
"Sudahlah, yang penting itu semua sudah berlalu, dan kini kita bisa bersatu, tanpa seorang pun yang bisa mengganggu," Zara menatap Indra dengan penuh cinta, begitu juga sebaliknya.
"Tapi ...," Indra menggantungkan kalimatnya. Kedalaman matanya sungguh menyiratkan bahwa dia tidak sedang baik-baik saja.
"Tapi apa, Ndra?" Zara mengerutkan dahinya, melihat keraguan itu kini tersirat jelas di mata Indra.
"Apakah dia main-main dengan hubungan ini? Jika tidak, kenapa dia terlihat begitu ragu?" gumam Zara dalam hati.
"Tapi ...," ulang Indra, seolah keraguan itu mencekat bibirnya untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Zara lagi, semakin tak sabar.
"Ada yang harus kuceritakan padamu, Zara. Setelah aku selesai bicara, aku serahkan semua kepadamu. Apakah kau akan berjuang untuk cinta kita, atau kau akan mundur dan kembali kepadanya," Indra menatap Zara dengan lekat. Sementara Zara yang ditatap, justru memandang Indra dengan tatapan herannya.
"Apapun yang ingin kau katakan, aku tak mau mendengarnya, Ndraa," ketus Zara.
"Jika kau tak mau mendengarku, lalu bagaimana kau bisa mengambil keputusan?" Indra tidak habis pikir dengan cara berpikir Zara. Dia adalah gadis yang sangat percaya dengan apa yang dia pikirkan sendiri, tanpa mau mempertimbangkan kondisi di luar dirinya.
"Karena keputusanku sudah bulat, Ndra. Aku sudah memilih kamu dan ingin hidup bersamamu seumur hidupku. Lalu apa lagi yang harus kudengar dan kupertimbangkan lagi?" sahut Zara, benar-benar tak berselera mendengarkan ucapan Indra. Zara sungguh tidak suka jika Indra menyinggung masalah pria yang pernah dia cintai, padahal dia sendiri sudah memutuskan untuk memilih Indra dan hidup bersamanya.
"Dengarkan aku dulu, Zara! Ada satu sisi dalam kehidupanku yang harus kau tahu, yang selama ini kau mungkin tak pernah membayangkannya," Indra membuka kalimatnya.
Deg. Muncul banyak pertanyaan yang berseliweran di benak Zara.
"Satu sisi dari kehidupannya yang harus aku tahu? Apakah ada wanita lain dalam hidupnya sebelum aku? Atau jangan-jangan ...," batin Zara.
"Kau harus tahu jika kau adalah wanita ketiga di dalam hidupku, Zara. Dan selamanya akan tetap seperti itu, tidak akan pernah ada yang berubah," Indra menghela nafas kasar. Kini dia mengedarkan pandangannya dan berhenti saat matanya tertuju pada langit-langit kamar.
"Tidak masalah. Toh meskipun aku adalah yang ke tiga, aku adalah satu-satunya masa depanmu. Semua orang punya masa lalu, Ndra. Kamu punya masa lalu dalam hidupmu, begitu juga dengan aku. Aku punya masa lalu dalam hidupku. Biarlah masa lalu itu menjadi bagian dari cerita hidup kita, entah itu pahit atau manis. Asalkan, jangan biarkan masa lalu itu menjadi bayang-bayang yang akan menghalangi kebahagiaan kita di masa depan," ucap Zara, sambil meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu melakukan apa yang dia katakan.
"Tapi aku ingin kalian bertiga tetap menjadi pijakanku dalam menyongsong masa depanku. Karena itulah aku memberimu pilihan. Jika kau ingin masa depan itu hanya menjadi milik kita berdua, maka aku akan merelakanmu sejak saat ini juga. Tapi jika kau bisa menerima dua wanita lain dalam hidupku, mari kita ukir bersama masa depan itu," Indra kembali menarik nafas panjang dan membuangnya kembali secara perlahan, sebelum akhirnya menatap Zara dengan sejuta tanya dan harap yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Kau?" Zara menatap Indra dengan tatapan penuh kecewa.
__ADS_1
"Zara," dari pandangannya, Indra terlihat tak main-main dengan ucapannya.
"Mana ada wanita yang bersedia hidup seperti itu, Ndra. Sekuat apapun aku, tetap saja aku tak sekuat itu untuk berbagi satu pria dengan beberapa wanita sekaligus seumur hidupku," Zara tak mau membalas tatapan Indra. Dia justru memalingkan mukanya, dan membuang tatapannya ke sembarang arah.
Merasa semakin panas dengan pikirannya sendiri, Zara pun beranjak dari duduknya dan bergegas menuju balkon president suite room itu untuk menyeka genangan air yang sudah begitu memaksa ingin menerobos pertahanannya.
"Kenapa harus mencintai jika hanya untuk menyakiti?" begitulah kira-kira yang ada di benak Zara.
Namun baru beberapa langkah Zara mengayunkan kakinya, suara Indra sukses membuat Zara berhenti dan mematung seketika.
"Dua wanita itu adalah ibu dan kakakku," ucap Indra setengah berseru.
"Apa?" Zara membalikkan tubuhnya.
"Kenapa kau tak bilang dari tadi, heh?" Zara membulatkan matanya. Sambil berdecak kesal, dia kembali mendekati Indra dan mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Ibu dan kakakku adalah hidupku, Zara. Dan aku ingin, wanita yang bersedia hidup bersamaku betul-betul tahu akan hal itu, juga menempatkan mereka sama seperti mereka bertahta indah di hatiku,"
"Kau tahu? Mereka adalah satu-satunya alasan aku untuk hidup. Perjalanan kami hingga bisa sampai ke titik ini tidaklah mudah, Zara. Selama bertahun-tahun kakakku bekerja menjadi seorang balerina demi mempertahankan hidup kami, juga untuk biaya sekolahku dan kuliahnya."
"Dia menggadaikan sumpah setianya kepada Daniel Cullen dan memilih mengambil sumpah setia kepada Tuan Prabu dengan satu permintaan, Tuan Prabu menjamin keselamatan dan menanggung hidupku dan ibuku. Bahkan untuk meyakinkan Tuan Prabu bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya, kakakku sampai melukai wajahnya sendiri, sampai Tuan Prabu akhirnya yakin dan membiarkannya hidup, begitu juga dengan aku dan ibuku. Sejak saat itulah kakakku operasi plastik dan menghapus identitasnya dulu, serta memastikan kecukupan materi dan keamanan hidupku dan ibu,"
"Dan sejak saat itu juga, sejak aku tahu betapa besar pengorbanan yang dilakukan kakakku untuk kami berdua, aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan menggantikannya. Akulah yang akan menggantikan perannya dan memastikan bahwa dua wanitaku hidup bahagia," Indra terlihat sangat serius dengan ucapannya. Sementara Zara, hanya mendengarkan cerita Indra dengan seksama, sambil mencoba mencerna apa yang pria itu ceritakan kepadanya.
"Dalam kamus hidupku tidak pernah tertuliskan nama perempuan lain selain Ibu dan kakakku. Tapi tiba-tiba saja kamu masuk dalam hidupku tanpa kuundang, Zara. Aku mencintaimu. Tapi di sisi lain aku tak ingin melibatkanmu dalam sumpahku. Aku takut kamu terbebani dengan semua itu," untuk pertama kalinya, Zara melihat sosok lain dalam diri Indra. Sosok yang lebih terlihat cuek dan dingin di mata semua orang, ternyata mempunyai sikap yang begitu penyayang.
"Aku akan membantumu untuk mewujudkan sumpahmu itu," ucap Zara, membuat binar di mata Indra menyala seketika.
"Tapi Aku sudah bersumpah akan menggantikan seluruh beban yang dia tanggung. Dan aku tak mau kau ikut terbebani dengan hal itu," ucap Indra dengan begitu tegasnya.
"Dan aku sangat siap untuk ikut menanggung beban itu, Ndra," cicit Zara, mencoba untuk meyakinkan pria tercinta yang kini masih terkulai lemah tak berdaya.
"Nikahi aku, dan kau akan melihat bahwa aku tak pernah main-main dengan ucapanku," lanjut Zara dengan semangat yang menggebu-gebu.
__ADS_1
"Tapi ibuku ...," Indra kembali menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa dengan ibumu?" Zara mengerutkan dahinya.
"Ibu menginginkan seorang menantu yang bisa menemani hari-harinya. Seorang menantu yang hanya sibuk di rumah, dengan segala urusanku dan cucu-cucunya. Dan kau ...," akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Indra. Ketakutannya jika ibunya akan menolak Zara, menjadi beban tersendiri untuknya.
"Dan aku, aku adalah seorang gadis yang selalu menjunjung tinggi jiwa bebasku untuk semakin terbang tinggi dan meraih semua obsesiku. Aku adalah gadis yang tidak bisa berdiam diri di rumah dan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga sejati, karena hidupku selalu berputar-putar dalam sebuah misi yang setiap tantangannya justru sangat kunikmati. Benar begitu, Tuan Indra?" kini Zara yang menatap Indra dengan tatapan tajamnya. Entah apa yang Zara pikirkan saat itu, yang jelas dia ingin ketegasan dari seorang pria yang kini tepat ada di hadapannya.
Indra hanya terdiam seribu bahasa. Lidahnya begitu kelu, tak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Zara yang begitu menohok hatinya. Ya, Zara adalah satu-satunya cinta yang bisa merobek-robek pertahanan hatinya, tapi bukanlah tipe gadis yang diinginkan sang ibunda.
"Dan Anda akan bilang jika Anda menyerah? Tak adakah sedikit saja keinginan di hati Anda untuk memperjuangkan saya di hadapan ibu Anda, Tuan Indra?" Zara kembali berbicara dengan bahasa formalnya.
Sungguh, dalam hati Zara, dia sama sekali tak menyalahkan keinginan ibunda Indra. Karna biar bagaimanapun, setiap ibu pasti memiliki kriteria dan keinginan khusus terhadap masa depan putra-putrinya. Yang membuat Zara tak suka adalah, seolah Indra menyerah begitu saja, dan hanya memberi dua pilihan kepada Zara tanpa berusaha meyakinkan ibunya dulu untuk bisa menerima Zara apa adanya.
"Zara, aku ...," belum sempat Indra menyelesaikan ucapannya, Zara sudah berdiri dan hendak pergi meninggalkan Indra di ranjang pesakitannya.
"Percuma saya di sini jika kehadiran saya tak berarti apa-apa untuk Anda, Tuan. Sebesar apapun keinginan saya untuk bisa meluluhkan ibu Anda, sama sekali tak akan berarti jika tak ada satu pun perjuangan yang Anda lakukan sebagai laki-laki. Bahkan Anda tak mau mencoba berbicara kepadanya terlebih dulu, dan langsung menyimpulkan bahwa kriteria gadis yang dia suka tidak ada pada saya, Tuan. Jadi sudah jelas semuanya. Anda memang sedang menyerah," Zara bergegas memberesi barang-barangnya.
"Zara, kau mau kemana?" Indra mulai kelimpungan di ranjang pesakitannya, melihat Zara akan meninggalkannya begitu saja.
Tak ada sahutan sedikitpun yang keluar dari mulut Zara. Dia terus saja memberesi barang-barangnya, tanpa lagi peduli dengan panggilan Indra dan tangan yang Indra ulurkan kepadanya.
"Zara!" panggil Indra sekali lagi penuh pinta.
Zara tak bergeming. Kekesalannya pada pria pengecut di depannya benar-benar sudah berada di tingkat dewa. Hingga tanpa pikir panjang, Zara pun menuju pintu keluar untuk meninggalkan Indra.
"Selamat tinggal, Tuan. Semoga Anda mendapatkan gadis manis sesuai yang Anda dan ibu Anda inginkan," ucap Zara, sambil menoleh ke arah Indra. Sedetik kemudian, hendel pintu pun Zara putar.
"Zara! Auuuuw," Indra berusaha beranjak dari tidurnya dan berniat menghalangi Zara, namun sayang sungguh sayang. Tiga bagian tubuh Indra yang baru dalam hitungan hari dioperasi, sama sekali belum bisa di ajak kompromi. Hingga karena Indra terlalu memaksa untuk duduk dan mengejar Zara, tubuh Indra pun jatuh tersungkur ke lantai, dengan perban yang masih terpampang nyata, juga botol infus yang jatuh mengikuti tubuhnya. Darah pun mengucur deras dari arah tangan Indra, akibat jarum infus yang terlepas dengan sendirinya.
Melihat hal menakutkan itu, Zara membulatkan matanya dan berlari ke arah Indra. Bahkan barang-barang yang dia bawa pun dia buang begitu saja, demi bisa menghambur ke tubuh pria yang sungguh sangat dia cinta.
"Indraaaa ..., hiks ..., hiks ..., hiks ...,"
__ADS_1
BERSAMBUNG