
Johan terlihat lebih kekar saat dia bertelanjang dada. Dengan mengenakan selembar handuk yang melilit tubuhnya dari bagian pinggang hingga sebatas lutut, membuat perutnya yang Six-pack terlihat begitu sempurna. Apalagi rambutnya yang masih setengah basah saat dia keluar dari kamar mandi, membuat wajahnya yang terlihat lebih segar menampakkan ketampanan yang tiada duanya.
Nina yang tengah duduk di tepi ranjang pun menatap pria tampan yang kini telah menjadi suaminya itu dengan tatapan takjub.
"Awas, Sayang. Air liurmu sampai keluar begitu loh. Sebegitu terkesimanya dengan suami tampanmu ini kah?" goda Johan melihat istrinya sampai tak berkedip memandangnya.
"Ihh, mana ada?" Naja meletakkan novel yang sedang dibacanya dan menghampiri suaminya. Dia mengambil handuk kecil yang terlampir di leher Johan, kemudian dengan posisi menjinjit mengeringkan rambut suaminya. Sebenarnya cukup sulit hingga Nina bisa meraih kepala Johan. Mengingat tinggi badan mereka yang terpaut sekitar dua puluh lima centi meter. Johan mempunyai tinggi 185 centi meter, sementara tinggi Nina hanya 160 centi meter saja. Tapi karena dengan menjinjit Nina bisa menggapainya, semua itu dia lakukan dengan suka cita.
Johan membiarkan Nina melakukan apapun keinginannya. Sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, Johan dengan begitu sabarnya menunggu hingga Nina selesai mengeringkan rambutnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Nina, menyadari tatapan suaminya yang tak beralih dari wajahnya. Bahkan kini tubuh mereka menempel, tanpa ada jarak sedikitpun di antara mereka.
"Kenapa setelah berbulan-bulan menikah, aku baru sadar kalau ternyata menikah itu seindah ini?" yang ditanya balik bertanya.
"Kau mau tau kenapa? Karna selama ini kau sama sekali tak menikmati pernikahanmu. Kau hanya menganggap pernikahan sebagai ikatan formalitas, yang tidak lebih penting dari semua pekerjaanmu itu," cicit Nina sambil terus menggosok kepala suaminya.
"Ayolah, Sayang. Jangan bahas itu lagi," Johan memasang muka memelasnya.
"Aku rasa aku harus sering mengingatkanmu agar kau tak lagi mengabaikan aku dan menggilai semua pekerjaanmu itu," ketus Nina.
"Jadi kau tak percaya kalau aku sudah berubah?" tanya Johan sambil mengeratkan pelukannya, hingga tubuh Nina maju ke depan dan semakin menempel dengan tubuhnya.
"Bukan tidak percaya. Tapi istri mana yang tak akan cerewet menghadapi tingkah polah suaminya yang selalu menomorduakan istrinya setelah pekerjaan dan tuannya?" sahut Nina tanpa melihat ke arah suaminya.
"Huh, sama saja kau belum percaya," rajuk Johan.
"Oke. Sudah selesai. Tunggulah sebentar biar kuambilkan pakaian ganti untukmu," seru Nina, sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya, tapi percuma. Johan justru semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Nina tak bisa lepas darinya.
"Sayang, lepas," rengek Nina manja.
__ADS_1
"Terima kasih, kesayanganku. Kau memang yang terbaik," setelah membisikkan kata itu, Johan merenggangkan pelukannya hingga Nina bisa melepaskan diri.
Tak lama setelah itu, Johan duduk di tepi ranjang, sambil memperhatikan istrinya yang sedang menggerakkan jari-jari tangannya di dalam lemari, memilih satu stel baju santai yang cocok untuk dikenakannya.
Namun sebelum Nina menghampiri Johan dengan pakaian yang harus dia kenakan, tiba-tiba ponsel Johan berbunyi.
Sesaat, Johan membulatkan mata melihat nama siapa yang tertera. Dia pun beberapa kali melirik Nina seolah ragu untuk mengangkat panggilan itu di depan istrinya.
"Siapa? Kakak sepupuku? Angkatlah," Nina yang bisa menangkap kegalauan suaminya itupun berinisiatif menebak dan mempersilahkannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap Johan begitu icon berwarna hijau dia tekan.
"Apa kau pernah dengar kata wo ai ni, Jo?" tanya Daniel dari ujung telepon. Mendengar pertanyaan tuannya, Johan pun mengernyitkan dahinya.
"Ini si boss kok jadi kelihatan bodoh gini ya? Tinggal search di internet saja kan bisa. Kenapa hal sekecil ini saja harus meneleponku?" gumam Johan dalam hati.
"Iya, Tuan. Itu adalah kata yang berasal dari bahasa Mandarin, yang berarti aku mencintaimu," sahut Johan, sambil tersenyum tertahan.
Johan hanya tersenyum geli, sambil meletakkan ponselnya kembali.
"Ada yang lucu?" tanya Nina sambil menyodorkan kaos oblong dan celana pendek kepada suaminya.
"Wo ai ni," jawab Johan sambil terkekeh.
Nina hanya mengernyitkan bibirnya mendapati jawaban aneh suaminya. Bahkan telapak tangannya dia tempelkan di kening suaminya, untuk mengecek apakah suaminya demam atau baik-baik saja.
"Kau ini kenapa, Sayang? Apa kau sakit? Aku tahu kalau kau mencintaiku, tapi tak perlu juga kau mengatakannya dengan tertawa seperti orang gila kayak itu," Nina bersungut kesal.
"Lihatlah, kau saja tahu arti kata-kata itu. Tak seperti kakak sepupumu," sahut Johan masih dengan gelak tawanya.
__ADS_1
"Jadi dia meneleponmu hanya untuk menanyakan itu?" Nina memastikan.
"Hmm," Johan mengangguk, tanpa bisa menghentikan tawanya.
"Dasar Bucin. Dia sampai kehabisan ide karena sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya," celoteh Nina sambil geleng-geleng kepala.
"Jatuh cinta untuk kesekian kalinya?" Johan sampai menghentikan tertawanya mendengar ucapan Nina.
"Lihatlah, kau juga jadi tak bisa berpikir jernih, sama persis seperti tuanmu itu," kini Nina terkekeh, melihat ekspresi suaminya yang menjadi bingung dengan ucapannya.
"Kenapa jatuh cinta untuk kesekian kalinya?" Johan masih saja mengerutkan dahinya. Dia justru berprasangka bahwa istrinya sedang berkata bahwa tuannya itu sedang jatuh cinta dengan orang ketiga.
"Memangnya ada yang salah?" Nina mengangkat bahunya.
"Jelas salahlah. Bukankah kau pernah bilang bahwa aku hanya boleh mencintaimu saja? Jadi aku hanya boleh jatuh cinta sekali saja, hanya kepadamu. Memangnya kau mengizinkan aku untuk jatuh cinta lagi apa?" Johan memperjelas pertanyaannya.
"Tentu saja," sahut Nina cuek.
"Hah?" Johan membulatkan mata dan mulutnya, seolah tak percaya dengan yang diucapkan Nina kepadanya.
"Aku mengizinkanmu jatuh cinta berkali-kali bahkan. Tapi ingat, jatuh cintalah berkali-kali dengan orang yang sama, agar cintamu semakin kuat setiap harinya. Jadi, jatuh cintalah berkali-kali kepadaku, agar cinta itu semakin tumbuh di dalam hatimu. Jangan jatuh cinta kepadaku sekali saja, karna aku takut itu tak akan bertahan lama," Nina menyunggingkan senyum termanisnya.
"Ya ampun, Sayang. Aku kira ...," Johan tak melanjutkan ucapannya.
"Kamu kira apa?" Nina mengerucutkan bibirnya. Pikir Nina, pasti Johan mengira bahwa Nina mengizinkan wanita lain untuk masuk dalam kehidupan mereka.
"Enggak, nggak papa. Lupakan dan hempaskan!" Johan melihat gelagat tak enak dari tatapan tajam Nina.
"Pasti kau kira aku mengizinkanmu untuk mencintai wan ...," sebelum Nina menyelesaikan ucapannya, Johan sudah meletakkan ibu jarinya di bibir istrinya.
__ADS_1
"Ssstttt. Tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa membuatku jatuh cinta. Aku akan selalu jatuh cinta kepadamu berkali-kali sepanjang usiaku. Dan aku akan selalu mengatakan bahwa aku mencintai kamu, hingga mulut ini tak mampu mengatakannya lagi di penghujung waktu," tutur Johan, yang sukses membuat mata Nina berkaca-kaca dan menghambur ke dalam pelukannya.
BERSAMBUNG