
Bik Tum terlihat memasang muka muram begitu keluar dari kamar utama, tempat tidur Ryan dan istrinya. Tangan kanan Bik Tum terlihat masih memegang nampan berisi makanan, sementara tangan kirinya menutup pintu dari luar. Ketika pintu tertutup dengan sempurna, Bik Tum meletakkan tangan kirinya pada ujung nampan sebelah kiri, sementara tangan kanannya tetap stay di ujung nampan sebelah kanannya. Setelah menatap makanan itu dengan tatapan sedih, Bik Tum menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian pergi dengan hati yang kecewa.
"Kenapa, Bik? Apa Rani tak mau menyentuh makanannya lagi?" Ryan menghampiri Bik Tum dan melihat isi nampan yang Bik Tum bawa masih utuh.
"Iya, Den. Bik Tum sampai bingung, sebenarnya Non Rani itu lagi pengen makan apa. Bik Tum sampai mondar-mandir puluhan kali, tidak ada yang di sentuh Non Rani sama sekali. Giliran sesekali Non Rani doyan, setelah selesai makan dia mual dan seluruh isi perutnya keluar. Gimana ya, Den? Bibik takut Non Rani dan janin yang ada dalam kandungannya kurang gizi," oceh Bik Tum, dengan nada khawatir.
"Tidak ditanya gitu Bik, Raninya mau makan apa?" Ryan mengerutkan dahinya.
"Den Ryan itu gimana to? Kalau Bibik tanya ya Non Raninya bilang nggak mau makan apa-apa. Nggak lapar katanya, Den. Makanya Bik Tum yang inisiatif sendiri nyiapin makanan buat Non Rani. Tapi ya hasilnya begini, makanannya utuh, Den," ucap Bik Tum lagi.
"Huh, terus gimana, Bik?" Ryan malah bertanya.
"Bibik juga bingung, Den. Mbok Den Ryan itu tanya sama Non Rani, barangkali lagi ngidam makanan tertentu gitu," usul Bik Tum.
"Lah tadi kata Bik Tum makanan yang dia makan dimuntahkan lagi? Kalau dia makan makanan yang sedang dia pengen apa tidak seperti itu juga? Lebih baik saya telepon dokter saja deh, Bik. Biar Rani diinfus," Ryan merogoh ponsel yang ada dalam celananya.
"Memangnya aden mau nginfus Non Rani sampai tiga bulan gitu?" kini giliran Bik Tum yang mengerutkan dahinya, lalu menggelengkan kepala.
"Kenapa tiga bulan, Bik?" tanya Ryan tidak mengerti.
"Masa ngidam perempuan hamil itu biasanya tiga bulan, Den. Bisa juga lebih. Masa Non Raninya mau diinfus selama itu juga? Perempuan hamil yang lagi ngidam itu unik. Jika lagi pengen makan sesuatu, kadang dia tidak mau makan yang lain. Dan saat makan makanan tertentu muntah, bisa jadi jika yang dia makan adalah makanan yang sedang diidamkannya, akan menjadi lain ceritanya," jelas Bik Tum panjang lebar kali tinggi.
"Gitu ya? Biar aku tanya, Bik. Rani lagi ngidam apa?" Ryan bergegas masuk kamar meninggalkan Bik Tum yang masih geleng-geleng kepala melihat tingkah laku tuan mudanya.
__ADS_1
***
Rani sudah merapatkan selimutnya, saat Ryan masuk dan mendekatinya. Sejak hamil, gadisnya itu memang jadi suka tidur dan bermalas-malasan tidak seperti biasanya. Untung saja tata tertib Anggota Dewan hanya menyebutkan bahwa seorang Anggota Dewan akan mendapatkan peringatan jika tidak mengikuti sidang paripurna sebanyak tiga kali berturut-turut, atau jika tidak masuk selama tiga bulan berturut-turut. Jika tidak, mungkin Rani sudah mendapat surat cinta dari partainya untuk digantikan orang lain, walaupun tugas tidak tertulis tetap Rani jalankan melalui staff ahli dan sekretaris pribadinya.
"Kamu bobok ya, Sayang?" Ryan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Enggak, By. Rani cuma lemes aja," Rani membalikkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di paha suaminya dan memeluk perut pria yang telah menabur benih dalam rahimnya itu.
"Hmm, gimana nggak lemes kalau nggak ada makanan yang masuk sama sekali? Kalau kamu nggak kasihan sama dirimu sendiri, Hubby mohon, kasihanilah anak Hubby yang ada dalam perutmu ini," Ryan mengelus perut Rani yang masih terlihat rata itu.
"Rani nggak laper, By. Mual dan muntah juga pas dipaksa makan sama Bik Tum tadi," Rani mengerucutkan bibirnya yang kini mulai mengering karena sedikit sekali nutrisi yang masuk dalam tubuhnya.
"Emang anak Daddy ini lagi pengen makan apa sih? Mommymu lagi ngidam kan? Pasti anak Daddy lagi macam-macam ini maunya," ucap Ryan masih dengan posisi tangannya di atas perut istrinya.
Rani tidak menanggapi perkataan suaminya. Dia pikir percuma ngidam dan minta macam-macam, toh Ryan masih saja kekeh dengan aturan ketatnya soal standar kesehatan makanan.
"Buat apa Rani bilang sama Hubby," ketus Rani.
"Kok buat apa? Memang siapa yang mau nuruti ngidammu itu kalau bukan Hubby?" protes Ryan, tidak mengerti dengan arah pembicaraan istrinya.
"Ya buat apa Rani bilang sama Hubby? Toh semua makanan yang Rani inginkan dilarang-larang sama Hubby. Minta rendang jengkol nggak boleh. Mau makan cilok abang-abang di ujung jalan nggak boleh. Minta ini bilangnya nggak sehat. Minta itu bilangnya jorok. Terus Rani suruh percaya gitu sama Hubby kalau Hubby akan nurutin apa saja yang Rani minta?" Rani melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya. Kini pundaknya terlihat bergetar hebat. Ya, setelah mengucapkan itu dia menangis tersedu-sedu, bahkan sampai tangisannya terdengar pilu memenuhi seisi kamar itu.
Ryan diam mematung menyaksikan respon Rani yang menurutnya sangat berlebihan hanya untuk sekedar urusan makanan.
__ADS_1
"Sayang, bukan begitu. Dengarkan Hubby dulu. Kamu mau minta apapun boleh, asalkan kamu juga perhatikan kehalalan, kebersihan juga kesehatannya," ucap Ryan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya.
"Banyak sekali asalkannya, By? Dan Hubby masih berani bilang kalau apapun boleh? Masih juga mau bilang apapun yang Rani mau akan Hubby penuhi? Seperti itu masih bilang jika Rani ngidam suruh bilang sama Hubby? Hubby itu jahat tau nggak? Rani benci sama Hubby," Rani tergugu, air matanya tumpah. Bahkan tangan yang kini melingkar manis di pinggangnya Rani hempaskan begitu saja.
"Eh, kok gitu? Pas kamu minta rujak bebek kan Hubby buatin buat kamu. Hubby nggak dibagi lagi," Ryan mencoba tetap bersabar.
"Satu-satunya makanan yang Hubby turuti cuma rujak bebek itu, By. Kayak gitu Hubby masih mau bilang jadi suami siaga?" Rany mengusap mukanya dengan kasar.
"Sayang, Hubby ...," belum sempat Ryan menyelesaikan kalimatnya, Rani sudah menyela.
"Cukup, By. Cukup. Denger ya, Rani nggak akan minta apapun dari Hubby lagi. Kalau perlu Rani nggak usah makan aja sekalian. Hubby pelit sama Rani. Hubby jahat," Rani menutup mukanya dengan bantal, sebelum akhirnya bantal itu terlihat bergetar bersamaaan dengan tangisan yang terdengar pelan.
"Ya Allah, hanya karena rendang jengkol dan cilok, kau tega mengatai suamimu pelit dan jahat, Sayang? Bahkan tega-teganya kau bilang benci sama Hubby," batin Ryan dalam hati.
Akhirnya Ryan meninggalkan kamar itu begitu saja, tak peduli walau Rani masih tergugu dan sedang sangat membencinya.
BERSAMBUNG
Mau rekomendasi cerita seru lainnya? Yuk kepoin novel karya sahabat author karya Alicelin. Ceritanya dijamin bikin nagih deh. Nggak percaya? Buktikan saja!
Xiao Xi, seorang gadis yang sedang terjerat hutang dari peninggalan kedua orang tuanya, tidak menyangka dirinya akan mendapatkan tawaran oleh pemilik perusahaan tempat ia melamar pekerjaan. Bukan menjadi sekretaris sesuai lamarannya, melainkan tawaran untuk menjadi istri bos!
__ADS_1
Sementara itu si bos, cucu dari pemilik perusahaan, yang dijodohkan dengan Xiao Xi pun menentang perjodohan itu. Awal pertemuan mereka pun dimulai dengan kesalahpahaman.
Akankah Xiao Xi menerima tawaran itu? Yuk baca kelanjutannya!