METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hair Dryer


__ADS_3

"Apa dia sudah berada di kantornya? Huh, ya, ya, ya, sebaiknya aku menelpon ke kantornya untuk memastikan apakah dia sudah berada di sana," Felix bermonolog, sambil berselancar mencari nomor Dewangga Group menggunakan benda pipih canggih miliknya.


Setelah dia mendapatkan nomor yang dia cari, dengan tak sabar Felix langsung menekan icon berwarna hijau dan segera menempelkan benda itu ke telinganya.


Tak banyak yang dia tanyakan pada seseorang yang menerima panggilannya di ujung telepon, tapi Felix terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan ekspresi sangat lega.


"Kukira kau ketahuan boss sialanmu itu. Ternyata masih aman," batin Felix.


Untung saja Ryan sudah memprediksi bahwa Felix pasti akan menghubungi Sesil melalui telepon kantor, sehingga resepsionis Dewangga Group yang menerima telepon Felix sudah diberitahu terlebih dahulu.


Dan benar saja. Saat Felix betul-betul menelepon Sesil melalui telepon kantornya, Resepsionis itu langsung mengatakan bahwa Sesil sedang mendampingi Arya rapat penting dan tidak bisa diganggu.


***


Setelah semua meninggalkan apartemen, tinggallah Zara dan Indra yang masih menunggui Sesil bangun dari pingsannya. Ya, sampai saat ini Sesil masih belum sadarkan diri di atas kursi, dengan posisi tangan dan kaki yang masih diikat kuat dengan tali. Zara dan Indra yang memutuskan untuk menunggu sampai Sesil sadar pun kini duduk di atas sofa panjang dengan berdampingan.


"Lama banget sih dia bangun. Bagaimana kalau saya pulang dulu sebentar? Tubuh saya sudah lengket semua, Tuan. Saya belum sempat mandi dari semalam," Zara mengeluh, sambil mencium ketiak kanan dan kirinya, memeriksa apakah ada bau tak sedap yang keluar dari sana.


"Kau mau aku hanya berduaan dengan perempuan ini? No, Zara. Tidak boleh!" tolak Indra mentah-mentah.


"Anda takut?" Zara meledek. Ekspresi yang dia tunjukkan benar-benar terlihat kalau dia sedang meledek pria yang kini masih duduk di sampingnya itu.


"Jaga mulutmu, Zara! Menghadapi pembunuh berdarah dingin saja aku tak gentar seorang diri, apalagi menghadapi perempuan tengil macam ini," elak Indra, sambil menatap Zara dengan tatapan tajamnya.


"Kalau begitu biarkan saya mandi sebentar, Tuan. Atau Anda sengaja mau pingsan karena bau badan yang saya keluarkan?" Zara mulai melunakkan suaranya. Dengan sedikit memohon, dia berharap Indra akan sedikit iba.


"Sekali tidak, tetap tidak, Zara. Kau pikir hanya kau yang belum mandi? Aku juga belum mandi. Jadi adil. Sama rata, sama rasa," tolak Indra.


"Baiklah kalau Anda tak punya nyali menghadapinya sendiri," Zara seolah menyerah, kemudian merogoh sebuah ponsel di saku celananya sebelum akhirnya asyik bermain-main dengan benda pipih itu.


"Apa kau bilang? Aku hanya tak ingin ada fitnah, Zara. Kalau dia bilang aku ngapa-ngapain dia gimana? Nanti kamu percaya begitu saja lagi," sergah Indra lagi, kali ini sambil merebut ponsel yang dimainkan Zara. Rupanya Indra tak suka jika ada yang mengacuhkannya saat dia bicara. Gila hormat? Bukan. Hanya saja, dia lebih suka jika lawan bicara Indra memperhatikan saat mereka berbicara.


"Apa perempuan macam itu selera Anda, Tuan?" celoteh Zara sambil merebut kembali ponselnya dari tangan Indra.


"Zara!" Indra terlihat benar-benar tak suka dengan ucapan Zara. Tak main-main, kali ini Indra sungguh meneriaki Zara, dan menunjukkan wajah garangnya.


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya akan mandi di tempat Anda," Zara yang tidak siap dengan bentakan Indra pun nyalinya ciut seketika. Dia merasa tidak ada pilihan lain, sebelum patner kerjanya itu lebih murka dan akan berdampak buruk bagi Zara dan masa depannya.


"Terdengar lebih baik," sahut Indra datar.


"Tapi Anda harus mengambilkan pakaian ganti saya," dengan ragu, Zara mengucapkan kata itu.


"Apa?" Indra membulatkan matanya.


"Pilih mana? Saya pulang Anda berdua dengan dia, atau Anda yang ambilkan pakaian ganti saya dan perempuan ini bersama saya?" tawar Zara, membuat Indra hanya bisa mengusap kasar wajahnya.


"Baiklah-Baiklah. Biar aku ambilkan pakaianmu. Ingat ya, Zara. Kau harus membayar semua kekurangajaranmu ini," Indra beranjak dari duduknya, dan bergegas menuju sebuah tali di dalam balkon rumahnya, kemudian naik ke arah balkon apartemen Zara.


Zara hanya mengangkat kedua bahunya, seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan Indra kepadanya.


"Salah sendiri. Ha-ha-ha-ha," Zara tertawa dalam hati.


Begitu sampai di kamar Zara, Indra terlihat berjalan menuju lemari pakaian yang terdiri dari sekitar tujuh pintu itu. Dia mencoba membukanya, dan mencari-cari apa yang kira-kira biasa dipakai Zara. Saat pintu lemari pertama dibuka, dia melihat puluhan celana panjang tertata rapi di sana, sehingga dia langsung mengambil satu lembar sebelum akhirnya meletakkannya di atas bahunya.


Begitu mendapatkan celana untuk Zara, Indra segera mencari baju Zara di pintu kedua, tapi nihil. Pada pintu kedua, dia masih melihat barang yang sama dengan pintu pertama. Hingga akhirnya, dibukalah pintu ketiga dan Indra memutuskan untuk mengambil sebuah T-shirt wanita dari sana.


"Cukup kan? Atau ada yang kurang?" gumam Indra lirih. Bahkan dia sampai mengerutkan dahinya, karena berpikir apakah ada barang yang Zara butuhkan selain celana panjang dan T-shirt yang dia pegang.


Hingga tiba-tiba dia membelalakkan mata, menyadari benda apa yang masih harus diambilnya untuk gadis yang diam-diam telah mengisi kekosongan hatinya tanpa pernah dia sadari itu.

__ADS_1


"Yang benar saja? Aku harus mengambilkan untuknya juga? Huuuuh," Indra mengacak kasar rambutnya.


Merasa tak ada pilihan lain, Indra pun mencoba mencari dua buah benda lagi yang dibutuhkan Zara. Dan ketika dia melihat begitu banyaknya pakaian dalam wanita di depannya, Indra sampai tidak tahu dia harus membelalakkan mata atau justru memejamkan matanya.


"Zara, Zara. Jangan salahkan aku kalau otakku travelling kemana-mana melihat kain-kain berenda punyamu ini," mau tak mau akhirnya Indra melebarkan matanya juga, lalu mengambil satu pasang pakaian dalam dengan warna senada.


Setelah dirasa lengkap, Indra pun menyambar sebuah tas punggung yang terletak di salah satu pintu lemari itu, kemudian memasukkan pakaian ganti Zara ke dalamnya.


Tak sampai dua menit, Indra sudah turun dan kembali ke hadapan Zara.


"Buruan mandi sana!" tanpa basa-basi, Indra menyodorkan tas punggung berisi pakaian ganti Zara kepada pemiliknya.


"Terima kasih, Tuan," Zara menerimanya dengan riang, kemudian langsung bergegas menuju kamar mandi Indra.


Satu menit berselang, terdengar teriakan Zara.


"Tuan!"


"Apalagi sih, Zara?" Indra menuju depan pintu kamar mandi dan menjawab panggilan Zara dengan cara berteriak juga.


"Anda tidak mengambilkan peralatan mandi saya?" tanya Zara dari dalam.


"Pakai saja yang ada!" sahut Indra kesal. Dia justru menuju dapur dan membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya menikmati kopi itu panas-panas di balkon kamarnya.


"Tuan!" panggil Zara lagi, tepat saat Indra menyruput kopi di cangkirnya.


Uhuk-uhuk-uhuk.


Indra sampai menyemburkan kopi dari mulutnya, dan terbatuk karena kaget dengan panggilan Zara yang terdengar memekik di telinganya.


"Tuan!" panggil Zara lagi, menyadari Indra tak juga menjawabnya.


"Apalagi yang kau mau, Zara? Kau ingin aku menemanimu di dalam situ?" Indra mengeraskan suaranya.


"Di sini tidak ada handuk, Tuan," dengan tak malu, Zara membuka sedikit pintu kamar mandi itu dan berbicara kepada Indra dengan cara sedikit membukanya dan hanya menyembulkan kepalanya, sementara tubuhnya dia sembunyikan di balik pintu.


Indra hanya mendengus kesal. Dia mengambil selembar handuk dari lemarinya dan sedikit mendorong pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


"Eits. Cukup, Tuan. Sampai di situ saja," suara Zara terdengar, tapi hanya tangannya saja yang terlihat dan mengambil handuk dari tangan Indra. Begitu handuk itu masuk, pintu pun kembali tertutup.


Klik.


Zara mengunci pintu lagi.


Tak sampai lima menit berselang, Zara pun keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkapnya. Hanya saja sebuah handuk masih melingkar di lehernya, dengan kedua tangannya yang sibuk menggosok-gosokkan handuk itu pada rambutnya yang masih basah terurai.


"Bisakah saya pinjam hair dryer Anda, Tuan?" Zara bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada rambut basahnya.


"Yang benar saja kau, Zara. Mana ada laki-laki punya peralatan seperti itu?" Indra yang sebenarnya sedang terkesima melihat Zara dengan rambutnya yang panjang terurai itu pun berusaha menutupi keterpesonaannya. Ya, selama ini Zara selalu mengikat asal rambutnya, hingga pemandangan itu sangat asing bagi Indra.


"Cantik, padahal tanpa make up," batin Indra.


"Bilang saja Anda tak punya, Tuan. Laki-laki di luar sana banyak yang memakai hair dryer untuk mengeringkan rambutnya juga," oceh Zara sambil mencari sisir di sekitar kaca.


"Dari mana kau tahu kalau laki-laki lain juga menggunakan hair dryer itu, Zara?" tanya Indra penuh selidik.


"Oh, No. Kenapa aku menanyakan itu kepadanya? Tapi aku benar-benar penasaran, jangan-jangan dia pernah mendapati benda itu di kamar laki-laki lain. Tapi siapa? Apakah laki-laki yang dicintai Zara itu? Aduh, kenapa juga aku jadi was-was begini. Huh," gumam Indra di dalam hati.


"Ya, saya menebak saja, Tuan," sahut Zara asal.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan, kau pernah melihatnya di kamar pria lain?" tanya Indra benar-benar tak tahan.


"Apa maksud Anda, Tuan. Lagi pula Anda tahu betul bagaimana seorang agen bekerja. Hal-hal seperti itu wajar bukan?" Zara justru menjawab dengan jawaban yang memancing lebih dalam rasa keingintahuan Indra.


"Jadi benar? Kau melihat laki-laki lain menggunakan benda itu di kamarnya?" kini ekspresi wajah Indra benar-benar nampak serius.


"Ihh, pria ini kenapa sih? Masak urusan hair dryer saja jadi masalah besar kayak gini?" gerutu Zara dalam hati.


"Kenapa kau diam, Zara? Ayo katakan! Apakah tebakanku benar?" kejar Indra.


"Tidak, Tuan. Saya hanya menebaknya saja," akhirnya Zara memilih jawaban yang aman agar Indra mengakhiri pertanyaannya yang sangat tidak penting menurut Zara.


Mendengar jawaban Zara, Indra pun terlihat bernafas lega.


"Duh, kenapa sih pria ini jadi posesif banget sama aku? Suka-suka aku, dong. Mau sama pria manapun kan itu urusan pribadi aku," batin Zara.


"Sama rata sama rasa, Tuan. Silahkan jika Anda ingin membersihkan diri, saya akan menjaga perempuan ini di sini," ucap Zara sambil mendudukkan dirinya di atas sofa, dan membiarkan rambutnya yang masih basah terurai begitu saja.


Indra pun langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan kedua perempuan itu berdua saja di dalam kamarnya tanpa menaruh rasa curiga. Meski kesetiaan Zara belum sepenuhnya teruji, namun Indra benar-benar merasa yakin bahwa Zara tak main-main dengan sumpah setianya.


Dan dugaan Indra ternyata tak salah. Begitu Indra selesai mandi, dan hendak membuka pintu kamar mandinya, sayup-sayup dia mendengar suara Zara.


"Rupanya Sesil sudah sadar dari pingsannya," batin Indra.


Dia mengurungkan niatnya untuk keluar, dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam.


"Rupanya kau sudah sadar, Nona?" suara Zara terdengar sinis. Dia menatap Sesil dengan tatapan tajamnya, tanpa beranjak dari sofa yang sedari tadi didudukinya.


"Bukankah sudah kubilang aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku pada tuanku, Nona? Kenapa kalian tak juga melepaskanku?" jawab Sesil lirih. Dia terlihat begitu tak berdaya, dengan kaki dan tangannya yang masih terikat, sementara kondisi tubuhnya memang berbeda sejak dia berbadan dua.


"Kau pikir semudah itu kami mempercayaimu?" ucap Zara terdengar sama sekali tak bersahabat.


"Kulihat mereka mempercayaimu dengan begitu mudahnya," Sesil tak mau kalah.


"Aku tahu mereka belum mempercayaiku sepenuhnya. Kau pikir, mereka tak punya banyak mata untuk mengawasi gerak langkahku dimanapun aku berada?" sahut Zara santai.


"Aku curiga, jangan-jangan kau hanya takut pada mereka, tapi masih bekerja untuk Felix Adinata?" kini gantian Sesil yang menatap tajam gadis yang sedang duduk dengan angkuhnya.


"Ha-ha-ha. Kelihatannya kau terlalu banyak membaca novel, Nona. Aku tak sehina itu. Bahkan jika perlu, hari ini juga akan kukatakan kepadanya kalau aku sudah mengambil sumpah setia pada Tuan Ryan Dewangga," Zara menjawab dengan santainya.


Ada perasaan lega di hati Indra mendengar percakapan dua perempuan yang pernah bekerja untuk Felix yang tak lain adalah musuh besar dari tuannya itu. Hingga tak ragu, Indra pun langsung keluar menemui dua perempuan yang tengah asyik mendebatkan soal kesetiaan dan pengkhianatan mereka pada orang yang sama.


"Dua perempuan dengan cerita kesetiaan dan pengkhianatan yang sama," Indra menepuk telapak tangannya dan berjalan ke arah Sesil dan Zara.


"Tidak. Aku berbeda dengannya," sanggah Zara dan menatap tak suka ke arah Indra.


"Apa bedanya?" pancing Indra.


"Aku berkhianat kepada tuanku karena aku ingin mempertahankan kesucianku dari kebuasanmu. Sedangkan dia? Perempuan ini menggadaikan kesetiaannya dan memilih berkhianat kepada tuannya, karena telah mengumbar kesuciannya dan menjadi budak akan nafsunya," Zara masih merasa jijik melihat ke arah Sesil, karena bayangan hal tak senonoh yang dia lakukan bersama Felix malam itu terus muncul di benaknya.


"Lalu, bagaimana dengan hair dryer itu? Dari mana kau tau jika laki-laki lain selain diriku menggunakannya untuk mengeringkan rambut mereka?" ceplos Indra.


"Apa? Masih membahas hair dryer? Nyambungnya dimana coba?" batin Zara sambil mengelus dada.


Sementara Sesil yang mendengarnya, tidak mengerti arah pembicaraan dua orang yang kini berada di hadapannya.


"Hair dryer?" Sesil mengerutkan dahinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2