METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ingin Menjenguknya


__ADS_3

Selama Daniel berada di rumah sakit, Ryan tidak membiarkan istrinya beraktifitas sendiri. Beberapa hari ini, dengan kerelaan hati dia mengabaikan pekerjaan kantornya dan menjadi pengganti Naja untuk mengantar jemput istrinya.


Begitu juga dengan hari itu. Sebagai suami siaga, Ryan mengantar Rani ke kantornya, bahkan dia tak sungkan menjinjing tas istrinya dan memastikan bahwa istri kesayangannya itu sampai dengan selamat hingga ke dalam ruang kerjanya.


"By, sini. Biar Rani saja yang bawa tasnya. Masa Hubby sih yang bawain. Nggak enak dilihat orang. Hubby kan seorang pengusaha terbesar di Asia. Emang Hubby nggak gengsi apa?" celoteh Rani sambil mengikuti langkah Ryan yang kini sedang menggandeng tangannya dan menuntunnya menuju ruang kerja istrinya.


"Buat apa malu? Hubby hanya sedang menjalankan tugas Hubby sebagai seorang suami siaga. Hubby mau buktikan kepada mereka bahwa seorang pengusaha seperti Hubby ini, sangat beruntung mempunyai istri secantik dan secerdas kamu. Masak istri cantik begini rela Hubby biarkan membawa tasnya sendiri? Lagi hamil pula," sahut Ryan tanpa beban.


"Rani sih seneng-seneng aja. Tapi kalau temen-temen Rani ada yang lihat gimana, By? Apa Hubby tidak apa-apa?" Rani masih mengoceh sambil melihat ekspresi suaminya.


"Jika teman kamu itu perempuan, akan Hubby buat mereka iri kepadamu, karena mempunyai suami yang sangat mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Jangankan hanya membawa sebuah tas. Menggendongmu sampai ke ruang kerjamu saja, Hubby akan dengan senang hati melakukannya. Dan jika teman kamu laki-laki, akan Hubby buat agar mereka mengerti, seperti Hubbylah mereka harus memperlakukan istri mereka," Ryan mengerlingkan matanya.


"Ihh, mulai deh Hubby. Kalau ditanya nggak serius," Rani mengerucutkan bibirnya.


"Mana ada? Tunjukkan yang mana dari perkataan Hubby yang tidak serius! Hubby sangat serius loh. Apa Hubby pernah memperlakukanmu dengan kasar? Belum pernah kan? Bahkan Hubby selalu menunjukkan kelembutan Hubby pada istri cantiknya Hubby ini," Ryan menghentikan langkahnya kemudian memandang ke arah istrinya.


Rani yang ditatap, hanya tersenyum sambil memasang muka merahnya.


"Hubby, jangan lihat Rani kayak gitu," ucap Rani manja.


"Kamu itu lucu. Bahkan Hubby sudah sering melakukan lebih hanya sekedar menatapmu. Mau bukti? Ini buktinya," Ryan melepaskan genggamannya dan mengusap dengan lembut perut Rani yang kian membola.


"Iya kan, Sayang Daddy?" Ryan setengah membungkuk dan berucap lirih di dekat perut istrinya.


"Hubby apa-apaan sih, By. Malu tau dilihat orang," oceh Rani sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Kini mereka masih berada di area parkir kantor, yang letaknya memang cukup jauh dari ruang kerja Rani.

__ADS_1


"Ha-ha-ha-ha. Biar saja mereka semua iri melihat kemesraan kita," tawa Ryan yang renyah terdengar begitu lepas.


"Sungguh saya benar-benar iri, Tuan Ryan Dewangga," suara dari arah belakang mereka tiba-tiba membuat Ryan yang sedikit membungkuk ke arah perut Rani membenarkan posisinya, dan segera membalikkan badan ke arah sumber suara.


"Ketua," Rani menganggukkan kepalanya dengan muka yang sudah merah merona.


"Hallo, Pak Ketua. Bagaimana kabar Anda?" berbeda dengan Rani, Ryan bersikap biasa saja dan langsung menyalami Pak Ketua dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap menjinjing tas istrinya tanpa ada rasa gengsi ataupun malu sedikitpun.


"Alhamdulillah baik, Tuan Ryan. Tumben Anda sampai turun tangan sendiri mengawal istri Anda. Biasanya Nona Naja yang selalu mendampingi," ucapnya berbasa-basi.


"Oh, Naja ya. Dia sedang mendampingi suaminya, paska transplantasi kornea mata kemarin malam," sahut Ryan dengan sopan.


"Turut berbahagia, mendengar Tuan Daniel sudah mendapatkan pendonor," tutur Pak Ketua dengan ramah. Walaupun dalam hatinya, dia agak tidak percaya diri harus berhadapan langsung dengan seorang pengusaha ternama yang masuk dalam jajaran sepuluh pengusaha terbesar di Asia, yang terkenal dengan sikapnya yang selalu dingin pada semua orang, bertolak belakang dengan karakter istrinya yang selalu ceria dan ramah pada semua orang.


"Agaknya apa yang mereka katakan tentang Ryan Dewangga itu tidak benar. Buktinya, dia cukup Ramah dan kelihatan sangat menghargai orang lain," batin sang ketua dalam hati.


"Oya, Tuan Ryan. Kebetulan sekali saya bisa bertemu Anda di tempat ini. Sebenarnya sudah lama saya ingin menemui Anda, untuk membicarakan kelanjutan pembicaraan kami dengan almarhum papa Anda dulu, Tuan Prabu Dewangga," cicit Pak Ketua kemudian.


"Terkait?" Ryan sudah tidak mengingatnya, lebih tepatnya sengaja melupakannya.


"Terkait kesepakatan kita untuk bekerja sama dalam pemilihan wali kota yang akan dilaksanakan pada awal tahun depan," Pak Ketua mencoba mengingatkan.


"Oh ya, ya, terkait itu?" Ryan hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa menunjukkan keseriusannya. Sebenarnya dia sudah sangat nyaman dengan posisi dirinya dan juga istrinya untuk saat ini. Jika Rani harus naik menjadi orang nomor satu di kota itu, dia justru takut akan semakin membahayakan posisi istrinya.


"Bagaimana, Tuan Ryan?" kejar Pak Ketua menuntut jawaban.

__ADS_1


"Biar sekretaris saya yang mengatur semuanya, termasuk pertemuan khusus bersama dengan Anda dan teman-teman," putus Ryan, yang akhirnya disepakati oleh keduanya.


Setelah pertemuan yang tidak disengaja itu, Ryan mengantar Rani sampai ke ruangan dan menjemputnya lagi ketika hari sudah siang dan Rani sudah menyelesaikan semua urusan.


"Kamu mau Hubby antar pulang ke rumah, atau mau ikut Hubby ke kantor?" tawar Ryan begitu mereka sudah meninggalkan area parkir gedung Dewan.


"Ikut Hubby boleh? Rani bosan di rumah tanpa ada kegiatan," sahut Rani penuh harap.


"Tentu saja boleh, Sayang. Apalagi Arya sedang pergi bersama Lena, jadi tidak ada yang mengganggu kita," Ryan menoleh ke arah istrinya sambil mengerling nakal.


"Memangnya mau apa kita di sana, sampai Hubby tidak mau diganggu Mas Arya?" cibik Rani sambil membulatkan matanya.


"Hubby mau jenguk anak Hubby," Ryan terkekeh dengan tatapan mesumnya.


"Semalam kan Hubby sudah jengukin dia. Tadi pagi juga. Lagian masa mau kayak gituan di ruang Hubby sih?" protes Rani sambil mendaratkan sebuah pukulan ke lengan suaminya.


"Bukankah kita pernah melakukannya? Terasa beda bukan? Hubby ingin mengulanginya lagi, Sayang. Boleh ya?" Ryan menunjukkan tampang memelasnya.


"Di rumah saja ya, By. Kita pulang saja tidak usah ke kantor Hubby. Rani tidak nyaman melakukan di tempat seperti itu, By," rengek Rani, berharap suaminya akan berubah pikiran.


"Harusnya kamu tuh bersyukur punya suami kayak Hubby, yang selalu menginginkanmu dimanapun Hubby berada. Memangnya kamu tega, Hubby terus membayangkan bisa bermesraan denganmu lagi di ruang kerja Hubby?" Ryan terus menggoda.


"Ihh, Hubby kenapa jadi mesum begini sih By?" Rani bersungut kesal.


"Apa salahnya mesum dengan istri sendiri? Justru berpahala tau," Ryan tersenyum menang dan langsung menginjak pedal gas mobilnya hingga mobil itu melaju dengan kencang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2