METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Mengucap Janji Kembali


__ADS_3

Beberapa detik setelah meneguk air putih itu, Rani langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya tanpa sisa.


"Sayang!" dengan panik Ryan langsung berlari menyusul istrinya. Dia memang tau jika istrinya tidak suka air putih, namun tidak menyangka akan separah itu reaksinya.


"Sayang!" panggil Ryan lagi.


Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi kecuali suara Rani yang terus muntah, mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Karena tidak ada sahutan sama sekali, akhirnya Ryan memaksa masuk karena kebetulan pintu tidak dikunci. Begitu masuk, penyesalan yang luar biasa segera saja memenuhi hati Ryan. Dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa hanya karena meminum seteguk air putih, gadisnya itu telah memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa sisa, terbukti dengan adanya cairan kuning bening yang keluar terakhir, tanda tak ada lagi makanan yang bisa di muntahkannya.


"Sayang, kau tak apa-apa kan? Jangan membuat Mas takut!" Ryan mendekat kemudian memijat tengkuk Rani dengan lembut. Penyesalan mendalam kini hadir begitu saja dalam hatinya.


Rani menggeleng pelan. Namun matanya yang berair, juga mukanya yang memerah, membuat Ryan sangat tau betapa istrinya itu sungguh tidak baik-baik saja.


"Apa masih mual?" tanya Ryan.


Rani hanya mengangguk, sambil meraih tisu yang terletak di samping wastafel yang ada di dekatnya.


"Apa masih mau muntah?" telisik Ryan kembali. Kini dia memindahkan tangannya dari tengkuk Rani ke kepalanya, kemudian mengusapnya dengan penuh cinta.


Rani menggelengkan kepalanya. Seulas senyum yang terlihat sedikit dipaksakan pun mau tak mau tersungging di pipinya.


"Maaf," hanya satu kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Ryan.


"Tapi Rani nggak mau lagi, Mas. Rasanya benar-benar tidak enak," rajuk Rani dengan muka memelas. Bahkan air mata yang sedari tadi di tahannya, kini lolos juga dan mengalir begitu saja, membasahi pipi yang kini berubah menjadi pucat pasi itu.


"Iya, Sayang. Iya. Maafin Mas, ya! Maaf. Mas nggak tau kalau akan sampai separah ini," Ryan langsung memeluk Rani dan menggendongnya begitu saja menuju kamarnya.


"Kamu istirahat ya, biar Mas temani," tutur Ryan lembut, sesaat setelah membaringkan gadisnya di sisi ranjang.

__ADS_1


"Naja?" Rani menatap Ryan lekat, seolah ingin mengingatkan suaminya bahwa setelah makan malam, ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan kepada Naja.


"Besok pagi saja kita bicarakan. Sekarang kamu istirahat dulu," putus Ryan, sambil merapatkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh istrinya. Setelah itu, Ryan mengusap-usap kepala Rani sampai gadis cantik itu berselancar di dunia mimpi.


Sementara di luar, gelapnya malam menambah kesunyian yang tercipta. Naja yang memilih duduk di balkon kamar, melamun jauh, menerawang hingga batas cakrawala. Tirai demi tirai kegalauan dalam jiwanya pun terbuka, menutup berjuta bias cahaya harapan yang melantunkan irama sendu.


"Harus aku akhiri sampai disini," Naja berusaha membuang kegundahan yang terus bertalu dalam hatinya.


***


Adzan shubuh berkumandang, dua anak manusia itu telah terbangun dari keindahan alam mimpi sejak fajar masih malu-malu menunjukkan panoramanya. Setelah dua salam penutup dalam munajat cinta, mereka pun menengadahkan tangan memanjatkan untaian do'a.


Tok-tok-tok.


Sebuah ketukan dari luar pintu kamar mengakhiri lantunan ayat berirama. Ryan pun beranjak dan membuka pintu, sementara Rani merapikan mukena yang masih melekat pada tubuhnya.


"Naja?" Ryan mengerutkan dahinya. Baru kali ini Naja berani mengetuk pintu kamarnya, apalagi di pagi-pagi buta. Biasanya, hanya Bik Tum yang berani mengetuk dan masuk ke dalam kamar dua majikannya. Itupun jika ada hal yang sangat penting dan mendesak, atau saat Bik Tum membersihkan kamarnya.


Melihat hal tak biasa dia temui dalam diri Naja, Ryan pun berinisiatif menyuruhnya untuk masuk.


"Tutup pintunya," perintah Ryan kemudian duduk di sofa. Rani yang telah selesai membereskan peralatan sholatnya pun ikut duduk di samping suaminya.


"Duduklah, Naja!" pinta Rani sambil melirik sofa yang ada di sampingnya, sebagai isyarat meminta Naja untuk menempati tempat itu.


Melihat kedua majikannya telah duduk dan siap mendengarkan apa yang akan disampaikannya, di luar dugaan Naja justru langsung berlutut di lantai menghadap keduanya.


"Apa yang kau lakukan, Naja?" seru Rani, kaget. Sementara Ryan bersikap biasa saja. Hampir setiap agen mata-mata yang bekerja untuk perusahaannya, pasti akan bersikap seperti itu saat dia mengambil sumpah setia, atau ada kesalahan fatal yang sudah dilakukannya. Jadi, apa yang akan disampaikan Naja pasti tidak jauh-jauh dari kedua hal itu.


"Tolong ampuni saya, Tuan. Ampuni saya Nona," dengan hati bergemuruh Naja membuka mulutnya.

__ADS_1


"Hari ini, saya mengucap janji kembali kepada Anda berdua. Saya akan tetap setia kepada Tuan Prabu Dewangga beserta dengan anak dan keturunannya sampai akhir hayat saya. Namun jika ternyata nyawa saya akan berakhir hari ini, ijinkan saya memohon maaf atas ketidakpecusan saya selama mengabdi," cicit Naja, yang membuat Rani sangat sulit ditebak ekspresinya.


"Naja, kau...," Rani ingin menyela perkataan Naja, namun Ryan segera meraih tangannya, seolah mengisyaratkan agar istrinya itu tak berkata apapun, sampai Naja selesai bicara.


"Satu-satunya kesalahan saya adalah, saya mengucap dua janji setia. Oleh karena itu, ijinkan hari ini saya mempertanggungjawabkan pengkhianatan saya kepada Tuan Daniel, tanpa mengingkari janji setia saya kepada Anda, Tuan," lanjut Naja penuh harap.


"Baiklah, aku terima janji setiamu kembali dan akan kubiarkan kau menebus kesalahan yang telah kau lakukan kepada adikku. Apa ada lagi yang ingin kau katakan, Naja?" ucap Ryan dengan tatapan tajamnya. Dibalik jawaban yang terucap dari mulutnya, sesungguhnya di benak Ryan sudah penuh dengan rencana.


"Mas Ryan, tapi...," protes Rani.


Ryan pun kembali meremas tangan istrinya sebagai isyarat tak ada bantahan apapun pada apa yang kini ada di hadapannya.


"Katakan, Naja!" lanjut Ryan.


"Ada, Tuan. Apapun yang terjadi dengan saya, mohon Anda sudi berbelas kasihan kepada keluarga saya, Tuan. Tolong jamin keselamatan ibu dan adik saya, dan bebaskan mereka dari persembunyian mereka, Tuan," pinta Naja dengan binar mata yang meredup, menunjukkan kepasrahannya.


"Baiklah, Naja. Memang sudah saatnya kau mempertanggungjawabkan pengkhianatanmu kepada Daniel. Terkait keselamatan keluargamu, kau tidak usah khawatir. Arya akan mengurusnya," Ryan menanggapi dengan serius.


Setelah kalimat terakhirnya itu, Ryan segera meraih ponselnya dan segera menekan icon hijau untuk melakukan panggilan suara.


"Ke kamarku sekarang," kalimat itu yang keluar dari mulut Ryan, begitu orang di seberang sana mengangkat panggilannya.


Hanya dalam hitungan menit, Daniel pun segera datang memenuhi panggilan Ryan kepadanya. Setelah Ryan mempersilahkan masuk, tanpa Ragu Daniel langsung membuka pintu dan melangkahkan kakinya.


"Naja?" seru Daniel begitu melihat Naja sedang berlutut di depan kedua majikannya.


BERSAMBUNG


💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa bagi jempol, vote, rate 5 juga comment positifnya ya. Terima kasih.


__ADS_2