
"Akhirnya satu masalah besar bisa terselesaikan," cicit Arya tiba-tiba.
Ryan dan Daniel yang waktu itu duduk di antara Arya pun kompak menganggukkan kepala, sambil menepuk bahu Arya tanda ikut berbahagia.
"Tinggal satu masalah lagi," Naja yang waktu itu duduk di sebelah Rani tiba-tiba ikut urun bicara.
"Apa?" Rani menatap Naja dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Indra dan Zara," timpal Naja, sambil menyandarkan punggungnya di tembok, dengan tatapan nanarnya.
"Percayalah kepada adikmu itu, Sayang. Ini adalah perjuangan laki-laki. Mereka pasti akan bisa melalui ini," Daniel beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri Naja serta berjongkok tepat di depan istrinya itu.
"Hmmm," semua yang ada di sana pun mengangguk tanda setuju, tak terkecuali Naja yang begitu mengkhawatirkan Indra, adik semata wayangnya.
***
Kediaman Keluarga Dewangga tampak lengang, begitu Lena dan Arya meninggalkan pesta diikuti Ryan, Rani, Daniel, Naja, Johan, Nina dan Rudi untuk melihat kondisi Safira.
Yang tersisa hanya Arsen dan Mommy Aghata yang langsung masuk ke kamar mereka, juga Mama Davina juga Bik Rum yang menemani Baby Raja di kamar utama.
Beberapa pengawal dan penjaga rumah pun langsung berjaga di pos masing-masing, hingga yang kini berada di ruang utama hanya Indra yang belum sepenuhnya pulih kondisinya, juga Zara yang memang diminta untuk tetap berjaga bersama Indra.
Tak seperti biasanya, malam ini Zara lebih banyak diam tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Pikirannya mengembara, kegelisahan terus menghiasi wajah ayunya. Bukan karena masih khawatir dengan kondisi Lena dan juga Safira. Toh kabar baik sudah langsung bisa mereka dapatkan begitu Safira tersadar dan reaksi Lena juga sangat menggembirakan.
Justru kali ini Zara sedang memikirkan nasibnya juga nasib cintanya yang entah akan mereka bawa kemana. Setidaknya hal ini cukup menyita pikirannya, apalagi setelah Indra benar-benar jujur tentang penolakan ibunya, namun tetap meminta dirinya untuk berjuang bersama.
__ADS_1
"Huh," Zara mendesah kasar. Dia sungguh menjadi bimbang sendiri dengan apa yang akan dia putuskan untuk cintanya dan juga masa depan.
"Apa kau tidak percaya kepadaku?" Indra yang bisa menangkap kegelisahan kekasihnya tiba-tiba bersuara.
"Aku hanya tak sanggup jika harus tanpa dirimu," sahut Zara, sambil menatap Indra sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Aku akan berusaha untuk membujuk ibuku," cicit Indra.
"Aku tahu itu percuma," kini Zara memandang Indra dengan intens.
"Lalu apa kau akan menyerah? Bukankah kau sudah berjanji akan berjuang bersamaku? Bukankah kau sudah berjanji tak akan meninggalkanku dan berusaha mengambil hati ibuku? bukankah kau su ...,"
"Aku akan meninggalkan semuanya demi kamu," Zara memotong ucapan Indra begitu saja.
"Apa? Maksudmu?" tanya Indra tak mengerti.
"Zara, tapi ...," Indra masih tak mengerti.
"Aku sudah putuskan, Ndra. Tak ada cara lain jika aku ingin dirimu. Hanya ini satu-satunya jalan agar kita bisa bersama, dan ini adalah bagian dari perjuanganku untuk bisa tetap memilikimu,"
"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Sayang?" Indra bergerak mendekat dan memegang tangan Zara.
Tak ada keterpaksaan, Zara pun mengangguk mantap tanpa ada sedikitpun keraguan.
***
__ADS_1
Satu Bulan Kemudian
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah kondisi Indra benar-benar pulih, akhirnya hari pernikahan itu pun tiba. Indra dan Zara menikah, dan akan tinggal bersama Ibu Indra di kediaman milik Daniel.
Safira yang telah dinyatakan sembuh oleh dokter pun akhirnya kembali tinggal di kediaman milik mendiang suaminya, bersama Arya dan juga Lena.
Hengky dan Fisha, juga Meyshi dan Ega hidup bahagia dan menjalani hidup masing-masing, tanpa ada lagi beban masa lalu yang saling mengganggu.
Bagaimana dengan kediaman utama keluarga Dewangga? Tentu saja rumah besar bak istana itu semakin ramai saja. Mama Davina yang awalnya tinggal bersama Lena, kini ikut tinggal bersama Rani dan Ryan begitu Lena memutuskan untuk tinggal bersama Safira. Daniel dan Naja yang sedang menanti kelahiran buah hati mereka pun tak Ryan biarkan keluar dari kediaman Dewangga dengan dalih itu adalah wasiat almarhum ayahnya. Begitu juga dengan Mommy Aghata dan Arsen, juga Johan dan Nina, semua masih tinggal bersama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rumah utama keluarga Dewangga.
Menyadari kebahagiaan tak terkira yang kini ada di depan mata, Rani pun terus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
"Sehebat apapun Rani di luar sana, ternyata keluarga ini tetap tempat Rani kembali ya, By?" ucap Rani, pada suatu malam.
Ryan tak menjawab apapun. Senyumnya yang mengembang mendengar ucapan istrinya, juga tangannya yang dengan intens mengusap kepalanya, lebih dari cukup menggambarkan betapa dia membenarkan semua yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Rani tidak butuh apa-apa lagi, By. Rani tidak terosebsi lagi untuk menjadi orang nomor satu di kota ini. Rani sudah cukup dengan karier Rani di Dewan saat ini, dan mempunyai suami yang luar biasa seperti Hubby. Apalagi sekarang ada Baby Raja yang melengkapi kebahagiaan kita, juga keluarga besar kita yang saling menyayangi. Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan, By?" lanjut Rani sambil terbata.
"Hubby senang mendengar ini, Sayang. Terima kasih telah menjadi istri yang baik buat Hubby dan Mommy yang baik untuk Raja," kini Ryan merengkuh tubuh Rani, dengan bulir bening yang tak bisa dia tahan lagi.
Nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustai?
THE END
Terimakasih untuk seluruh pembaca yang sudah setia dengan cerita ini. Alhamdulillah, akhirnya author bisa menyelesaikan cerita ini dalam 400 episode. Jika masih ada yang penasaran dengan kisah masing-masing tokoh, mohon do'anya agar next time bisa membuat cerita mereka lagi.
__ADS_1
Tapi untuk saat ini, Author sudah siap menulis novel baru yang tak kalah menariknya dari novel ini loh. Nantikan dan mohon dukungannya ya.