
Sebuah melodi indah terdengar dari ponsel yang kini tersimpan manis di saku celana Ryan. Begitu benda pipih itu sudah dia pegang, Ryan mengerutkan dahinya. Sebuah nomor tak dikenal melakukan panggilan.
"Hallo," sapa Ryan setelah memencet icon berwarna hijau.
"Hallo, Tuan Ryan Dewangga," sahut seseorang dari ujung teleponnya.
"Siapa ini?" tanya Ryan tak sabar.
"Sabar, Tuan. Tidak perlu terburu-buru seperti itu. Saya hanya akan mengabarkan kepada Anda bahwa istri Anda tetap aman bersama saya selama Anda bisa diajak bekerja sama," oceh pria dibalik telepon itu.
"Siapa kau? Katakan dimana istriku!" Ryan berteriak dengan kesal.
Tut-tut-tut-tut.
Telepon sengaja diputus.
"Sial," Ryan melemparkan ponselnya ke atas sofa, sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya begitu saja di sana, sambil memejamkan mata. Bahkan, kini ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya terlihat memijat-mijat kening yang seolah ingin meledak itu.
Hingga tiba-tiba, terdengar suara sirine dari beberapa mobil ambulance yang masuk, bersamaan dengan Arya yang datang dan langsung membantu para perawat dan Rudi memindahkan para pengawal yang terluka.
"Mom, Mommy dan Bik Tum mau pakai ambulance atau mau Naja yang anter ke rumah sakit?" tutur Naja lembut kepada Aghata dan Bik Tum.
"Nyonya Besar saja yang ke rumah sakit, Non. Bik Tum tidak perlu. Bik Tum sangat sehat, tidak ada yang terluka sedikitpun, Non. Hanya sedikit kaget saja tadi," tolak Bik Tum halus. Dia mengedarkan pandangan ke beberapa pelayan wanita yang masih terduduk di sebelahnya, dan mereka semua mengangguk membenarkan perkataan Bik Tum serta meyakinkan bahwa mereka juga baik-baik saja.
"Bik Tum yakin? Setidaknya biar diperiksa dulu, Bik," Ryan beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Bik Tum, Aghata dan juga pelayan lainnya.
"Bik Tum yakin, Den. Bik Tum tidak apa-apa," Bik Tum meyakinkan.
"Saya juga tidak apa-apa, Den," sahut yang lain.
"Saya juga, Den," pelayan wanita lainnya menimpali.
"Baiklah kalau begitu. Kalian istirahatlah dulu! Bagaimana dengan Mommy?" Ryan mengalihkan pandangan kepada Aghata yang kini sedang berada dalam pelukan Daniel.
"Mommy tidak apa-apa, Sayang. Mommy tidak perlu dokter. Mommy hanya mau menantu dan cucu Mommy segera kembali," suara Aghata bergetar hebat, mengingat Rani yang sedang mengandung harus mendapat perlakuan semacam ini.
__ADS_1
"Mommy tenanglah. Kami akan segera menemukannya," Daniel menenangkan.
"Mommy istirahat di kamar ya. Yuk, Naja antar. Insya Allah Nona akan segera ditemukan," Naja menggenggam erat tangan Aghata kemudian membimbingnya naik ke kamar.
Setelah seluruh anak buah Ryan dan Daniel yang terluka berada di tangan medis, anak buah Arya yang berada di rumahnya pun dikerahkan untuk membereskan rumah Ryan yang begitu berantakan.
"Mana pengawal itu? Biar kuhajar dia," Daniel berdiri begitu rombongan anak buah Arya datang.
"Dia langsung kabur begitu kalian keluar dari rumahku. Untuk satu hal ini kita kalah strategi. Mereka benar-benar bisa membaca pergerakan kita," cicit Arya, sambil menuju sofa sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Tahu begitu kita langsung tangani dia. Tidak biasanya kau berbaik hati, Niel," Ryan menimpali.
"Maksud hati mau menangkap basah, eh malah kita yang kena jebakan Batman," Daniel mengacak rambutnya dengan kasar.
"Lalu, bagaimana dengan Rani? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arya sambil mendengus kesal.
"Bagaimana, Jo?" Ryan justru melempar pertanyaan pada Johan. Dia sungguh berharap Johan dapat mendengar pertanyaannya dari earpeace yang masih terpasang.
"Kami masih dalam pengejaran, Tuan. Sejauh ini gerak mereka masih dalam pantauan," lapor Johan.
"Beritahu posisimu! Kami langsung meluncur menyusulmu," titah Daniel.
"Benar juga. Jika alat pelacak yang kita pasang di tubuh Rani saja bisa mereka putus, kenapa tidak dengan alat pelacak yang kita pasang di tubuh Nina?" sahut Daniel.
Sesaat, mereka terdiam, larut dalam pikiran mereka masing-masing.
***
Johan masih memasang wajah datar, meski saat ini Nina masih dalam proses pengejaran.
"Aku yakin, kau gadis yang kuat, Sayang," batin Johan dalam hati.
Johan dan anak buahnya terus melajukan mobil mereka dengan kencang, hingga akhirnya mereka berhenti di satu titik sesuai dengan petunjuk alat pelacak di tubuh Nina yang pernah dia pasang.
"Harusnya dia di sekitar sini," seru Johan begitu mobil berhenti.
__ADS_1
Johan mengedarkan pandangan ke sekeliling, tak ada rumah penduduk atau bangunan apapun di sekitarnya. Hanya ada hutan di kanan kiri jalan, tak ada jurang ataupun sebuah gubuk yang mungkin akan dijadikan tempat penyekapan.
"Sisir tempat ini!" perintah Johan, yang langsung dieksekusi oleh semua anak buahnya dengan cekatan.
Mereka berpencar dan berkeliling di sekitar jalan hingga masuk ke dalam hutan, tapi hasilnya Nihil. Tidak ada satu petunjuk pun yang mampu menunjukkan posisi Nina.
Hingga tiba-tiba, salah seorang anak buah Johan berlari menghampirinya.
"Mohon maaf, Tuan. Saya menemukan ini di bahu jalan," serunya sambil memberikan sebuah benda berukuran kecil bewarna hitam.
"Sial!" gerutu Johan setelah memeriksa benda itu.
"Hallo, Tuan. Mereka benar-benar telah mengecoh kita. Alat pelacak dari tubuh Nina mereka lepas dan di buang di pinggir jalan," ucap Johan.
"Segera kembali, Jo. Kita pikirkan lagi dengan tenang. Kemungkinan Nina dan Rani berada di tempat yang sama. Ini akan lebih mudah buat kita untuk menyelamatkannya," perintah Daniel yang langsung diiyakan oleh Johan.
Dalam waktu satu jam, Johan dan anak buahnya sudah berkumpul di kediaman keluarga Dewangga. Kini mereka benar-benar terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius, bahkan malam itu juga mereka memutuskan untuk memboyong Lena dari rumah sakit ke rumah keluarga Dewangga agar fokus penjagaan mereka bisa berada di satu titik saja. Tim medis yang menangani Lena pun ikut diboyong bersama Lena, sehingga segala perawatan yang Lena butuhkan tetap bisa diberikan sesuai kebutuhan.
"Apakah kata dokter Lena memungkinkan untuk dirawat di rumah saja?" Ryan memastikan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Arya menenangkan.
"Syukurlah, kalau begitu kita bisa fokus di satu titik penjagaan. Bagaimana dengan Om Arsen dan Tante Mira?" Ryan menatap Daniel meminta pertimbangan.
"Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau mereka harus ikut tinggal di sini untuk sementara. Toh rumah ini cukup untuk menampung kita semua bukan?" Daniel mengangkat bahunya, seolah ingin mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain.
"Baiklah. Bawa mereka semua kemari, agar kita bisa fokus tanpa ada yang membuat pikiran kita bercabang lagi!" mereka semua menganggukkan kepala, begitu keputusan itu keluar dari mulut Ryan.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya berbagi tugas. Johan menjemput Arsen dan Mira, Arya mengurus Lena, sementara Rudi, Daniel dan Ryan tetap stay di rumah, menunggu perkembangan dan informasi lanjutan dari seluruh anak buah dan jaringan yang saat ini sudah tersebar di lapangan.
Hingga tiba-tiba, nada dering dari ponsel Ryan bergetar lagi.
"Assalamualaikum. Hallo, ini siapa?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Kira-kira siapa ya, yang telepon? Mau tau jawabannya? Kasih jempol, vote dan rate 5 dulu dong.