METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Wo Ai Ni


__ADS_3

"Satu pekan ini aku tak akan membiarkanmu keluar kamar, Sayang. Aku ingin malaikat kecil itu segera tumbuh di dalam perutmu," ucap Daniel, sambil mengecup perut Naja yang masih datar.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Daniel mengibaskan selimut yang menutupi tubuh polosnya, dan beranjak turun dari ranjang menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Hah? Kau bilang apa, Sayang?" seru Naja begitu Daniel telah berlalu dari hadapannya.


Ceklek.


Terdengar pintu di tutup, tetapi tidak dikunci.


Naja hanya mengerucutkan bibirnya, mendapati suaminya yang meninggalkannya tanpa mau mengulang lagi perkataannya.


"Tadi dia bilang apa? Tidak akan membiarkanku keluar kamar selama seminggu? Ohh, No," Naja membulatkan matanya.


Sambil memikirkan perkataan suaminya, semilir angin dari lubang AC yang membuat udara di kamar mereka terasa dingin itu pun, membuat Naja kembali merapatkan selimutnya, menutupi tubuh polos yang untuk kesekian kalinya, hari itu sudah dinikmati suaminya sampai tak terhitung jumlahnya.


"Bahkan hari ini dia menggila, lebih parah dari saat pertama kali dia melakukannya," gerutu Naja, sambil merasakan seluruh tubuhnya remuk redam akibat atraksi suaminya yang tak juga ada puasnya.


Naja kembali mencerna setiap perkataan yang diucapkan suaminya sebelum beranjak meninggalkannya.


"Apa benar itu yang dia bilang tadi? Serius?" Naja mengingat-ingat kembali apa yang diucapkan Daniel kepadanya. Maklum saja, saat Daniel mengatakannya, rasa lelah dan kantuk masih berkuasa sepenuhnya dalam diri Naja. Bahkan ketika Naja akhirnya membuka mata, dia mendapati suaminya sudah terbangun dan duduk di sampingnya. Mata tajamnya menatap Naja dengan intens, tak bergeming sama sekali. Tatapan itulah yang membuat Naja terbangun, merasa seekor harimau sedang akan menerkam dan melahapnya dengan begitu buasnya.


Tapi mengingat sorot mata Daniel yang terlihat selalu menginginkannya, tiba-tiba Naja tersenyum penuh makna. Dia benar-benar menikmati tatapan itu. Sorot mata Daniel yang tajam dibingkai sepasang alis hitam pekat, membuat Naja tak rela berpaling walau hanya sesaat. Apalagi jika semakin diperhatikan, mata Daniel yang bewarna hitam kebiruan dengan lebatnya bulu mata yang lentik, membuat wanita manapun akan tersihir dan tergelitik.


"Ahh," Naja mengambil Nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi perlahan.


Dia pun masih terpaku, duduk di pembaringan dengan selimut yang masih dia pertahankan.


"Benarkah dia akan menahanku selama sepekan?" Naja bergidik ngeri.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka. Daniel berdiri mematung di depan pintu, menatap Naja seolah ingin memuaskan diri dengan apa yang telah dia lewatkan beberapa bulan terakhir ini. Rambutnya masih basah, meski begitu dia terlihat lebih segar setelah membersihkan diri.


Naja beranjak sambil melilitkan selimut yang dia kenakan di atas dadanya. Hal itu dia lakukan untuk menutupi tubuh polosnya, mengingat pakaian yang dia kenakan semula sudah berserakan di mana-mana.


Setelah tubuhnya tertutup selimut dengan sempurna, Naja berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut suaminya. Tapi sebelum dia melakukannya, Daniel mendekati Naja kembali dan memeluknya. Denyut jantung mereka yang menderu pun kian cepat melaju mewarnai drama kerinduan mereka saat itu. Ya, setelah melewati ujian yang bagi mereka terasa sangat berat sebelumnya, membuat moment seperti itu menjadi sangat spesial untuk mereka.


"Biar kukeringkan rambutmu dulu, Sayang," ucap Naja kik-kuk. Dia sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba dia menjadi begitu tegang seperti ini.


"Kenapa kau jadi tegang seperti saat pertama aku menyentuhmu dulu? Bahkan kau sama persis seperti dulu, mengira bahwa senjata tajamku yang akan kuarahkan kepadamu," Daniel terkekeh sambil mengusap kepala Naja, hingga rambut lurusnya berantakan dibuatnya.


"Karna waktu itu dipikiranku hanya satu. Kau akan menghukumku dengan mengakhiri hidupku. Ternyata kau malah ...," Naja tak melanjutkan kalimatnya. Kini justru wajahnya yang berubah menjadi merah merona.


"Ternyata senjataku yang lain yang membobol pertahananmu?" ucap Daniel setengah berbisik, membuat sensasi luar biasa menjalar di seluruh tubuh Naja.


"Hmmm," Naja mengangguk malu, sambil membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. Daniel pun tersenyum bahagia mendapati istrinya yang bermanja kepadanya, sambil mengeratkan pelukan dan mendaratkan puluhan kecupan di ujung kepalanya.


Sesaat, keheningan menyapa. Hanya deru nafas dan degupan jantung saja yang tertangkap sayup-sayup oleh indra pendengaran mereka.


“Wo ai ni," ucap Naja secara tiba-tiba.


"Wo ai ni," Naja mengulangi kalimatnya.


"Wo apa tadi? Wo ai ni? Apa itu, Sayang? Aku tak mengerti," tanya Daniel penasaran.


"Mau tau aja atau mau tau banget?" Naja mengendurkan pelukannya dan mengerling nakal.


"Mau tau banget," sahut Daniel memelas.


"Kasih tahu nggak ya?" goda Naja sambil berlari ke arah kamar mandi.


Klik.

__ADS_1


Sedetik kemudian, pintu kamar mandi pun di kunci, sesaat setelah bunyi pintu tertutup terdengar jelas di telinga Daniel.


"Wo ai ni? Dia bicara apa sih? Bikin penasaran saja?" Daniel terlihat berpikir keras. Kata itu tidak pernah dia dengar sebelumnya, selama dia tinggal di Indonesia sekian lama.


Daniel segera meraih ponsel miliknya di atas nakas, kemudian menekan icon warna hijau begitu nama Johan muncul di layar benda pipih canggih miliknya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" suara datar Johan tiba-tiba terdengar dari ujung telepon.


"Apa kau pernah dengar kata wo ai ni, Jo?" tanya Daniel dengan polosnya.


"Iya, Tuan. Itu adalah kata yang berasal dari bahasa Mandarin, yang berarti aku mencintaimu," sahut Johan, kali ini dengan nada sedikit berbeda dengan suara datar yang pertama terdengar di telinga Daniel.


Di balik telepon, wajah Daniel sudah merah merona. Tak dia lanjutkan lagi panggilannya kepada Johan, demi menghalau rasa malunya kepada anak buahnya itu.


"Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa aku tidak search saja di internet. Kenapa harus bertanya pada Johan?" Daniel mengutuki dirinya sendiri.


Untuk memastikan, akhirnya dia kembali berselancar dengan benda pipih canggih itu dan menuliskan kata yang dia cari dengan cepat. Sedetik kemudian, raut bahagia terpancar dari wajahnya. Ternyata benar yang dikatakan Johan, bahwa kata itu yang diucapkan oleh istrinya. Ya, untuk pertama kali, Naja mengucapkan itu sebelum Daniel memulainya terlebih dulu.


Setelah menutup dan meletakkan ponselnya kembali, Daniel mendudukkan diri di sebuah sofa panjang, tak sabar menunggu Naja datang. Beberapa menit kemudian, suara gemericik air pun tak lagi terdengar, hingga akhirnya gadis yang ditunggu-tinggunya keluar.


Menyadari wanitanya semakin mendekat, Daniel pun langsung menarik tangan Naja dengan sigap. Tak terelakkan, Naja pun terjatuh tepat dipangkuannya, dan segera dia peluk dengan erat.


“Wo ye ai ni," bisik Daniel tepat di indra pendengaran istrinya.


"Apa?" Naja mengerutkan dahinya.


"Kau pikir aku tak tahu kalau kau bilang mencintaiku?" balas Daniel sambil terkekeh.


"Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat-sangat mencintaimu” ucap Daniel, yang sukses membuat wajah Naja memerah seketika. Sejauh ini, Naja memang belum pernah mengucapkannya terlebih dahulu.


"Wo ai ni," Naja mengulangi ucapannya, sambil melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.

__ADS_1


"Wo ye ai ni," sahut Daniel sambil mengecup kening istrinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2