajah Bik Tum sesaat setelah pintu kamar terbuka.


"Maaf, Den. Bik Tum terpaksa membangunkan Den Ryan lewat tengah malam begini," kata Bik Tum setengah takut.


"Ada apa Bik?" tanya Ryan sambil mengucek matanya yang masih menahan kantuk.


"Begini Den, Bik Tum mau izin pulang beberapa hari karena ibu Bik Tum sakit. Bik Tum harus pulang sekarang juga karena kondisinya kritis," jelas Bik Tum sambil mengusap air matanya yang tidak tertahan lagi.


"Baiklah Bik, minta Pak Mamat anterin Bibik ya," ucap Ryan perhatian.


"Tidak usah, Den. Bik Tum sudah dijemput anak Bibik. Dia sudah menunggu di depan," tolak Bik Tum halus.


"Kalau begitu tunggu saya sebentar!" pinta Ryan kemudian.


Setelah Bik Tum mengangguk, Ryan menutup pintu kamar sebentar kemudian keluar lagi menyerahkan sebuah amplop.


"Pakailah untuk keperluan ibu Bik Tum yang sakit. Jika butuh apa-apa telphon saya," ucap Ryan hangat.


"Terima kasih, Den," Bik Tum berterima kasih kemudian berlalu dari hadapan Tuan Mudanya.


Ryan memandangi Bik Tum sampai menuruni tangga dan akhirnya hilang dari pandangannya. Sejak dulu, Ryan selalu tidak rela jika Bik Tum harus izin pulang ke rumahnya. Selain karena Ryan sangat menyayangi Bik Tum seperti keluarganya sendiri, Bik Tum juga satu-satunya orang yang sangat mengetahui kebutuhan Ryan setelah mamanya.


"Siapa, Mas?" tanya Rani sambil melingkarkan selimut di atas dada untuk menutupi tubuh polosnya.


"Bik Tum, Sayang. Dia izin pulang beberapa hari karena ibunya sakit," jawab Ryan sambil menutup pintunya dan menghampiri Rani yang kini sedang berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Mas Ryan mau kemana? Rani mau mandi terus sholat malam," seru Rani melihat suaminya terus berjalan ke arahnya.


"Kalau begitu kita mandi bersama kemudian sholat malam bersama juga," jawab Ryan mantab.


***


Pagi itu Rani sudah sibuk di dapur, mengingat Bik Tum tidak sempat memasak terlebih dahulu saat dijemput anaknya dan harus segera pulang.


Dia terus memandangi isi kulkas di depannya dengan wajah bingung, sambil sesekali melihat layar hp berisi resep masakan yang dia pegang.


"Lagi apa, Sayang? Kamu mau bikin sarapan? Mas bantu ya?" tanya Ryan penuh semangat.


"Nggak usah, Mas. Mas Ryan tunggu aja di ruang TV," tolak Rani secara halus.


"Nggak papa. Mas mau bantuin kamu," ucap Ryan tidak mau di tolak.


"Tapi...," Rani menggantungkan kalimatnya.


"Kamu keberatan Mas temani?" tanya Ryan penuh selidik.


"Bukan begitu. Sebenarnya Rani baru pertama kali ini memasak. Jadi...," ucap Rani jujur, walaupun dia tidak melanjutkan kalimatnya karena langsung tertunduk.


"He-he-he..., kalau begitu kita belajar memasak bersama," Ryan menanggapi dengan santai.


"Masak sup aja yang mudah ya, Mas," jawab Rani lega, setelah suaminya menanggapi soal Rani yang tidak bisa memasak dengan begitu santainya.


"Siap, Tuan Putri," Ryan membungkukkan tubuhnya ala-ala pengawal istana.


"Mana biar Mas yang baca resepnya, kamu yang siapin bahan-bahannya," lanjut Ryan sambil meraih hp Rani dan membaca resep yang tertulis disana.


"Pertama-tama haluskan bawang putih dan merica," Ryan membaca resep itu dengan keras.


"Bawang putih? Oke. Merica? Mas, ini di kulkas ada dua jenis. Yang merica yang kecil-kecil atau yang besar-besar?" tanya Rani bingung, tidak bisa membedakan antara merica dan ketumbar.


"Bentar, Mas tanya tante g***le dulu," Ryan segera mengutak-atik hp di tangannya dan menunjukkan hasil pencariannya.


Dan begitu seterusnya, hingga keduanya telah sukses membuat dapur mereka gaduh dan berantakan, tanpa mereka tahu bagaimana hasil masakan mereka seperti apa.


"Oke, tinggal finishing touch-nya. Taburkan bawang goreng," ucap Ryan dengan semangat.

__ADS_1


Setelah Rani menaburkan bawang goreng di atas sup nya, hal terakhir yang dia lakukan adalah mencicipi hasil karyanya.


Dia mengambil sedikit kuah sup menggunakan sendok, kemudian memasukkan sendok itu kemulutnya. Hasilnya...


"Huek-huek...," Rani memuntahkan isi mulutnya kemudian minum air sebanyak-banyaknya.


"Kenapa?" tanya Ryan penasaran.


Rani hanya menggeleng. Kini matanya berkaca-kaca. Bahkan Rani tidak doyan dengan masakannya sendiri. Apalagi suaminya.


Melihat perubahan wajah Rani, Ryan merebut sendok di tangannya dan hendak mencicipi masakan istrinya, tapi Rani mencegahnya.


"Itu tidak enak, Mas. Bahkan Rani yang membuatnya sendiri saja tidak bisa menikmatinya. Rasanya Aneh," ucap Rani sambil mengusap bulir bening yang kini sudah membasahi pipinya.


Rani terus menangis, menyadari bahwa dia tidak bisa mengerjakan salah satu tugasnya dalam urusan rumah tangga.


Hampir di semua hal memang Rani bisa melakukannya, namun dalam hal mengurus rumah tangga seperti menyapu, menyetrika, apalagi memasak, Rani belum pernah sekalipun melakukannya.


"Maaf," ucap Rani lirih.


"Hey, kenapa menangis? Besok kamu bisa belajar dari Bik Tum. Lagian Mas juga tidak mengharuskanmu untuk bisa mengerjakannya. Bahkan Mas bisa mempekerjakan 10 koki sekaligus di rumah ini jika kamu mau," ucap Ryan menenangkan.


Rani pun semakin tersedu, menyadari kelemahan besar yang ada pada dirinya. Dia berpikir, "Buat apa hebat di luar jika di rumah tidak bisa apa-apa? Bukankah perempuan hebat itu adalah perempuan yang tangguh, cerdas, berani, serta aktif berkontribusi, namun tetap tidak boleh melupakan kodrat keperempuanannya yang sangat istimewa?"


Ting-ting-ting...


Suara tautan sendok tiba-tiba menyadarkan Rani dari pikirannya yang mengembara.


"Kenapa Mas Ryan Memakannya?" tanya Rani, sambil membelalakkan matanya ketika menyadari suaminya memakan habis sup bikinan Rani dengan sepiring nasi penuh di hadapannya.


"Jangankan semangkuk Sup. Jika kamu memberi kopi asin sekalipun, pasti akan terasa manis di mulut Mas." Ucap Ryan sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.


Mendengar ucapan dan melihat apa yang dilakukan suaminya, Rani justru semakin tergugu.


"Kenapa Mas Ryan sebaik ini sih. Mas tidak harus melakukannya." Ucap Rani, yang hanya dijawab Ryan dengan senyuman.


Begitulah cinta. Bahkan racun pun bisa menjadi madu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Hai Readers...


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.


__ADS_2