
Ega terus melengkungkan bibirnya, mengingat pertempuran sengit di antara mereka berdua semalam. Mengingat itu, membuat hasrat kelaki-lakiannya kembali membara tanpa bisa dihentikan. Meysie sungguh menjadi candu yang memabukkan, setelah selama ini Ega menunggu sekian lama, sampai hampir membuatnya mati penasaran.
Lain dengan Ega yang sudah terjaga lagi setelah melakukan perhelatan yang panjang, hingga shubuh menjelang Meysie justru masih belum keluar juga dari dalam selimut yang menutupi tubuh polosnya. Bahkan alarm yang sengaja dia pasang, dengan sengaja pula dia matikan, demi kembali memejamkan mata karena tubuhnya yang terasa remuk redam.
Melihat kelakuan istrinya yang selalu tampak menggemaskan itu, Ega segera duduk di samping ranjang dan mengelus puncak kepala Meysie, kemudian mendekatkan mulutnya tepat di telinganya.
"Sudah hampir shubuh, Sayang. Kita mandi dulu yuk. Nanti kita terlambat sholatnya," ucap Ega dengan penuh cinta.
Meysie tidak juga bergeming, sehingga Ega berinisiatif untuk membangunkan paksa dengan membalikkan tubuhnya.
"Auww," Meysie berteriak kemudian merintih kesakitan.
"Kamu kenapa, Sayang?" Ega bertanya kebingungan.
Meysie tidak menjawab, dia hanya meringis dan terlihat menahan tangis. Matanya sudah basah, akibat rasa sakit yang berdenyut di bawah sana.
"Mana yang sakit? Coba Abang periksa," tanya Ega sambil menduga-duga. Ega membuka selimut yang menutupi tubuh polos istrinya, kemudian meneriksa sesuatu yang terletak di antara ke dua pangkal p*h* istrinya yang terasa sakit itu. Ega membelalak, melihat sesuatu milik istrinya yang sudah memerah dan sedikit membengkak.
"Ayo kita ke Rumah Sakit saja, Sayang, biar dokter bisa mengobati lukamu," ajak Ega, dengan kekhawatiran esktra.
"Ke Rumah Sakit? Nggak mau, Bang. Meysie malu. Yang ada ditertawakan malah sampai di sana," kilah Meysie, sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ke rumah sakit? Terus aku harus bilang apa coba, sama dokter yang meneriksaku di sana? Malulah. Ada-ada saja," gerutu Meysie dalam hati.
"Ya sudah, berendam pakai air hangat saja ya?" ucap Ega sambil bersiap mengangkat tubuh Meysie tanpa menunggu persetujuan. Meysie pun mengangguk pelan dan segera melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
__ADS_1
Saat Ega mengangkat tubuh Meysie, tiba-tiba mata Ega membelalak melihat sprey yang penuh dengan bercak darah. Namun Ega cukup bahagia menyadari apa arti dari itu semua, kemudian membawa Meysie ke kamar mandi dan mendudukkannya di atas kloset sambil menunggu air dalam bathtub itu penuh dengan air hangat dari kran yang sengaja dia nyalakan.
Setelah mereka mandi air hangat, mereka segera berganti pakaian dan menunaikan sholat shubuh berjama'ah.
Begitu mereka selesai menjalankan ibadah wajib mereka, Ega membalikkan tubuhnya, mengelus kepala istrinya dan menggenggam erat tangannya.
"Terima kasih telah bersedia menjadi istri Abang seutuhnya, Sayang," tutur Ega penuh dengan kelembutan.
"Terima kasih telah sabar menunggu," sahut Meysie lirih. Seulas senyum dia suguhkan dengan begitu manis, membuat Ega yang kini sedang menatap lekat wajahnya semakin tak bisa menahan hasrat seorang suami kepada istrinya.
"Jangan senang dulu. Kau harus dihukum karena telah membuatku menunggu sepanjang waktu," kini Ega menyeringai nakal.
"Kenapa Abang suka sekali memberi hukuman sih?" Meysie bersungut kesal.
"Kau harus membayarnya dengan sangat mahal, Sayang," Ega beranjak dan langsung mengangkat tubuh Meysie dan menggendongnya ala bridal style hingga sampai ke tempat tidur mereka.
Begitu Ega merapikan mukena istrinya dan meletakkannya di atas nakas samping tempat tidurnya, Ega kembali mendekati Meysie dan mendekatkan mulutnya ke dekat telinga istrinya.
"Abang mau mengulang yang semalam. Boleh ya? Itu adalah hukumanmu, karena kau telah membuat Abang menunggu dan menahannya sepanjang waktu," bisik Ega di telinga istrinya.
"Badan Meysie remuk redam, Bang. Semalam kan Abang sudah melakukannya berkali-kali. Apa Abang masih belum puas juga?" Meysie protes, mengingat semalam Ega melakukannya lagi dan lagi hingga tak terhitung mereka bermain berapa kali.
"Satu ronde saja untuk pagi ini, Sayang. Abang benar-benar tak bisa menahannya lagi," rengek Ega seperti seorang balita yang merajuk minta susu kepada ibunya.
"Huh, mana mungkin. Pasti Abang akan melakukannya lagi dan lagi seperti semalam," sergah Meysie sambil mengerucutkan bibirnya, mengingat apa yang dilakukan oleh Ega kepadanya semalaman. Ega benar-benar tak ada puasnya, bahkan sampai Meysie sudah kehabisan tenaga, Ega masih saja ingin terus mengulangnya.
__ADS_1
"He-he-he. Maaf, Sayang. Habis kamu sudah seperti candu yang memabukkan sih. Abang jadi ingin lagi dan lagi, tidak bisa terkendali dan susah berhenti. Punyamu benar-benar bikin Abang ketagihan, Sayang," Ega sudah melancarkan aksinya, dengan menjamah beberapa area tanpa seizin yang punya.
"Bang, ahh ..., Meysie capek," Meysie menggeliat menerima serangan dadakan dari Ega yang terlihat tak mampu menahan hasratnya yang sudah menyala-nyala.
"Kamu cukup diam dan menikmatinya, Sayang. Biar Abang yang melakukannya dengan pelan," oceh Ega sambil melanjutkan aktifitas halalnya.
"Bang," panggil Meysie parau. Hasratnya ikut tersulut karena terbawa permainan Ega.
"Iya, Sayang. Lepaskan. Jangan ditahan," sahut Ega tak kalah parau. Hasratnya di pagi itu menjadi semakin menggila begitu Maha Karya Sang Pencipta kini terpampang nyata tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi setiap lekukannya.
"Bang," Meysie terus menceracau, menikmati setiap gerakan yang diciptakan suaminya dengan aksi yang betul-betul menghilangkan kewarasan mereka berdua.
"Sayang," ocehan Ega juga semakin tak bisa dikendalikan.
Kini, wajah mereka berdua merona semu malu-malu, meski akhirnya tersenyum simpul diantara temaram yang membuat hati mereka saling berpadu.
Mereka terus bercerita lewat denyut nadi, walau tak ada kata-kata. Hanya pandangan mata yang membuat mereka terus mengendap dan meraih bulan di ujung telaga, kemudian kembali berlari menerobos hutan, menerjang lautan, mendaki puncak hingga ke perbatasan, yang mengantar mereka pada syurga yang telah mereka rindukan.
Ternyata rasa cemburu itu mampu mengalahkan rasa lain dalam diri mereka. Tak lagi ada kegundahan di hati mereka tentang perasaan masing-masing. Tak ada juga kegalauan akan tertolak dengan rasa masing-masing.
Saat itu mereka hanya peduli dengan perasaan cinta mereka sendiri, meski tak tahu cintanya disambut dengan rasa yang sama atau rasa yang berbeda diantara keduanya.
Yang jelas, saat itu mereka bahagia. Semua pesona diantara mereka sudah tersingkap begitu saja. Tak ada lagi rasa malu, tak ada lagi rasa kelu, meski semua bukan hanya karena nafsu semu.
Ini adalah babak baru dari kisah cinta seorang Meysiela Ayudya dan Ega Rahardian. Sebuah awal yang indah, menoreh sejarah cinta pada kehidupan mereka di masa depan.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu terus mencintaiku sepanjang usiamu, Sayang. Dan akan kupastikan tidak ada lagi nama Ryan Dewangga yang membayangi kisah cinta di antara kita," gumam Ega dalam hatinya.
BERSAMBUNG