
Kring-kring....
Kring-kring....
Kring-kring....
Alarm Rani berbunyi tepat pada jam tiga pagi, namun tak seperti biasanya, hari ini Rani benar-benar tak mengindahkannya sama sekali. Melodi merdu yang sengaja dia pasang untuk membangunkannya setiap hari pun kini seolah berubah menjadi suara berisik yang begitu mengganggu. Akhirnya, dengan mata yang setengah terpejam, jemari tangan yang lentik itu meraih handphone miliknya dan membuka benda pipih yang menjadi sumber pengganggu di sepertiga malam itu.
Tiba-tiba mata Rani membelalak, melihat tulisan yang tertera pada handphone yang saat ini sedang berada di tangannya. Seketika itu juga, kantuknya benar-benar menghilang begitu saja. Ya, alarm yang berbunyi kali ini tidak sekedar alarm yang mengingatkannya untuk bangun menjelang pagi, tapi mengingatkannya tentang sebuah hari dimana satu tahun yang lalu Ryan dan Rani telah mengikat janji suci.
"Tak terasa, satu tahun berlalu begitu cepat," gumam Rani lirih.
Rani segera beranjak dan mengambil air wudhu, menyapukan dinginnya air ke seluruh pori-pori kulitnya, kemudian menggelar sajadah dan bermunajat mengharap belas kasih dengan segala keagungan Sang Maha Pencipta. Setelah salam ke dua, Rani menutup rapat-rapat netranya, menikmati detik demi detik keajaiban yang telah Allah berikan, agar rasa syukur di hatinya tetap terpahat indah memenuhi seluruh ruang dalam rongga-rongga jiwa yang ada.
Sejenak, Rani terdiam. Memaknai kata demi kata yang ingin dia ungkapkan. Kata sederhana, yang mampu melukiskan ungkapan rasa penuh makna. Tak lama, dia pun beranjak dan duduk di tepi ranjang, kemudian memandangi suaminya yang masih tertidur lelap di sampingnya.
“*Sungguh, hanya karena kehendak Allah-lah, satu tahun kita disatukan. Hari itu, Allah telah mentasbihkan kita dalam sebuah ikatan, dimana kau ikrarkan janji sakral nan agung, sebuah sunnah bersejarah yang membuat kita selalu bertahan sebesar apapun gelombang ujian yang datang bergulung-gulung,” batin Rani, sambil membelai mesra wajah Ryan yang masih merapatkan matanya.
“Hari itu, dengan penuh keikhlasan kuterima pinanganmu, dan mulai kupahat indah asa itu di dalam hatiku. Membuatmu sah sebagai qowwamku, yang akan menemani dan membimbingku sampai hembusan nafas terakhirku,” batinnya lagi, kali ini senyum tipis lolos begitu saja di wajahnya*.
__ADS_1
“*Sungguh, sepi yang sekian lama menggelayut mesra di langit hatiku, akhirnya runtuh saat satu tahun lalu kau hajatkan seluruh apa yang ada padamu kepada diriku. Meski masing-masing diri kita penuh dengan lubang kekurangan, namun harus terus kita tancapkan keyakinan bahwa ketakwaan yang membalut manja cinta kita, mampu membuat jalan cinta itu berbuah manis hingga kelak di surgaNya,”
“Aku sungguh berharap, cinta ini takkan pernah lenyap karena hilangnya sebab. Karena itu, ijinkanlah aku mencintaimu karena kecintaanku kepadaNya, meskipun takkan pernah ada satu kanvaspun yang mampu membingkai semua warna cinta yang membuatku menyandingkanmu dengan keagunganNya*,”
“*Satu tahun lalu, kau sebut namaku dalam lantunan ijab kabul itu. Sejak satu tahun lalu itu juga, kuabdikan diriku dengan seluruh ketundukan yang kumiliki setelah ketundukanku pada Illahi Rabbi. Hingga akhirnya, setiap detik dalam denyar nadi kita mampu menjadikan janji setia itu sebagai mitsaqon golidzo yang membuat langit ikut bergetar karenanya,”
“Satu tahun lalu, kau hadiahkan surat Ar Rahman sebelum ijab kabul itu. Sejak saat itulah aku tahu betapa Allah telah mengabulkan do'a dalam setiap sujudku. Dianugerahi teman hidup yang shalih, yang senantiasa memberi teladan bagaimana harus meniti kasih. Yang selalu menutup aib dan rahasiaku, juga mengusap kristal bening yang kadang lolos dari ujung mataku hingga senyum di bibirku selalu menjadi bagian dari prioritasmu*,”
“Karena itu, ijinkanlah aku menengadahkan kedua tanganku dan meminta kepadaNya. Ya Allah, dalam cinta berbalut do'a, ijinkan sekali lagi aku meminta. Buatlah agar kami bisa sehidup sesurga bersama. Aamiin,”
Tak terasa bulir bening dari ujung mata Rani tumpah. Satu tahun sudah mereka bersama, dengan rasa dan warna yang berbeda-beda.
“Mas Ryan sudah bangun sejak tadi?” Rani tersentak, mendapati suaminya yang meraih tangannya dengan tiba-tiba.
“Mas terbangun karena Mas merasa bahwa tanganmu itu sedang menggodaku. Mas tahu akhir-akhir ini Mas jarang memperhatikanmu. Tapi apakah kamu memang betul-betul sudah tidak tahan lagi hingga pagi-pagi begini sudah berniat memakanku?” goda Ryan sambil mendudukkan diri dan bersandar di kepala ranjang. Setelah beberapa hari larut dalam kesedihan, akhirnya senyum itu kembali dia suguhkan.
“Ihh, apaan sih. Ayo Mas, bangun dan ambil air wudhu. Sebentar lagi kita harus sholat shubuh,” Rani memalingkan mukanya yang sudah memerah dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Pagi itu pun mereka lewati seperti biasanya, tidak ada pembicaraan yang spesial apalagi menyangkut masalah hari jadi, yang Rani yakin telah Ryan lupakan.
__ADS_1
***
“Ahh, bahkan pagi ini sudah terlewat begitu saja, dan Mas Ryan memang sama sekali tak ada tanda-tanda mengingatnya,” gumam Rani lirih, sesaat setelah mengantar Ryan sampai depan pintu rumah mereka. Hari ini adalah hari pertama Ryan masuk kerja, setelah sekian bulan perusahaan itu menjadi tempat penuh drama.
“Aduh, aku kenapa sih masih berharap Mas Ryan akan mengingatnya?” Rani menepuk jidatnya sendiri, berusaha mengalihkan pikirannya. Maskipun dalam hati kecilnya, dia sungguh berharap ada bahasa cinta yang keluar dari bibir suaminya di hari jadi mereka.
Pagi pun mulai menjatuhkan embunnya dari dedaunan, menandakan mentari telah datang dan hari akan segera berganti menjadi siang. Tapi entah kenapa, kelesuan benar-benar menyelimuti hati gadis berhijab itu. Sepanjang pagi, Rani hanya terus berselancar pada benda pipih canggih miliknya, entah untuk urusan dunia nyata atau dunia maya.
“Sampai siang ini Mas Ryan tak juga mengirim pesan kepadaku. Aku tidak berharap ada puisi yang romantis. Makan malam penuh kesan, atau hadiah yang penuh kemewahan. Yang kuinginkan hanya satu, kau mengingatnya dan mengatakan satu kata cinta kepadaku,” lirih Rani, dengan ekspresi penuh harap.
"Ahh sudahlah," Rani memilih untuk pasrah, "Mungkin Mas Ryan memang benar-benar lupa." Rani mencoba menenangkan diri.
Kini, Rani sudah terlihat uring-uringan. Meskipun sebenarnya, tanggal pernikahan bukanlah sesuatu yang penting untuk dirayakan, karena ia hanyalah bagian dari waktu yang akan ikut berlalu pergi dan meninggalkan. Namun entah mengapa, kali ini sisi-sisi sensitif lebih dominan menguasai diri Rani.
BERSAMBUNG
❤❤❤
**Episode kali ini, sengaja author jadiin episode hari jadi Rani dan Ryan karena kebetulan hari ini adalah hari anniversary author dengan sang pujaan hati. hehehe...
__ADS_1
Karena itu, kado terindah buat author jika readers berkenan memberikan like, vote, rate 5 dan comment positif buat author. Terima kasih**