
Gumpalan kapas hitam yang berarak warnai langit di sore itu. Bias sinar mentari seolah tertutup kerudung, meninggalkan awan mendung yang bergulung-gulung.
Seperti itulah langit mengiringi mendungnya hati Sesil yang tiba-tiba merundung, membuat getaran hebat dalam dirinya semakin terkungkung. Ada apakah gerangan hingga jiwanya hingga tiba-tiba murung?
Ya, semua bukannya tanpa alasan. Karena beberapa menit setelah kepergian Felix dari rumah Sesil, dua buah mobil datang ke rumah itu tanpa Felix tahu. Beberapa orang berseragam aparat lengkap pun tiba-tiba keluar, kemudian langsung masuk dan mengetuk pintu utama rumah kecil bergaya modern itu.
Tak berapa lama, Sesil keluar dengan membulatkan mata saat menyadari siapa yang sedang berada di hadapannya.
"Selamat sore, Nona," sapa pria berseragam itu.
"Selamat sore, Bapak-Bapak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Sesil terlihat berbasa-basi untuk menutupi kegugupannya. Bahkan hati dan tubuhnya kini bergetar, tapi dengan susah payah Sesil berhasil menyembunyikannya.
"Kami membawa surat perintah penangkapan Anda, atas pelanggaran yang Anda lakukan terhadap Pasal 13 Undang-undang Rahasia Dagang. Anda dinilai telah membocorkan rahasia dagang Dewangga Group kepada perusahaan lain," ucap seorang pria berseragam aparat yang lain, sambil menunjukkan surat perintah penangkapan Sesil kepadanya.
"Tapi, Pak. Saya ...," Sesil berusaha mengelak.
"Silahkan ikut kami, dan jelaskan semuanya di kantor polisi," lanjut pria berbadan tegap di depan Sesil kemudian langsung memborgol tangannya, sebelum akhirnya membawa Sesil masuk ke dalam mobil polisi dan langsung melajukannya.
"Saya mohon, lepaskan saya, Pak. Saya tidak bersalah," Sesil terus meronta sepanjang perjalanan.
"Jelaskan di kantor polisi saja, Nona. Kami hanya melaksanakan perintah untuk menangkap Anda," jawab salah seorang polisi, kemudian tidak menjawab lagi apapun yang Sesil ucapkan kepada mereka.
Sesil pun hanya bisa menangis, hingga mereka sampai ke kantor polisi yang akan menjadi awal dari penderitaannya.
__ADS_1
"Izinkan saya menghubungi pengacara dan kekasih saya sebentar, Pak," Sesil memohon dengan Isak tangis yang tak bisa dikendalikannya.
"Baik, Nona. Silahkan Anda hubungi pengacara dan orang terdekat Anda, setelah itu handphone Anda akan kami sita," sahut penyidik yang akan menginterogasi Sesil.
Sesil pun terlihat sibuk berselancar dengan benda pipih canggih miliknya. Setelah tertera nama Felix pada layar yang sedang di pegangnya, Sesil segera menempelkan benda itu ke telinga kanannya.
"Hallo, ada apa, Sayang?" suara Felix di ujung telepon terdengar sangat manis di telinga Sesil.
Mendengar nada bicara Felix yang sedemikian indah di telinganya itu, Sesil pun sangat yakin bahwa kekasihnya tercinta pasti akan segera mengeluarkannya dari kesulitan yang sedang dihadapinya.
"Sayang, mereka menangkapku. Mereka bilang aku ditangkap atas pelanggaran terhadap pasal 13 Undang-undang Rahasia Dagang. Aku dinilai telah membocorkan rahasia dagang Dewangga Group kepada perusahaan lain. Tolong segera ke sini bersama pengacaramu, Sayang. Keluarkan aku," cicit Sesil dengan ponsel yang terus menempel di telinganya.
Setelah Sesil bercerita panjang lebar dan memohon kepada Felix, di luar dugaan Sesil, Felix justru langsung memutus teleponnya tanpa berkomentar apapun atau sekedar berbasa-basi menenangkan kekasihnya.
"Bagaimana, Nona?" seorang penyidik di depan Sesil bertanya sambil mengerutkan dahinya, melihat gadis cantik di depannya terlihat bingung dan tak sedang baik-baik saja.
"Saya mengakui semua perbuatan saya, Pak. Dan saya bersedia mengikuti proses hukum tanpa seorang pengacara," Sesil berucap datar. Air matanya terus berderai, menyadari berada dimana posisinya sekarang.
"Apakah Anda yakin dengan ucapan dan keputusan Anda?" penyidik itu kembali meyakinkan jawaban gadis di depannya.
"Saya yakin, Pak," jawab Sesil mantap.
Kali ini Sesil benar-benar tersadar, bahwa apa yang diucapkan Indra dan Zara terbukti benar. Ryan Dewangga mempunyai mata dimana-mana dan tak pernah main-main dengan ucapan maupun ancamannya.
__ADS_1
"Andai benar-benar kuterima tawaran Anda, Tuan. Pasti tak akan begini jadinya. Aku begitu bodoh hingga mengira bahwa Felix benar-benar mencintaiku. Ternyata aku salah. Dia mendekatiku hanya untuk meraih obsesinya. Dan setelah aku tak lagi berguna untuknya, dia mencampakkan aku begitu saja walau saat ini aku sedang mengandung anaknya," gumam Sesil dalam hati, dengan segala kesedihan yang kini melanda.
***
Dibalik meja kerjanya, Felix terduduk lemas dan bersandar pada sandaran kursi empuk yang kini menyangga tubuhnya. Dia memejamkan mata, tangannya memijit-mijit pangkal hidungnya seolah dengan begitu kepenatan yang dia rasakan akan hilang begitu saja.
Untuk melancarkan aksi balas dendamnya pada Ryan Dewangga, dia menaruh harapan besar kepada Zara dan Sesil, yang selama ini bisa menunjukkan kinerjanya yang sempurna. Namun kali ini, Felix memang harus mengakui kehebatan Ryan untuk yang kedua kalinya.
Ya, sehebat apapun Felix telah menskenario semua aksinya, ternyata Ryan dengan mudah bisa memporak-porandakan rencana matangnya. Hal ini terbukti dari terbongkarnya Sesil atas pengkhianatan yang dilakukannya, juga Zara yang kini berbalik arah dengan mengambil sumpah setia kepada Ryan Dewangga.
"Kau memang hebat Ryan. Tapi aku tak akan menyerah dan berhenti begitu saja. Kau akan tahu senekat apa aku demi bisa menghancurkanmu dan mendapatkan wanitamu itu. Ha-ha-ha," Felix tertawa membahana. Jika saja ada yang mendengarnya, tentu dia akan bergidik ngeri mengingat tawanya yang begitu memekik telinga.
Waktu itu Felix sama sekali tak memikirkan Sesil. Baginya, Sesil tak berarti apa-apa, karena pada dasarnya Felix mendekati gadis itu hanya untuk melancarkan aksi balas dendamnya pada Ryan Dewangga, juga demi memenuhi obsesinya.
"Kini kau tak berguna lagi untukku, gadis Bod*h. Kau terlalu lugu hingga mau menggadaikan tubuh dan kesetiaanmu begitu saja untuk pria bej*at seperti aku. Kau pikir setelah kau tak bisa lagi memberikan keuntungan untukku, aku masih mau bersamamu apalagi menolongmu? Ha-ha-ha. Jangan harap, Sesil. Justru aku bersyukur aku tak perlu lagi mengurus gadis tak berguna seperti dirimu. Akan kubiarkan kau mendekam di penjara bersama anak tak penting itu," Felix menyeringai dengan begitu menakutkannya.
Bahkan Felix tak takut jika kasus yang menimpa Sesil akan menyeretnya juga ke penjara, karena dia betul-betul yakin kalau Ryan pasti berpikir bahwa penjara adalah hukuman paling ringan untuknya.
"Kau belum melihat aku yang sesungguhnya, Ryan Dewangga. Setelah ini kita akan perang secara terbuka," tak ada ketakutan di wajah Felix ketika mengucapkan itu dalam monolognya. Bahkan, Felix benar-benar sudah tidak sabar menantikan saat-saat dimana dia akan mengeksekusi rencana selanjutnya.
Apa rencana Felix selanjutnya dan bagaimana nasib Sesil dan bayi yang sedang dikandungnya dalam penjara?
BERSAMBUNG
__ADS_1